Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Satu porsi untukmu


__ADS_3

“Pesanan pertama!” teriak Erza setelah menerima salinan kertas pesanan yang diberikan pelayan. Dan menyebutkan menu dengan lantang.


Koki yang bertanggungjawab atas menu yang disebutkan segera menyiapkan wajan, mengambil bahan dan memasaknya.


Erza kembali meneriakkan pesanan-pesanan berikutnya.


Beberapa koki dengan mahir memasak. Terdengar suara desiran minyak panas yang bertemu dengan bahan basah. Para commis sedia membantu. Mereka menyiapkan bahan pendamping yang sudah jadi untuk ditaruh di piring.


Keadaan dapur seketika riuh oleh suara peralatan masak, talenan, irisan bahan, air mengalir dari kran, semburan api dari kompor, minyak panas dari penggorengan, dan teriakan Erza yang membacakan pesanan yang kian bertambah.


Cherry berlari kecil begitu seorang koki menyuruhnya mengambilkan bahan atau alat masak. Ia pun cekatan mengambil wajan atau panci dan peralatan masak lainnya yang kotor. Setelahnya langsung dicuci di wastafel. Lalu, ia beralih ke sana kemari setelah diminta mengerjakan sesuatu oleh koki.


Erza terus siaga berdiri di depan meja Chef. Kadang ia berkeliling melihat apa kokinya bekerja dengan benar.


Dia memperlihatkan kepiawaiannya sebagai panglima tertinggi di medan pertempuran dapur. Sedari tadi ia terus menerus menerima catatan pesanan dan membacanya, mengawasi pekerjaan bawahan, memberi instruksi, menegur staf yang lelet, mencicipi rasa sampel masakan hingga memeriksa presentasi di piring menu.


Entah kenapa sambil bekerja, staf dapur merasa tegang. Mereka takut melakukan kesalahan yang akan menyebabkan Erza si pria dengan aura menyeramkan, akan murka.


Erza menghitung piring menu pesanan. Ia mencocokkannya dengan catatan yang tertera di kertas salinan.


“Untuk meja nomor delapan masih kurang satu menu. Ginger beef with roasted mushroom-nya mana? Siapa koki yang membuatnya? Cepat!” Sous chef tak bisa sabar. Tiap detik waktu yang berlalu sangat berharga.


“Ya, Sous chef. Tinggal di beri garnish saja,” ujar koki pria yang terlihat telah memasuki usia kepala tiga.


“Aduh, kenapa kamu lamban sekali kerjanya?!” bentak Erza. Tampak kesal.


Koki tadi buru-buru menaruh piring pesanan di meja Chef.


“Pesanan lainnya sudah selesai. Tapi kamu kenapa bisa terlambat?”


Koki itu menundukkan wajah sambil berkata, “Maaf, Sous Chef.”


“Kembali ke tempatmu,” ucap Erza mengibaskan tangannya tanda ia mengusir koki itu dengan halus.


Cherry sedang diam menunggu perintah dari koki yang memanggilnya. Ia hanya bisa menyaksikan dengan prihatin adegan menguras emosi dari pimpinan yang bertekanan darah tinggi itu.


“Ayo semuanya selesaikan pesanan dengan baik!” Sous chef Erza berseru seraya mengecek menu yang telah siap diantar ke meja pesanan.


Ia segera membersihkan ceceran saus dengan perlahan. Lalu di piring lainnya, pandangan matanya menangkap letak garnish yang kurang tepat, maka ia membetulkan posisi kelopak bunga kecil warna ungu hingga terlihat lebih cantik.


Rasa lelah mulai menjangkiti tubuh Cherry. Ia hampir kehabisan tenaga setelah terus berpindah tempat. Belum lagi ia harus mengerjakan banyak hal yang berbeda tanpa jeda untuk sekadar meregangkan tangannya.


Akhirnya tibalah pesanan terakhir disebutkan Erza. Raut wajah para koki berubah tenang.


“Setelah pesanan terakhir selesai, kita akan istirahat makan siang,” ujar Sous chef Erza yang belum kehabisan suara setelah dari tadi selalu berteriak-teriak.


Dan akhirnya pesanan terakhir berhasil dibuat dengan sukses lalu diantarkan ke meja pelanggan oleh pelayan yang bertugas.


“Semuanya boleh beristirahat. Kecuali kitchen assistant. Kalian rapikan dulu meja yang kotor dan berantakan. Alat-alat masak yang sudah terpakai taruh dulu di tempat cuci piring. Setelah istirahat kalian bisa mencucinya hingga bersih.”


