Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Wanita penakluk


__ADS_3

Mengikuti perintah, Cherry datang tepat waktu sesuai jadwal jam kerjanya. Akan tetapi ia tetap saja yang datang paling awal. Angga belum kelihatan bayangannya. Sementara karyawan lainnya punya jam kerja yang berbeda dengan kitchen assistant.


Ia berganti pakaian dengan seragam koki di ruang loker khusus wanita, yang sepi. Lantas Cherry merapikan barang di dalam lokernya dan menguncinya.


Dengan langkah santai ia berjalan menuju area dapur yang hening. Seperti biasa dia mulai melakukan pekerjaan rutinnya. Dapur yang terlihat sudah rapi kembali Cherry bersihkan. Ia mengambil ember, mengisinya dengan air yang dicampur pembersih lantai dan mengepelnya hingga tak ada kotoran yang tersisa di lantai.


Tidak memerlukan waktu lama pekerjaan pertamanya selesai. Ia beralih mengelap meja stainless di sisi kanan.


Pintu dapur tiba-tiba dibuka dari luar. Dari balik pintu muncul seorang yang memakai setelan keren.


Karena derit pintu yang terbuka itu terdengar oleh Cherry, maka sejurus itu ia menoleh ke arah pintu. Awalnya ia mengira pria berpenampilan maskulin itu adalah Serhan, bosnya. Tetapi, sekian detik Cherry baru menyadari bahwa dia adalah sosok yang berbeda.


Erza terlihat lebih berkilau dan ketampanannya menjadi lebih maksimal dengan setelan formal yang berkesan mewah itu. Cherry tak bisa untuk tidak terpana memandangi sosok yang nyaris tanpa cela itu.


“Kamu selalu saja datang paling awal,” ucap Erza entah memuji atau menyindir. “Angga masih belum datang?” tanya Erza saat menyapu bersih tatapannya ke seluruh dapur.


“Belum,” jawab Cherry yang sesaat melirik Erza lalu fokus kembali dengan pekerjaannya.


Erza menyidik jam tangan bermerknya.


Lalu dia berkata, “Sepuluh menit dia masih belum datang, dia akan kena hukuman karena terlambat.” Raut wajahnya menyiratkan kesenangan bisa membuat orang lain menderita.


“Cherry...” panggil Erza.


Alhasil Cherry menoleh dengan berat hati.


“Iya, Sous chef. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Cherry santun.


Erza berjalan mendekat dengan langkah bak model yang berjalan di catwalk.


“Nanti semua karyawan restoran akan briefing. Kita kedatangan tamu spesial,” kata Erza lebih mendekat ke Cherry.


“Siapa tamunya? Apakah presiden?” tanya Cherry asal menebak.


“Presiden sedang sibuk mengurus negara, mana ada waktu datang ke restoran sebagai tamu undangan. Sepertinya isi kepala kamu terlalu berat ya Cherry,” sindir Erza yang tak percaya akan jawaban Cherry yang terlalu diplomatis.


Cherry dongkol. Ia lupa, kini sedang berhadapan dengan pria menyeramkan. Seharusnya ia lebih hati-hati bicara.


“Nanti kamu pasti akan tahu siapa orangnya. Tapi, aku punya permintaan untukmu,” ucap Erza dengan nada bicara yang lebih lembut.


“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Cherry tak mau langsung bersedia.


“Pertama-tama, jangan bicara formal denganku di luar jam kerja.”


Cherry cepat-cepat membantah.

__ADS_1


“Sekarang saya kan sedang bekerja,” timpal Cherry polos.


“Tapi aku tidak sedang bekerja. Aku belum mengenakan pakaian koki. Kamu bisa lihat sendiri. Saat kita sedang berdua, bicaralah dengan santai,” terang Erza sedikit kesal.


“Ya, aku mengerti,” balas Cherry tak hendak melawan.


“Kamu harus janji untuk selalu berada di pihakku. Jangan berkhianat dariku, Cherry!” Suara Erza tidak terdengar seperti memohon tapi lebih seperti mengancam.


Mendengar ancaman Erza, Cherry tak bisa mencerna maksud perkataannya.


Berkhianat? Harus berada di pihaknya? Cherry tak memahaminya sama sekali.


“Intinya kamu harus jadi sekutuku di dapur,” tambah Erza masih membuat Cherry bingung.


“Maksudnya sekutu? Memang kita mau perang?” Cherry malah berseloroh.


“Bukan perang. Tapi persaingan sengit. Pokoknya aku menginginkan kamu berada di pihakku nanti. Kamu mengerti?” kata Erza yang memiliki maksud terselubung.


Cherry yang tak mau ambil pusing lagi terpaksa menyetujui perkataan Erza yang ambigu.


“Ya, Sous chef.”


Erza tersenyum lebar. Tampak binar kebahagiaan di matanya.


“Ada apa sih? Sampai Erza yang gila itu rela mendatangiku dan memintaku jadi sekutunya,” gumam Cherry sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Cherry meletakkan lap di bak cuci piring. Ia tertegun sejenak.


“Jika Erza perlu sekutu, berarti dia punya musuh untuk dilawan. Kira-kira siapa musuhnya?” Cherry dengan serius berpikir.


“Ah, apa mungkin itu Kareem? Kemarin mereka berdua terlihat tidak akur. Tapi kan dia sudah memiliki sekutu yang tepat, Serhan. Apa dia punya lawan yang lebih sulit? Bahkan Serhan pun tak mampu menandinginya,” papar Cherry beragumen sendiri, menyimpulkan sendiri dan pusing sendiri akan hal yang tidak ia mengerti sama sekali.


