Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Pacaran setelah menikah


__ADS_3

Makanan yang disuapkan bagaikan serpihan duri yang menusuk tenggorokan Cherry. Untuk menelan makanan saja Cherry kepayahan. Nafsu makannya tidak tersisa sedikit pun. Apa nyamannya berada di antara dua orang yang terlalu menohok pandangan mata di sekitar? Terlebih Cherry merasa sedang berada di tengah kutub utara dan selatan. Dua orang berkarakter dingin itu memang sangat cocok dipasangkan sebagai teman dekat.


Erza dan Serhan terlibat percakapan seru yang Cherry tak mengerti. Ia layaknya dayang raja yang memperhatikan keindahan penguasa agung sambil siap sedia menunggu perintah. Serhan memang tampak bersinar dan berkelas. Dengan pembawaannya yang berwibawa ia cocok memainkan peran sebagai raja congkak. Dan Erza yang tak kalah cerah pantas jika diberikan peran perdana menteri kekaisaran.


Meski kedua orang itu menyebalkan tapi Cherry akui ketampanan mereka layak dinikmati oleh mata khalayak. Sebatas melihat saja mungkin bukan sebuah dosa besar. Dan bukan pula kejahatan besar yang akan mendapat hukuman berat.


“Kenapa makananmu tidak dihabiskan?” tanya Serhan setelah melirik Cherry yang cemberut sambil memainkan makanan di piringnya dengan sendok.


“Aku akan menghabiskannya,” lirih Cherry menjawab.


“Kalau begitu makanlah supaya cepat habis,” kata Serhan galak.


“Iya,” lirih Cherry menimpali. Ia langsung menyuapkan potongan besar makanan di piring. Mengunyahnya cepat dan menelannya dalam sekali dorongan.


Serhan menutup mulutnya sambil memandang Cherry dengan tatapan tak seperti biasanya. Erza yang menyadari gelagat temannya, sesaat menggeser pandanganya ikut memperhatikan Cherry. Lalu ia menyimpul senyum hangat.


Piring telah sukses bersih tanpa sisa makanan seremeh pun. Cherry merasa perutnya kenyang, hingga makin tak nyaman duduk.


Erza dan Serhan terlihat masih bercakap-cakap. Entah apa yang dibicarakan, Cherry tak mau peduli.


Sirine tanda bantuan pun tiba. Ponsel Cherry berdering riang. Sontak Cherry langsung meminta izin untuk pergi mengangkat telepon.


Ia berlari kecil menuju lorong dekat toilet. Dan ia pun menerima panggilan masuk dari orang yang sangat ia kenal.


“Elis... Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam. Kamu masih di tempat kerja atau sudah pulang?” tanya Elis di seberang telepon.


“Aku lagi makan-makan bareng rekan tim.”


“Masih lama?”


“Kayaknya sebentar lagi.”


“Oh, kalau begitu aku minta alamatnya. Aku akan jemput kamu.”


“Ya, nanti aku chat kamu kalau sudah mau pulang.”


“Kirimkan alamatnya sekarang saja. Aku langsung berangkat.”


“Kan aku nggak tahu kapan tepatnya acaranya selesai. Nanti kamu harus menunggu lama lagi.”


“Nggak apa-apa. Perjalanan ke sana kan butuh waktu.”


“Ini sudah malam. Kamu nggak perlu jemput aku. Kita ketemu besok saja,” kata Cherry yang tak tega membuat sahabatnya jadi sopir penjemputnya.


“Bukan masalah. Lagian ada yang mau aku bicarakan sama kamu,” ucap Elis agak sendu.


“Ada apa? Kayaknya penting sampai harus dibicarakan malam-malam begini,” timpal Cherry mencurigai Elis.


“Nggak penting juga. Cuma aku lagi pengen cerita saja. Kamu nggak apa-apa kan malam-malam begini dengar curhatanku?”


“Ya, nggak apa-apa. Selama aku ada waktu aku akan selalu ada untukmu. Hehe.”


“Alamatnya kirimkan sekarang juga ya. Sampai nanti.”


“Ya.”


