Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Aturan yang lebih ketat


__ADS_3

Masih tersisa cukup waktu sebelum restoran buka. Chef Delinka memanfaatkan selang waktu itu untuk menyampaikan peraturan baru.


“Saya adalah orang yang suka kedisiplinan. Saya akan bersikap sangat tegas terhadap siapa saja yang melanggar aturan,” seru Chef Delinka di depan meja Chef.


Sorot mata yang memandang Chef tak lagi berupa kekaguman melainkan kekecewaan yang besar. Kebanyakan dari mereka telanjur berekspetasi Delinka lebih baik dari Erza. Tapi rupanya mereka serupa tapi tak sama.


“Saya hanya akan memberitahukan beberapa poin penting saja. Aturan pertama, kalian harus sepenuhnya bekerja dalam pengawasan saya. Selama saya tidak ada, Sous chef akan memimpin dapur sesuai dengan instruksi saya. Kedua, jika ada yang berani melanggar dan tidak menyetujui setiap keputusan yang saya buat maka silakan ambil dua pilihan. Tetap bekerja sesuai aturan atau mundur dengan terhormat,” rinci Delinka berkata disertai nada bicara yang begitu tegas.


Pernyataan Delinka menimbulkan beragam reaksi. Sebagian kecil menerima, sebagian takut akan posisi mereka yang tak leluasa lagi, dan yang lainnya pasrah karena tak punya pilihan.


“Apa kalian bersedia mengikuti aturan yang akan mulai diberlakukan hari ini?” tanya Delinka tak ingin berkompromi.


Sedikit ragu, semua akhirnya menjawab dengan suara yang tak bergairah.


“Baik, Chef. Kami bersedia.”


Erza bergeming. Ia meraut wajah tak berdaya bercampur kesal. Kedudukannya yang lebih rendah dari Delinka membuat harga dirinya agak tercabik.


“Aturan yang sebelumnya diterapkan Sous chef akan tetap berlaku. Dan sebagian mendapat pembaharuan. Seperti larangan terlibat hubungan asmara sesama personil dapur. Saya akan memecat siapa saja yang berani melanggar,” kata Chef Delinka yang mengintimidasi nyali staf dapur yang masih lajang.


Mendengar kata ‘memecat’ para personil yang lajang menjadi semakin ketakutan dan tak bisa berharap lagi bisa bertemu belahan jiwa di dunia kerja yang sama.


Memang Sous chef melarang hal yang sama tapi hukumannya jika tertangkap basah tidak sekejam Chef Delinka.


“Dan setiap personil harus memberikan citra yang baik selama bekerja di sini. Saya tidak ingin siapa pun terlibat skandal atau bermasalah hingga mencoreng nama baik restoran,” ucap Delinka bagai serigala yang sedang menunjukkan taringnya.


“Hari ini kita bekerja seperti biasa. Saya akan memberikan kalian waktu untuk mempersiapkan diri dengan perubahan di dapur nantinya. Terima kasih,” pungkas Chef Delinka yang berubah menjadi sosok yang amat menakutkan di mata personil dapur.


Aktivitas di dapur dimulai kembali. Semua bekerja tanpa beban meski hati mereka diliputi cemas.


Cherry mengerjakan tugasnya untuk memberikan peralatan masak yang dibutuhkan para koki dan asistennya. Rasanya ia ingin mengambil napas panjang tapi kesibukan tak memberinya jeda.


Syukurlah semua berjalan normal hingga jam istirahat tiba. Dan kedamaian ini tidak akan didapat lagi esok hari. Mengingat hari ini adalah ketenangan terakhir sebelum ujian sebenarnya dimulai, para anggota dapur menikmati waktu istirahat dengan lesu. Mereka membayangkan pekerjaan mereka di dapur pasti akan lebih berat.


Teman-teman Cherry duduk lemas di kursi yang berjok warna hitam. Makanan di depan mereka belum tersentuh sama sekali.

__ADS_1


Cherry yang menyaksikan teman-temannya yang patah semangat sebelum mulai bertarung, menegur mereka.


“Kalian tidak boleh seperti ini. Kita harus makan yang banyak. Besok dan seterusnya kita akan butuh banyak tenaga dan mental yang kuat. Belum apa-apa masa kita sudah menyerah. Chef Delinka kan manusia biasa. Jadi kita tidak perlu takut sampai harus kehilangan nafsu makan,” kata Cherry mencoba mengibarkan semangat mereka yang nyaris padam.


“Kamu benar, Cherry. Tak seharusnya kita cemas berlebihan begini,” timpal Eva yang setuju dengan nasehat Cherry.


Diana, Angga dan yang lainnya mengiyakan ucapan Cherry. Mereka semua pun melahap makanan dengan sangat berselera. Esok bagaimana, ya biarlah terjadi saja.


****


Malam ini Cherry harus lembur karena harus mengerjakan sesuatu lebih dulu tanpa bisa ditunda. Sementara para staf dapur lainnya telah pulang sedari tadi.


Awalnya pekerjaan melumuri potongan daging dan iga dikerjakan bersama Angga. Tapi Angga barusan memohon-mohon pada Cherry agar bisa memakluminya untuk pulang lebih dulu.


