
Beberapa tahun silam ketika musim kemarau belum berakhir.
Akhirnya Serhan berhasil tertidur, setelah Miranda berusaha menenangkannya saat mulai menangis setengah jam lalu.
Helaan napas panjang ia embuskan, sebelum menyelimuti Serhan, putra semata wayangnya.
Miranda mengusap wajah gemuk Serhan dan mencium lembut keningnya. Pandangan matanya memancarkan bahagia. Baginya Serhan adalah hal terpenting dalam hidupnya. Karena putranya lah yang telah membuat dirinya bisa kuat dan bertahan selama dua belas tahun pernikahannya.
Sebelum menikah dengan Arif, Miranda harus menerima banyak rintangan dan hinaan. Pasalnya, keluarga Arif sangat menentang keras hubungan mereka.
Perbedaan latar belakang adalah alasan utama bahwa ia ditolak mentah-mentah untuk menjadi menantu di keluarga Arif.
Bagaimana tidak. Keluarga itu adalah keluarga terpandang. Ayah Arif adalah pimpinan perusahaan Grup Bintang Raya. Yang mana memiliki beberapa anak perusahaan yang tengah berkembang pesat.
Sementara dirinya hanya perempuan biasa yang berasal dari kampung dan bekerja sebagai penjaga kantin di salah satu perusahaan Grup Bintang Raya.
Latar belakang keluarganya pun tidak sehebat keluarga Arif. Bahkan untuk dibandingkan saja masih tidak pantas. Terlebih kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Dan yang terburuk dari semua itu, Miranda bukanlah seorang gadis lagi. Ia pernah menikah dengan pria kantoran. Dan pernikahan pertamanya kandas setelah baru dua tahun mereka membina rumah tangga.
Stigma tentang janda entah mengapa cenderung berkesan negatif. Padahal menjadi janda bukanlah sebuah aib. Setiap perempuan memiliki alasan kenapa mereka terpaksa memilih status janda. Bahkan sebagian memang tak punya pilihan. Ketika suami mereka ditakdirkan berpulang ke Rahmatullah. Dan segelintir lainnya harus menjadi janda setelah ditalak begitu saja oleh suaminya.
Miranda adalah sekian dari salah satu janda yang terpaksa menerima takdir. Karena mantan suaminya menceraikannya tanpa alasan yang tidak mudah diterima. Setelah mengucap kata cerai, pria itu pergi begitu saja meninggalkan rumah. Kemudian, tak lama surat dari pengadilan agama pun datang. Surat panggilan sidang perceraian.
Namun, meski ditentang keras oleh keluarganya, Arif nekat menikahi Miranda. Tentunya, pernikahan mereka yang belum mendapat restu itu membuat kedua orang tua Arif marah besar.
Arif pun harus menerima akibatnya. Dia dicoret dari daftar pewaris aset kekayaan Ayahnya. Bukan hanya itu, Arif diusir oleh keluarganya tanpa boleh membawa barang-barang miliknya dan mengembalikan semua fasilitas mewah yang selama ini didapatkannya.
Sebab semua barang itu sebagian besar dibeli menggunakan uang orang tuanya. Sebagian kecil lainnya dari gajinya selama bekerja menjadi manajer di perusahaan utama Grup Bintang Raya. Dan Arif juga ditendang dari perusahaan.
Mengenang masa sulit tentang dirinya dan Arif, membuat Miranda terbawa perasaan. Matanya mulai tergenang.
Seketika dia menengadahkan wajahnya. Mengejapkan kelopak matanya, berusaha menghalau buliran air mata untuk tak menetes.
Lalu, untuk mengalihkan pikirannya, Miranda melihat jam dinding. Ah, sudah jam sembilan lewat lima menit rupanya.
Ia bangkit, dan turun dari kasur. Pelan-pelan Miranda membuka pintu, menuju ruang depan. Lantas, ia duduk di kursi. Ponsel yang sedari tadi tertinggal di meja, ia ambil.
Segera ia melakukan panggilan ke nomor suaminya. Tidak terhubung. Hanya suara wanita yang menjawab. ‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi'.
