
“Aku....” kata Cherry yang tadinya hendak murka malah bungkam tatkala Kareem lebih dulu bicara.
“Kenapa kalian berdua ini suka bercanda?” Kareem berkata dengan tenang. “Aku tidak pernah mengganggu Cherry. Kalian bisa lihat sendiri kan dengan mata kalian itu?” Sekarang suaranya meninggi.
Kareem mendekat dan berhenti tepat tak jauh dari Erza dan pria di sebelahnya.
“Kalian harusnya bisa bersikap lebih baik padaku. Terutama kamu, Serhan. Jangan bersikap sentimentil karena masalahku dengan temanmu! Cherry adalah temanku. Jangan melibatkan dia karena ketidaksukaanmu padaku!” kata Kareem mulai marah.
“Tapi, di sini adalah wilayahku. Jadi, dia adalah milikku!” Pria angkuh itu menunjuk Cherry dengan menatapnya tajam.
“Aduh, mereka terlihat sangat tidak akur! Apa mereka bermusuhan? Siapa lagi pria emosional yang tiba-tiba muncul itu? Karena sama anehnya, pasti teman Sous chef. Dan, kenapa pula dia malah asal bicara? Siapa yang miliknya? Pria ini otaknya pasti sedang bermasalah. Dia kenal aku juga tidak!" lirih tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir mengoceh. Kiranya Cherry sungguh bingung dengan situasi yang tidak dapat dimengerti oleh nalarnya.
“Pergilah! Sebaiknya kamu tidak memasuki wilayah yang tidak harusnya kamu masuki,” ucap Erza sambil menarik pelan lengan Kareem untuk mundur.
“Kamu juga sama saja dengan temanmu, Erza. Aku tidak pernah mencari masalah dengan kalian berdua. Tetapi, kenapa kalian selalu tidak pernah menyukaiku?” Kareem berkata dengan lebih tenang seraya menepis tangan Erza.
“Hah, aku kan memang tidak pernah menyukai laki-laki,” jawab pria bergaya formal itu serius.
“Aku pergi dulu. Lain kali kamu harus bersikap lebih baik lagi padaku, Serhan. Ingat masalahku dengan temanmu bukan urusanmu! Dan lagipula itu sudah cukup lama berlalu,” ujar Kareem memilih hengkang.
Dia menghampiri Cherry yang hanya menonton saja dengan segala ketidakpahamannya.
“Hati-hati dengan mereka berdua. Mereka bukan pria ramah. Maaf ya, kamu juga ikut jadi sasaran mereka karena aku. Sampai bertemu lagi,” bisik Kareem lalu melenggang pergi dari tempat itu.
Tinggallah Cherry sendiri. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Erza dan temannya belum pindah dari posisinya. Mereka berdua malah kompak menatap Cherry dengan pandangan menusuk.
Erza lalu mengembuskan napas panjang. Ia mengusap-usap rambutnya sendiri. Dan ia sedikit mengangkat tangannya dan melambai-lambai turun. Instruksi bahwa Cherry harus menghampirinya.
Cherry yang paham langsung melangkah. Gugup menerpa dirinya. Ia takut akan apa yang akan dilakukan Erza dan pria itu padanya.
“Masuklah,” kata Erza yang setelah mengucapkannya segera melangkah masuk melewati pintu. Temannya pun mengiringinya di belakang.
“Dia tidak memarahiku?” tanya Cherry setelah menyaksikan sikap Erza yang biasa saja.
__ADS_1
Dalam segala kebingungannya Cherry menderapkan langkahnya, masuk dan menutup pintu. Melihat kedua pria itu sudah agak jauh di depan Cherry buru-buru menyusul.
“Ayo, ikut denganku!” suruh Erza setelah menyidik Cherry yang sedang berjalan mendekat pada mereka di pertengahan lorong.
Cherry yang patuh mengikuti Erza dan pria itu masuk ke sebuah ruangan kerja.
Begitu telah di dalam ruangan yang luas dan dilengkapi berbagai furniture cukup mewah, Erza menyuruh Cherry untuk duduk.
Ragu-ragu Cherry duduk di sofa, berseberangan dengan posisi mereka berdua yang duduk bersebelahan.
Cherry makin bingung saat mendapati apa yang ada di depan matanya. Di meja tersaji piring kosong yang tertumpuk serta kotak bekal dan rantang mungil.
“Untuk apa ya aku disuruh datang ke sini?” Cherry dalam hati bertanya pada dirinya sendiri. “Kelihatannya mereka mau sarapan. Masa aku disuruh sarapan bareng dua laki-laki menakutkan ini?!” Cherry berasumsi seasalnya dalam pikirannya yang kusut.
“Cherry, sebaiknya kamu lebih menjaga sikapmu. Belum lama bekerja di sini sudah buat orang lain kesal saja,” kata Erza membuka obrolan dengan pedas.
“Apa ini tentang Kareem? Aku tidak tahu kalau mengenalnya adalah masalah untuk Sous chef,” kata Cherry yang agak terbata.
“Aku tidak masalah kamu mau berteman dengan siapa pun. Tapi, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Kareem. Selain itu dia kan Head Chef di restoran saingan kita,” papar Erza ketus.
