Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Sebuah cincin


__ADS_3

Pintu terbuka dari dalam kamar mandi. Seorang pria muda bertubuh cukup proporsional keluar dari sana, masih mengenakan jubah mandi putih polos dan rambut yang masih belum kering. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan closet pakaian.


Di dalam ruangan sana, yang luasnya setengah luas kamarnya, barisan-barisan pakaian lengkap beragam jenis dan mode tampak berkilau. Terpajang rapi di gantungan lemari tanpa pintu.


Zayn, mulai memilih deretan kemeja yang rata-rata berlengan panjang dengan warna cerah dan polos tanpa motif.


Walau sedikit bimbang, akhirnya Zayn mengambil kemeja warna biru muda pucat. Lalu, ia beralih mencari jas yang pas untuk disandingkan dengan kemejanya.


Zayn memutuskan jas berwarna hitam untuk ia pakai nanti ke kantor. Tak lupa, ia menarik vest dengan warna senada dan bermotif garis kecil. Dan menaruhnya keduanya di atas almari pendek yang lebih tinggi dari pinggangnya.


Kemudian, ia melangkah santai ke ruang ganti sambil menggamit celana panjang hitam dan kemeja birunya yang terlipat, di lengannya.


Setelah menanggalkan jubah mandinya dan menggantinya dengan kemeja dan celana panjang, ia kembali ke ruang closet.


Zayn lalu memilih dasi yang tersimpan berderetan di meja kaca etalase. Setelah merasa cocok, ia menggeser tutup kaca dan mengambil dasi warna biru gelap dengan motif sederhana.


Diayunkan langkahnya ke arah almari pendek dan mengambil jas dan vest yang tertinggal di atas sana. Dan berjalan menuju cermin besar. Ia menaruh dulu vest dan jas di meja dekat cermin.


Di depan cermin, setinggi tubuhnya, Zayn memasang dasi cepat-cepat. Seolah sudah lihai, dasi itu terpasang sempurna di lehernya.


Empat kancing pada bagian depan vest casual ia tautkan dengan cepat. Dan memakaikan jas hitam pada tubuhnya yang kurus tetapi cukup berisi.


Langkahnya ia derapkan kembali ke ruang kamarnya. Ia merias dirinya di depan meja bercermin, menyisir rambutnya, dan memakaikan krim pomade di bagian depan rambutnya hingga atas. Lalu, dengan sisir ia tarik belahan rambutnya ke samping atas. Botol parfum ia raih dan menyemprotkan sedikit ke beberapa bagian atas tubuhnya.


Zayn membuka laci teratas, dan mengambil jam tangan desainer kesayangannya dari dalam sana. Ia lingkarkan di pergelangan tangan kirinya.


Saat hendak menutup kembali laci, Zayn dengan ekor matanya menyisik sebuah kotak kecil perhiasan berwarna biru navy.


Ia mulai terganggu dengan keberadaan kotak itu, yang ternyata belum ia pindahkan dari sana, setelah terakhir kali ia menaruhnya di kotak besar tempat menyimpan barang-barang lama.

__ADS_1


Usai mendengus pelan, Zayn mengambil kotak kecil itu. Dan membuka tutupnya perlahan. Di kotak itu, sebuah cincin bermata berlian dengan desain simpel tersimpan dengan cantik.


Beberapa saat ia memandangi cincin putih itu dengan sorot mata yang penuh makna. Seakan cincin itu tak seharusnya masih ia simpan. Semestinya cincin itu sudah terpasang di jari pemiliknya. Mungkin seorang wanita yang ia ingin lamar untuk menjadi istrinya.


Namun, bukan rona bahagia yang tergambar dari wajahnya saat memerhatikan cincin itu. Melainkan percikan kesedihan yang cukup dalam. Mungkin, ia tengah merindukan sosok perempuan yang harusnya jadi pemilik cincin itu. Entahlah.


Semakin lama ia pandangi cincin itu, ia mulai kembali pada ingatan di masa lalunya. Dan itu bukan hal yang Zayn sukai. Mengingat tentang dirinya, Zayn benci.


Akhirnya, kotak itu ia tutup kembali. Ia berpikir sejenak. Apa cincin itu disimpan kembali ke laci itu atau dibuang saja ke tempat sampah? Menyimpan cincin itu sampai detik ini sangatlah tidak berguna.


Bagaimana tidak? Cincin itu telah kehilangan pemilik sebenarnya.


Tangan kurus Zayn terhenti saat akan menjatuhkan kotak itu ke keranjang sampah. Ia cukup ragu. Benda itu memiliki arti tersendiri baginya. Dulu, ia sengaja memesan cincin itu di sebuah toko perhiasan terkenal di Prancis. Ia sengaja menyiapkan cincin mewah itu untuk diberikan kepada perempuan yang telah menjadi pemilik hatinya suatu hari nanti.


