Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Situasi yang aneh


__ADS_3

“Sebaiknya tidak usah,” tolak Cherry sekian kali. Tawaran Kareem yang sederhana sangat memberatkan bagi Cherry.


“Ini sudah malam. Aku hanya khawatir,” kata Kareem lirih.


“Dia kan sudah bilang tidak mau. Kamu malah memaksanya begitu, Kareem,” seru seorang pria yang mendadak datang menghampiri. Dia akhirnya tak bisa diam saja setelah dari tadi berdiri memerhatikan kekonyolan Kareem yang gagal membujuk seorang wanita.


Sosok pria dengan tinggi ideal itu baru pertama kali Cherry lihat. Walaupun temaram mata Cherry masih bisa melihat dengan jelas ketampanan wajahnya yang putih bersinar.


“Kamu mengganggu saja, Zayn. Ada apa menyusulku ke sini?” tanya Kareem pada pria yang mengenakan kemeja kasual yang agak longgar motif diagonal hitam sebagian dan putih.


“Aku bosan menunggumu. Kamu kan yang harus mengantarku pulang. Tapi malah sedang sibuk merayu wanita lugu,” timpal pria bertubuh ramping itu.


Kareem mendelik kesal pada pria itu. Dia harusnya tak jadi pengganggu. Padahal dia bisa pulang dengan naik taksi atau meminta sopir menjemputnya. Bukannya malah mengacaukan suasana.


Cherry hanya mengamati mereka berdua. Sepertinya ia harus berterimakasih pada pria tak dikenal itu. Berkat dia, Kareem akan menyerah untuk mengantarnya pulang.


“Dia siapa?” tanya pria berhidung mungil dan mancung itu sesaat setelah melirik Cherry.


“Dia temanku,” jawab Kareem ketus. “Kamu tunggu saja di mobil, kalau mau aku antar pulang. Lain kali kamu suruh sopirmu untuk menjemputnya saja,” kata Kareem mengusir temannya.


“Kamu tidak mengantarnya dulu?” tanya pria itu ingin tahu. Ia tak mau beranjak.


“Tidak jadi. Semua ini karena ulahmu,” kata Kareem berbisik pelan di telinga pria itu.


Pria itu melihat Cherry kembali dan menyapanya.


“Hai, aku Zayn,” ucapnya ramah dan tersenyum menawan.


“Aku Cherry,” balas Cherry datar.


“Maaf ya, Kareem harus mengantarku pulang. Seperti katamu, kamu bisa pulang sendiri,” ujar pria itu sinis.


Cherry yang mendengar gaya bicaranya tersentak. Baru sepersekian detik yang lalu dia tersenyum ramah, sekarang ekspresi di wajahnya berubah drastis jadi mengesalkan.


“Maaf Cherry. Aku jadi tidak bisa mengantarmu. Soalnya temanku yang satu ini selalu merepotkanku,” sahut Kareem malu sendiri.

__ADS_1


“Nggak apa-apa kok. Toh aku juga dari awal memang mau pulang sendiri,” kata Cherry melihat Kareem dengan miris.


“Cherry, menjauhlah dari mereka berdua!” seru Serhan yang muncul begitu saja di tengah mereka.


Dengan gerakan kecil dagunya Serhan memberi tanda agar Cherry melangkah mundur. Cherry pun menurut saja.


Serhan kini berdiri di depan Cherry seakan dia adalah penjaga yang sedang menghalau dua orang pengganggu.


“Zayn, harusnya kamu bisa menegur partner kerja sekaligus sahabatmu ini. Bukan malah mendukungnya untuk mengganggu kokiku,” seru Serhan melempar tatapan sengit.


“Dia kan hanya kokimu, bukan kekasih atau keluargamu. Kenapa kamu harus marah kalau Kareem mendekatinya?” Wajah Zayn mengeras. Tatapannya meruncing kesal.


“Aku ini atasan yang peduli pada bawahannya. Lagipula di sini termasuk area restoranku. Jadi, aku harus melindungi karyawanku dari dua orang mencurigakan seperti kalian,” timpal Serhan ketus sekali.


Zayn tak menggubris. Dia malah menarik senyum senang. Ia tampak seperti telah menemukan sebuah petunjuk.


“Kalian pergilah. Jangan berkeliaran di wilayahku!” kata Serhan mengusir kasar Zayn dan Kareem.


“Zayn, kita pergi saja. Tidak usah meladeninya,” ajak Kareem sambil memegang pergelangan tangan Zayn.


Zayn mengibas pelan tangan Kareem. Ia tak sudi beranjak tanpa memberi perhitungan pada Serhan.


“Serhan, kau rupanya sangat suka mencari masalah denganku. Awalnya aku tak peduli kau membeli restoran di sebelah restoranku. Tapi setelah kupikir lagi, apa mungkin kamu itu sengaja ingin bersaing denganku?” Zayn menaruh curiga. Dari dulu Serhan memang selalu tak menyukai dirinya. Dan bagi Serhan, Zayn adalah rival abadi.


