
Biasanya suasana dapur sudah lengang seusai restoran tutup, hanya tinggal Angga dan Cherry yang berkutat di dapur. Malam ini agak berbeda. Karena beberapa koki masih memakai dapur untuk keperluan mem-plating menu.
Cherry yang sudah beres dengan pekerjaannya melekas ke ruang loker untuk berganti pakaian. Setelahnya Cherry melewati lorong, lalu fine dining room, hingga pintu utama restoran.
Dua pasang mata tampak memperhatikan Cherry yang baru keluar restoran dari dalam mobil Mercedes Benz yang terparkir di area terluar pelataran. Masing-masing dari pemilik pasang mata itu memang sedang menunggu kemunculannya sedari tadi. Erza yang duduk manis di depan setir tak mengalihkan pandangannya dari pintu utama berbahan kaca. Begitu juga dengan Serhan yang duduk di sebelahnya.
Kedua laki-laki yang bersahabat itu punya niat yang sama. Mereka sepakat ingin mengantar Cherry pulang. Walaupun tujuan mereka agak berbeda.
Di teras restoran Cherry melihat beberapa temannya masih bercengkerama. Cherry menyapa mereka sebentar. Dan saat berjalan untuk meninggalkan pelataran Cherry kaget saat mengetahui sebuah mobil Honda Brio putih bercokol di bahu jalan persis depan restoran.
Langsung Cherry mempercepat langkah kakinya yang kurus, mendekati mobil. Perlahan Cherry setengah membungkukkan badannya dan mengetuk kaca jendela pintu mobil bagian depan.
Seseorang dalam mobil langsung merespon untuk membuka jendela mobil.
“Kak...?” Cherry berkata saat melihat wajah kakaknya yang tengah duduk di depan setir.
“Aku sengaja jemput kamu,” ucap Rahis seraya menyungging senyum hangat.
Cherry menegakkan kembali tubuhnya yang mengenakan gamis cantik warna biru tosca. Embusan napas pendek Cherry keluarkan lewat mulutnya yang sedikit terbuka. Ia menatap Rahis dengan pandangan tak habis pikir.
“Kak, aku ini bukan anak kecil. Aku bisa pulang sendiri,” kata Cherry yang masih berdiri depan pintu mobil.
“Bagiku, kamu tetap adik kecilku. Ayo, masuklah!”
Cherry menurut. Ia menarik cepat gagang pintu dan masuk. Setelah duduk di kursi penumpang, Cherry menurunkan kain gamisnya yang terjepit tubuhnya.
Adegan Cherry barusan saat masuk mobil, ternyata masih dipantau oleh Erza dan Serhan. Awalnya Serhan akan turun begitu Cherry mencapai batas luar restoran. Tapi, ia urungkan niatnya kala Cherry malah berjalan mendekati mobil honda putih itu.
Serhan memandang Cherry dengan tatapan skeptis hingga Cherry masuk ke dalam mobil itu. Ia penasaran sekali siapa pemilik mobil yang menjemputnya. Karena jangkauan pandangannya terbatas, dari posisinya ia tak dapat melihat jelas siapa pengendara mobil honda itu.
__ADS_1
“Pria pemilik restoranmu sudah pulang?” tanya Rahis sedikit menggerakkan tubuhnya yang masih terpasang sabuk pengaman untuk menghadap Cherry.
“Aku tidak tahu. Bisa jadi sudah pulang,” jawab Cherry sembari memasang tali sabuk pengaman.
“Dia tidak mengantarmu pulang lagi?” tanya Rahis seperti kecewa.
“Untuk apa dia mengantarku pulang lagi?” tanya Cherry bernada sewot. “Lagipula, kenapa Kakak peduli dengan urusannya?” Cherry melirik kesal Rahis.
“Ya, aku hanya tanya saja. Tidak usah cemberut begitu,” ucap Rahis. Satu tangannya menggapai kepala Cherry yang tertutup hijab lebar. Lalu dengan lembut Rahis mengelus cepat kepala Cherry.
“Jangan-jangan Kakak berpikiran macam-macam lagi ya?” Cherry merasa kakaknya sengaja menjemputnya memang untuk mengawasinya. Dari sejak Cherry menjelma menjadi gadis baligh, Rahis sering bersikap ketat pada Cherry. Terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan yang namanya pria.
“Macam-macam apanya? Yang aku lakukan ini memang sewajarnya dilakukan seorang kakak laki-laki. Jika ada pria yang berani mendekatimu, maka dia harus berhadapan dulu denganku. Aku tidak akan mengizinkan laki-laki yang tidak berniat serius untuk mendekat padamu,” ujar Rahis sangat tegas dan tak main-main soal ucapannya.
“Iya, aku tahu Kak. Sampai detik ini aku belum berpikir soal pernikahan. Aku masih harus mengejar mimpiku dulu,” jawab Cherry.
“Jangan bilang begitu! Kalau kamu hanya sibuk dengan karirmu, bisa-bisa kamu akan terlambat menikah,” sahut Rahis tak suka mendengar jawaban adik kesayangannya.
“Kakak sebenarnya tidak ingin cepat melepasmu untuk menikah. Tapi kalau kamu sudah bertemu jodoh, Kakak tidak akan melarangmu untuk menikah,” tandas Rahis menatap Cherry dengan ekspresi sedih.
