Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Sosok yang berbeda


__ADS_3

“Cherry, kamu bisa keluar sekarang,” kata Erza kemudian, setelah berhasil mengendalikan gemuruh di dadanya.


Cherry yang mendengarnya langsung berbalik dan berjalan ke arah pintu.


Namun, sebelum sempat Cherry mencapai pintu, Serhan dengan sigap menghadang langkahnya.


“Aku belum mengizinkanmu untuk pergi,” cegah Serhan dengan suara yang terdengar berat. “Erza kau tinggalkan ruangan bersama Delinka. Aku ingin bicara dengan Cherry,” sambungnya seraya menatap Erza dengan pandangan tak bersahabat.


Erza segera bangkit dan melangkah keluar tanpa mengajak Delinka. Merasa diabaikan Delinka lekas menarik gagang pintu dan berjalan melewati pintu itu, lalu menutupnya rapat-rapat.


Cherry mematung. Ia tak berani menatap Serhan. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Perasaannya mendadak gelisah. Cherry berpikir Serhan pasti hendak memarahinya meski ia sendiri tak tahu letak kesalahannya di mana.


Serhan lantas menduduki sofa minimalis warna putih gading yang merapat ke dinding. Sejurus itu matanya terhunus lurus kepada Cherry yang masih merunduk.


“Kemarilah,” kata Serhan ketus.


Telinga Cherry menangkap suara berat Serhan dengan sangat jernih. Karenanya ia langsung mengangkat sedikit wajahnya dan berjalan pelan mendekati sofa.


“Aku kira kamu dan Erza tidak memiliki kedekatan tapi faktanya berbeda dengan yang kulihat barusan,” ujar Serhan langsung membahas apa yang mengganggu pikirannya.


Cherry yang tak terima dituduh seenaknya, langsung menegakkan kepalanya. Memandang Serhan tanpa takut lagi. Ia kadung kesal. Sekali pun bosnya tak pernah bersikap laksana air yang tenang di danau. Justru dia sering sengaja mengganggu kedamaian Cherry. Sedari awal Serhan tampak tak menyukai dirinya. Ia selalu memandang Cherry seolah ingin menyingkirkannya.


Cherry pikir, kalau tak suka ia kerja di restorannya lebih baik langsung pecat saja. Tak perlu mencari-cari kesalahan yang tak dilakukannya. Apalagi mengarang cerita tidak jelas begitu.


“Sous chef adalah atasan saya di dapur. Barusan dia memanggil saya untuk bicara mengenai pekerjaan. Saya tidak akan mengakui hal yang tidak saya lakukan. Tapi kalau Pak Serhan mau memecat saya, silakan. Saya akan terima dengan besar hati,” terang Cherry dengan tegas dan diwarnai nada yang angkuh.


Serhan bukannya marah, malah tersenyum geli. Jawaban Cherry sungguh di luar dugaannya. Dia kira Cherry akan membantah keras. Tapi siapa sangka Cherry berpikir terlalu jauh. Siapa juga yang mau memecatnya?

__ADS_1


“Aku tidak pernah berniat memecatmu. Aku hanya perlu memastikan seperti apa kedekatanmu dan Erza. Karena belakangan ini kalian berdua terlihat sangat dekat,” ucap Serhan dengan gaya bicara yang lebih lembut.


“Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Sous chef yang memberi perintah dan menegur saya soal pekerjaan adalah hal yang wajar. Saya sebagai bawahan tentu akan mendengar dengan baik,” rinci Cherry berkata.


Kedua matanya tak beralih menatap lurus Serhan. Entah dari mana segenap keberaniannya itu muncul.


“Baguslah kalau Erza masih tahu batasannya,” tanggap Serhan. Riak di wajahnya tiba-tiba riang.


Tatapan Cherry berubah lebih dalam menyidik wajah Serhan dengan serius. Mendadak ia ingat perkataan Elis dan Erza. Apakah mungkin Serhan adalah orang yang pernah ia kenal? Setelah sesaat mencocokkan wajah Serhan dan puzzle ingatannya, Cherry tetap tak merasa pernah bertemu Serhan sebelumnya. Diperhatikan sedetil apa pun Cherry masih tak berhasil mengorek ingatannya tentang Serhan. Padahal penampilan Serhan yang berkilau pasti tidak akan mudah dilupakan.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Serhan setelah menyadari ada yang tidak beres dengan tatapan mata Cherry padanya.


Kikuk Cherry langsung memberi alasan.


“Tidak apa-apa. Saya hanya sedang coba mengingat-ingat saja.”


