
Cherry sampai di kedai sederhana milik Ayahnya. Dia langsung disambut Irvan, ayahnya, dan memintanya menunggu di ruang istirahat. Karena Ayahnya masih sibuk melayani pelanggan.
Sambil duduk, Cherry iseng membuka sebuah buku yang tergolek di atas meja. Ia membaca catatan ide resep yang belum sempurna. Cukup menarik.
Terdengar suara pintu didorong secara kasar. Tentu, Cherry terperanjat. Kaget begitu melihat Ibu tirinya lah yang membuka pintu. Masuk dan menatap Cherry tak suka.
“Tumben banget kamu datang ke sini. Kamu mau minta uang sama Ayahmu?” tanya Wina ketus. Ia pun dengan tampang judesnya duduk di kursi kayu yang berseberangan dengan Cherry.
Langsung saja Cherry mendelik pada Wina, wanita yang mengambil Ayahnya dari dirinya dan juga keluarganya.
“Tante, aku bukan pengemis. Aku juga bukan anak manja yang suka merengek minta uang sama Ayah,” balas Cherry agak emosi.
“Huh. Bukannya sekarang kamu masih menganggur?” tanya Wina merendahkan. “Pasti kamu tidak punya uang kan?!” Lagi ia menghina Cherry.
“Walau aku menganggur, Kak Rahis sangat mampu membiayai hidupku. Dari dulu kita berdua tidak pernah menyusahkan Ayah. Tante pasti kan apa maksudku,” balas Cherry menyerang Wina.
Sesaat itu Wina tertohok. Ia mengerucutkan bibirnya masam. Ia yang paling tahu ke mana uang suaminya banyak mengalir selama ini. Dialah yang sering meminta uang suaminya dan menghamburkannya.
“Kebetulan kamu datang ke sini. Nanti sampaikan sama Rahis kalau saat ini Ayahmu sedang kesulitan soal uang,” ucap Wina, menurunkan nada suaranya menjadi lebih halus.
“Kalau begitu Ayah bicara langsung sama Kak Rahis. Tante tidak perlu jadi perantara,” timpal Cherry, tak mau mengikuti kemauan Wina.
Wina berdesis kesal.
“Kamu juga harus tahu kalau sekarang Ayahmu terlilit hutang yang banyak. Dia harus segera melunasinya dalam waktu dekat ini. Jadi, sebagai anak harusnya kamu juga membantu Ayahmu,” tandas Wina, seperti mempunyai maksud lain.
“Nanti, aku akan menanyakan masalahnya langsung sama Ayah. Tante Wina juga sebagai istri harus bisa membantu Ayah untuk menyelesaikan masalah hutangnya,” kata Cherry, masih cukup sabar.
Wina mendelik marah pada Cherry. Tapi, buru-buru ia mengubah raut wajahnya menjadi biasa, cenderung ramah.
“Tante punya saran untukmu. Daripada kamu menganggur terus lebih baik kamu menikah.” Saat Wina mengucapkan kalimat terakhirnya, Cherry melirik tajam padanya. “Tante bisa carikan suami yang tepat untukmu. Tante kenal pria yang cukup kaya. Dia pasti bisa memberimu banyak uang. Sekaligus membantumu untuk melunasi hutang Ayahmu. Ya, walaupun statusnya duda. Tapi, tidak apa-apa kan?”
“Tante sepertinya salah menjodohkanku dengan pria itu. Apa Tante lupa kalau Tante juga punya anak perempuan seumuran denganku? Nikahkan saja Bella dengan pria itu! Bagus kan nanti Tante bisa punya menantu kaya.” Cherry membalas cukup telak.
Wina menahan napas. Ia mengeluarkannya cepat. Dan memelototi Cherry dengan matanya yang besar itu.
“Bella sudah punya kekasih yang juga kaya Sementara kamu kan masih tidak laku. Sudah begitu malah jadi pengangguran,” sinis Wina berkata, penuh hinaan.
