
Cherry menaiki bus yang berhenti di halte. Ia memilih duduk di kursi kosong samping jendela. Sepoi angin menerpa kerudungnya dari sela kaca jendela yang sedikit terbuka.
Ponselnya tiba-tiba menyenandungkan syair islami milik penyanyi wanita favoritnya. Sebuah panggilan telepon rupanya.
Cherry mengangkat telepon setelah membaca nama yang terpampang di layar.
“Ada apa, Kak?”
“Kamu sudah selesai tesnya?” Suara diseberang telepon terdengar cemas.
“Iya. Kenapa?” tanya Cherry mendadak resah.
“Kamu di mana sekarang?”
“Masih di bus.”
“Jangan langsung pulang ke rumah ya! Mampir ke rumah Ayah dulu.”
"Kakak pergi juga?"
"Iya."
Cherry yang heran lalu bertanya, “Kenapa mendadak? Tumben Kakak ajak aku bertemu Ayah.”
“Barusan aku dapat kabar Ayah sakit. Jadi kita jenguk Ayah sekarang. Aku dalam perjalanan ke sana."
“Sakit Ayah tidak parah kan?” tanya Cherry sedikit panik.
“Ayah hanya kelelahan. Kita ketemu nanti di rumah Ayah.”
Cherry menutup ponselnya begitu kakaknya tak bersuara lagi.
Ia turun di halte berikutnya. Dan berganti naik angkutan kota.
***
Di rumah ayahnya kakak Cherry telah lebih dulu sampai. Ia tengah menunggu Cherry di teras.
“Kak, kenapa nggak langsung masuk saja?” tanya Cherry yang mendapati kakaknya malah bengong di luar rumah.
“Aku sengaja tunggu kamu. Kita sama-sama saja masuknya,” kata Rahis, tampak kurang bersemangat.
__ADS_1
“Tante ada di dalam kan?”
Rahis mengangguk.
“Dia sudah suruh Kakak masuk kan?”
Lagi Rahis hanya mengangguk.
Cherry tak mau bertanya lebih dalam lagi. Ia tahu betul bagaimana hubungan Rahis dan ayahnya. Apalagi belakangan ini istri ayahnya berulah lagi hingga hubungan mereka berdua tambah berjarak.
“Kita masuk sekarang.” Cherry lebih dahulu berjalan masuk setelah membuka pintu depan perlahan.
Rahis membuntuti langkah Cherry. Ada kerinduan dan kekhawatiran terpancar dari matanya yang bening. Namun, sesuatu yang masih mengganjal di lubuk hatinya membuat ia tak bisa bersikap leluasa. Layaknya sebuah keluarga.
Ibu tiri mereka menyambut keduanya dengan tampang yang dingin.
Istri ayahnya berkata sambil memasang wajah suram, “ Ayah kalian di dalam kamar. Dia sedang tidur. Kalau mau melihatnya, usahakan untuk tidak membangunkannya. Kasihan, dari semalam baru bisa tidur sekarang.”
“Iya, Tante Wina. Kami mengerti kok. Kita berdua cuma mau lihat kondisi Ayah sebentar saja,” balas Cherry agak kesal.
Dua kakak beradik itu tak menghiraukan Tante Wina lagi. Mereka langsung ke kamar. Ayah mereka terlihat tertidur pulas di atas ranjang.
Sementara Kakak Cherry sudah lama tak bertemu sang ayah. Rahis selama ini selalu menjaga jarak dengan ayahnya sejak kedua orangtua mereka bercerai.
“Kita keluar saja. Nanti malah ganggu Ayah,” ujar Rahis tertunduk menatap wajah Ayahnya yang pucat.
Cherry mengamini. Mereka akhirnya berjalan pelan keluar dan menutup pintu hati-hati.
Di ruang tengah Ibu tiri mereka tengah menanti.
“Duduklah dulu,” pintanya dengan suara yang datar.
Mereka berdua pun duduk bersebelahan di sofa warna marun itu.
“Kalian bisa lihat kondisi ayah kalian. Dia sudah tua. Tapi malah masih sibuk mengurus kedai,” kata Tante Wina mulai mengeluh.
Cherry dan Rahis hanya mampu terdiam. Meski enggan mereka harus bersikap sopan pada yang lebih tua.
Tante Wina melanjutkan perkataannya yang terhenti.
“Kalian sebagai anaknya harusnya tidak membiarkan ayah kalian bekerja terus. Sudah waktunya kalian berbakti. Seandainya kalian berdua memberi uang yang cukup pada Ayah tiap bulan, Ayah tidak akan bekerja keras seperti ini. Kalian tahu kan adik bungsu kalian masih perlu biaya untuk sekolah?”
__ADS_1
Suasana berubah kaku. Ketegangan menyeruak. Tante Wina sengaja menyulut api.