Erza dengan dinginnya memberi perintah. Ia tak peduli betapa melilitnya perut Cherry saat ini. Dengan santainya dia lalu beranjak pergi dari dapur.

__ADS_1


Dalam sekejap dapur pun berangsur lengang. Cherry pasrah tak bisa mengabaikan perintah Sous chef tak berprikemanusiaan itu, sedang Angga tak buang waktu untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Maaf ya Cherry, aku makan siang duluan. Kamu selesaikan pekerjaanmu dengan cepat biar kamu bisa langsung menyusul,” ledek Irene seakan penderitaan Cherry adalah sebuah kesenangan untuknya. Lalu melenggang pergi.


“Cherry, apa perlu kubantu?” kata Diana menawarkan bantuan.


“Iya, Cherry. Kita bisa bantu pekerjaanmu supaya cepat selesai,” imbuh Eva yang bersimpati.


“Kalian makan sianglah. Aku kerjakan ini dulu. Kalian tenang saja, aku masih kuat kok.”


Cherry menarik tepi bibirnya untuk tersenyum. Meski begitu raut wajahnya tak bisa berbohong. Tergambar rasa letih yang nyaris di ambang akhir.


“Kalau begitu kita duluan ya. Kalau bisa nanti kamu segera menyusul,” balas Eva yang tak lama kemudian langsung keluar bersama Diana.


Cherry mengeluarkan napas panjang. Rasa lelahnya harus ia tepis. Hanya membersihkan meja dapur saja bukan hal sulit.


Ia dengan sisa tenaga mengambil peralatan kotor dan memindahkannya ke tempat cucian piring. Angga membereskan serpihan sampah masakan yang berceceran di meja dan membuangnya ke tempat sampah. Mereka berdua saling membagi tugas lainnya.


“Cherry, sisanya biar aku selesaikan. Tinggal sedikit lagi. Kamu makan siang saja,” suruh Angga tak tega melihat tampangnya Cherry yang sayu.


“Aku juga hampir selesai kok,” balas Cherry yang tengah merapikan alat-alat masak yang masih bersih.


“Kalian berdua keluarlah. Lanjutkan pekerjaan kalian setelah istirahat,” kata Erza yang mendadak muncul tanpa terdengar suara langkah kakinya yang memasuki dapur.


“Baik, Sous chef. Permisi.” Angga memburu langkah melewati Erza dan menuju pintu keluar.


“Saya juga permisi, Sous chef.” Cherry yang memandang ke bawah segera melangkah meninggalkan Erza.


“Tunggu sebentar,” suara Erza yang lirih menghentikan langkah kaki Cherry. Dan memaksakan diri Cherry berbalik.


Langkah Erza didekatkan pada Cherry.


“Ini untuk makan siangmu,” ucap Erza malu-malu menyerahkan kantong kertas coklat ke tangan Cherry.


Cherry bingung dan mengernyit.


“Terima kasih,” kata Cherry yang akhirnya memutuskan untuk menerimanya saja.


“Tak perlu berterimakasih. Tadi temanku memberikanku makan siang. Dan kebanyakan. Sayang, kalau dibuang. Jadi, aku berikan padamu. Kalau mau berterimakasih. Sampaikan langsung ke temanku. Dia kan yang beli makan siangnya,” kilah Erza tak pandai beralasan.


Cherry terpana. Ada angin apa wakil kepala koki yang menyeramkan ini bisa bertindak aneh begini? Walau yang dikatakannya mungkin jujur, lalu kenapa Erza harus memberikan makan siangnya itu padanya? Bukan Angga atau siapa saja.


"Mungkin dia anggap aku tempat pembuangan makanan berlebih. Pasti begitu!" Cherry yang mengoceh dalam hati, tetap tak bisa berprasangka baik.


“Makanlah!”


Setelah mengucapkan kata itu dengan datar, Erza kembali meraut wajah dingin. Ia lantas pergi begitu saja.


Dan Cherry pun tertegun tanpa berkedip. Beberapa detik kemudian ia baru bisa berpikir.


“Meski niatnya kurang tulus tetapi ternyata dia manusia yang masih punya hati nurani. Ya, meskipun tampangnya masih menyebalkan,” kata Cherry yang meluncur ke ruang loker sambil membawa kantong makanan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Dari dapur, Erza masuk ke ruang kerja Chef. Ia melepas apron hitam yang terikat di pinggangnya. Dan menaruhnya terlipat di rak pakaian. Di sana juga tergantung sebuah seragam koki beserta aksesorisnya. Mungkin sebagai pakaian cadangan jika sewaktu-waktu diperlukan untuk mengganti seragam yang kotor saat dipakai.