Cherry hampir saja membentak Wina sebelum derit pintu terdengar dibuka.
Ayah Cherry masuk, dan seketika Wina membungkam mulut kasarnya itu. Cherry pun berusaha menahan diri.
__ADS_1
“Ayah.. Apa Ayah sudah tak sibuk lagi?” tanya Cherry pada Irvan, yang mendekat dan ikut bergabung duduk di kursi.
“Ayah serahkan dulu kedai pada karyawan lain,” jawab Irvan yang kelihatan lelah. “Ayah senang melihat kalian berdua yang akrab begini,” imbuh Irvan, yang tidak peka membaca situasi.
Akrab dari mananya? Irvan selalu saja begitu tak bisa menilai Wina dengan baik. Seperti sekarang, ia yang rupanya tidak sempat mendengar apa yang diucapkan Wina sesaat sebelum dia masuk, malah bersikap santai.
Seolah tak pernah menyadari bahwa Wina dan Cherry tak pernah berhubungan baik.
Sebuah senyum getir Cherry tarik dari sudut bibirnya, dengan sangat berat hati.
Selama Irvan dan Cherry berbincang, Wina masih diam di tempat duduknya. Sengaja mengawasi percakapan suaminya dan putri tirinya. Karena ia tak mau Cherry mengatakan sesuatu yang tak ia kehendaki kepada Irvan.
🌿🌿🌿🌿
Hari berikutnya
Semua pelamar tahap kedua telah berkumpul. Jumlahnya berkurang banyak dari keseluruhan pelamar yang datang pertama kali.
Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai pengalaman dan pekerjaan yang diinginkan.
Cherry sendiri masuk ke dalam kelompok ketiga. Ia harus bersaing dengan belasan orang lainnya. Salah satunya Irene.
“Kita satu kelompok ternyata. Artinya kita sekarang masih harus bersaing,” ucap Irene membuka obrolan. “Tapi mudah-mudahan kita berdua bisa sama-sama berhasil diterima,” lanjutnya berseri-seri.
“Jika diterima kamu menginginkan posisi apa?” tanya Irene seolah tak ada hal lain yang bisa dibahas.
Mendengar pertanyaan Irene, Cherry merasakan dirinya sedang diusik. Karena yang ditangkap Cherry pertanyaannya itu seakan berarti, 'Memangnya kamu punya kemampuan hingga yakin bisa diterima? Apalagi harus bersaing denganku'.
Cherry diam, malas menggubris Irene.
“Kok diam? Apa kamu takut nggak diterima?” Pertanyaan yang terlontar dari bibir berlipstik warna nude itu kian menyebalkan terdengar di telinga Cherry.
Rasanya Cherry ingin mengelus dada sebelum akhirnya dengan enggan menimpali.
“Aku tidak berani takabur. Soalnya tesnya juga belum dijalani. Makanya aku tak mau mengkhayal kejauhan,” tegas Cherry berbicara dengan nada bicara yang ditekankan.
Ketika seorang pria paruh baya datang dan menjelaskan bagaimana prosedur tes, Cherry merasa terselamatkan dari bawelnya Irene.
Belasan pelamar diminta untuk mencicipi masakan dan menilai kekurangan dari masakan tersebut. Entah itu dari segi rasa, bahan, bumbu, proses memasak, penyajian akhir dan sebagainya. Kemudian mereka akan memasak menu yang sama dan diharapkan hasilnya lebih baik.
Tes kali ini cukup menguntungkan Cherry karena ia memiliki ketajaman indera pengecap. Tapi walau begitu ia merasa kurang yakin apakah bisa membuat menu yang sama dengan rasa yang berbeda.
__ADS_1
Waktu yang diberikan sepuluh menit untuk menyiapkan bahan dan peralatan masak. Dan satu jam untuk memasak hingga plating.
Bunyi lonceng berbunyi. Artinya tes dimulai.