Elis lebih dulu menutup telepon.


Lalu Cherry mengetik pesan dan mengirimkannya pada Elis. Sesudahnya ia pun berjalan kembali ke mejanya.

__ADS_1


Cherry duduk hati-hati. Suasana canggung masih menyelimuti. Erza dan Serhan tampak sibuk sendiri. Bahkan kedatangannya kembali tak mereka sadari.


Sekian menit berlalu.


Dalam rasa bosan yang tanpa ujung Cherry memainkan ponselnya. Ia menatap layar ponsel dengan perasaan hampa.


“Siapa yang barusan telepon? Pacarmu?” sidik Serhan bertanya serius.


Cherry yang mendengar suara Serhan sesaat itu langsung mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepala.


“Bukan. Dia sahabatku.” Entah untuk alasan apa Cherry tak mau Serhan salah paham.


“Jadi, kamu masih single?” Erza merasa ingin tahu.


“Iya. Saya belum menikah,” kata Cherry bicara formal.


“Maksudku, kamu belum punya pacar?” tanya Erza lagi supaya lebih jelas.


“Belum. Dan saya tidak akan menjalin hubungan pacaran,” balas Cherry natural.


Erza spontan mengangkat kedua alisnya yang bak semut berbaris rapi. Dia tak percaya kalau jawaban Cherry itu serius. Sementara Serhan bereaksi biasa. Seakan jawaban Cherry bukanlah hal yang aneh.


“Kamu bermaksud melajang seumur hidup?” tanya Erza sudah sangat salah paham.


“Tidak. Tapi suatu saat saya pasti akan menikah,” balas Cherry serius dan masih sopan.


“Tidak mau pacaran tapi mau menikah. Itu artinya kamu akan menikah dengan pria tanpa pacaran dulu?” Sekian kali Erza bertanya.


“Benar. Saya akan pacaran setelah menikah,” jawab Cherry yakin.


“Wow! Luar biasa. Ini pertama kalinya aku bertemu langsung dengan wanita yang berprinsip kuat seperti kamu. Hebat!” puji Erza yang menganggap Cherry adalah wanita langka di zaman yang sudah banyak laki-laki dan perempuan bercampur baur.


“Belum ada,” timpal Cherry malu.


Serhan menanggapi Cherry dengan anggukan kecil. Raut wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Mungkin dia sudah puas dengan jawaban Cherry. Karena itu ia tak mengatakan apa-apa lagi.


“Cherry. Aku mau tahu satu hal lagi. Kalau ada seorang pria tertarik padamu. Atau bisa dibilang mencintaimu. Berarti dia harus langsung melamarmu?” Erza haus akan rasa ingin tahu.


“Ya. Tapi saya belum tentu menerima pria yang melamar begitu saja,” kata Cherry mendadak bicara santai.


“Pasti rasanya akan malu besar dan kecewa berat, pria yang nanti ditolak setelah melamarmu,” balas Erza sambil berpikir keras.


Cherry tak menyahut lagi. Hal yang dibicarakan harusnya menjadi informasi pribadinya. Tak semestinya dua orang ini menanyainya macam-macam. Andai saja kedua orang ini bukanlah orang penting, Cherry mana mau merespon pertanyaan mereka.


“Oh ya. Dia sudah pulang ya?” tanya Erza pada Serhan, yang tak mengacuhkan Cherry lagi.


“Ya. Dia tiba kemarin malam.”


Cherry otomatis menguping terang-terangan. Karena suara mereka sangat terdengar jelas. Batin Cherry jadi terusik, penasaran dengan sosok 'dia' yang dibicarakan mereka.


“Apa dia itu pacarnya Serhan? Atau tunangannya? Atau bahkan istrinya? Gila! Seandainya pria ini sudah menikah maka kasihan istrinya dapat suami dingin dan kasar begitu,” ucap Cherry komat-kamit sendiri sambil lekat mengawasi mereka berdua.


“Aku ingin segera bertemu dengannya,” kata Erza tampak semangat.


“Ya, sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya. Mungkin besok. Siapkan saja mentalmu,” balas Serhan.