“Aku jadi malas berdebat dengan Kakak. Kita lanjutkan bicaranya di rumah saja. Ayo, jalankan mobilnya Kak!” seru Cherry yang memalingkan wajahnya dari Rahis. Ia kemudian menutup sempurna jendela mobil.
Rahis langsung menyalakan mobil dan belum sempat ia menginjak pedal gas, ketukan kecil di jendela mobil membuatnya menurunkan kakinya kembali yang kadung terangkat sedikit.
Cherry yang bisa melihat dari kursi penumpang siapa gerangan yang mengetuk pelan jendela mobil, segera menurunkan kaca perlahan.
Tersibaklah dengan jelas sesosok wajah elok, begitu jendela sudah terbuka sepenuhnya. Erza sedikit menurunkan kepalanya dan memandang Cherry.
Cherry mendongak, menatap Erza heran. Ia pun melirik pada sosok di belakang Erza. Serhan dengan tampang dinginnya yang khas, maju selangkah hingga posisinya sejajar dengan Erza. Ia pun menyidik Cherry dengan tatapan tak biasa.
__ADS_1
Rahis yang tangannya masih menempel di kemudi otomatis dapat melihat kedua orang yang berdiri di samping mobil.
Ia diam, menantikan sambil berpikir apakah ia perlu bertindak atau tidak.
“Cherry, apa kamu baik-baik saja?” tanya Erza cemas. Ia melirik curiga ke arah Rahis.
“Tentu. Saya tidak apa-apa Sous chef,” timpal Cherry yang tak mengerti kenapa Erza bertanya begitu. “Memang ada apa?” Cherry yang bingung bertanya untuk memastikan.
“Aku lihat kamu masuk dalam mobil. Tapi mobilnya tidak langsung jalan. Dan kamu juga lama berada dalam mobil. Aku dan Serhan pikir kamu terkena masalah,” papar Erza sebentar menatap Cherry, sebentar menengok Rahis.
“Apa dia berniat menculikmu?” Serhan menyerobot bicara usai sedikit menggeser badan Erza. Wajahnya ia turunkan persis dekat jendela mobil yang terbuka.
Cherry yang kaget spontan memundurkan wajahnya sedikit ke belakang. Karena wajah Serhan benar-benar berada begitu dekat dengan wajahnya.
“Siapa yang menculikku?” tanya Cherry bingung setengah mati. Mungkin laki-laki di depan matanya ini sudah tidak waras. Dia jadi berpikir gila karena terpengaruh kisah-kisah kriminal di siaran berita yang sering muncul belakangan ini. “Dia ini Kakakku! Kakak kandungku!!” Dengan lirikan matanya Cherry menunjuk keberadaan Rahis yang malah bersikap tenang-tenang saja.
Alhasil, Serhan yang mengetahui kenyataannya seketika kehabisan kata-kata. Ia bergerak mundur, agak menjauhi mobil. Sebelah tangannya terangkat dan menutupi sebagian wajahnya. Saking malunya tak ada keberanian dalam dirinya yang tersisa untuk menunjukkan wajahnya lagi di hadapan Cherry. Terlebih lagi, orang yang ia curigai adalah kakaknya Cherry. Bagaimana dia bisa seceroboh itu tanpa pikir panjang? Dan, kenapa ia bisa bertindak begitu bodoh? Mengapa juga ingatannya begitu payah? Seharusnya ia dapat mengenali kalau laki-laki itu adalah kakak laki-laki Cherry.
Sementara Erza yang sama malunya berusaha untuk menutupi rasa malu itu. Ya, semua ini karena pikiran Serhan yang tidak jernih. Dan mengapa pula ia bisa mengikuti jalan pikirannya yang sembarangan? Begini kan jadinya. Harusnya ia bisa memberi kesan pertama yang baik saat bertemu orang terdekat Cherry. Bukannya malah bersikap konyol.
“Maaf, karena cemas kita tidak berpikir kalau kau sedang bersama kakakmu,” ucap Erza yang kikuk. Ia mengangguk dan tersenyum canggung pada Rahis, yang menatap Erza dengan penuh tanda tanya.
Meski yang salah duga adalah kedua atasannya, Cherry juga merasa malu sendiri. Apalagi nanti kakaknya akan menanyainya macam-macam.
“Karena semuanya sudah jelas, Sous chef dan Bos tidak perlu khawatir lagi. Saya dan Kakak permisi pulang duluan,” kata Cherry menutup pembicaraan sekaligus kasus memalukan.
Ia secepatnya menutup kembali jendela mobil dan meminta kakaknya untuk menjalankan mobil.
Saat mobil belum lama melaju, Rahis menggoda Cherry setelah mereka berdua sempat saling diam.
__ADS_1
“Sous chef dan Bos. Kira-kira di antara dua orang itu siapa yang pantas kurestui?” canda Rahis yang pandangannya tetap lurus ke depan jalan raya.
Cherry mendengus. Ia menekuk wajahnya. Dan merapatkan bibirnya, tanpa berkeinginan meladeni kakaknya. Ia memilih untuk diam saja.