
Matahari belum sepenuhnya naik di ufuk timur. Dingin masih menguar di udara. Gelap sepertinya masih enggan berpisah dengan langit yang mulai berpendar terang. Dedaunan di pepohonan mengembun basah. Kicauan burung nan syahdu terdengar di kejauhan. Seakan sedang menyenandungkan kegembiraan menyambut pagi.
Begitu pun dengan Cherry yang sudah menyibukkan diri bersamaan dengan datangnya fajar. Ia memang sudah terbiasa bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Jam berapa pun ia tertidur, matanya seperti sudah diatur untuk terjaga di jam yang sama setiap harinya.
Hari ini meski adalah kebebasannya untuk beristirahat dari pekerjaan meletihkan di restoran, tapi Cherry enggan bermalas-malasan. Ya, banyak rencana yang akan ia lakukan hari ini. Diantaranya adalah membuatkan sarapan spesial untuk kakaknya.
Karenanya Cherry melarang Rahis yang juga sudah bangun dari tadi untuk membantunya di dapur. Tak hanya itu, Rahis tak boleh mengintip diam-diam selama ia memasak. Pagi ini Cherry ingin menyiapkan sarapan sendiri.
Menu yang ia siapkan tidaklah banyak. Dan bukanlah menu yang rumit. Menu sarapan yang sudah lazim di lidah orang Indonesia. Tapi, ia ingin memberikan sentuhan ajaib tangannya agar menu biasa itu bisa tersaji istimewa. Tentu dengan rasa yang sempurna.
Dua kompor menyala sekaligus. Di mana satu wajan terisi minyak goreng tergolek di atas satu tungkunya. Dan ditungku yang lain sebuah teplon yang berisi nasi terbaring. Sambil menunggu bahan yang digoreng matang, Cherry memasak nasi goreng resep andalan restorannya. Kemarin Cherry menyempatkan diri untuk meminta resepnya pada Delinka karena berhubungan dengan kompetisi plating itu.
Selain demi kepentingannya, Cherry juga ingin memperlihatkan kemampuannya pada sang kakak. Dan Rahis pun bisa menjadi juri untuk menilai hasil karyanya nanti.
Setelah lebih dari satu jam Cherry berperang di dapur, akhirnya tiga hidangan telah siap tersaji di meja makan. Cherry yang merasa kurang mantap dengan posisi piring, menggeser sedikit piring agar tak terlalu berdekatan dengan piring lainnya. Cukup puas, Cherry kembali ke dapur. Karena waktu sarapan Rahis yang sempit Cherry membiarkan wadah-wadah kotor tergeletak di bak cuci piring. Ia hanya sebisanya merapikan meja dapur dari cipratan minyak dan sejenis kotoran lainnya.
Kemudian selesainya ia mencuci tangan, ia memanggil kakaknya di depan pintu samping dapur.
__ADS_1
“Kak, sarapannya sudah siap!” seru Cherry setengah berteriak sambil melihat ke arah pintu kamar Rahis yang tertutup rapat.
“Sebentar, aku akan ke sana,” sahut Rahis dari dalam kamar sambil berteriak.
Cherry lalu melangkah ke ruang makan yang masih satu ruangan dengan dapur. Kedua ruangan itu tidak disekat dengan tembok atau dibatasi dengan pintu. Pemisah antara kedua ruangan itu hanya sebuah lemari piring yang menutup sebagian dapur. Dan di depan lemari piring itulah meja makan terbujur. Cherry mengambil dua gelas yang agak tinggi dari lemari piring. Ia lalu mengisi gelas dengan air putih. Dan ia letakkan di samping gelas yang terisi susu yang disiapkan untuk Rahis.
Cherry menarik salah satu kursi kayu bercat hitam dari empat kursi di meja makan. Lantas ia duduk di sana. Sekali lagi tatapannya menyapu meja makan berukuran kecil itu untuk memastikan apa semuanya benar sudah lengkap.
“Wah, adikku sangat bekerja keras pagi ini!” seru Rahis yang baru muncul dari pintu yang berbatasan dengan ruang tengah. Dia berjalan ke meja makan, dan duduk di salah satu kursi kosong.
