
Sous chef menaruh kotak berisi bahan segar di atas meja Chef, yang terletak paling depan. Lalu bahan dari dua keranjang Cherry pindahkan ke wadah yang telah disiapkan Angga. Dan menempatkannya di sisi lain meja dapur.
“Apa ada yang ingin kalian tanyakan?” tanya Erza sambil menatap lurus para karyawan yang berdiri di meja perapian masing-masing.
“Untuk kaldu, apa perlu kita membuat juga tambahan kaldu sayuran dan kaldu jamur?” tanya seorang koki senior. “Selama ini kita sudah terbiasa memakai kaldu ayam dan sapi,” sambungnya ragu.
“Chef Delinka punya pertimbangan sendiri. Saya akan membahasnya dengan Chef bila diperlukan. Tapi untuk saat ini kita lakukan sesuai perintah Chef,” jawab Erza bijak.
Berkepala dingin saat ini mungkin keputusan yang lebih tepat. Erza tak ingin berseteru dengan Delinka meski ia tak sependapat dengan keputusan yang Delinka buat.
Setelah itu tak ada yang berani menyuarakan ketidaksetujuan. Mereka pikir tidak ada gunanya membantah. Toh, Delinka adalah pimpinan dapur.
Para koki yang bertugas mulai mempraktikkan resep baru. Sebagian koki lain mengamati dan siap membantu rekan mereka sewaktu-waktu. Dan terlihat para asisten koki juga sibuk mempersiapkan bahan dan mengolah bahan menjadi komponen utama menu.
Cherry tak banyak membantu. Usai menyediakan peralatan masak serta perlengkapannya Cherry hanya diam menunggu. Lirikan matanya bergerak dari satu arah ke arah lainnya, memerhatikan orang-orang yang bekerja.
Ada perasaan iri yang terselip di relung hatinya. Ia ingin sekali memegang wajan seperti para koki dan asistennya. Tapi, ia sadar diri. Mungkin butuh waktu lama hingga ia dipercaya untuk memegang posisi koki atau paling tidak asisten.
Saat menu sudah selesai di-plating, Chef Delinka kembali ke dapur setelah seorang koki memanggilnya.
Ia kemudian mencicipi menu satu per satu dengan mendalami kesempurnaan rasa dan segala unsur di dalamnya. Semua pandangan terarah padanya sambil berdebar kencang. Apalagi bagi para koki yang memasak menu tersebut.
Dengan kepala tegak Chef Delinka yang berdiri depan meja Chef berkomentar.
“Hasilnya lumayan. Saya maklumi karena waktu kalian untuk mengerjakan semuanya tidak banyak. Tapi, tentu yang saya harapkan lebih dari ini. Saya akan memberikan kalian waktu hingga kalian berhasil membuat menu-menu itu sesuai resep. Tanpa pengecualian,” kata Delinka yang menekankan akhir kalimat yang ia ucapkan.
__ADS_1
Cherry terdiam. Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka ingin sekali protes tapi rasa takut lebih menguasai diri mereka. Jadi, mereka memilih untuk tidak melawan. Setidaknya, selama mereka masih bisa bertahan.
“Besok saya ingin kalian semua datang lebih awal. Karena kalian perlu mempersiapkan banyak hal. Dan sekarang kalian boleh bersiap untuk pulang,” ujar Delinka tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk bertanya atau berpendapat.
Dengan langkah yang menawan Delinka meninggalkan dapur. Keheningan pun pecah. Suara-suara bernada keluhan memenuhi seisi ruangan dapur. Ya, tadi mereka layaknya pengecut. Sekarang mereka malah berisik membicarakan Delinka di belakangnya.
Cherry sendiri tak ingin ikut bergibah ria. Ia lebih memilih untuk membereskan meja yang berantakan. Karena ingin cepat pulang.
“Kalian diamlah!” bentak Erza marah.
Cherry nyaris saja melompat saking kagetnya. Ia serta merta langsung melirik heran pada Erza yang memasang wajah berang.
“Jika kalian tidak suka, sebaiknya kalian bicarakan langsung di hadapan orangnya. Apa gunanya kalian mengeluh di belakang Chef Delinka?” seru Erza yang menganggap para bawahannya itu tak bersikap dewasa.
“Segera selesaikan sisa pekerjaan kalian lalu pulanglah,” tambah Erza masih marah.
“Cherry, tinggalkan pekerjaanmu dan ikut denganku,” suruh Erza tiba-tiba.
