Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Sedikit masalah


__ADS_3

Dengan sigap Cherry mengambil keranjang belanja sambil mendorongnya ke arah gerai bahan-bahan makanan. Elis mengambil langkah santai, mengikuti Cherry.


“Apa kita hanya perlu membeli bahan masakan untuk hari ini saja?” tanya Cherry saat berhenti di depan rak sayuran.


“Aku cukup membeli bahan yang dibutuhkan saja. Tapi kamu boleh mengambil apa pun untuk dirimu. Biar nanti sekalian aku yang bayar.”


“Wah, terima kasih!” Cherry berbinar senang.


Belanja bahan masakan adalah kegiatan yang disukai Cherry. Entah itu di pasar tradisional maupun supermarket modern. Karena berarti Cherry nantinya akan mengolah bahan yang dibeli menjadi masakan yang bercita rasa.


Cherry mengambil beberapa jenis sayuran sesuai list. Lalu ia bersama Elis mengunjungi rak jamur, bumbu, telur, buah-buahan dan terakhir, Cherry menepikan keranjang dorongnya depan counter daging segar. Ia lekas memilih beberapa bungkus potongan daging dan memasukkannya ke keranjang.


“Kita beli seafood juga ya,” ujar Cherry.


Mereka mampir ke counter sebelah dan meminta pelayan penjaga untuk mengemas udang segar serta ikan fillet.


“Oh ya, tempat keju dan selai sebelah mana? Kita beli itu dulu. Sekalian camilan juga.” Elis terlihat bingung. Maklum belanja ke supermarket adalah hal yang sangat jarang ia lakukan. Elis adalah wanita yang sukses dalam karir. Meskipun masih muda ia sudah memegang jabatan penting di perusahaannya.


“Siip. Lalu nanti kita baru beli barang yang lainnya,” balas Cherry lugas.


“Lis, Tidak apa-apa nih kalau aku belanja banyak?” Tiba-tiba Cherry merasa sungkan.


“Ya, tidak apa-apalah. Kamu kan sudah sering masak buat aku. Jadi wajar kalau sesekali aku menyenangkanmu. Kamu kan suka menolak kalau aku ajak belanja ke Mall. Tapi jika berhubungan dengan makanan dan masak-memasak kamu tidak akan keberatan.”


Elis sebagai sahabat dekat bermaksud menghibur Cherry dengan memintanya memasak untuknya dan berbelanja sesuai kemauan Cherry. Karena hingga detik ini Cherry belum menerima kabar tentang wawancara kerjanya yang terakhir. Bila pihak restoran tak jua menghubungi, bisa diartikan bahwa Cherry tak memenuhi kualifikasi standar mereka.


Cherry menyungging senyum. Ia mengakui perkataan Elis tidaklah keliru.


Sebelum mereka sempat beranjak jauh, di belokan lorong sebuah insiden kecil terjadi. Keranjang Cherry tak sengaja bersenggolan dengan keranjang yang datang dari arah berlawanan.


Cherry yang kaget buru-buru berkata, “Maaf”.


“It’s Okay. Hanya tabrakan kecil,” jawab laki-laki asing itu santai. Matanya yang biru terang menatap ramah pada Cherry.

__ADS_1


Sesaat Cherry tertegun mendapati kenyataan di depannya. Sosok pria yang berdiri di dekatnya terlalu indah untuk dipandang. Sinar pesona laki-laki itu terlampau menyilaukan sehingga sulit untuk ditepis jangkauan mata.


“Aku benar tak sengaja,” ucap Cherry lirih setelah kesadarannnya kembali.


“Sudahlah. Ini bukan masalah besar,” timpal pria itu terdengar fasih berbahasa.


Sebelum beranjak, pria asing yang tingkat ketampanannya cukup mematikan, melempar senyum tipis pada Cherry. Entah itu basa-basi atau sekadar tata krama, Cherry menganggap itu sebuah berkah yang indah.


Cherry hanyut memandangi punggung laki-laki itu menjauh. Dia memperhatikan pria itu yang berhenti untuk membeli daging dan sejenisnya.


“Lama-lama punggung pria yang kamu lihat itu bisa berlubang. Lihat matamu, tak berkedip sama sekali!” goda Elis yang baru pertama menyaksikan peristiwa langka.


Cherry yang terhenyak kemudian menimpali, “Aku cuma melihat saja, tak ada ketertarikan lain.”


“Tapi ini pertama kalinya kamu bisa memperhatikan seorang pria dengan lekat begitu. Biasanya Cherry sang gadis alim ini tak pernah begitu. Laki-laki sekeren apa pun tak pernah ada yang bisa membuatmu berpaling,” kata Elis terus berseloroh.


“Sudah kubilang tidak ada ketertarikan semacam itu. Aku hanya takjub. Di mataku laki-laki yang belanja keperluan dapur itu keren. Biasanya laki-laki model begitu pasti mahir masak,” sahut Cherry.


“Siapa tahu dia belanja karena disuruh kekasihnya, ibunya, atau bahkan istrinya? Daya khayalmu terlalu rendah, Cherry,” pungkas Elis yang berpikir rasional.