Mendengar suara pemberitahuan dari operator, Miranda merasa gelisah. Kenapa sejak seminggu lalu Arif tak bisa dihubungi sama sekali?
Mendadak dua minggu lalu Arif mendapat kabar buruk bahwa Ibunya jatuh sakit. Dengan terburu-buru Arif pamit pergi ke Bandung untuk menjenguk Ibunya.
Miranda ingin ikut dengan membawa serta Serhan . Siapa tahu setelah sekian lama tak bertemu, mereka merindukan cucunya. Tetapi, Arif melarang.
Kedatangan Miranda dan Serhan justru akan membuat kondisi Ibunya makin memburuk. Karena hingga detik ini mereka belum menerima Miranda sebagai menantu. Bahkan Serhan pun tak dianggap sebagai cucu.
__ADS_1
Berkali-kali Arif memohon agar mereka mau merestui pernikahannya. Akan tetapi, jawabannya selalu sama. Bahkan, tanpa perlu berpikir mereka mengajukan penawaran pada Arif. Jika ia menceraikan Miranda, mereka akan menerima Arif kembali. Dan Serhan akan diakui sebagai cucu mereka.
Rasa sayangnya terlalu besar pada Miranda, hingga Arif lebih memilih untuk menolak kesepakatan itu. Hidup tanpa Miranda adalah awal kehancuran baginya.
Ketika Miranda masih bengong, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dan disusul suara suaminya yang mengucapkan salam.
Miranda secepatnya membukakan pintu. Dan tersenyum lega karena ia melihat suaminya pulang ke rumah.
Setelah pintu tertutup, Miranda yang cemas dari seminggu lalu, tak sabar untuk melayangkan tanya yang telah mengganggunya selama Arif pergi.
“Bagaimana kondisi Ibumu sekarang?”
Arif meletakkan tasnya di lantai.
“Ibu sudah keluar di rumah sakit. Karena kondisinya sudah membaik, Ibu memilih dirawat di rumah saja,” jawab Arif datar.
“Lalu, apa orang tuamu menanyakan Serhan?” Miranda bertanya dengan harapan mendapat jawaban yang menyenangkan hatinya.
“Kita bicara nanti di kamar saja. Sekarang aku mau mandi dulu.” Arif yang bersikap dingin berlalu, meninggalkan Miranda yang bingung.
Entah mengapa firasat Miranda menjadi tak enak. Pikirannya mulai dilanda kecurigaan. Pasti ada yang tidak beres selama Arif menemui orang tuanya di Bandung.
Tas yang dibawa suaminya ia pindahkan ke kamar untuk dibongkar. Betapa terkejutnya Miranda saat menemukan sebuah kotak cincin.
Rona bahagia terlukis di wajahnya yang bening. Ia berpikir, Arif sengaja membeli cincin untuknya. Karena beberapa tahun lalu cincin kawinya sudah dijual untuk membayar hutang. Jadi, selama ini Arif ternyata diam-diam berniat menggantinya.
Dengan penuh perasaan gembira Miranda membuka kotak cincin warna hitam itu. Ekspresinya sedikit berubah. Karena desain cincinnya seperti cincin pria.
Untuk memastikan, ia memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kirinya. Cincinnya kebesaran.
Mulailah Miranda mencari kemungkinan. Ia menduga-duga. Apa mungkin cincin itu memang untuk dipakai Arif? Lalu, cincin untuknya mana? Semestinya cincinnya ada sepasang kan.
Tas kembali ia periksa. Dan hasilnya, tidak ada cincin yang lain.
Firasat tidak enak Miranda kian membuncah. Ia akan bertanya langsung pada Arif untuk memastikannya sendiri.
Selesai mandi dan berganti pakaian Arif masuk ke kamar.
Miranda berdiri dekat tepi ranjang dengan wajah yang suram. Arif yang baru menutup pintu dan menggantung handuk, langsung dicecar oleh Miranda.
“Apa cincin ini milikmu?” tanya Miranda ketus, sambil menunjukkan kotak cincin.
Ekspresi wajah Arif begitu kaget. Lebih mengarah pada syok, ketika suatu hal yang ingin disembunyikan malah ketahuan dengan cepat.