“Bodoh sekali, aku masih belum bisa membuang cincin sialan ini,” rutuk Zayn kesal sendiri. Ia lalu menggeletakkan kotak cincin ke tempatnya semula.


“Cincin ini belum menemukan siapa pemiliknya yang baru. Dan mungkin tidak akan pernah. Aku yang menyedihkan ini masih belum bisa melupakannya. Padahal dia sudah lama pergi. Kenapa sampai saat ini tidak ada seorang perempuan pun yang pantas memakai cincin ini, selain dia?” gumam Zayn, dengan nada suara sedih. Seolah ia tengah menyimpan rasa sakit yang begitu lama dalam hatinya.


Salah satu kursi kosong sebelah sisi meja, Zayn pilih untuk ia duduki. Kemudian, ia menyuruh seorang pelayan untuk mengambilkan tas kerjanya.


Seorang perempuan cantik tapi cukup berumur dan berjilbab, menghampiri Zayn di meja makan. Lantas, ia duduk di kursi utama.


“Masih pagi, mengapa wajahmu sudah kusut begitu?” tanya Ibunya, yang mendapati wajahnya yang muram.


“Aku hanya kurang tidur,” balas Zayn seraya membentangkan koran yang tergeletak di meja.


Ia tidak benar-benar membaca artikel berita yang tercetak di koran itu. Zayn, hanya tak ingin Ibunya menyadari bahwa suasana hatinya sedang tidak baik. Penyebabnya pasti karena cincin itu.


“Simpan korannya. Makanlah dulu,” ucap Ibu Zayn. Ia menjulurkan piring yang berisi omelet, satu sosis besar juga roti toast panggang yang diolesi saus krim serta diberi potongan timun juga tomat.

__ADS_1


Zayn melipat korannya dan memberikannya pada pelayan yang sudah membawakan tas kerja miliknya.


Tanpa percakapan berarti, Zayn dan Ibunya menghabiskan sarapan.


***


Ditemani sekretarisnya, Zayn buru-buru berjalan keluar setelah pintu lift terbuka. Ia melewati lorong juga lobby, dan melangkah keluar pintu kaca utama gedung.


Langkahnya terhenti di teras depan gedung. Karena hujan tiba-tiba turun. Zayn menunggu seseorang membawakan payung untuknya. Dan tak lama salah satu karyawan membawa payung besar dan memberikannya pada sekretaris.


Zayn berjalan ke arah mobil yang sudah disiapkan dengan payung menaungi tubuhnya, yang dipegang oleh sekretaris.


Karena hujan, jalanan berubah licin dan macet di beberapa ruas jalan. Sekretaris yang umurnya terhitung masih muda, terus memacu mobil makin cepat. Karena mereka harus sampai di hotel secepatnya. Untuk janji makan siang bersama klien penting. Mereka perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik sebelum klien itu datang tepat waktu.


Saat menempuh separuh perjalanan, sekretaris tiba-tiba mengerem mendadak setelah Zayn menyuruhnya berhenti.


“Kenapa, Tuan?” tanya sekretaris heran, sesaat setelah memutar lehernya dan menatap Zayn.


“Barusan seorang gadis terkena cipratan air saat mobil lewat. Turun dan temui gadis itu dan berikan ganti rugi. Karena sepertinya baju dia basah dan kotor.” Sepintas tadi saat melihat ke luar mobil, Zayn secara tidak sengaja juga melihat seorang gadis yang terciprat air genangan hujan tepat ketika mobil melintas.


“Tapi, Tuan. Bukankah kita sedang buru-buru?” Sekretaris protes.


“Maka dari itu, cepatlah selesaikan urusannya. Jangan lupa beri dia uang yang cukup untuk membeli baju baru!”


Sekretaris lekas turun dari mobil sambil membawa payung, menghampiri gadis yang jadi korban cipratan mobil.


Zayn, sedikit memutar tubuhnya dan menengok ke belakang. Dari kaca belakang mobil ia memperhatikan sekretarisnya yang berjalan mendekati gadis berkerudung itu.


“Ini bukan saatnya aku mengasihani orang lain. Aku memang lemah jika melihat perempuan menderita. Apalagi jika itu disebabkan karena diriku,” lirih Zayn bergumam pada dirinya.

__ADS_1


Entah kenapa, gadis berkerudung yang tengah ia perhatikan dari jauh itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang perempuan yang meski waktu berlalu, belum hilang dari ingatannya.


__ADS_2