“Pagi. Kamu sudah datang dari tadi?” sapa Angga yang sudah rapi dengan seragam dapur.


“Iya. Kamu kena marah Sous chef barusan?” Cherry teringat Erza yang mau menghukum Angga yang terlambat.


“Aku tidak bertemu dengannya. Mungkin dia sedang di ruang kerja Chef. Tapi nanti aku pasti kena omel,” ujar Angga yang segera memulai bagian pekerjaannya.


Saat briefing.


Semua karyawan restoran berkumpul di salah satu sudut dining room. Dari front of house maupun back of house tak boleh absen. Karena ada pengumuman penting.


Manager restoran yang sudah berumur memulai briefing.


"Seperti yang sudah kalian ketahui Sous chef selama ini menggantikan posisi Chef yang kosong. Dan mulai besok Chef akan mulai bekerja bersama kita,” ungkap Bapak manager yang berwibawa.

__ADS_1


Semuanya lantas berbisik-bisik. Mereka menanggapi pengumuman tentang Chef baru dengan reaksi beragam.


Kebanyakan kaum hawa terutama dari dapur agak menyayangkan karena Sous chef favorit mereka harus turun dari posisi Chef sementara. Dalam bayangan mereka Chef baru adalah seorang berpengalaman. Dan pasti dia laki-laki monoton, kaku, tegas serta tak lagi muda.


Sebagian pekerja tak berharap banyak. Bagi mereka siapa Chef barunya sama saja.


Dan sebagian lainnya menggantungkan harapan setinggi langit bahwa Chef baru adalah orang yang lebih baik dalam segala hal. Termasuk dalam memperlakukan staf dapur.


Para wanita nyaris histeris tatkala dua orang pria dengan kalemnya memasuki ruangan. Pesona mereka memang tak pernah berkurang sedikit pun. Walaupun dua orang pria itu memiliki tipikal ketampanan yang berbeda tapi jika harus memilih salah satu, para wanita akan merasa kesulitan.


Erza begitu menawan dengan postur tubuh yang berisi dan cukup kekar. Dari bagian atas hingga bagian bawah tubuhnya, semuanya hampir mendapat nilai sempurna. Pembawaannya yang dingin dan tegas juga berbakat memegang pisau dapur menjadi perpaduan yang keren.


Serhan yang bertubuh kurus dan atletis selalu menonjolkan kharisma elegan yang dingin juga berpenampilan glamourous. Ditambah dia adalah pemilik restoran dan terhitung pengusaha muda yang kompeten. Kekayaannya begitu menggiurkan mata perempuan matrealistis.


“Selamat pagi. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan Chef baru. Dia sudah punya pengalaman mumpuni di dunia kuliner,” terang Serhan memancarkan kharisma khasnya.


Para karyawan menyimak dengan baik. Pandangan yang tertuju padanya adalah rasa kagum yang berlebihan.


"Statusnya disini bukan hanya sebagai Chef tetapi sebagai partner saya selaku Presdir. Dia juga berhak mewakili saya dalam mengurus semua hal di restoran. Dia juga bisa membuat keputusan tanpa persetujuan saya terlebih dahulu,” tambah Serhan yang menjadikan reaksi karyawan berubah drastis.


Semua berbisik-bisik pelan. Mereka menerka kira-kira sosok seperti apa Chef baru itu. Baru bekerja sudah mendapat kedudukan tertinggi di dapur juga bagian kantor.


“Sekarang kita akan mendengar kata sambutan dari Chef baru kita,” kata Pak Manager diiringi suara hentakan sepatu wanita berhak tinggi yang seketika mengisi seluruh ruangan.


Tuk tak tuk tak


Semua mata langsung beralih tertuju pada wanita bergaun selutut yang berjalan melenggok dari arah pintu masuk dining room.


Dia mendekat ke samping Serhan dengan gaya anggunnya. Meskipun tidak memiliki postur tubuh yang tinggi tapi kecantikannya mampu menutupinya. Tubuhnya yang molek menjadikannya terlihat seksi dalam balutan gaun yang cukup ketat itu.


“Selamat datang Chef Delinka!” sapa Serhan tersenyum ramah dan sangat hangat. Dan matanya pun seakan ikut tersenyum ketika menatap Chef wanita seksi itu.


Sebuah kejutan yang tak biasa. Serhan tersenyum dengan begitu menawan. Semua yang hadir di ruangan baru pertama kali melihatnya bersikap hangat. Siapakah wanita itu, bisa membuat Serhan tersenyum?


Cherry tak kalah tertohok. Pemandangan di depan matanya memang bukan suatu yang biasa. Serhan bisa bersikap semanis itu pada wanita.


Cherry sungguh tak mengira lelaki kaku semacam Serhan bisa menjadi budak cinta seorang wanita.


Ternyata semua laki-laki memang selalu bertekuk lulut di hadapan wanita berparas cantik dan seksi. Selama ini Cherry berpikir sikap arogan Serhan adalah bawaan dari lahir. Karenanya dia akan bersikap dingin pada semua orang. Tapi rupanya Cherry sangat keliru.


*Catatan*


Front of house : Semua fasilitas/akomodasi yang berhubungan dengan konsumen. Staf restoran yang berada di garis terdepan dalam pelayanan langsung pada konsumen.


Back of house : Bagian yang terpisah, dan tidak berhubungan langsung dengan konsumen. Staf yang bekerja di belakang layar dan punya peranan penting. Salah satunya dapur.

__ADS_1


__ADS_2