
Pagi yang seharusnya cerah malah dirasakan kelam oleh para personil dapur. Mereka terpaksa masuk di hari libur karena Delinka mengadakan rapat mendadak. Sepertinya mulai hari ini ketenangan mereka di dapur sudah benar-benar mulai terusik karena Delinka.
Mengenakan pakaian santai para koki dan asisten berkumpul di dapur menunggu Delinka yang berdiri di depan meja Chef untuk memulai meeting. Sementara Cherry yang setengah mengantuk diam mengamati dengan gelisah.
Erza berdiri di dekat Delinka dengan raut wajah serius dan muram.
“Akan ada beberapa perubahan yang saya terapkan mulai hari ini. Saya akan mengubah bahan dan resep dari beberapa menu. Saya juga akan mengganti menu yang memiliki penjualan paling rendah,” seru Delinka yang memakai gaun terusan selutut yang dipadukan dengan blazer warna merah senada.
“Restoran kita cenderung membosankan. Menu yang kita tawarkan terkesan tidak istimewa. Kita hanya mengandalkan presentasi menarik tapi biasa. Dan rasa yang enak tapi tidak luar biasa. Dengan kondisi yang seperti ini kita akan sulit bertahan untuk jangka panjang. Kita sangat jauh ketinggalan dengan restoran sebelah, rival terberat kita. Saat ini Perfect harmony telah naik level menjadi restoran mewah yang memiliki reputasi baik. Sementara The best taste belum bisa menjadi yang terbaik,” terang Delinka menuturkan kekecewaan.
Delinka diam sejenak. Dan suasana dapur pun hening. Hanya aura ketegangan yang besar yang mencengkeram seisi ruangan.
Selama ini para koki dan staf lain bekerja tanpa pencapaian target. Mereka pikir restoran sudah cukup ramai sehingga posisi mereka akan bisa aman.
“Saya akan memberikan catatan resep yang baru dengan menu yang masih sama. Dan beberapa bahan pelengkap dasar pun akan saya ganti resepnya. Saya harap kalian bisa cepat beradaptasi dengan perubahan resep mulai besok,” kata Delinka masih bernada suara biasa, tak tinggi.
Delinka menyuruh Chef de partie untuk mengambil buku catatan resep yang baru. Salinannya dibagikan ke masing-masing koki yang bertugas untuk membuat menu terkait.
“Untuk hari ini, saya hanya mulai dengan perubahan kecil dulu supaya kalian bisa lebih mudah mengerjakannya. Tetapi saya harap ke depannya kalian tidak akan kaget lagi dengan keputusan baru yang saya buat. Dan saya tidak ingin kalian bekerja dalam keadaan tidak siap,” tegas Delinka menambah suasana menjadi kian tak hangat lagi.
“Apa kamu tidak terlalu terburu-buru?” tanya Erza pada Delinka. “Harusnya jika ingin mengubah dapur, kamu diskusikan dulu denganku,” tambah Erza jengkel.
“Aku sudah membicarakannya dengan Serhan. Kita perlu gebrakan besar jika mau bersaing dengan Perfect harmony,” timpal Delinka yakin.
“Kalian berdua bertindak tanpa melibatkan aku. Seolah aku ini tak memiliki peran penting di restoran,” balas Erza kecewa lalu pergi melangkah dengan cepat menghampiri Chef de partie yang tengah fokus memeriksa buku resep baru.
“Kalian semua pelajarilah resepnya. Bagi koki yang bertanggungjawab pada menu yang tertulis di catatan resep baru, silakan kalian buat menu tersebut dengan resep yang saya perbaharui. Sous chef akan membantu kalian. Saya akan kembali lagi nanti dan memeriksanya,” kata Delinka lalu berjalan anggun keluar ruang dapur.
Cherry membaca salinan catatan resep. Dia terheran-heran mengapa Chef Delinka mengubah resep beberapa menu yang populer. Komponen pendamping menu juga bahan dasar dan pelengkap banyak yang diganti. Padahal Cherry menganggap resep-resep yang ada dengan elemen lainnya tidak ada kekurangan. Lalu, apa yang membuat Chef Delinka tidak puas?
__ADS_1
“Menurutmu, apa perubahan yang dilakukan Chef akan berhasil?” tanya Irene pada Cherry yang langsung menolehkan wajahnya ke samping begitu mendengar suara Irene.
“Mungkin. Chef Delinka kan Chef berbintang dan punya banyak pengalaman di beberapa restoran terkenal di luar negeri,” ucap Cherry.