Semua bergerak cepat. Detik per detik sangatlah berharga. Mereka mengambil bahan secukupnya sesuai kebutuhan seteliti mungkin. Jika ada bahan yang lupa diambil maka tidak ada kesempatan kedua. Terkecuali peralatan masak, mereka boleh bolak-balik mengambil barang yang dibutuhkan.
Cherry mencoba tenang meski ia harus bekerja gesit. Pertama, ia meletakkan rapi barang dan bahan di atas meja. Setelahnya, ia menyusun bahan sesuai jenis masakannya.
Kemudian, ia memasak air dengan api kecil. Saat mendidih potongan daging domba ia celupkan. Setelah tiga menit ia matikan kompor lalu meniriskan daging.
Sambil menunggu daging dingin, Cherry membuat bumbu untuk marinasi. Tak lama Cherry mengukur suhu daging dengan ujung telunjuk. Ia lantas mengambil pisau dan memotong daging agak tipis memanjang.
Cherry memberanikan diri membuat potongan daging yang berbeda dari menu sebelumnya yang tebal dan berbentuk bulat sedang.
Sesudah mendapat beberapa lembar daging Cherry menaburi garam dan madu secara merata di semua bagian. Lantas ia menidurkan daging di wadah lebar yang telah terisi bumbu. Bagian atas daging ia sirami saus racikan hingga terendam penuh.
Ia beralih membuat komponen masakan yang kedua. Terlihat ia membersihkan terong, kembang kol dan ubi. Lalu, ia memotongnya.
“Semoga aku tidak kehabisan waktu,” gumam Cherry sambil melirik layar kecil yang menunjukkan menit yang tersisa.
Setelah dipotong, Cherry mengoleskan bumbu pada ketiga bahan itu. Terong ia isi dengan keju, peterseli cincang dan suiran ikan asap lalu menggulungnya. Dan menyematkan tusuk gigi hingga gulungan terong kokoh. Dia lantas memasukkanya ke dalam oven.
Setiap pelamar terlihat sibuk. Mereka sama-sama dikejar waktu. Kemampuan mereka sedang dipertaruhkan.
Tapi, ada seorang yang terlihat santai dan tenang dalam memproses masakan. Irene seolah sudah mahir memasak dengan langkah yang tepat. Bahkan mejanya terlihat bersih meski ia harus beruji baku dengan banyak bahan.
“Ah, aku harus cepat nih. Harusnya meja jangan sampai kotor. Bisa merusak mood,” kata Cherry bergumam setelah menarik napas panjang.
Daging domba cepat Cherry panggang di atas wajan persegi dengan api kecil. Lalu, ia menumis kembang kol di kompor sebelahnya.
Tak lupa ia memasak udang bersama dengan saus caramel. Setelah matang Cherry menyisihkannya. Dan buru-buru menyelesaikan sisa pekerjaan lainnya.
Bertepatan dengan habisnya waktu, Cherry meletakkan dua helai daun mint berukuran kecil di atas lembaran daging yang digulung melingkar yang sudah disiram saus kental berwarna putih kekuningan.
Masakan yang tersaji di piring porselen putih polos itu tampak indah dan menarik. Setiap bagian masakan disusun dengan penuh harmoni.
“Kok kamu presentasinya beda, Cherry?” Irene menyambar tanya. Kedatangannya yang senyap membuat Cherry menoleh heran.
Hatinya bertanya-tanya. ‘Kenapa Irene selalu ingin tahu hal yang tak perlu ia ketahui?’
“Aku hanya ingin beda saja,” jawab Cherry tanpa asal. “Tadi kan pihak panitia mengizinkan kita mengubah menu tanpa mengganti bahan utama. Begitu pun dengan presentasi, kita boleh berkreasi.”
__ADS_1
Irene menekuk wajahnya dan kembali ke mejanya tanpa mampu berkata-kata lagi.