
Sejak kemarin Cherry sudah menyiapkan nyali dan berlatih menjawab wawancara. Tapi, sebelum dua orang pewawancara yang kini duduk di hadapannya memulai, kegugupan kadung menjalar ke pikiran Cherry. Alhasil jantungnya berdetak tak beraturan.
Keberanian yang ia kumpulkan mulai menghambur tergantikan kalut, yang menjadikan telapak tangannya bertautan untuk menahan gemetar. Cherry yang berhijab pink muda mencoba menenangkan diri. 'Kamu pasti bisa'. Cherry dalam hati coba menyemangati dirinya sendiri.
Pria bertubuh cukup tambun dan berjas rapi membuka lembaran kertas Cv milik Cherry. Raut wajahnya serius. Sementara pria yang lebih kurus tampak mencatat di sebuah buku, lalu menatap Cherry tenang.
Ini bukan kali pertama wawancara yang ia lakoni. Selama setahun lebih menganggur, wawancara kerja sudah seperti makanan yang biasa ia telan. Berulang kali ditolak Cherry tak berputus asa. Tapi sebuah kalimat yang terngiang mendadak mengusik konsentrasi. 'Bagaimana kalau aku gagal lagi?'
"Saudari Cherry, apa alasan anda melamar di restoran kami?" Pria gemuk yang terlihat memiliki posisi yang cukup penting melontar tanya.
"Saya tertarik bekerja di restoran ini karena menu yang disajikan selalu berinovasi dan dikenal dengan kualitas terbaik. Pelayanan, kelezatan makanan, kenyamanan dari restoran sudah banyak yang mengakui. Apalagi Chef Rama sebagai Head Chef di sini merupakan salah satu role model saya," jawab Cherry lancar. Memang benar Chef Rama menjadi alasan utama Cherry ingin bisa bekerja di restoran ini.
"Saya kira bisa mengembangkan kemampuan dan memberikan hasil terbaik jika saya berkesempatan bekerja di restoran ini dan di bawah kepemimpinan Chef Rama," lanjut Cherry tanpa ragu walau sedikit gugup.
Tampak pewawancara bertubuh gemuk mengangguk kecil dengan mimik yang masih serius. Sementara pria satunya yang terlihat sebagai bawahannya mencatat sesuatu di buku yang dipegangnya. Kemudian dua orang itu bergiliran mengajukan pertanyaan hingga sesi wawancara berakhir. Untungnya Cherry mampu menjawab yakin dan percaya diri.
"Kami sebetulnya membutuhkan staf berpengalaman. Meskipun pengalaman anda tak banyak tapi kami cukup mempertimbangkan nama restoran tempat anda pernah bekerja sebelumnya. Prestasi anda juga masuk dalam penilaian. Jika anda lulus dalam wawancara kali ini, kami akan menghubungi anda untuk tes berikutnya. Terima kasih," pungkas pria kurusan yang mengenakan kemeja merah tua lengan pendek itu.
"Baiklah. Terima kasih banyak telah memberi saya kesempatan. Saya tunggu kabar baiknya," timpal Cherry seraya bangkit dari kursinya.
__ADS_1
Dia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepasrahan. Memang peluang kecil pun masih bisa berpihak padanya. Tapi berharap terlalu dalam akan memberikan efek kecewa yang lebih besar.
Cherry diam sejenak di luar area parkir sambil menatap lesu restoran dari kejauhan. Tampak restoran cukup berkelas itu tak lengang.
Akan sangat menyenangkan jika dirinya berhasil diterima sebagai kru dapur di sana. Jadi, keputusan yang ia ambil dulu untuk resign merupakan jalan emas menuju kesuksesan. Bukan malah sebaliknya, ia sulit mendapatkan pekerjaan kembali.
Langit yang tadinya cukup cerah mendadak menggelap. Awan pekat terlihat menyelimuti angkasa. Cherry yang terkesiap langsung bergegas mengambil langkah menuju tepi jalan. Kebetulan lampu hijau menyala, ia pun segera menyeberang. Dan begitu sampai di seberang jalan, tetesan air dengan derasnya menghujani dataran. Alhasil, Cherry mengangkat tas ransel menutupi kepalanya sambil berlari cepat.
