
Di tempat berbeda. Di hari yang berbeda
Seorang pria menuruni anak tangga dan menghampiri Ibunya yang sedang menata peralatan makan di meja makan persegi berkursi tujuh yang menghadap ke selatan. Dia duduk di kursi sebelah kiri. Dan segera mengambil gelas yang baru dituangi air putih oleh Ibunya.
Pria muda itu meneguknya cepat, hingga air di gelas tersisa sedikit.
“Setelah Ayahmu turun, kita baru sarapan. Sekarang Ayahmu masih bersiap di kamar,” ucap Ibunya yang tampak muda di usianya yang sudah berumur.
Pria yang mengenakan setelan kerja formal itu menelisik apa saja yang terdapat di atas meja makan. Semua makanan sudah siap. Tapi, ia tak bisa langsung menyantap. Karena harus menunggu Tuan Besar dulu. Yang tak lain adalah Ayahnya sendiri.
“Tidak perlu menunggunya. Aku lapar, jadi aku mau makan sekarang,” keluhnya, yang langsung menyambar sebuah piring, yang sudah tersaji di atasnya sarapan lezat yang sederhana.
“Serhan,” ucap Ibunya memanggil nama putranya lembut. “Kita kan jarang bisa sarapan bersama. Ayahmu tidak bisa setiap hari pulang ke rumah,” lanjutnya, sambil mendudukkan dirinya di kursi seberang yang berhadapan dengan Serhan.
“Bagaimana bisa Ayah pulang setiap hari ke sini? Sementara Ayah cukup repot mengurus istri keduanya. Menantu kesayangan Kakek,” sindir Serhan, menumpahkan kekesalan tentang Ayahnya.
“Ibu tidak mau kamu membicarakan hal itu lagi. Biar bagaimanapun Ayahmu tetap Ayahmu. Begitu pun dengan Kakekmu. Kamu harus tetap menghormati mereka. Jangan bicara tidak sopan begitu!” protes Miranda, yang tampak menahan napas setelah bicara.
“Aku tidak jadi sarapan di rumah. Bu, tolong minta pelayan siapkan bekal makanan untukku. Aku akan sarapan di restoran saja. Sekalian buatkan juga untuk makan siang,” pinta Serhan, seraya menidurkan sendok dan garpu di piring yang sempat dipegangnya tadi. Selera makannya sudah hilang karena harus membahas soal Ayah dan Kakeknya.
“Kenapa kamu sampai sekarang masih suka bawa bekal makanan? Kamu kan bisa makan di restoranmu atau di tempat lain,” kata Ibunya heran.
“Entahlah. Mungkin karena masakan Bibi enak. Kalau Ibu mau tahu, bukan aku saja yang suka bawa bekal makanan. Erza juga begitu,” timpal Serhan.
__ADS_1
Miranda mengerutkan keningnya. Kebiasaan putra semata wayangnya terbilang cukup aneh. Sekarang ia mendengar, teman putranya juga mempunyai kebiasaan yang sama. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Erza dan Serhan bisa berteman cukup lama sejak mereka berdua pertama bertemu di Prancis.
“Apa dulu sewaktu kalian tinggal di Prancis juga suka bawa bekal makanan?” Tanya itu tercetus karena Miranda tiba-tiba penasaran.
“Untuk menghemat uang Erza selalu masak sendiri dan membuat bekal. Aku sering minta bekal punya dia. Sama sepertinya, aku juga harus mengirit uang selama tinggal di Prancis. Ibu juga tahu bahwa Ayah menggajiku dengan upah yang sangat pas-pasan. Ayah tega mengirimku ke kantor cabang di Prancis dengan alasan untuk belajar mengelola perusahaan lebih baik. Padahal, itu semua atas perintah Kakek dan istri mudanya,” sahut Serhan, sambil menyibak kembali sekeping ingatan di masa lalu.
“Sudahlah, Serhan. Jangan berpikiran buruk terus pada Ayah dan Kakekmu! Ayahmu dulu melakukannya juga demi kebaikanmu,” ucap Miranda menasehati Serhan. Ia tak mau anaknya membenci ayahnya sendiri, karena dia dulu pernah sangat menyakiti hati Serhan kecil. “Dia juga menyuruhmu kembali ke sini setelah tak lama kamu dikirim ke Prancis,” sambungnya, menatap Serhan dengan tatapan miris.