“Kalau bisa aku ingin menghancurkanmu hingga berkeping-keping,” timpal Serhan penuh dendam.


“Silakan saja kalau kamu mampu! Berhati-hatilah, mungkin kamu sendiri yang akan hancur jika berani mengusikku,” balas Zayn mulai terpancing emosi.


“Sudah Zayn. Tak ada gunanya kamu melawan Serhan. Tingkahnya itu selalu seperti anak kecil,” ucap Kareem mengingatkan Zayn.


“Lebih baik seperti anak kecil daripada jadi lelaki pecundang sepertimu,” seru Delinka yang berjalan mendekat ke arah Kareem.


Delinka menghunuskan tatapan tajam pada Kareem. Tatapan kebencian sangat jelas terpancar di matanya. Kareem sendiri terhenyak melihat sosok perempuan di depannya itu. Seakan ia tak pernah berharap bertemu lagi dengan wanita itu.


“Setelah lama tidak bertemu, kamu menyapaku dengan mengataiku pecundang. Hah. Aku pikir seiring waktu kamu bisa melupakan kesalahan yang kulakukan. Tapi ternyata kau sudah dibutakan oleh rasa sakitmu,” ucap Kareem yang geram dikatai pecundang.

__ADS_1


Cherry yang sedari tadi hanya jadi penonton, merasa aneh dengan situasi yang tersuguh di depan matanya. Apa ini adalah drama cinta segi empat? Tetapi, mungkin masalahnya lebih serius dari sekadar percintaan biasa.


Lagi-lagi dirinya terjebak dalam masalah yang tak berkaitan dengannya sama sekali. Dia hanya berada di tempat yang salah, di waktu yang tak tepat dan bersama orang yang keliru.


Rasanya Cherry ingin pergi diam-diam saja tetapi ia ragu apakah tindakannya itu sopan.


Cherry sesungguhnya kesal melihat adegan adu mulut mereka. Ia ingin sekali menyuruh mereka yang berseteru untuk diam, dan pulang saja. Karena saat ini betapa Cherry ingin cepat sampai rumah. Rasa kantuk mulai menyerang matanya yang sayu. Juga rasa letih telah menghinggapi tubuhnya.


Kareem lupa dengan keberadaan Cherry yang tak beranjak satu inci pun. Pun ia teringat Cherry yang harus mengejar bus terakhir. Tapi pasti busnya sudah pergi dari tadi. Karena Kareem melihat Cherry masih berdiri tegak dan kebingungan.


Kareem mengabaikan Delinka dan melewatinya untuk berjalan menghampiri Cherry.


“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Kareem berekspresi kasihan.


“Iya, aku sebenarnya mau pulang. Tapi, aku tidak enak kalau pergi tanpa pamit,” kata Cherry dengan polosnya.


Daya pikir Cherry makin melemah seiring malam yang kian larut. Padahal ia tak perlu berpikir panjang untuk lari dari situasi canggung itu.


“Kalau begitu sebaiknya aku pulang saja,” lirih Cherry bersuara.


“Bus yang harusnya kamu naiki pasti sudah lewat. Kamu tunggu di sini. Aku akan menghentikan taksi untukmu,” kata Kareem yang segera melangkah ke pinggir jalan sambil memerhatikan kendaraan yang lewat. Berharap ada satu taksi kosong yang melintas.


Delinka yang masih kesal menatap Kareem, yang bersikap lembut pada Cherry dengan iri.


“Gadis biasa itu selalu saja bisa menarik perhatian orang lain. Terlebih pria. Bisa-bisanya Kareem tak mengacuhkanku karena mencemaskan gadis itu.” Delinka berbicara dalam hatinya.


Karena suasana tiba-tiba tenang, Serhan dan Zayn mengalihkan perhatian pada Kareem dan Cherry. Dan Zayn tidak bereaksi apa pun. Dia hanya diam dan mengembuskan napas pendek.


Lalu Serhan bergegas mendekati Cherry dengan menggebu-gebu.


“Kamu pulanglah! Kenapa malah menunggu Kareem, pria brengsek, untuk mengantarmu pulang?” suruh Serhan kasar.


Cherry kaget. Tentu ia takut melihat Serhan yang marah padanya. Ia pun melangkah pelan dan menghampiri Kareem yang masih berusaha mencari taksi.


Dan tak lama Cherry mendapatkan taksi. Ia langsung naik. Kareem pun menitipkan Cherry pada sopir taksi dan sekalian membayarkan ongkos taksi.

__ADS_1


Zayn meminta Kareem untuk pergi, mengambil mobil dan mengantarkannya ke rumah.


Delinka yang melihat kepergian Kareem akhirnya berjalan menyeberangi jalan lengang menuju ke mobil yang terparkir di sana, diikuti Serhan.


__ADS_2