“Maaf, kalau saya lancang bertanya. Apa mungkin kita berdua dulu pernah saling mengenal?” Akhirnya pertanyaan itu pun tercetus dari kedua bibir Cherry yang mungil dan sedikit bergetar.


Serhan tampak gugup mendengar pertanyaan Cherry. Tapi sesaat ia berhasil menahan diri untuk tak bereaksi di luar kewajaran. Sempat ia ingin tersenyum senang sambil bicara jujur tapi ia urungkan niatnya. Karena perasaan malu yang tersembunyi dalam dirinya lebih besar dari keinginan untuk berterus terang.


“Mungkin,” jawab Serhan tampak bertolak belakang dengan isi hati. “Kalau kau mengingatku sebagai orang yang kamu kenal berarti mungkin kita pernah kenal sebelumnya. Jadi, apa kamu ingat pernah mengenalku?” jawab Serhan yang berakhir dengan balik bertanya.


“Orang seperti anda tidak mungkin mengenal saya, seorang gadis biasa yang sederhana,” timpal Cherry yakin.


“Menurutmu aku ini tidak biasa?” Masih terduduk manis di sofa Serhan melempar tanya dengan nada santai.


Akan tetapi yang terdengar di telinga Cherry berbeda. Cherry menganggap gaya bicaranya penuh keangkuhan.

__ADS_1


“Ya. Anda pasti bisa memahami apa yang tidak biasa dari diri anda dibandingkan saya yang biasa ini,” kata Cherry kembali kesal. Karena ia malas mengakui keistimewaan Serhan dengan mulutnya sendiri.


“Kau salah. Aku ini adalah orang yang sangat biasa,” sangkal Serhan lembut.


Jawaban dari Serhan membuat Cherry setengah mati tak percaya. Detik ini ia seperti melihat sosok yang berbeda dari Serhan. Keangkuhan yang biasa terpancar dari wajahnya kini pudar tergantikan aura yang rendah hati.


“Sekarang aku memang memakai pakaian mahal tapi jati diriku tetaplah sama. Aku masih Serhan yang terlalu biasa. Dan kamu bukanlah gadis biasa, Cherry,” kata Serhan sendu.


Pujian yang diberikan Serhan di akhir kalimat membuat Cherry melongo tak mengerti. Bagaimana bisa Serhan memujinya dengan tak masuk akal begitu? Dilihat dari sisi mana pun tidak ditemukan nilai luar biasa dalam dirinya sama sekali.


Dari tatapan mata Serhan yang dipandangi Cherry, tersirat luka hati yang mendalam. Semakin Cherry menatap lebih dalam mata Serhan yang menyimpan tabir, Cherry kian terenyuh. Ternyata orang yang terlihat memiliki segalanya malah menyimpan rahasia hampa dalam dirinya.


“Ah, sepertinya aku terlalu banyak bicara,” seru Serhan yang bangkit dari sofa. “Cherry, sekarang kau boleh pergi. Kau pasti sudah mau pulang dari tadi,” tambah Serhan ramah dan terdengar sangat aneh di telinga Cherry.


Entah kenapa ia lebih suka sosok Serhan yang dingin, arogan, ketus dan seenaknya. Melihat Serhan yang lembut Cherry justru malah iba. Serhan sangat tak cocok dengan karakter lembut seperti itu. Karena yang terlihat di matanya Cherry adalah sisi Serhan yang lemah.


“Saya permisi kalau begitu,” pamit Cherry, mengambil langkah ke pintu. Dengan satu kali tarikan ia membuka pintu dan segera keluar.


Lalu saat pintu tertutup dan membalikkan tubuhnya yang ramping, jantung Cherry hampir saja berhenti detak. Bagaimana ia tidak terkejut, ia mendapati Erza sudah berdiri tepat di depan matanya. Jarak mereka sangatlah dekat. Jika Cherry bergerak sedikit saja maka dipastikan tubuh Cherry akan menubruk Erza.


“Sudah selesai?” tanya Erza yang terlihat masih kaget.


“Iya. Sekarang kalau boleh saya mau pulang,” jawab Cherry yang belum bisa meredakan keterkejutannya. Kemudian Cherry bergerak ke samping, menjauhi daun pintu. Karena posisinya sangat menghalangi jalan.


“Ya, pulanglah. Yang lain juga sudah banyak yang pulang. Hati-hati di jalan,” kata Erza yang agak tersipu. Ia lalu buru-buru membuka pintu dan melangkah masuk.


Cherry yang sudah tidak melihat lagi sosok Erza di balik pintu yang sudah tertutup, melepas pergi untuk bersiap pulang.

__ADS_1


__ADS_2