
Menangis terisak-isak tak meluruhkan lara dalam hati Miranda. Perlahan dengan pasti ia melepaskan tubuhnya dari pelukan Arif yang terlalu kuat, dengan setengah mendorongnya.
Masih sesenggukan, ia usaikan tangisnya. Meski dalam sanubarinya Miranda tetap menangis.
“Cincin itu cincin pernikahanmu dengan wanita yang bernama Nina?” tanya Miranda, begitu getir.
Dia memaksakan wajahnya terangkat dan menatap Arif dengan sorot dingin.
“Begitulah. Maafkan aku, Miranda. Aku suami yang pengecut. Pada akhirnya, aku tak bisa melawan kedua orang tuaku. Apalagi, saat ini Ibuku sudah tua dan mulai sering sakit. Dan ini juga demi menjaga rahasiamu yang selama ini kita sembunyikan dari orang tuaku,” ucap Arif, lekat memandang Miranda dengan sesal yang meronta.
“Apa orang tuamu sudah curiga dan mulai mencari tahu?” Air muka Miranda berubah tegang. Orang tua Arif pasti akan tambah benci padanya jika mereka berhasil mengetahui rahasia yang sudah ditutupi serapat mungkin sebelum Arif menikahinya.
“Ayah sedang berusaha menelusuri masa lalumu. Terutama tentang siapa mantan suamimu. Entah apa rencananya. Yang pasti Ayah bisa saja tanpa sengaja membongkar rahasiamu. Dan aku tidak ingin itu terjadi,” terang Arif cemas.
“Aku tahu itu. Tapi orang tuamu tidak boleh mengetahui rahasiaku. Mereka akan lebih mudah memisahkanku denganmu karena mereka bisa memanfaatkan kelemahanku melalui rahasia itu,” jawab Miranda benar-benar gelisah.
“Aku akan mencari cara supaya Ayah berhenti menyelidikimu.” Arif berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Miranda.
“Satu-satunya cara, kamu harus menuruti apa pun kemauan Ayahmu. Selama permintaannya bukan bercerai denganmu, aku masih bisa menerimanya,” ucap Miranda yang tak mau egois. “Lalu, apa mereka benar akan menerima Serhan dan memberi Serhan hak waris?” Miranda lanjut bertanya, setelah mencoba tegar.
Memikirkan masa depan Serhan, Miranda harus berkorban. Termasuk mengorbankan perasaannya sendiri. Dia harus bersabar hingga Serhan bisa memperoleh haknya sebagai keturunan dari pemilik Grup Bintang Raya.
Akan tidak adil rasanya, jika Serhan harus turut jadi korban dari ketidaksukaan mertuanya pada Miranda. Mereka boleh membenci dirinya karena statusnya sebagai menantu yang tak diinginkan. Dan sebagai orang asing, Miranda tak memiliki arti apa pun bagi orang tua Arif.
Akan tetapi berbeda dengan Serhan. Dia adalah cucu kandung mereka. Anak yang sah dari pernikahannya dengan Arif. Serhan berhak mendapat kenyamanan hidup seperti yang Kakek-Neneknya rasakan.
“Mereka sudah berjanji. Jika mereka tak menepatinya, aku akan menceraikan Nina. Maka, mereka tidak mungkin berani melanggar,” jawab Arif yakin.
“Nina itu siapa? Apakah dia pernah menikah? Atau dia gadis muda?” Setegarnya Miranda, kodratnya tetap perempuan. Yang mudah rapuh. Pertanyaan yang terlontar itu pun melukiskan kecemburuannya.
“Dia belum menikah. Dia hanya sedikit lebih muda darimu. Perempuan itu adalah perempuan yang sama, yang dulu sempat akan dijodohkan denganku.” Arif bicara dengan hati yang tercabik.
Rasa sakitnya tak sebesar pedihnya hati Miranda menerima kenyataan pahit telah dimadu. Lebih dari sekadar petir di siang bolong. Bagi Miranda, mungkin semua itu seperti serangan badai Katrina yang mematikan.
“Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan memikirkan rencana supaya kalian secepatnya bisa pindah ke Bandung. Karena aku tidak mungkin sering pulang-pergi setiap minggu,” kata Arif sendu.