“Lalu, kenapa dia yang sudah nyaman bekerja di restoran mewah di Swiss malah datang ke sini?” tanya Irene.
“Entahlah. Mungkin ini tantangan untuknya. Chef ingin mengembangkan restoran ini hingga menjadi salah satu restoran berkelas,” kata Cherry tanpa pikir panjang.
“Cherry, tolong ke sini sebentar!” Tiba-tiba Demi chef yang berada tak jauh dari Erza memanggil.
Seketika Cherry lekas beranjak menghampiri Demi chef.
“Ya?” kata Cherry dalam posisi siap menerima perintah.
“Tolong kamu dan Angga ambil bahan-bahan dari ruang penyimpanan,” suruh pria gagah yang telah memasuki usia kepala empat.
“Ayo, Cherry!” ajak Cherry yang berjalan lebih dulu.
Cherry pun mengikuti dengan cepat.
Setelah masuk ruang pendingin Erza tetap memegang kertas catatan bahan yang harusnya sudah Cherry lihat. Ia sepertinya tak berniat untuk menyerahkannya.
Pelan-pelan Cherry mendekatkan diri pada Erza yang melemparkan tatapannya pada rak penyimpanan bahan.
“Maaf Sous chef, saya boleh minta catatannya? Karena saya harus ambil bahannya....” kata Cherry hati-hati.
“Kan sudah kubilang kalau sedang bersamaku saja, tidak usah bicara formal begitu,” keluh Erza yang menoleh pada Cherry.
“Sekarang kan kita sedang bekerja. Jadi, saya masih merasa kurang nyaman kalau tidak bicara formal,” sanggah Cherry tak setuju.
__ADS_1
“Ya, terserah kamu saja,” ucap Erza yang menyerah pada kekeraskepalaan Cherry.
“Maaf, catatannya?” kata Cherry meminta.
“Ah, kau tunggu saja di situ. Biar aku ambilkan,” ujar Erza bersikap baik hati. Cherry lumayan tersentuh. “Kalau kamu yang ambil bisa makan waktu lebih lama,” sambungnya ketus.
Tentu Cherry yang mendengar kalimat terakhir dari mulut Erza yang pedas, urung berterimakasih. Wajahnya jadi tertekuk saat itu juga.
Erza berjalan mengambil satu per satu bahan yang diperlukan. Lalu dimasukkan ke dalam keranjang jinjing.
“Cherry, ada hal yang membuatku penasaran,” kata Erza setelah menurunkan sebuah kotak styrofoam. “Bagaimana kamu dulu bisa mengenal Serhan?” lanjut Erza bertanya dengan serius.
Pertanyaan Erza sontak membuat Cherry tercengang. Dalam pikirannya ia bertanya, mengapa Erza bertanya hal yang tidak masuk akal baginya? Mana mungkin Cherry bisa mengenal pria semacam Serhan. Karakter dan statusnya sangat berbanding terbalik dengannya. Sisi baik Serhan hanyalah kekayaan dan ketampanan. Selebihnya apa yang ia punya minus semua.
Meski begitu apa yang ada di pikirannya tak Cherry lontarkan. Ia hanya menjawab biasa saja.
“Orang seperti Bos, tidak mungkin aku bisa mengenalnya. Anda pasti salah bertanya pada saya,” tanggap Cherry dengan gaya bicara yang diperhalus.
“Aneh sekali. Kupikir kalian berdua pernah saling mengenal sebelumnya. Karena dia bilang...,” ucap Erza yang tak menyelesaikan perkataannya. Setelah sekian detik berpikir ia lalu berujar lagi. “Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Sepertinya aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini makanya aku sering salah bicara.”
Cherry yang melihat Erza agak salah tingkah, jadi makin heran. Ia juga ingin mendesak Erza untuk menjelaskan perkataannya yang belum selesai. Tetapi, ia tak punya nyali sebesar itu untuk bertanya pada pria galak itu.
“Tolong kamu bawa keranjang yang di sana saja. Sisanya biar aku yang bawa,” suruh Erza sambil menjinjing keranjang satunya dan mengangkat kotak styrofoam ukuran sedang dengan tangannya yang lain.
Cherry buru-buru membawa keranjang dan mengikuti Erza yang telah lebih dulu meninggalkan ruang pendingin.
*Catatan*
Demi chef : koki yang menjadi pengganti Chef de partie/wakil dan melakukan pekerjaan yang hampir sama. Mengurus/mengepalai seksi tertentu di dapur.
__ADS_1