Cherry yang sempat tertegun akhirnya menyudahi pekerjaannya yang belum beres dan menghampiri Erza.
Sebab kesibukan masing-masing, tak ada yang memerhatikan yang dilakukan Cherry. Kecuali, satu orang. Irene. Ekspresi wajahnya seketika berubah tak menyenangkan. Tatapan matanya menghunus, menyoroti tajam Cherry yang keluar dari dapur bersama Erza.
Erza menuntun langkah Cherry untuk mengikutinya masuk ke dalam ruang kerjanya. Di dalam ruangan terdapat dua meja kerja. Papan nama bertuliskan nama Erza terpajang di salah satu meja di tepi kanan. Dan satu meja lagi sudah tentu milik Delinka yang terletak di depan, merapat ke dinding belakang.
Erza berjalan menghampiri mejanya, lalu berdiri bersandar di tepi meja.
__ADS_1
“Apa yang akan Delinka lakukan nanti pasti akan menyusahkan seluruh personil dapur. Termasuk aku juga. Tapi, saat ini aku belum akan mengambil tindakan. Karena kita tidak tahu apa Delinka berhasil atau tidak. Aku sekarang ingin menagih janjimu waktu itu,” terang Erza lembut tapi serius.
“Janji apa?” Cherry malah bertanya dengan raut bingung. Jujur, ia tak ingat pernah berjanji sesuatu pada Erza.
“Aku pernah meminta kamu untuk menjadi sekutuku. Dan kau telah bersedia. Sekarang waktunya kamu penuhi janjimu,” ucap Erza sambil lekat menatap Cherry.
Pikiran Cherry menyusuri serpihan ingatannya di bagian tertentu dalam tempurung kepalanya. Setelah kurang dari semenit berpikir, akhirnya ia menemukan bagian ingatan yang terlupakan itu.
“Saya kira saat itu Sous chef tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Dan saya tidak paham apa maksud Sous chef,” kata Cherry benar-benar kesusahan memaksimalkan daya tangkapnya.
“Saat ini aku ingin kamu menjadi orang kepercayaanku,” sahut Sous chef yang membuat Cherry mengerutkan keningnya.
“Yang perlu kamu lakukan hanya mengawasi staf dapur. Terlebih apa yang mereka keluhkan di belakangku dan Delinka. Kau hanya perlu menyampaikan padaku hal yang penting saja. Kamu tidak akan keberatan bukan melakukannya?” Cara bicara Erza tidak seperti meminta tolong tetapi lebih bernada memaksa.
Cherry tak punya waktu untuk berpikir lagi, maka ia pun segera menganggukkan kepalanya.
“Baik, Sous chef. Tapi, apa tidak apa-apa kalau saya harus memata-matai mereka?” tanya Cherry kembali ragu.
“Perubahan Delinka di dapur pada akhirnya akan ditentang oleh kebanyakan personil. Karena setiap keputusan yang dia ambil akan menyulitkan mereka. Delinka selalu bertindak tanpa memikirkan orang lain. Jika ia sudah berambisi maka ia tidak akan menerima kegagalan. Aku tidak ingin restoran jadi kacau nantinya,” papar Erza sambil masih lurus menatap Cherry.
Cherry tak menimpali. Ia tak punya kata-kata tepat untuk diutarakan walau dalam kepalanya terlintas beraneka pertanyaan.
Lalu ketika keheningan sesaat membalut suasana di antara mereka berdua, terdengar suara pintu terbuka. Serhan dan Delinka bersamaan masuk ke dalam ruangan. Melihat Erza dan Cherry yang berduaan di dalam ruang yang sama dan dengan jarak sedekat itu, Serhan terperangah. Air muka Serhan melukiskan ketidaksukaan dengan sangat gamblang.
Bak dua orang yang tak berdosa, Cherry dan Erza memandangi dua orang yang berdiri di ambang pintu yang terbuka dengan ekspresi datar.
__ADS_1
“Sedang apa kalian berdua di sini?” tanya Delinka dengan melayangkan tatapan curiga. “Ah, kalian tidak melanggar aturan restoran kan? Sesama personil dapur tidak boleh menjalin hubungan istimewa,” sambung Delinka sengaja memanaskan situasi.
Erza terperanjat. Cherry sama terhenyak. Meski mereka berdua tak bersalah tapi mereka serempak jadi bertingkah kikuk. Serhan pun dengan tajam menatap Cherry dengan sorot mata penuh api membara.