“Ini apa? Nasi goreng bukan?” tanya Rahis saat menyelidik piring bentuk elips dengan ukuran lumayan besar dan menunjuknya dengan jarinya yang teracung turun persis di atas hidangan itu.
Nasi goreng Cherry tata tanpa dicetak sempurna di tengah piring dengan porsi kecil dengan alas telur dadar kuning telur berbentuk lingkaran yang lebih lebar dari ukuran nasi goreng. Paduan warna dari wortel yang oranye kemerahan, hijaunya kacang polong, kuningnya jagung manis, putihnya kol terlihat selaras di antara warna buliran nasi goreng.
Di atas nasi, tiga udang yang ditumis sebentar dengan minyak zaitun dan diberi sedikit bumbu diposisikan sedikit asimetris di tengah. Karena porsi nasi yang kecil mungkin kurang mengenyangkan. Maka Cherry membuat makanan pendamping yang cukup.
Ia letakkan secara acak tapi teratur, dua tempe goreng bentuk segitiga mini yang terbaring bersama kroket ramping isi jamur di satu sisi piring kosong yang dekat dengan pinggiran. Lalu di sisi lainnya dibariskan dua potongan fillet ayam, di sekitarnya diberi tiga garis tipis panjang saus warna coklat yang ditaburi asal potongan kecil daun bawang. Dan di sisi lain piring yang masih kosong dekat nasi diletakkan potongan tipis zuchini yang digulung pendek dengan ujung yang melambai sedikit panjang bergelombang. Sepanjang zuchini wijen hitam sangrai dibuat tercecer rapi.
__ADS_1
“Ayo Kak makan, jangan dilihat saja!” seru Cherry yang sabar menanti Kakaknya untuk mencicipi masakannya.
“Biasanya aku makan nasi goreng porsinya sepiring penuh. Ini irit sekali. Mungkin setengahnya juga tidak,” ungkap Rahis tak bermaksud protes. Dia berpikir kalau makan dengan nasi seporsi mini pasti perutnya tidak akan kenyang.
“Kan ada makanan tambahan lainnya. Jadi kalau makan semuanya pasti kenyang,” timpal Cherry yang tak ingin memalingkan tatapannya dari Rahis, yang belum puas memerhatikan detil makanan di piring.
“Lihatnya sudah dulu. Kakak makanlah,” protes Cherry yang gemas sendiri.
“Ya, aku makan nih. Bismillah....” Rahis merapatkan kedua telapak tangannya dengan sedikit terangkat sebentar dan merapal doa dalam hati.
Satu suapan penuh nasi goreng dan sepotong udang mendarat di mulutnya. Ia mengunyah perlahan seolah tengah khidmat menikmati ledakan rasa yang otentik dalam mulutnya. Udang yang garing di luar tapi lembut dan basah di dalam dan rasanya yang gurih juga simpel benar-benar sangat sempurna jika dimakan bersama nasi yang beraroma kuat dan sedikit manis.
Dalam waktu sekejap nasi serta udang dan makanan pelengkap lainnya telah ludes. Lidah Rahis sungguh dimanjakan dengan keragaman rasa yang tidak bertabrakan.
Dua menu lainnya berupa tiga combro crispy bentuk elips kecil isi daging lada hitam yang diberi garnish saus keju dan tomat serta remah kriuk serta pancake serabi warna merah muda bentuk hati dengan garnish saus sari kaya dan toping buah nangka juga kacang mete. Lagi, Rahis tak sampai hati kalau harus menganggurkan kedua hidangan cantik itu. Ia dengan semangat menyentuh kedua hidangan tersisa.
Cherry tak mendapat keluhan sama sekali karena Rahis sangat terpuaskan dengan seluruh menu sarapan pagi ini. Rahis bahkan memuji Cherry setinggi langit. Bukan karena dia adiknya, tapi karena makanan buatan Cherry sungguh luar biasa.
__ADS_1
Dengan perasaan bangga yang tertinggal untuk Cherry, Rahis buru-buru pergi karena sepertinya ia akan terlambat sampai ke kantor jika harus mengulur waktu lagi.