Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Perubahan


__ADS_3

Seminggu setelah Delinka menjadi Chef, situasi di dapur tak berubah banyak. Bahkan dapur yang biasanya tegang kini lebih sejuk dirasakan para koki. Di mata para staf dia dikenal dengan pembawaannya yang humble dan ramah.


Sosoknya berbanding terbalik dengan karakter Sous chef yang tegas dan pemarah. Apalagi Delinka selama seminggu ini tidak rewel dan tidak gampang memprotes pekerjaan para koki.


Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama ketika Serhan mengadakan pertemuan mendadak dengan seluruh staf dapur di ruang aula.


Di depan ruangan Serhan berdiri dengan penampilan khasnya yang berkelas bersama Chef Delinka di sebelah kirinya dan Sous chef Erza di sisi kanan. Sementara para staf yang belum berseragam berdiri berbaris sambil lurus menatap ke depan.


“Penjualan restoran sebulan terakhir belum meningkat pesat. Dan restoran juga belum banyak berkembang,” tutur Serhan dengan gesture serius. “Chef sebelumnya mengundurkan diri karena tidak sanggup mencapai target yang saya minta. Sekarang kita memiliki Chef Delinka untuk membantu saya dalam meraih pencapaian yang saya inginkan. Maka, pertama kita akan melakukan perubahan awal dimulai dari dapur,” sambung Serhan panjang lebar memberi pengumuman yang mengejutkan semua yang mendengarnya.


Ketegangan tiba-tiba menyebar. Resah gelisah bersamaan menyerang ketenangan yang telah dihirup para koki seminggu terakhir ini. Suasana hati mereka sesaat itu memburuk.


“Selama seminggu saya memimpin dapur, saya sudah mengamati dan akan mengevaluasi kinerja kalian semua. Saya sudah memberikan kalian kesempatan menikmati hari-hari yang tenang. Dan mulai hari ini saya akan melakukan perubahan kecil di dapur,” papar Delinka yang tampil menawan dengan pakaian Chef yang melekat pas di tubuhnya yang proporsional. Serta syal warna orange muda terlihat serasi dengan riasan yang dipakainya.


“Apa kalian siap bekerja lebih keras lagi demi kemajuan restoran?” teriak Chef dengan gaya bicara yang masih terlihat anggun.


“Kami siap, Chef!!!” Semua staf dapur balas berteriak tanpa ragu. Walaupun terselip ketakutan di hati mereka.


“Saya akan mengubah sebagian besar aturan yang ada. Kecuali aturan yang efisien akan saya pertahankan. Beberapa aturan yang dibuat Sous chef sebelumnya masih berlaku,” terang Delinka yang disambut ketegangan yang membesar, yang jelas terlukis di wajah para koki dapur.


“Untuk penjelasannya nanti akan saya sampaikan di dapur. Sekarang silakan kalian berganti pakaian terlebih dahulu,” lanjut Delinka dengan air muka yang penuh keseriusan.


Semua tanpa terkecuali membubarkan diri. Cherry yang cemas setengah mati berjalan gontai mengikuti temannya ke arah ruang loker.


Serhan, Delinka dan Erza masih berdiri di tempat yang sama.


“Serhan, apa kamu sudah pertimbangkan semuanya?” tanya Erza khawatir.

__ADS_1


“Tentu. Aku percaya sepenuhnya pada Delinka,” jawab Serhan yakin.


“Restoran sudah berjalan cukup baik. Apa semua ini tidak terlalu cepat untuk melakukan perubahan dan pencapaian yang tinggi?” Lagi Erza melayangkan tanya tak percayanya.


“Aku mengambil alih restoran ini bukan untuk senang-senang. Kamu pasti tidak lupa tujuan awal kita bekerja sama mengelola restoran ini. Bukankah waktu itu kamu bersedia membantuku?” Serhan menekan Erza untuk tak melupakan kesepakatan mereka.


“Dan kau juga melibatkan Delinka?” Erza terus memberondong tanya.


“Ya. Karena tujuan kita hampir sama. Dan kita bisa melangkah di jalan yang sama,” timpal Serhan dengan binar mata memendam amarah.


“Kau tenanglah, Erza. Apa yang mesti kamu cemaskan? Sedari dulu aku dan Serhan selalu berada di perahu yang sama,” ucap Delinka seraya menepuk pelan pundak Erza.