Beruntung dia berhasil berteduh di depan pelataran toko, dekat trotoar. Dan naas, tasnya tak cukup ampuh melindungi tubuhnya dari guyuran hujan. Kerudungnya tampak basah sebagian. Begitu pula dengan blouse dan rok panjangnya. Tubuh mungil Cherry mulai dihinggapi dingin. Ia mendekapkan kedua tangannya di dada, berharap bisa sedikit hangat.
Matanya yang basah menengadah ke langit. Tak terlihat tanda hujan akan cepat berhenti. Sayangnya, ia tak sedia payung sebelum hujan.
Saat pergi dari rumah tadi matahari bersinar terang. Tak terpikirkan olehnya cuaca bisa berubah sewaktu-waktu. Ia meratapi dirinya dengan sedih. Ternyata semua berjalan tidak sesuai keinginannya. Bahkan langit pun tak ingin berpihak padanya kali ini.
"Heyyyy!!" teriak Cherry kesal. "Bajuku jadi basah semua nih!" keluhnya dengan nada suara parau dan bergetar, sembari geram saat mendapati penampilannya sudah tak keruan.
Ternyata pengemudi mobil mewah berwarna silver itu masih punya etika dan memutuskan menepi. Terlihat di kejauhan seorang lelaki bersetelan turun dari mobil. Membuka payung, dan berjalan menghampirinya dengan tergesa.
"Maaf, Mbak. Saya buru-buru, tidak sadar kalau ada genangan air barusan," ucap lelaki berperawakan agak tinggi itu. Sepertinya ia tak enak hati. "Sebagai permintaan maaf Bos saya akan memberikan ganti rugi. Semoga uang ini cukup untuk membeli pakaian baru," sambungnya setengah kikuk sambil menyodorkan lembaran uang berwarna merah pada Cherry.
__ADS_1
Bukannya senang Cherry malah terhina. Ia ingin memarahi pria itu tapi Cherry sadar, dia kan bukan pemilik mobil sebenarnya. Walaupun ia memang salah mengemudikan mobil seenaknya tetapi bosnya juga sama salahnya. Karena bos kan selalu memberi perintah.
"Tidak perlu," tegas Cherry menolak.
"Tapi sebaiknya anda menerima uang ini, " kata lelaki yang usianya mungkin lebih tua sedikit dari Cherry itu bernada sopan.
Tangannya kukuh tersodor ke arah Cherry. Sorot matanya mengekspresikan perasaan tak tega. Ya, penampilan Cherry yang lusuh memang patut dikasihani.
"Ambil saja uangnya. Aku tidak butuh.
Sampaikan pada Bosmu, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan uang. Jika salah, cukup minta maaf dengan tulus," timpal Cherry agak menahan dongkol. "Sebaiknya anda kembali ke mobil. Bosnya pasti tak bisa menunggu lama. Katanya kalian tadi sedang buru-buru," ujar Cherry menginstruksikan supaya pria di depannya cepat menyingkir dari hadapannya.
"Sekali lagi saya minta maaf," kata pria itu sembari berbalik dan bergegas masuk ke dalam mobil. Tanpa Cherry tahu,
pria yang duduk di kursi belakang memperhatikan Cherry sekilas dari dalam mobil sebelum akhirnya mobil itu berderu pergi.
Cherry tak ingin memperpanjang masalah walau ia merasa tersinggung barusan. Tetapi tak ada gunanya dia memarahi pria yang hanya sebatas berstatus bawahan.
Dengan sedikit enggan Cherry memutuskan memesan taksi. Uang di dompetnya tidaklah tebal tapi demi kenyamanan ia harus memilih taksi untuk sampai ke rumah. Jika menggunakan bus, dan transportasi massal lainnya bisa dibayangkan akan seberapa malunya saat banyak pasang mata menyoroti dirinya yang kacau.
__ADS_1
Sambil menunggu taksi online pesanannya datang Cherry mengelap noda di pakaiannya dengan tisu seadanya.
"Sungguh hari ini aku tidaklah beruntung," gumam Cherry. "Semoga besok hanya ada kebaikan dan kebaikan yang datang". Ya semoga saja.