Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Makanan favorit


__ADS_3

Pintu loker Cherry buka, saat mau menaruh kantong kertas berisi kotak makanan, Cherry ragu. Ia penasaran dengan makanannya. Kemudian, Cherry bermaksud memeriksa isi kotak makanan.


Hidungnya mendekat lalu mendengus-dengus ke bungkus makanan. Supaya lebih yakin Cherry membuka tutup kotak makanan untuk menghilangkan rasa penasarannya. Ia takjub melihat isinya.


“Ini kan makanan favoritku,” kata Cherry terheran-heran.


Di dalam kotak itu terisi masakan rumah, nasi serta lauk berupa tuna jamur pedas, oseng manis nangka muda dan perkedel tahu sayuran.


“Bagaimana Erza yang kejam itu bisa tahu masakan kesukaanku?” Cherry bertanya-tanya sendiri.


Cherry termangu sesaat. Bingung sendiri dengan keheranannya.


“Aish, aku terlalu berpikir macam-macam. Bisa jadi Sous chef atau temannya kebetulan punya selera makanan yang sama,” ucap Cherry menyimpulkan sendiri.


“Makanannya enak sih. Tapi aku tak mungkin memakannya sekarang. Mereka pasti akan menanyakanku, dari siapa aku dapatkan makanan ini. Terutama Irene yang suka selalu ingin tahu,” gumam Cherry, menimang.


Setelah lima detik berpikir, Cherry akhirnya putuskan lebih baik menyimpan makanan itu di loker. Rencananya, Cherry akan memakannya saat pulang ke rumah setelah dihangatkan. Sayang, kalau harus tidak dimakan. Cherry pun hanya mengambil minumannya.


Ia duduk sebentar di bangku kayu panjang, dekat loker. Ia minum melalui sedotan minuman cup dingin yang berwarna keunguan.


Setelah minuman habis, Cherry pergi ke ruang istirahat.


Teman-temannya tengah menikmati makanan seraya menanti Cherry.


“Kamu baru selesai?” sapa Sukma, saat melihat Cherry menghampiri.


“Aku ke toilet dulu sebentar,” dalih Cherry sengaja membungkam mulutnya untuk tak cerita soal tadi.


“Tadi, kita sekalian belikan seporsi nasi ayam bakar untukmu. Tapi karena kamu lama nggak datang, kita jadinya makan duluan deh. Ayo makan dulu, sini!” seru Eva melambaikan tangannya dan menggeser posisi duduknya. Sengaja mengosongkan ruang untuk Cherry.


Dengan anggukan Cherry menyetujui. Ia pun duduk di samping Eva yang berpenampilan tomboy.


“Terima kasih. Berapa aku harus bayar makanannya?” Cherry merogoh saku roknya.


“Tidak perlu. Anggap ini sebagai traktiran,” sahut Eva menggelengkan kepala.


“Terima kasih. Maaf merepotkan. Lain kali aku yang akan traktir.”

__ADS_1


“Sekarang makanlah dulu. Makananku juga sudah hampir habis nih,” kata Eva yang menunjukkan makanan di kotak plastiknya yang tinggal tersisa sedikit sekali.


“Ini minumnya,” ucap Diana menyodorkan botol minuman dingin.


“Terima kasih ya.” Cherry menerima botol minuman itu ke genggamannya.


Kotak makan plastik di atas meja Cherry buka cepat-cepat. Tangannya langsung mencomot nasi, menyuwir ayam dan mencocolnya dengan sambal serta menidurkannya di atas sobekan selada. Lalu ia terjunkan semuanya ke dalam mulutnya yang terbuka. Begitu lahap Cherry makan saking laparnya. Sementara teman-temannya yang sudah kenyang mengemas kotak makan dan berbincang-bincang.


Cherry hanya mendengarkan karena mulutnya tak punya waktu untuk bicara. Ia terlalu sibuk menghabiskan makan siangnya. Jam istirahatnya lebih sedikit dibandingkan rekannya yang lain.


Selesai makan Cherry bersama koki lainnya singgah ke ruang loker. Mereka merapihkan penampilan mereka yang sudah kusut. Tak selang berapa lama Irene datang menghampiri.


“Cherry kok kamu selesainya lama sih?” protes Irene mengeluarkan suara manja.


“Tadi aku ke toilet. Setelah itu aku makan bareng teman-teman di ruang istirahat,” papar Cherry yang tak menengokkan wajahnya ke arah Irene. Ia lebih fokus membetulkan jilbabnya.


“Tadinya aku mau ajak kamu makan di kafe dekat sini. Padahal makanannya enak lho,” kata Irene sok ramah.


“Kita bisa ke sana lain kali sama teman-teman yang lain,” jawab Cherry mendayu.


Cherry yang sudah mengisi ulang daya tubuhnya masuk ke dapur mengikuti koki yang lain. Mereka berpencar, pergi ke tempat masing-masing.


Dapur ramai kembali kala semua staf telah berkumpul. Erza datang belakangan. Tanpa dikomando, semua memulai persiapan.


