
Ketika memasuki salah satu sudut dining room Perfect harmony, Delinka melihat reporter asing yang tengah meliput. Kareem tampak sedang diwawancarai seorang wanita berblazer biru dan celana panjang dengan warna senada, serta di sorot oleh kameramen berbadan tegap dan besar. Dia berbinar senang ketika menjawab pertanyaan reporter. Delinka seketika meraut wajah iri sekaligus kesal. Orang yang paling ia benci malah berhasil melangkah lebih jauh sedangkan dirinya masih tertinggal di belakang.
“Kau lihat kan Kareem sangat keren,” kata Zayn berbisik pada Delinka. Ia sengaja memanas-manasi.
“Anna masih di sini?” Tak menggubris, Delinka mengalihkan topik dengan menanyakan keberadaan kritikus makanan yang tak tertangkap oleh penglihatannya.
“Dia masih di sini. Dia ada di ruang VIP. Kita berusaha menjamunya dengan pelayanan terbaik,” jawab Zayn dengan gaya bicara penuh kebanggaan dan sengaja memamerkan.
“Ya, sudah seharusnya kalian melakukannya. Karena kalian akan mendapat keuntungan besar jika berhasil menyenangkan Anna. Tak kusangka kau sangat lihai dalam hal menyogok, Zayn,” timpal Delinka ketus.
Mencoba melakukan serangan ampuh untuk membungkam kesombongan Zayn.
Zayn yang mendengar ucapan Delinka memberikan lirikan tajam padanya. Lawan yang ia hadapi saat ini bukanlah lawan yang mudah. Zayn akhirnya terdiam. Ia yang sengaja mengajak Delinka ke restoran memang agar membuat Delinka terbakar rasa iri. Tapi justru Delinka bisa mengendus niat terselubungnya.
“Anna ke sini karena kamu sengaja mengundangnya bukan?” tanya Delinka ingin membongkar kelicikan Zayn. Dia mendelik menatap Zayn.
“Kita sebaiknya bicara empat mata di ruanganku. Ayo!” kata Zayn yang menuntun Delinka untuk mengikutinya ke ruangan kerjanya.
Delinka yang agak sungkan tak bisa menolak ajakan Zayn. Untuk mengetahui startegi lawan maka ia mesti mendekatinya lebih dulu.
Di dalam ruang kerja yang cukup luas Zayn mempersilakan Delinka duduk di sofa mewah yang terbujur di tengah ruangan.
Setelah Delinka duduk, Zayn pun menempati sofa kosong di depan Delinka.
“Jadi, apa tujuanmu mengundang Anna ke sini?” tanya Delinka dengan tatapan serius.
“Seperti katamu tadi. Aku akan mendapatkan banyak keuntungan dengan kedatangannya. Anna bisa mempromosikan restoranku dengan sangat baik,” jawab Zayn tanpa menutup-nutupi.
“Bagaimana caramu membujuk Anna? Dia tidak akan semudah itu menerima tawaranmu,” Delinka mulai curiga.
“Membujuk Anna memang tidaklah mudah. Aku hanya bersedia menerima persyaratan darinya.”
“Apa itu?”
__ADS_1
“Saat dia menilai masakan yang ada di sini, dia bebas mengkritik sesuai pendapatnya. Kita tak bisa melarangnya jika ia memberi penilaian buruk.”
“Apa kamu tidak takut mengambil risiko? Anna terkenal pedas dalam mengkritik.”
“Aku yakin akan kemampuan Kareem. Dia sudah memiliki deretan prestasi di dunia kuliner. Kau tentu tahu seberapa hebatnya Kareem,” terang Zayn sengaja memuji Kareem di depan Delinka.
“Aku tidak pernah tahu dia sehebat itu,” balas Delinka, tak sudi mengakui kemampuan Kareem.
“Harusnya kamu tak menjadikan Kareem sebagai lawan. Kau akan kesulitan. Padahal kamu bisa mengambil jalan yang lebih mudah untuk mencapai kesuksesan, tapi kamu malah memilih langkah yang sulit,” papar Zayn.
“Maksudmu?” Delinka mengernyit.
“Jadilah partner Kareem. Kau bisa jadikan dia batu loncatanmu. Bukankah hubungan kalian dulu sangatlah dekat?” Zayn mulai mengungkit kenangan lama.
“Itu dulu. Jangan membahas masa laluku!" seru Delinka emosi. “Aku tidak selicik dirimu, Zayn,” tambah Delinka.
“Kupikir kita sama. Kamu sama ambisiusnya denganku. Tujuanmu bekerja sama dengan Serhan adalah untuk mengalahkan Kareem. Saat ini aku sedang membuka jalan lebar agar kamu bisa mencapai tujuanmu. Hanya kamu yang membenci Kareem. Tapi Kareem tidak membencimu sama sekali. Dia pasti akan dengan senang hati membantumu jika kamu mau memintanya untuk menjadikanmu partnernya,” tandas Zayn menawarkan ide curang.
“Dan kau ingin aku mengkhianati Serhan?” Delinka melempar tanya yang menyingkap niat Zayn.
“Buang jauh-jauh pikiran busukmu!” sergah Delinka kesal. “Serhan bukan hanya sekadar rekan bisnis atau sahabat. Hubungan yang kita miliki lebih dalam daripada apa yang kamu ketahui,” imbuh Delinka.