“Kita mau makan. Kamu sudah sarapan belum?” Erza bertanya tanpa terlihat ketulusan di bola matanya yang coklat bening.
“Saya sudah sarapan di rumah,” jawab Cherry merasa canggung berada satu ruangan dengan dua pria itu.
Erza mengambil piring, menaruh makanan yang ada di kotak bekal dan rantang secukupnya ke dua piring.
“Kalau begitu saya mau bersiap untuk bekerja dulu, Sous chef,” kata Cherry memberanikan diri pamit.
“Sekarang belum masuk jam kerja. Kamu datang terlalu awal. Aku tidak menyangka punya karyawan yang terlampau rajin sepertimu,” ujar pria yang sangat cocok dengan setelan mewahnya.
Setelah Cherry perhatikan, semua yang melekat di tubuh pria itu, dari atas sampai bawah, adalah barang bermerk terkenal.
“Jadi, apa saya boleh pergi sekarang?” Cherry yang makin tak nyaman lama-lama di dekat mereka bersikeras ingin cepat keluar dari sana tanpa harus menanggapi pria itu.
__ADS_1
“Kamu seharusnya bersikap lebih sopan pada Bos,” tegur Erza mengkritik Cherry yang tak tahu apa-apa.
“Dia ini adalah presdir sekaligus pemilik restoran,” terang Erza dengan bangga memperkenalkan sosok di sebelahnya.
“Ahh... Maaf atas kekurangsopanan saya,” kata Cherry kikuk seraya tertunduk lesu. Dan tentunya malu setengah mati.
Harusnya ia bisa menebak kalau pria yang berpakaian keren itu bukanlah pria sembarangan. Yang dikenakannya saja barang bermerk mahal. Dia pasti orang kaya raya yang punya kepentingan untuk berada di restoran ini. Bukan malah mengira hanya sebatas teman Sous chef yang kebetulan tajir.
“Meski kamu sudah sarapan, kalau mau kamu bisa makan lagi. Makanannya terlalu banyak untuk kita berdua,” kata pria yang ternyata atasan tertinggi Cherry dengan nada lebih lembut. Matanya yang dalam menatap Cherry dengan lebih teduh.
“Ya? Maaf, saya masih kenyang,” timpal Cherry yang tak berani mengangkat mukanya.
Seandainya dia tidak sedang dalam situasi mencekam begini, Cherry pasti tidak akan menolak untuk mencicipi makanan yang terlihat menggiurkan itu. Tapi, rasa malu dan canggungnya membuat ia tak berselera sama sekali.
“Menolak kebaikan orang lain itu tidak sopan. Lain kali kamu pertimbangkan dulu sebelum menolak. Satu lagi. Aku beritahu, kamu adalah milikku. Jadi, seharusnya kamu tidak punya hak untuk membantah kata-kataku,” terang pria itu dengan suara yang tegas.
Seketika Cherry mengernyit begitu mendengar kata itu terucap lagi dari mulut pria yang seksi dengan bibir berisinya. Ia beranikan diri untuk mengangkat wajahnya tegak sambil menatap bosnya dengan raut muka penuh keheranan.
“Maaf, tapi saya bukan milik anda,” kata Cherry dengan lugas.
Bosnya tampak gelagapan. Ia baru sadar ada yang salah dengan kata-kata yang ia ucapkan. Perkataan bodoh yang buat Cherry keliru memahami.
“Ah, aku ini kan bosmu. Jadi, otomatis kamu adalah milikku,” timpal bos pria itu meralat maksud ucapan sebelumnya. “Erza juga adalah milikku. Semua yang bekerja untukku adalah milikku. Semua yang ada di restoran ini adalah milikku,” sambungnya yang gagap di awal kalimat.
Semua penjelasan bos restoran itu terdengar konyol dan semena-mena. Memangnya sekarang masih zaman penjajahan. Sistem perbudakan harusnya sudah dimusnahkan di seluruh penjuru dunia.
“Aku bukan milikmu! Semua yang bekerja di restoran juga bukan milikmu. Seharusnya kamu bisa menjaga mulutmu yang sombong itu. Aku dan yang lainnya bukan budakmu. Mentang-mentang kamu bos jadi sok berkuasa begitu. Sudah tahu makannya cuma berdua, bawa makanannya secukupnya saja. Dasar stress!" ujar Cherry marah, yang tentu hanya berani ia teriakkan dalam lubuk hatinya yang terdalam.
“Sudah, kalau begitu kamu keluarlah,” suruh penguasa itu sinis.
Segera tanpa berpikir panjang lagi Cherry bangkit. Dia menyeret kakinya yang terasa berat untuk melangkah keluar ruangan.
Setelah berhasil berada di luar, ia menutup pintu. Ia melanjutkan berjalan ke ruang loker sambil menggerutu.
__ADS_1
“Kenapa juga dia yang seorang bos itu repot-repot makan di tempat kerja? Memang nggak bisa ya dia sarapan di rumah saja. Kalau tahu mereka berdua datang lebih pagi dariku, pastinya aku akan datang saja sesuai jadwal. Ah, ketenangan di pagi hari yang aku harapkan malah jadi suram begini. Bukan aku yang pintar membuat orang lain kesal, tapi mereka berdua!”