Potongan daging yang sudah terendam penuh di sebuah wadah tertutup Cherry simpan di ruang pendingin. Pekerjaan yang terkesan biasa dan sederhana ini harus dilakukan malam ini juga. Karena besok bumbunya sudah meresap sempurna ke dalam daging.


Beberapa persiapan untuk menu tertentu memang mesti dilakukan hari sebelumnya. Karena teknik dan proses memasaknya yang memakan waktu lama.


Pintu dapur Cherry kunci. Lalu menaruh kunci-kunci yang diserahkan padanya di rak khusus yang tertutup. Ia hanya menyisakan kunci cadangan dan dimasukkan ke dalam tas ranselnya.


Di pintu masuk restoran Cherry bertemu Pak Manager.


“Apa masih ada orang di dalam?” tanya Bapak Manager senior ramah.


“Di dapur sudah tidak ada orang. Tapi di ruangan lain saya tidak tahu,” jawab Cherry.


“Malam ini kunci restoran dipegang Bapak. Jadi, Bapak harus memastikan dulu apakah restoran sudah kosong. Baru bisa mengunci restoran,” terangnya yang kelihatan lelah.


“Saya kira saya adalah orang terakhir.”


Pak Manager lekas mengunci pintu luar restoran. Ia menghampiri mobilnya di area parkir yang kecil sedangkan Cherry beranjak menuju bahu jalan.


“Cherry...” panggil seseorang dengan suara tak asing bagi Cherry.


Kepala Cherry refleks tertoleh ke arah asal suara. Di sana Kareem tersenyum lebar sambil perlahan mendekat.

__ADS_1


“Kamu baru pulang juga?” kata Kareem sumringah.


“Ya. Malam ini aku pulang telat,” timpal Cherry.


“Sebuah kebetulan sekali bisa bertemu kamu lagi. Ah, lebih tepatnya ini adalah takdir kita untuk bertemu lagi,” ucap Kareem sulit mengekspresikan perasaan senangnya dengan kata-kata.


“Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan,” balas Cherry yang berdiri dengan menjaga jarak dari Kareem.


“Kamu perlu tumpangan? Kalau tidak keberatan, aku akan mengantarmu pulang,” ujar Kareem sopan dan tak berani memaksa.


Tapi, pancaran matanya sangat mengharapkan jawaban iya dari Cherry.


“Tidak usah repot. Terima kasih. Aku sudah biasa pulang naik kendaraan umum,” jawab Cherry menolak baik-baik.


Kareem yang kecewa hanya bisa menerima dengan hati sedih. Cherry bukanlah gadis yang mudah didekati. Sejujurnya Kareem tak punya niat macam-macam. Ia memang tertarik untuk mengenal Cherry tapi tidak sebagai ketertarikan lawan jenis.


Bagi Kareem Cherry memiliki pesona istimewa. Dari penampilan, cara berpakaian, prilaku dan pembawaannya Cherry, mengusik satu sudut di relung hati Kareem. Dan saat ini Kareem masih menganggap sesuatu itu hanya sebatas rasa kagum.


“Sebenarnya aku tidak akan tenang membiarkanmu pulang sendiri. Tetapi, aku tidak bisa memaksamu. Bagaimana kalau aku temani kamu sampai ada taksi yang berhenti,” kata Kareem mencari peluang untuk lebih lama lagi bersama Cherry.


“Sebenarnya aku tidak sedang menunggu taksi. Jika masih sempat aku akan mengejar bus terakhir. Jadi, sekarang aku harus cepat ke halte depan sana,” kata Cherry menjelaskan situasi.


“Aku bisa antar kamu sampai halte dan menemani kamu sambil menunggu busnya. Bagaimana?” Kareem tetap tak bisa menyerah. Kesempatan bertemu Cherry sangat jarang terjadi. Maka ia tak ingin menyia-nyiakannya.


“Maaf, tapi haltenya dekat kok. Jalan sebentar juga sampai,” kilah Cherry yang tak tahu bagaimana menghentikan Kareem agar tak membujuknya terus.


“Ya, aku antar kamu jalan kaki saja kalau begitu,” ucap Kareem ngotot.


Bisa-bisa ia ketinggalan bus terakhir jika Kareem tak jua pergi. Cherry yang kesulitan menghindari Kareem melirik jam di layar ponsel yang tergenggam di tangannya.


Astaga. Jam segini bus terakhirnya sebentar lagi akan tiba di halte. Cherry mungkin tak sempat lagi meski berlari sekarang ke halte.


Cherry memandangi Kareem dengan bingung. Kali ini ia tak bisa mencari alasan untuk menolak tawaran Kareem lagi.


Seumur hidupnya belum pernah Cherry berduaan dengan laki-laki selain karena urusan pekerjaan. Apa lagi diantar pulang oleh seorang pria.

__ADS_1


Sementara tanpa mereka berdua sadari. Dua pasang mata tengah mengawasi mereka dengan pandangan tak suka dari dalam mobil yang tergolek di seberang jalan.


__ADS_2