“Ya, terserah kamu saja. Yuk, kita lanjut belanja lagi. Bisa-bisa nanti makan malam kita telat nih kalau harus terus membahas pria barusan,” tukas Elis yang membuat Cherry tersadar kalau waktunya telah terbuang untuk membicarakan hal yang tak penting.


Mereka pun membeli barang-barang lainnya yang masih dibutuhkan.


****


Pria asing yang sempat bertabrakan dengan Cherry keluar dari supermarket dengan tentengan tiga plastik belanjaan ukuran sedang berwarna putih berlogo S besar warna merah. Ia setengah berlari begitu melihat sebuah mobil yang ia kenal tengah terparkir di tepi jalan, tepat depan pintu keluar parkiran supermarket.


Dengan satu tangannya, ia membuka pintu belakang dan langsung mendudukkan plastik belanjaannya di jok mobil.


Lalu, ia menutup kembali pintu mobil. Dan masuk ke bagian depan mobil, duduk di kursi penumpang.


Di tempat pengemudi, duduk temannya yang sudah menunggunya dari beberapa menit lalu dengan bosan.

__ADS_1


“Di hari libur saja aku masih harus bertemu denganmu. Ada masalah apa sampai kamu harus menjemputku di sini?” Pria itu mengeluh bercampur kesal, sambil memasang sabuk pengaman.


“Karena aku membutuhkanmu, Kareem. Ini urusan penting mengenai restoran,” timpal Zayn, yang menengok sekilas ke arah Kareem. Dan kembali melihat ke depan begitu ia menginjak gas dan mulai mengemudikan mobilnya.


Kareem tak tahan untuk tidak protes. Karena lagi-lagi temannya yang satu ini selalu merepotkannya dan suka seenaknya menyuruh ini dan itu padanya.


“Urusan apa lagi? Restoran masih baik-baik saja kemarin. Masa baru ditinggal sehari saja olehku, sudah ada masalah.” Kareem mengomel sambil melihat ke depan mobil.


Tanpa menengok Kareem, Zayn menjawab tenang.


“Aku akan menitipkan restoran padamu. Kira-kira dua minggu.”


“Kenapa? Apa kamu sedang sibuk dengan perusahaan Kakekmu? Harusnya kamu memilih salah satu Zayn. Jangan terlalu serakah! Pilih salah satu! Berbisinis restoran saja atau fokus pada perusahaan Kakekmu,” sergah Kareem, bermaksud baik menasehati Zayn si gila kerja. Kali ini ia menatap ke arah Zayn.


“Posisiku tidak cukup kuat di perusahaan milik Kakek. Grup Bintang raya seperti tambang emas bagi keluarga Kakek. Mereka saling memperebutkan posisi teratas yang menjanjikan. Makanya, aku lebih suka punya bisnis lain. Tidak hanya bergantung pada perusahaan Kakek,” papar Zayn, tangannya lihai memutar kemudi ke sisi kiri dan menyalip kendaraan roda empat di depannya.


“Kenapa kamu harus menitipkan restoran padaku? Bukankah selama ini juga kamu selalu mempercayakannya padaku?”


“Ya. Tapi, aku selalu menyempatkan diri untuk memeriksa hasil pekerjaanmu. Dan besok aku harus ke Prancis. Mengurus pembukaan perdana restoran cabang baru. Ada sedikit kendala soal perekrutan karyawan. Belum bekerja saja para koki sudah menuntut gaji yang besar. Padahal mereka kemarin sudah sepakat dengan gaji yang kutawarkan,” gerutu Zayn, yang tetap fokus menyetir.


Kareem menyeringai.


“Itu sebabnya aku sarankan padamu untuk tidak merekrut koki yang sudah punya nama. Karena merasa dibutuhkan, mereka berani meminta macam-macam,” balas Kareem, sedikit menyesalkan keputusan temannya.


“Mau bagaimana lagi? Nanti aku akan putuskan apakah masih akan mempekerjakan mereka atau merekrut koki baru. Dan dengan terpaksa aku akan menunda jadwal pembukaan restoran.”


“Kamu lakukan saja sesuai keinginanmu.” Kareem tak bisa memberi pendapat. Karena Zayn adalah ahlinya dalam berbisnis.


“Oh ya, kudengar kamu akan dijodohkan oleh Ibumu. Siapa perempuan itu?” Tiba-tiba Kareem teringat desas-desus yang menggemparkan semua karyawan restoran.


“Dari dulu juga aku sudah dijodohkan oleh Ibuku. Tapi, aku belum tahu siapa perempuannya. Karena Ibu sendiri sampai sekarang masih mencarinya,” timpal Zayn, berhenti di lampu merah.


“Dari dulu? Tapi, masih mencari. Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.” Kareem berusaha mencerna kata-kata Zayn. Tapi gagal.

__ADS_1


“Ya, begitulah. Aku sendiri juga tidak memahami Ibuku. Yang aku tahu Ibuku kehilangan jejak perempuan yang akan dijodohkan denganku. Tetapi, sekarang Ibu belum membahas lagi tentang perjodohan itu. Mungkin dia sudah berubah pikiran.” Santai saja Zayn bicara. Seolah perjodohan itu bukan masalah besar untuknya.


Mobil pun terus melaju dengan kecepatan sedikit di atas batas normal, membelah jalanan yang agak padat.


__ADS_2