Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Wanita milikku


__ADS_3

Seminggu kemudian


Bus yang ditumpangi Cherry berhenti di halte. Melekas Cherry turun bersama beberapa penumpang lainnya. Ia lalu berjalan di trotoar yang lengang dengan pejalan kaki.


Di lampu merah Cherry berbelok ke kanan jalan. Sepanjang jalur trotoar tumbuh pepohonan. Cherry bisa menghirup udara yang segar berkat luapan oksigen yang dihasilkan pohon-pohon itu.


Mentari masih tampak malu-malu mengintip di antara celah awan- awan putih yang menggumpal. Aroma udara sejuk masih menyeruak di pagi hari ini.


Cherry yang masih merasakan dinginnya pagi mengencangkan jaket. Santai Cherry berjalan. Karena waktunya masih cukup. Dan jarak ke restoran pun tinggal separuh jalan.


Tiba-tiba terdengar bunyi klakson yang mengganggu telinga. Cherry seketika menghentikan langkah. Ia lalu menoleh ke mana sumber bunyi berisik itu.


Di bahu jalan sebuah mobil tengah bertepi. Kaca jendela depan mobil mulai terbuka. Muncul wajah seseorang yang melongok dari jendela mobil yang sudah terbuka.


“Cherry, selamat pagi,” sapa pria penuh pesona, Kareem.


“Ya, pagi juga,” kata Cherry mencoba lembut.


“Naiklah ke mobilku! Arah kita kan sama,” ujar Kareem antusias menawarkan tumpangan gratis.


“Terima kasih. Aku jalan kaki saja. Lagian sudah dekat,” balas Cherry menolak dengan lugas.


“Tak apa-apa. Bisa lebih cepat sampai kalau naik mobilku,” lanjut Kareem agak memaksa.


“Aku lebih suka jalan kaki. Biar lebih sehat. Sampai jumpa,” tolak Cherry sekali lagi sambil memberikan lambaian tangan perpisahan.


Karena tak ingin mendengar Kareem bicara lagi, Cherry langsung menderap langkah. Ia tak menghiraukan keberadaan Kareem yang kecewa tak digubrisnya.


Melihat Cherry pergi begitu saja Kareem tersenyum takjub. Ia pun melajukan mobilnya kembali.


Cherry yang berjalan lambat akhirnya sampai di depan restoran. Langkahnya ia ayunkan untuk menuju jalan lorong kecil samping restoran.


Dan baru beberapa langkah ia bergerak, seseorang memanggilnya.


“Cherry, bisa tunggu sebentar?” suara Kareem terdengar dengan jelas di telinga Cherry.


Dengan cukup enggan Cherry berbalik.


“Ada apa, Kareem?” tanya Cherry sabar.


Padahal dia harus cepat masuk ke restoran. Banyak pekerjaan yang sudah menanti walau ia datang sangat awal hari ini.


“Aku ingin mengajak kamu sarapan bersama,” kata Kareem menatap Cherry dengan binar matanya yang terang. Warna matanya yang biru selalu terlihat indah untuk dipandang.


“Aku sudah sarapan di rumah tadi,” jawab Cherry jujur.


“Ah, aku kurang beruntung. Aku harus sarapan sendiri jadinya,” kata Kareem menyesali nasibnya.

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi? Maaf ya, aku terpaksa menolak ajakannya,” sahut Cherry yang tak tega melihat wajah tampan Kareem jadi suram.


“Lain kali aku harap kamu akan menerima tawaranku. Karena untuk bertemu denganmu sangat susah. Walau restoran kita bersebelahan tapi aku tidak pernah melihatmu lagi setelah hari itu,” ungkap Kareem mengeluh.


“Saat bekerja kan aku tidak bisa berkeliaran keluar. Waktuku banyak kuhabiskan di dapur. Bahkan di waktu istirahat pun aku masih tak leluasa untuk santai,” terang Cherry.


“Kamu kerja di dapur rupanya. Kamu seorang koki?” Di kalimat terakhirnya Kareem bertanya dengan penasaran dan ekspresi tak percaya.


“Bukan. Aku hanya seorang kitchen assistant,” jawab Cherry malu.


“Berarti kamu calon koki ya,” kata Kareem yang bermaksud menaikkan kepercayaan diri Cherry. Semua orang di dapur pasti harus merintis di posisi paling bawah, pikir Kareem.


“Ya, begitulah.” Cherry tersenyum kecil.


“Aku dulu juga pernah jadi kitchen assistant. Asal kamu tahu, semua pekerjaan di dapur tak ada yang mudah. Malah semakin kamu mencapai posisi yang lebih tinggi maka akan lebih berat juga pekerjaanmu. Kamu akan semakin sibuk,” ucap Kareem yang terkesan sedang menyemangati Cherry.


“Kamu juga bekerja di dapur?”


Kareem mengangguk cepat.


“Wah, jadi kamu Chef ?” tanya Cherry menebak.


“Ya.” Kareem menghias bibirnya dengan senyum yang cerah.


Sesaat Cherry berpikir. Memang benar dugaannya saat pertama kali bertemu Kareem. Tapi, ini lebih di luar dugaan. Kareem ternyata bukan hanya bisa memasak tapi seorang koki profesional. Dan itu berarti Cherry yang hanya berposisi rendah punya derajat berbeda dengan pria yang berdiri di dekatnya ini.


“Kenapa malah diam? Kamu memikirkan apa?” Kareem sadar dia tengah diabaikan Cherry yang sibuk bengong sendiri.


“Aaahhh, aku tidak apa-apa.” Cherry buru-buru menimpali dengan nada bicara yang jadi kikuk.


“Apa kamu merasa tak nyaman karena aku Chef di restoran sainganmu?” tanya Kareem jadi menduga-duga.