“Aku akan sekuat mungkin bersabar. Dan aku harap nanti kamu bisa bersikap adil padaku juga istri barumu,” tandas Miranda mengingatkan, tapi lebih berupa peringatan. Ia tak mau kalau nanti Arif berat sebelah. Lebih condong pada istri keduanya. Karena Nina adalah menantu idaman orang tua Arif.
“Aku janji. Aku akan selalu menempatkanmu sebagai wanita yang paling kucintai. Kamu dan Serhan adalah bagian dari hidupku.”
Selesai mengucapkan kalimatnya, Arif mendekap Miranda begitu lekat. Dan Miranda pun menyambut pelukan itu, memeluk Arif sama lekatnya.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Ketika malam telah mengunjungi malam berikutnya dan berpisah dengan pagi, dua hari pun terlewati.
Sebuah mobil pick up berhenti di jalan sempit yang hanya muat satu mobil, di depan sebuah rumah petakan. Sang sopir turun dan segera membuka terpal di belakang mobil.
Tampak barang-barang perabot rumah diturunkan oleh sopir dan seorang pria. Kemudian, sebuah motor datang dan Doni segera berlari membuka pintu rumahnya.
Ia pun turut membantu mengangkat barang yang tersisa untuk dimasukkan ke rumahnya. Dalam waktu sebentar semua barang yang tak banyak, berhasil dipindahkan ke dalam rumah.
Istrinya Resti mulai merapikan barang satu per satu. Sementara putrinya, Narri, mengambil barang-barang miliknya dan ia taruh di kamar barunya.
Tak lama setelahnya Narri keluar lagi dan meminta jajan pada Ibunya.
“Bu, aku minta uang. Mau jajan,” pinta Narri, yang entah kenapa tiba-tiba ingin jajan. Padahal mereka baru saja sampai.
“Sayang, jajannya nanti saja. Kamu kan belum hafal daerah sini. Warungnya ada di mana saja, kamu belum tahu,” ucap Resti, khawatir anaknya akan tersesat.
“Sekarang saja, Bu. Aku bisa cari warungnya yang dekat-dekat sini. Aku hafal kok jalan barusan yang sudah dilewati,” sergah Narri, merengek.
“Tunggu Ibu sebentar lagi ya. Nanti, Ibu akan temani kamu jajan ke warung,” kilah Resti, membujuk sekali lagi.
“Lama kalau tunggu Ibu.” Narri manyun.
“Kasih saja uangnya, Resti. Tadi, aku lihat ada warung tak jauh dari sini.” Doni membela Narri. Lebih tepatnya ia ingin cepat menyelesaikan masalah kecil seperti itu. Karena pekerjaan beres-beresnya akan memakan waktu lama.
Resti terpaksa mengikuti perkataan suaminya. Ia memberi selembar uang lima ribu pada Narri.
Dari jauh, terlihat sebuah warung di ujung jalan sana. Narri pun melangkah ke arah warung itu.
Saat langkahnya baru mencapai separuh jalan, Narri sayup-sayup mendengar suara tangis seorang anak. Tangisnya tidak begitu kencang, tapi cukup nyata terjaring pendengaran Narri.
Mengikuti suara tangis itu, Narri akhirnya menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah, yang lebih besar dari rumah barunya yang memang kecil.
Diusik rasa penasaran, Narri perlahan lebih mendekati pintu pagar yang tidak tinggi dan bercat hitam.
Mata kecil Narri mengintip penasaran di antara celah teralis pagar. Terlihat olehnya, anak laki-laki berbadan gemuk tengah duduk di teras rumahnya dengan memeluk lutut.
Anak itu menangis tersedu-sedu, dengan wajah yang terbenam di antara kedua lututnya. Tangannya bergetar memegang kedua ujung kakinya yang saling bertumbuk.
Lalu, karena iba ia memanggil anak laki-laki yang usianya sekitar sebelas tahun.
“Hey, kamu kenapa menangis?” Suara Narri yang setengah berteriak terdengar cukup nyaring.