“Iya, itu milikku.” Suara Arif lirih. Seakan terlalu berat untuk mengakuinya.
“Kenapa kamu belinya hanya satu?” tanya Miranda curiga. “Terus, kamu dapat uang dari mana untuk beli cincin? Apa orang tuamu memberimu uang?” Miranda mendadak menginterogasi Arif.
__ADS_1
“Aku akan menceritakannya padamu. Duduklah,” ucap Arif, yang lalu duduk di bibir ranjang.
Miranda pun duduk di sebelah Arif seraya melempar pandangan penuh desakan.
“Aku harap kamu tidak marah setelah mendengarnya,” kata Arif, agak ragu bercampur takut.
“Apa ada sesuatu yang terjadi selama kamu menjenguk orang tuamu?”
Arif mengangguk pelan.
“Maafkan aku, Miranda. Aku dipaksa untuk mengabulkan permintaan orang tuaku,” balas Arif memandang Miranda dengan penuh rasa bersalah.
“Orang tuamu memaksa kamu untuk menceraikanku lagi?” tanya Miranda, seolah sudah biasa berpikir seperti itu. Karena memang mertuanya tidak pernah menyerah untuk memisahkan Miranda dan Arif. “Jadi, kamu setuju bercerai denganku.” Miranda menelan ludah. Rasanya ia ingin menutup gendang telinganya. Yang akan diucapkan Arif pastilah hal yang menyakitkan untuknya. Selain itu apa lagi.
“Awalnya mereka menyuruhku begitu. Tapi, aku tidak bisa berpisah denganmu.”
“Lalu?” Miranda membuka telinga lebar-lebar kembali.
“Mereka akhirnya memberiku pilihan lain.”
“Apa?”
“Mereka akan membiarkan aku kembali ke perusahaan dan mau mengakui Serhan sebagai cucu mereka. Tapi, dengan satu syarat,” papar Arif, yang tak berani memandang mata Miranda.
“Apa syaratnya?” Perasaan Miranda semakin berkecamuk. Firasat tidak enak itu mungkin jadi kenyataan.
“Mereka ingin aku menikah dengan wanita pilihan mereka,” ucap Arif dengan suara yang tertahan-tahan. Ia tertunduk lebih dalam.
“Apa maksudnya?” Hanya tanya itu yang mampu terucap dari bibir Miranda yang mulai kelu.
“Kalau aku mau menikahi perempuan itu, Serhan akan menjadi salah satu pewaris sah...”
Sebelum Arif menuntaskan perkataannya, Miranda menyerobot bicara.
“Jadi, mau mereka adalah kamu punya istri baru. Dan aku jadi istri yang dimadu. Begitu?” Suara Miranda melemah.
“Kita harus memikirkan masa depan Serhan. Selama ini aku tidak bisa memberi kalian hidup yang layak. Aku ingin Serhan punya jaminan masa depan yang cerah.” Kali ini Arif beranikan diri menatap Miranda dengan mata yang nyaris basah.
“Maksudmu, kamu ingin meminta izinku untuk menikah lagi?” Miranda mendelik tajam pada Arif.
“Iya.” Anggukan Arif membuat tubuh Miranda lemas. Dan ternyata semua itu belum usai. Arif mengatakan hal yang lebih mengerikan bagi Miranda. “Aku sudah menikah dengan Nina seminggu yang lalu.”
Miranda menjatuhkan dirinya di atas lantai. Hatinya saat ini hancur berkeping-keping. Buliran tetes bening mengalir deras. Ia benar-benar terluka.
Arif seketika langsung memeluk Miranda erat. Walau ia tahu pelukannya takkan bisa menyembuhkan luka hati Miranda saat ini.
“Maafkan aku, Miranda. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa mencintai perempuan lain. Hanya kamu, wanita yang kucintai. Aku terpaksa mengkhianatimu. Semua demi kebaikan Serhan juga dirimu.”
__ADS_1
Miranda tak sanggup mengucapkan kata-kata untuk menguarkan amarahnya. Ia hanya mampu menangis tersedu. Dan dengan menyedihkannya ia tak kuasa menolak pelukan suami yang telah meruntuhkan dunianya.