“Kita sangat tahu kalau Ayah sudah tidak muda lagi. Kami sanggup kok mengurus Ayah dan Dean. Tapi tidak dengan Tante dan putri kesayangan Tante. Karena itu bukan kewajiban kita,” timpal Cherry meradang.
“Tante ini kan istri Ayah kalian berdua. Bella juga saudara kalian meskipun kalian tidak berhubungan darah. Apa selama ini kalian berdua belum menerima aku dan Bella sebagai keluarga?” Tante Wina tak dapat mengontrol amarahnya. Dia yang menyulut, dia sendiri yang terbakar.
“Tante, tolong kita datang ke sini bukan untuk ribut. Kalau Ayah sudah nggak sanggup buat kerja, kita berdua bisa membiayai hidup Ayah. Kita juga bersedia untuk merawat Dean. Tapi aku harap Tante bisa bersikap bijak dan tidak seenaknya bicara,” ucap Cherry berusaha tetap menjaga hati dari nafsu amarah.
Tante Wina membuang napas. Kesal sampai ke ubun-ubun.
Dia berkata, “Kamu rupanya sudah pintar bicara. Lama-lama kamu makin mirip dengan Resti, Ibumu.”
“Diam Tante!!” teriak Rahis sambil menunjuk kesal ke arah Tante Wina.
Tante Wina mendelik. Mulutnya mengerucut.
“Sekali lagi Tante mengungkit tentang mendiang Ibu, aku nggak akan tinggal diam lagi. Asal Tante tahu, aku datang ke rumah ini karena Ayah. Kalau bukan karena Ayah sakit, aku tak sudi menginjakkan kaki ke sini. Tante Wina harusnya sadar diri. Berani sekali dengan mulut kotor itu menyebut nama Ibu,” tambah Rahis marah besar.
“Kau bilang apa? Mulut kotor?! Dasar nggak punya sopan santun!” balas Tante Wina melolot penuh kebencian. “Kalau kalian tidak mau peduli dengan ayah kalian, sebaiknya tidak usah datang saja,” lanjut Tante Wina bersungut-sungut.
“Aku bisa ajak Ayah pergi. Kita berdua akan merawatnya dengan baik. Dan Dean bisa ikut bersama kita. Jadi, Tante tidak perlu berpikir apa-apa lagi,” seru Rahis.
“Maksudmu apa?” tanya Tante Wina makin naik darah. “Kamu mau menyuruh Ayahmu untuk menceraikan aku??!!”
“Aku tidak berkata begitu. Kalau Tante mengeluh terus, solusi yang aku berikan adalah yang terbaik. Ayah ikut dengan kita. Dan Dean bisa tinggal bersama kita juga. Tante dan Bella bukankah masih sehat. Kalian bisa mengurus hidup kalian sendiri,” tandas Rahis menurunkan nada suaranya.
“Aku ini istri ayahmu. Jadi aku, ibu kalian juga. Kenapa kalian bisa tega mencampakkan aku dan saudara kalian, Bella?” ucap Tante Wina mulai melembut.
“Bagi aku dan Cherry, Tante Wina bukan siapa-siapa. Begitu pula dengan Bella,” balas Rahis tegas.
“Harusnya Tante bertanya pada diri Tante sendiri," pungkas Cherry yang tak bisa hanya menonton. Ia sama marahnya dengan Rahis. “Pernahkah Tante memperlakukan aku dan juga Kakak layaknya anak kandung Tante sendiri?”
Tante Wina tak berkutik. Pertanyaan Cherry begitu menohok. Dia tak mampu melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri. Semua yang dikatakan Cherry adalah kenyataan.
“Tante hanya memikirkan bagaimana nasib Tante dan anak Tante nantinya jika Ayah sudah tak sanggup bekerja di kedai lagi. Soal Ayah, Tante tak perlu cemas. Kita bersedia mengurus Ayah. Dan kalau Ayah membutuhkan uang sekalipun, Ayah bisa minta sendiri sama kita,” kata Cherry masih emosi.
Tante Wina menelan ludah. Ia tak mampu menyerang balik. Taktiknya sangat mudah terbaca oleh lawan.
“Tak perlu Tante menekan kita berdua. Sebagai anak, kita berdua tahu kewajiban berbakti pada orang tua. Meski dulu Ayah sempat mengecewakan kita, darah lebih kental daripada air. Selamanya Beliau akan tetap menjadi ayah kita. Terlepas kesalahan apa yang pernah Ayah perbuat di masa lalu.”
Kadung tersulut amarah Rahis menarik tangan Cherry, menuntunnya untuk beranjak pergi. Secepatnya meninggalkan rumah yang hawanya sudah tak sejuk lagi.
__ADS_1