“Dulu Ayah juga tahu bahwa aku tidak cocok bekerja di perusahaan. Tetapi sekarang sudah tak ada yang bisa mengatur hidupku lagi. Begitu juga dengan Kakek,” papar Arhan. Ia kemudian berhenti bicara untuk menggigit sepotong roti.
“Sekarang kamu sudah memutuskan apa yang terbaik untuk hidupmu. Dan Ibu akan selalu mendukungmu, Serhan.”
“Aku tidak menyesal pernah di kirim ke Prancis. Karena selama tinggal di sana aku bertemu teman baik. Dan juga aku bisa bertemu kakak setelah cukup lama Ibu mencarinya,” kata Serhan, setelah selesai mengunyah dan tak bernada kesal lagi.
“Ssssttt!” Miranda menempelkan telunjuk di bibirnya dan mengisyaratkan Serhan untuk tak membicarakan tentang kakaknya. “Nanti Ayahmu bisa dengar!” lanjutnya, setelah telunjuknya disingkirkan dari bibirnya.
Karena jika suaminya tahu, maka kemungkinan besar istri madunya dan mertuanya juga akan menyusul untuk mengetahui rahasia yang selama ini ia tutup-tutupi. Karena sang ayah mertua tak pernah tahu bahwa ia telah memiliki seorang putri sebelum menikah dengan suaminya.
Sementara suaminya hanya sebatas tahu bahwa putri kandungnya tinggal bersama mantan suaminya di luar negeri. Dan mereka sudah tak saling berhubungan lagi, sejak mantan suaminya memutuskan komunikasi sebelah pihak.
Pembicaraan mereka terputus kala pelayan memberikan paper bag berisikan bekal makanan pada Serhan.
“Nanti, siang tolong sempatkan pergi ke toko perhiasan untuk mengambil perhiasan Ibu. Oh ya, cincin yang ada di brankasmu juga sekalian Ibu bawa ke sana untuk dibersihkan.”
__ADS_1
Serhan terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan cukup serius menatap wajah Ibunya.
“Kenapa Ibu ambil cincin itu tanpa izinku?” Serhan menyesali Ibunya yang bertindak tanpa sepengetahuan dia. Apalagi cincin itu cukup penting baginya.
“Ibu sudah lama melihat cincin itu di brankas. Perhiasan juga perlu dibersihkan biar tetap terawat dan berkilau. Lagipula, buat apa kamu beli cincin segala? Hanya untuk ditaruh saja di brankas. Kan sayang cincin seindah itu tidak dipakai. Lebih baik kamu berikan untuk Ibu,” tutur Miranda.
“Aku akan memberikan cincin yang lebih bagus buat Ibu. Tapi, tolong Ibu jangan meminta cincin itu lagi. Ya?” Serhan berusaha membujuk Ibunya. Karena ia tak mau Ibunya marah karena cincin itu tak bisa ia berikan pada Miranda.
“Memangnya kamu mau berikan pada siapa cincin itu? Setahu Ibu kamu tidak dekat dengan perempuan mana pun,” kata Miranda berekspresi keheranan.
“Aku juga belum tahu, Bu.” Serhan tersenyum kecut, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. “Pastinya, aku akan memberikan cincin ini pada perempuan yang akan kunikahi,” imbuh Serhan, diakhiri dengan senyum ceria.
“Kamu ini aneh. Harusnya cari dulu jodoh, baru siapkan cincinnya. Nah, kamu juga masih belum dapat jodoh tapi malah sudah lebih dulu membeli cincin,” ucap Miranda, yang menggeleng-geleng pelan. Ia tidak tahu bahwa Serhan bisa-bisanya melakukan hal yang tidak biasa.
“Apa salahnya kalau aku siapkan cincinnya dulu? Siapa tahu nanti jodohnya menyusul?” Serhan beralasan.
“Bagaimana kalau ukuran cincin itu ternyata tidak pas di jari perempuan yang akan kamu nikahi nanti?”
“Aku akan memesan lagi cincin yang sama dengan ukuran yang pas,” jawab Serhan enteng.
“Sebaiknya segera temukan jodohmu. Jadi, nanti tahu cincinnya pas atau tidak,” tutur Miranda serius tapi setengah bercanda di akhir kalimatnya.
Mereka pun berdua tertawa kecil.
__ADS_1
Dan setelah berhenti tertawa, Serhan beranjak, mengecup pipi Miranda dan buru-buru pamit. Karena Ayahnya sudah datang dan berada di meja makan. Sebentar saja Serhan menyapa Ayahnya sebelum pergi.
Wajah Serhan masih tertekuk saat ia keluar rumah dan memasuki mobil.