“Tidak kok. Bukan begitu. Sebelumnya aku tak pernah berpikir bahwa kamu ternyata seorang Chef,” tukas Cherry cepat.


“Mau Chef atau siapa pun, aku tetaplah Kareem. Anggaplah aku sebagai seorang pria biasa yang masih berniat untuk berteman denganmu,” kata Kareem.


“Untuk berteman rasanya itu terlalu...”


Belum sempat Cherry menyelesaikan kalimatnya, Kareem buru-buru memotong.


“Ya aku masih ingat. Menurutmu laki-laki dan wanita tidak bisa berteman. Tak apa kalau kamu hanya menganggapku kenalan biasa. Tapi aku akan memperlakukanmu sebagai teman yang baik. Karena setelah tinggal di Indonesia aku tak punya banyak teman. Apalagi perempuan.”


Cherry terdiam. Ia tak punya kata-kata yang tepat untuk membantah lagi. Di satu sisi keyakinan akan prinsipnya tetap tak boleh goyah. Di sisi lain Cherry merasa iba pada Kareem yang bernasib sama dengannya, tak punya banyak teman. Tapi, tetap saja pria dan wanita itu harus punya jarak dalam berhubungan.


“Terserah kamu saja kalau ingin menganggapku sebagai temanmu. Tapi aku hanya akan mengenalmu sebagai rekan seprofesi. Yah, walaupun aku tak sebanding denganmu, Chef Kareem,” kata Cherry melonggarkan prinsipnya demi mengasihani Kareem.


“Hahahha....” Kareem tertawa dengan senangnya. Matanya sampai berair. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu.

__ADS_1


“Kenapa tertawa?” heran Cherry bertanya.


“Barusan kamu panggil aku Chef Kareem. Itu terdengar lucu. Padahal kita tidak bekerja di dapur yang sama. Dan kamu adalah teman yang mengenalku di luar profesiku,” kata Kareem yang telah berhenti tertawa.


“Tapi, aku lebih suka memanggilmu begitu. Karena panggilan Chef Kareem terdengar lebih cocok untukmu,” terang Cherry agak tersipu.


Tampang Cherry sangat imut bagai kelinci kecil yang menggemaskan di mata Kareem.


“Ya, kamu boleh memanggilku apa saja. Senyamanmu saja,” ucap Kareem tak berdaya melarang.


“Ya, Chef Kareem,” kata Cherry dengan sengaja menekankan kata 'Chef'.


Lagi Kareem tertawa kecil. Dan Cherry pun terbawa suasana. Ia ikut tertawa dengan suara yang tidak keras. Maklumlah ia harus menjaga citra dirinya. Ia tak bisa sembarangan bersikap sebagai wanita muslimah yang menjaga adab.


Cherry dan Kareem yang masih asyik tertawa tak memperhatikan kalau pintu belakang restoran mendadak dibuka oleh seseorang dari dalam ruangan.


Dari balik pintu muncul seorang pria berkemeja biru muda dengan vest yang berwarna biru tua dan dasi warna senada dengan kemeja. Pria berambut belahan samping model klasik itu menatap Cherry dan Kareem dengan penuh tanda tanya.


Sadar ada seorang yang memperhatikan, Cherry memutar lehernya untuk melihat ke pintu belakang yang sudah terbuka.


Ia merasa agak canggung melihat seorang pria muda berdiri di ambang pintu sambil menatapnya.


Kareem juga melirik ke arah pria itu. Ia tersenyum ramah pada pria itu, seolah ia tahu persis siapa pria yang tiba-tiba ada di depan pintu itu.


Cherry yang kebingungan harus bersikap bagaimana, memilih untuk sedikit menganggukkan kepalanya disertai senyum kaku pada pria itu. Dari tampilannya ia pasti bukan orang biasa walaupun baru pertama kali ini Cherry melihatnya.


Belum juga rasa canggung itu hilang, Cherry dibuat tambah kikuk saat seorang lagi muncul dari balik pintu.


“Hey, ngapain kamu diam depan pintu begitu?” tanya Sous chef Erza yang tampak akrab dengan pria itu.


“Aku sedang memergoki orang pacaran,” jawab pria berpenampilan setelan berkelas itu seraya mengacungkan lurus telunjuk ke arah Cherry dan Kareem. “Wanita itu bekerja di dapurmu bukan?” tanyanya kemudian dengan ekspresi yang lebih dingin dari tampang Erza.


Sesaat itu Erza langsung menengok ke depan. Ia kaget campur kesal.


“Kalian sungguh pacaran?” Erza malah berani bertanya ke intinya.


Kareem memberikan reaksi tak terduga. Ia bukannya menyangkal malah terkekeh geli.


“Kita tidak pacaran,” sanggah Cherry meralat situasi yang terasa aneh ini. Entah mengapa, dia merasa perlu menjelaskan.


“Kareem, kamu jangan menggangu karyawanku!” kata Erza memberi peringatan keras dengan maksud tak jelas.


“Kau dengar itu kan, Kareem. Menjauhlah darinya!!” seru pria yang belum diketahui identitasnya itu ikut mengancam. “Wanita itu adalah milikku!!!” lanjut pria itu tegas sambil mendelik ke Kareem.


Sontak saja mata Cherry melebar penuh. Ia terkejut sekaget-kagetnya mendengar pria yang sama sekali tak dikenalnya itu mengatakan dia adalah wanita milik pria itu.


Siapa laki-laki tidak jelas itu yang seenaknya mengumumkan pernyataan yang bisa membuat orang yang mendengarnya berpikiran macam-macam???

__ADS_1


Cherry kesal bukan main. Darahnya berdesir panas.


__ADS_2