Erza terusik untuk melirik Cherry yang sedang menyisihkan bahan berdasarkan jenisnya.


Tatapannya yang tajam seolah mengatakan, 'Dia sudah menghabiskan makan siangnya kan?’. Erza mendengus seakan tak percaya ia tanpa sadar harus memperhatikan kitchen assistant-nya.


Melekas Erza mengganti arah pandangannya. Sebelum pesanan diterima, ia hanya bisa memperhatikan suasana dapur.


Akhirnya setelah menit berlalu beberapa pesanan pun tiba. Erza teliti membaca tiap menu dari beberapa nomor meja.


“Menu internasional bersiaplah!!” teriak Erza. “Dua duck breast with pome granate sauce and spinach. Satu kimchi and korean barbeque. Tiga salmon with bokcoy and lemongrass sauce, tiga turkey kebab!!!” Makin kencang suara teriakannya.


“Siap, Sous chef.” Koki yang memegang menu yang disebut langsung beraksi.


“Selanjutnya. Masih menu internasional,” sambung Chef lantang. Dan dengan teriakannya yang keras menu-menu dibacakan satu per satu.

__ADS_1


Pertempuran di dapur kian memanas. Semuanya bekerja cepat, tepat, akurat dan higienis. Aroma berbagai jenis masakan menguar, menusuk hidung.


Cherry mondar-mandir dari satu tempat ke seksi lainnya. Ia tak bisa diam sebentar di satu tempat.


“Kitchen assistant, tolong bawakan sauce pan yang baru,” teriak koki senior yang berbadan besar itu sambil memasukkan sayuran ke wajan bulat yang lebar.


“Ya, saya akan ambilkan,” sahut Cherry bersuara lantang dari jarak yang cukup jauh dari meja koki yang memanggil.


Angga sendiri sedang berada di ruang pendingin, tempat menyimpan persediaan bahan makanan. Ia tak lama setengah berlari memeluk dua kotak persegi yang berisi seafood dan daging keluar dari ruang pendingin. Dan tergesa meletakkannya di meja. Dikeluarkanlah aneka seafood dan potongan daging. Lalu membersihkannya.


“Kitchen assistant, bantu commis station masakan sunda untuk menyiapkan bahan,” suruh Sous chef Erza sambil matanya tertuju ke arah Cherry berdiri.


Karena lokasi Cherry lebih dekat, maka tanpa harus berembuk dulu dengan Angga Cherry langsung menghampiri commis yang tengah kewalahan menyiapkan bahan.


Hampir semua menu dimasak ketika ada tamu yang memesan. Hanya beberapa saja masakan yang sudah siap sebelum dipesan. Dan itu pun dimasak setengah jadi. Maka ketika ada pesanan, masakan tersebut harus dimatangkan. Restoran sangat mengutamakan kesegaran dan kualitas yang seimbang antara rasa dan bahan.


“Sebentar lagi waktu istirahat kedua. Semua harus sudah selesai sebelum waktu istirahat tiba.” Erza berkacak pinggang ketika mengucapkan kata-kata barusan.


Tinggal beberapa menu lagi yang harus dibuat. Erza gemas menunggu koki-koki yang memasak menghidangkan tiga pesanan terakhir ke mejanya. Masakan yang sudah di-plating harus mampir dulu ke mejanya untuk ia periksa apakah ada yang kurang di piring itu. Baik itu kebersihannya, garnis, komposisi bahan, dressing, dan elemen lainnya di dalam piring.


Saat istirahat kedua semua meninggalkan pekerjaannya. Kecuali Cherry dan Angga yang masih harus menunda istirahatnya. Secepatnya mereka membereskan pekerjaannya. Rasa letih mereka tak tertahankan.


“Kenapa restoran hanya mempekerjakan dua orang asisten dapur saja ya?” tanya Angga heran. Ia meregangkan pinggangya yang terasa pegal.


“Kurang tahu juga. Mungkin mereka saat ini harus menghemat dana,” jawab Cherry asal.


Ia menaruh lap setelah dipakai membersihkan meja di gantungan dekat bak cuci piring.


“Kita bakal repot nih, kalau asisten dapurnya tidak ditambah. Hari pertama saja sudah sesibuk ini,” keluh Angga yang tak sanggup membayangkan akan seberapa lelahnya ia di hari-hari berikutnya.


“Ya, kita jalani saja dulu. Kalau selalu ramai begini, pihak restoran mungkin akan mempertimbangkannya,” balas Cherry.


“Kita keluar sekarang saja yuk,” ajak Angga yang langsung meluncur menuju ruang istirahat karyawan.


Cherry melangkah santai di belakangnya. Dan sekilas saja Angga sudah hilang dari pandangan mata.


Cherry berbelok. Ia tak jadi ke ruang istirahat tapi malah menuju ruang loker. Untuk memeriksa kondisi kotak makanan. Ia berpikir untuk meminjam microwave di dapur, menghangatkannya sebentar.

__ADS_1


__ADS_2