Dan tepat setelah selesai bicara, Delinka bangkit, lalu memacu langkah dengan tergesa meninggalkan ruangan.
Zayn menatap kepergian Delinka dengan tampang tak terima. Berani sekali Delinka menolak tawarannya dengan kurang ajar seperti itu.
Saat Delinka melangkah keluar pintu restoran, Kareem sempat melirik dengan pandangan heran. Kenapa Delinka bisa ada di restorannya? Dan, apa yang membuat dia sebegitu marah hingga membuatnya berjalan sangat cepat dengan wajah cemberut sedemikian rupa?
***
Serhan dan Erza yang berada di ruangan Presdir kaget ketika Delinka masuk sambil membanting pintu dengan keras.
Serhan yang duduk di kursi singgasana Presdir melayangkan tanya usai mendapati wajah Delinka yang penuh amarah.
__ADS_1
“Ada apa dengamu?”
Delinka segera duduk di sofa samping depan meja.
“Zayn sudah mulai bergerak sedang kita baru memulai langkah baru. Ternyata Zayn sudah merencanakan semuanya dengan matang,” terang Delinka seraya sedikit mengangkat sebelah kakinya untuk duduk bersilang kaki.
Serhan menopang dagunya dengan kedua tangannya yang teremas. Lantas ia memandang ke arah Delinka.
“Aku sudah mendengarnya. Dia rupanya rela mengundang reporter dari stasiun TV Eropa dan kritikus terkenal dari Prancis. Tak kusangka dia menggunakan relasi untuk meningkatkan citra restorannya,” ungkap Serhan kesal sendiri telah dilangkahi duluan.
“Ya, kudengar dulu Anna dan Kareem punya hubungan yang baik. Dan untuk urusan mengundang reporter asing bukan hal sulit bagi cucu pemilik group Bintang Raya. Lalu, apa kita perlu melakukan langkah yang sama?” tanya Delinka meminta saran.
“Sebaiknya tidak usah. Karena meniru mereka justru akan menjadi bumerang untuk kita. Kita harusnya membuat identitas khas restoran sendiri. Perfect harmony sudah punya nama lebih dulu dari kita. Menurutku, jika ingin bersaing maka kalian berdua perlu mengubah tujuan awal mengembangkan restoran. Dendam yang kalian miliki justru lambat laun akan menghancurkan restoran ini,” kilah Erza yang berkepala dingin menyikapi. Erza yang duduk berhadapan dengan Delinka melirik Serhan dan Delinka bergiliran.
“Apa kita harus mengubah total restoran? Kita sepertinya harus membuat restoran ini sama mewahnya dengan restoran Zayn,” usul Serhan yang diliputi kesumat.
“Untuk melakukannya perlu banyak dana dan waktu. Belum lagi kita harus memulai dari awal lagi. Dan belum tentu Zayn juga akan tinggal diam,” tolak Delinka tak sependapat.
“Sudah kubilang, jangan pikirkan lagi tentang kebencian kalian pada Zayn dan Kareem! Kita sebaiknya fokus mengurus restoran. Jika kalian hanya menggunakan restoran sebagai alat membalas Zayn dan Kareem, aku yakin kalian tidak akan berhasil,” kata Erza memandang Delinka dan Serhan dengan kesal yang tak tertahan.
Delinka dengan tajam memandang lurus Erza.
“Erza, kamu bukannya memberi solusi malah menasehati kita. Saat ini kita perlu rencana dan strategi untuk menyeimbangi Zayn,” ucap Delinka, terang tak menerima pendapat Erza.
“Delinka, Erza tidak sepenuhnya keliru. Selama ini kita terlalu fokus dengan rencana pembalasan kita tanpa memikirkan masa depan restoran. Jika rencana kita gagal, maka para karyawan pun akan dikorbankan,” tanggap Serhan mulai luluh.
“Apa kamu sudah berubah pikiran? Kamu mengajakku bergabung ke restoran agar aku berkesempatan bersaing dengan Kareem dan mengalahkannya. Apa kamu sudah lupa tentang itu?” Delinka geram. Wajahnya mengeras penuh amarah.
“Sebaiknya kalian berdua pikirkan semuanya baik-baik. Pikirkan tentang kebaikan semua pihak. Restoran bukanlah mainan. Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sini. Ada orang yang menapaki mimpinya di sini. Serhan, kamu pasti peduli dengan Cherry bukan? Dia ingin membangun mimpinya di restoran ini. Begitu pun dengan yang lainnya. Meski Cherry bilang dia tidak mengenalmu tapi kukira kamu cukup mengenal Cherry lebih dari aku,” papar Erza mulai kesal sendiri.
Ia lalu berdiri dan segera mengambil langkah dengan lesat untuk pergi keluar ruangan. Meninggalkan dua sahabatnya yang sama-sama keras kepala.
Serhan menurunkan kedua tangannya dan meletakkan telapak tangannya di atas meja. Ia menarik napas pendek dan mengeluarkannya pelan. Kepalanya sedang memikirkan perkataan Erza. Isi kepalanya mendadak terpenuhi bayang Cherry.
__ADS_1
Delinka hanya bergeming. Dia berusaha berpikir dengan jernih. Mungkin selama ini sikapnya terlalu kekanak-kanakkan.