“Kau biasanya menyukai tantangan. Aku tahu, kau dan Delinka tidak pernah sepemikiran. Tapi, anggap saja bekerja dengannya adalah tantangan untukmu. Jangan melibatkan urusan pribadi di tempat kerja!” kata Erza yang diakhir kalimatnya menebar ancaman yang tegas.


“Kalian berdua juga bukannya menggunakan alasan pribadi dalam mengelola restoran?” serang Erza membalas.


“Para karyawan tidak tahu-menahu urusan pribadi kalian. Jangan kau korbankan kesetiaan mereka yang bekerja sungguh-sungguh demi restoran ini!” seru Erza yang ternyata menyimpan perhatian akan nasib bawahannya.


“Tenang saja. Mereka juga akan mendapatkan keuntungan jika restoran ini mencapai hasil yang baik. Aku bisa menaikkan gaji dan memberi bonus jika mereka bekerja sesuai kemauan kita. Restoran ini adalah milikku. Dan aku sangat berhak melakukan apa pun demi tercapainya keinginanku,” kata Serhan yang bicara dengan lebih keras.


Ia pun melangkahkan kakinya sengaja membiarkan Erza dan Delinka untuk bicara berdua saja.


“Apa kamu khawatir aku akan menyulitkan kitchen assistant kesayanganmu itu?” tanya Delinka langsung menyerang Erza tanpa basa-basi.


Ulu hati Erza seperti ditusuk jarum kecil yang tajam. Mendengar nama Cherry terucap dari mulut Delinka, ia tak tenang. Dan ia sendiri juga bingung apa alasan Delinka membawa Cherry dalam urusan mereka.


Telinga Serhan yang tajam dapat menangkap suara Delinka. Setiap perkataan yang dilontarkan Delinka tersaring jelas. Maka ia pun menoleh cepat dan berbalik arah. Menghampiri kembali Erza dan Delinka.

__ADS_1


“Apa alasan Erza harus mengkhawatirkan Cherry?” tanya Serhan menatap tajam Delinka.


“Masa sebagai teman dekat yang selalu ada di sisinya, kamu tidak tahu?” Delinka malah bertanya. Mengalihkan pembicaraan.


“Maksudmu?” tanya Serhan benar tak paham.


“Ya, aku sendiri belum yakin. Mungkin Erza cemas kalau aku akan membuat para staf dapur lebih menderita. Dia jadi cemas kalau gadis kecilnya akan jadi salah satu korbanku,” terang Delinka yang seenaknya bicara.


“Gadis kecilnya?” Mendengar satu kalimat itu Serhan mengerutkan wajahnya. Ia yang bingung menyidik Erza.


“Gadis kecilmu yang dimaksud Delinka itu Cherry?” Serhan tenang bertanya.


“Dia hanya asal bicara. Aku sendiri tak mengerti maksud ucapannya. Aku dan Cherry tidak pernah sedekat itu hingga aku harus mencemaskannya,” kata Erza menemukan alasan tepat untuk menyanggah.


“Sebaiknya begitu. Kamu harus menjaga jarak dengan Cherry. Jangan melanggar aturan yang kau buat sendiri! Ingatlah tidak ada romansa di dapur!” Serhan sedikit meradang tanpa alasan.


“Aku tidak pernah membuat aturan itu. Kau kan yang menyuruhku untuk menerapkan larangan hubungan percintaan di dapur,” sergah Erza yang kemudian bergegas pergi begitu saja tanpa menghiraukan mereka berdua lagi.


Baik Serhan atau Delinka tak menahan langkah Erza.


“Kau terlalu ketat, Serhan. Aturan itu harus aku ubah sepertinya,” ucap Delinka yang menyirat ekspresi kasihan.


“Aturan itu akan tetap berlaku. Jangan berani mengubahnya!” kata Erza yang terdengar sangat serius di telinga Delinka.


“Kamu juga harusnya menerapkan larangan itu untuk semua karyawan restoran. Biar ada nilai keadilan. Dan aturan itu harus berlaku untuk presdirnya sendiri,” seru Delinka yang di ujung kalimatnya menyindir Serhan yang bertampang masam.


Serhan sendiri tak menjawab dan memutuskan untuk segera pergi ke ruang kerja. Disusul Delinka yang berjalan pelan tanpa hentakan suara dari sepatunya yang tak berhak tinggi.

__ADS_1


__ADS_2