“Aku sudah tak sabar untuk menghadapinya nanti. Aku penasaran apa sekarang dia masih bisa menang dariku,” kata Erza berekspresi penuh dendam.


“Kau sudah kalah banyak darinya. Bersikap baiklah padanya. Dia seseorang yang berharga untukku. Jadi kamu jangan terus-terusan mengganggunya,” timpal Serhan lembut.


“Ya apalah aku sama sekali tidak berharga di matamu,” ujar Erza memicingkan matanya jengkel.

__ADS_1


“Aku tidak mau berdebat denganmu. Kita pulang sekarang. Ini sudah larut,” timpal Serhan yang langsung berdiri dan berjalan pergi.


“Cherry, beritahu yang lain untuk pulang. Setelah itu temui kita di luar,” suruh Erza yang berlalu menyusul Serhan.


Cherry melakukan perintah, mengumumkan pada teman-temannya bahwa Bos meminta semua untuk bersiap pulang.


Mereka pun tanpa menolak bergegas membereskan barang dan beranjak pergi.


Cherry lalu mengarak langkah cepat setelah mengaitkan tas ransel di punggungnya. Ia menghampiri Erza dan Serhan yang berdiri di tepi jalan.


“Di mana alamat rumahmu, biar aku antar,” kata Erza menawarkan kebaikan untuk memberikan tumpangan.


“Terima kasih. Tapi, teman saya sudah menjemput saya,” jawab Cherry gugup.


“Hai Cherry!” Seseorang berteriak memanggil Cherry.


Ketiga orang yang sedang bersama itu pun menengokkan kepala ke arah suara itu berasal. Dari jarak yang tak begitu jauh tampak seorang gadis jenjang berpakaian gamis melambaikan tangannya.


“Itu teman saya sudah datang. Saya permisi dulu,” kata Cherry lalu membalikkan badannya.


“Kalian cukup dekat ya. Temanmu rela menjemputmu larut malam begini,” ucap Serhan.


Cherry menengokkan wajahnya dan membalas.


“Ya, kita sudah lama berteman sejak masih sekolah.”


Air muka Serhan tiba-tiba berubah kaku. Ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.


“Erza, ayo cepat naik!” suruh Serhan yang sudah mengabaikan keberadaan Cherry, langsung masuk ke mobil.


“Sampai ketemu besok, Cherry,” sahut Erza yang meluncur masuk ke mobil.


Cherry segera menghampiri Elis yang berdiri menunggu.


“Siapa mereka?” tanya Elis setelah memperhatikan dari jauh.


“Yang berjas rapi itu pemilik restoran. Dan yang satu lagi Sous chef.”


“Sous chef yang galak itu?”


“Mmm, iya.”


“Bagaimana ceritanya kalian jadi bisa akrab?” Elis terheran. “Dan kamu juga bisa kenal baik dengan pemilik restoran. Tak disangka Cherry yang lugu ini langsung didekati dua pria hebat sekaligus,” sambung Elis malah menggoda.


“Berisik! Mereka tak memperlakukanku sebaik itu hingga kita bisa dibilang akrab,” tegas Cherry menyangkal.


“Pemilik restoran itu siapa namanya?” Elis jadi berpikir.


“Serhan. Kenapa? Apa kamu tertarik padanya?” Cherry balas menggoda.


“Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Pria itu terasa familiar tapi aku tak ingat bertemu di mana,” ungkap Elis sedang berusaha mengumpulkan ingatannya.


“Mungkin dia pernah jadi klien kamu,” timpal Cherry.


“Mungkin. Tapi kalau klien harusnya aku ingat. Kamu merasa nggak kalau dia seperti seseorang yang pernah kita kenal?” Dahi Elis berkerut.


“Aku tidak pernah mengenal pria kaya seperti dia,” jawab Cherry lugas.


“Ya sudahlah. Buat apa juga aku mengingat-ingat hal yang nggak penting. Sekarang kita naik ke mobil saja.”


Mobil pun memacu kecepatannya di jalanan yang bercahaya redup dan sepi.

__ADS_1


__ADS_2