Sontak, mendengar suara berisik yang memanggil, Serhan mendongakkan wajahnya. Kedua bola matanya melihat ke arah pagar, di mana tampak Narri begitu lekat menempelkan wajahnya ke besi pagar. Bersamaan dengan kedua tangannya yang mungil dan putih yang mencengkeram jeruji.
Malu menerjang. Dipergoki menangis oleh seorang anak perempuan sangatlah memalukan. Katanya, anak laki-laki itu pantangan menangis. Dan karena dia sudah besar, maka tak boleh banyak menangis. Begitulah yang selalu Ibunya bilang ketika ia merengek dalam tangisan. Apalagi sampai dilihat oleh seorang anak perempuan imut sepertinya.
__ADS_1
Buru-buru Serhan menarik ujung lengan bajunya, dan mengusapkannya ke sekitar mata. Dan dengan bagian kaos lainnya, ia mengelap hidungnya yang beringus.
“Jangan menangis!” Narri menyahut lagi, agak memerintah.
Masih dalam keadaan terduduk menekuk lutut, Serhan membalas perkataan Narri yang berhasil menyinggung perasaannya yang sedang berduka itu.
“Memang kenapa kalau aku menangis?!” gertak Serhan sambil mendelik Narri, yang rambut panjangnya terpasangi bandana. “Apa karena aku anak laki-laki? Jadi tidak boleh menangis,” lanjutnya kesal.
Narri menggeleng cepat.
“Bukan! Aku hanya tidak mau kamu bersedih. Kamu menangis karena sedih bukan?” Usianya mungkin masih delapan tahun dan terbilang masih kecil, tapi kepekaannya begitu besar.
Serhan terdiam sesaat. Ia mendengus, menghentikan sisa tangisnya.
Masih menatap lekat Serhan, Narri menunggu respon darinya.
“Aku boleh masuk ke rumahmu tidak? Bukakan pagarnya dong!” Tiba-tiba Narri menyuruh lantang.
Karena tak tega melihat Narri bertampang memelas, Serhan memaksa berdiri dan berjalan menggapai pagar.
Begitu Serhan membuka kunci pagar, Narri langsung mendorong pagar dan menghambur masuk. Dan berbalik, menghadapkan pandangannya dekat Serhan. Yang masih belum beranjak dari belakang pagar.
Narri tengah merogoh sesuatu dari saku baju terusan panjangnya, yang berenda dan terdapat pita besar di dadanya.
“Nih, makanlah!” Narri kecil mengulurkan tangannya, dengan sebuah jeruk tersodor di telapak tangannya yang terbuka. “Aku hanya punya jeruk ini. Rasanya manis kok,” imbuhnya, disertai senyum yang cantik. Padahal Narri sendiri juga tidak tahu apakah rasa jeruknya manis atau tidak.
Jeruk itu ia ambil ketika sebelum pindahan di rumahnya tadi. Ibunya sempat memberhentikan tukang buah dan membeli jeruk. Narri mengambil satu. Tadinya, akan langsung dimakan tapi Resti menyuruhnya membereskan peralatan sekolahnya dulu. Jadi, ia memasukkan jeruknya ke dalam saku.
“Kenapa aku harus makan jeruk itu?” tanya si bocah heran.
“Supaya kamu tidak menangis lagi. Makan yang manis bisa membuatmu senang. Aku tak punya permen atau cokelat. Hanya jeruk ini. Kalau tidak mau, kamu ikut aku saja ke warung. Kita beli permen, cokelat, atau kue,” seru Narri, memberi pilihan.
Meskipun ucapan Narri terdengar aneh, tapi Serhan memilih mengambil jeruk itu.
“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Aku baru saja pindah. Aku tinggal di rumah paling ujung belokan jalan itu.” Narri merentangkan tangannya ke arah barat.
“Terima kasih jeruknya.”
“Karena kamu sudah menerima jeruk dariku, maka mulai sekarang kita berteman. Namaku Narri.” Senyuman imut tertarik di wajah cantik Narri.
“Aku Serhan.”
“Karena kamu lebih tua dariku, aku akan panggil kamu Kak Serhan.”
__ADS_1
Mereka pun berjabat tangan, sambil saling menukar senyum hangat.