Tak lama Erza meninggalkan ruangannya. Ia berjalan ke arah ruang Presdir. Ia tak mengetuk dulu, langsung membuka pintu dan masuk.


Di dalam tampak Serhan sedang duduk di meja kerja sambil membaca dokumen dengan sangat serius.


“Kenapa masih sibuk bekerja?” Serhan yang mendengar suara Erza sejurus itu menoleh padanya. “Kamu tidak mau makan siang?”


Erza berjalan ke arah sofa, lalu duduk di sofa yang bisa diduduki dua orang.


Diletakannya dokumen di atas meja. Serhan kemudian membalas.


“Pesankan makanan lewat aplikasi saja! Biar lebih praktis,” pinta Serhan, sambil memegang dagunya.


“Mau pesan apa?” tanya Erza, sambil membuka aplikasi pesan makanan online di smartphone miliknya.


“Pesan masakan kesukaanku saja di Rumah Dapur! Karena tempatnya juga dekat. Minumnya apa saja,” seru Serhan, yang tengah mengetuk-ngetukkan jarinya di permukaan meja, pelan tanpa suara.


“Ok. Aku akan pesan dua porsi. Satu untukmu, satu untukku.” Erza masih memilih menu di aplikasi.


“Tiga porsi saja!” sahut Serhan, yang seketika membuat Erza berhenti menatap layat ponselnya. Dan beralih memandang Serhan dengan dahi berkerut.


“Satu lagi untuk siapa?” Tanya itu terlontar karena Erza tidak berpikir kalau Serhan sedang kelaparan sehingga makan satu porsi saja tak membuatnya kenyang.


“Satu porsi untukmu dan dua lagi untukku,” Ketika mengatakannya, air muka Serhan terlihat biasa saja.


Erza tercengang.


“Hah? Serius makan dua porsi? Satu porsi menu di Rumah Dapur itu cukup banyak. Masa kamu mau makan dua porsi sekaligus!” Erza menggaruk pipinya dan menambah pesanan di aplikasi.


Dan pesanan makanan pun datang diantarkan abang ojol berjaket hijau, yang sempat keheranan saat baru tiba di restoran. ‘Ini kan restoran, kenapa pesan makanannya di tempat lain?’, pikirnya.


Seorang pelayan yang disuruh menunggu datangnya driver, mengambil pesan dan membawakannya ke ruang Presdir.


Serhan beralih duduk di sofa. Tiga kotak makanan dan tiga minuman serta potongan kue yang diambil dari dapur restoran tersaji di atas meja.


“Bagaimana dengan asisten dapur yang bernama Cherry?” tanya Serhan, saat membuka tutup kotak makanan.


“Saat ini dia belum melakukan kesalahan. Kulihat dia orangnya cekatan,” jawab Erza, yang sibuk memindahkan makanan di kotak ke piring. Lalu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Aku harus kembali ke dapur untuk mengecek Angga dan Cherry,” imbuh Erza, seraya bangkit.


“Apa kamu menyuruh Cherry masih bekerja saat jam istirahat?” tanya Serhan menatap kesal Erza.


“Iya. Aturan untuk asisten dapur kan memang begitu. Mereka baru istirahat setelah membereskan dapur. Sekarang aku akan melihat ke dapur. Jika mereka masih di sana, aku akan menyuruh mereka istirahat dulu.” Erza siap beranjak tapi dicegah Serhan.


“Tunggu!” Serhan berdiri. “Bawa ini juga. Karena aku akan kenyang hanya makan satu porsi saja,” ucap Serhan sedikit ragu. Tangannya mengulurkan satu kotak makanan pada Erza.


Dalam keadaan bengong, Erza menerimanya.


“Apa kamu menyuruhku untuk membuangnya?”

__ADS_1


“Kamu berikan sama asisten dapur atau siapa saja. Bebas,” timpalnya. Nada suaranya terkesan seperti tak mau jujur.


Erza tak menimpali lagi. Ia bergegas pergi ke dapur. Karena khawatir Cherry belum pergi dari sana. Erza memang disiplin tapi dia tak mau bertindak terlalu kejam. Hingga membiarkan karyawannya menahan lapar di saat waktu makan siang.


__ADS_2