Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Datangnya badai


__ADS_3

Dua belas hari berlalu....


Pamor Perfect Harmony melejit semenjak salah satu stasiun tv asing menyiarkan tentang keunggulan restorannya. Dan juga setelah Anna merekomendasikan restoran Perfect harmoni di media sosial miliknya. Strategi Zayn memang ampuh. Ia berhasil membuat Serhan dan Delinka mundur beberapa langkah.


Karenanya restoran The Best taste terkena dampak yang besar. Beberapa pelanggannya beralih ke restoran sebelah meski mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Dapur pun jadi tak sesibuk sebelumnya. Dua hari ini tamu yang berkunjung perlahan berkurang.


“Saya mohon perhatiannya,” seru Delinka yang seperti biasa berdiri dengan anggun di depan mejanya. Kesenggangan waktu di dapur Delinka manfaatkan untuk rapat darurat.


Semua staf seketika memusatkan perhatian pada Delinka. Sebagian menunda pekerjaan mereka. Sebagian sambil melirik Delinka tetap berkutat dengan wajan dan perapian.


Cherry yang tengah mencuci peralatan kotor otomatis langsung mematikan keran air. Kedua tangannya diayun-ayunkan untuk menyipratkan air yang menempel di tangannya. Kemudian dengan santai ia memutar tubuhnya untuk melihat ke depan.


“Dua hari berturut-turut penjualan restoran berkurang. Jika dibiarkan, mungkin besok keadaannya akan lebih buruk. Kalian pasti sudah tahu apa penyebabnya. Jadi, untuk itu kita harus mengubah strategi penjualan,” ucap Delinka dengan gestur tubuh yang berwibawa.


“Maaf, Chef. Bukannya untuk masalah strategi penjualan harusnya dilakukan pihak kantor dan front of house. Mereka harusnya gencar melakukan promosi dan meningkatkan pelayanan,” kata seorang koki pria dewasa menyela.


“Tentu saja selama ini tim pemasaran sudah giat melakukan promosi. Tapi, sekarang tidak cukup dengan promosi biasa saja. Kita perlu mengubah konsep dan mengganti menu yang biasa saja. Menu-menu yang kita tawarkan harus memiliki daya tarik dan keunggulan hingga bisa menyaingi restoran sebelah. Maka, dari itu saya minta kalian untuk mencari solusi bersama,” imbuh Delinka yang memilih untuk berdiskusi mencari jalan keluar. Ia pikir bukan saatnya ia mementingkan egonya.


“Apa kita sebaiknya membuat menu yang serupa dengan Perfect harmony?” tanya seorang koki wanita senior.


“Tidak! Menduplikasi karya orang lain justru akan menurunkan citra restoran kita. Saya sebenarnya memiliki ide. Tapi, saya khawatir kalian malah tidak bisa siap dengan gagasan saya. Karena untuk terlaksananya ide itu membutuhkan perubahan besar,” ujar Delinka sedikit bersuara parau.

__ADS_1


“Kita bisa lakukan semua seperti apa yang kamu mau. Asalkan itu untuk kebaikan restoran ini. Jadi, apa ide barumu itu? Erza yang berdiri di depan mejanya yang berada di sisi kanan meja Delinka mengutarakan dukungannya.


“Saya ingin mengubah konsep dari menu-menu yang ada. Saya kira sebaiknya kita lebih menonjolkan menu masakan Sunda dan masakan Indonesia sebagai menu andalan restoran. Saya ingin restoran kita memiliki perbedaan dengan Perfect harmony yang lebih mengunggulkan menu Western dan Asia. Jika mereka mengusung kemewahan dan rasa sempurna dalam setiap menunya, kita lakukan sebaliknya,” papar Delinka bersemangat menjelaskan apa yang tertuang dalam kepalanya.


“Menyajikan kesederhanaan pada menu bukannya akan kurang menarik bagi para tamu. Bahan-bahan yang biasa kita pakai juga adalah bahan berkualitas tinggi. Jika menurunkan levelnya, maka akan berpengaruh pada rasa masakan,” kata Erza tak bisa sependapat dengan Delinka.


Cherry sampai tak berkedip mengamati Delinka dan Erza. Ia juga mendengar dengan saksama. Di kepalanya berseliweran ide-ide cemerlang. Namun, sayang dia tak berani menyampaikan langsung pada Chef. Pikirnya, siapakah dia yang hanya seorang asisten dapur.


“Kita tidak perlu memangkas bahan yang berkualitas. Untuk menyajikan resep sederhana bukan berarti kita memakai bahan murah. Yang kita perlukan mengolah bahan-bahan sederhana dengan kualitas terbaik menjadi masakan yang lezat tapi bisa berkesan mewah di lidah,” jelas Delinka.


“Maaf, Chef. Apa boleh saya memberikan pendapat saya?” tanya Cherry yang coba memberanikan diri pada akhirnya. Ditolak pun tak jadi soal untuknya.


“Selama ini tamu restoran kebanyakan berasal dari kalangan atas. Apa sebaiknya kita juga merangkul kalangan menengah? Karena Perfect harmony sudah banyak mendapatkan pelanggan dari kalangan atas dan merebut sebagian pelanggan kita. Maka kita harus mencari target pasar yang lain, tidak terbatas dari kalangan tertentu saja. Kita bisa menyajikan menu dengan tingkatan harga yang berbeda. Tapi, unsur kemewahan tetap tersaji dalam setiap hidangan. Kita bisa menyiasatinya dengan presentasi dan keunikan rasa,” terang Cherry yang lancar menjabarkan gagasan briliannya.


Delinka tampak serius menyimak. Erza lebih dari serius memandangi Cherry. Ada binar kebanggaan yang tersorot dari matanya yang bening. Dan para koki lain pun terlihat tercengang. Ternyata Cherry cukup memiliki kemampuan dalam menganalisa.


“Saya sependapat denganmu Cherry. Tapi, mungkin akan ada sedikit kendala nantinya. Kita tidak bisa hanya mengubah presentasi. Tapi, komponen pelengkap dalam menu akan terpaksa diubah. Kita juga harus bermain dengan rasa jika ingin mengolah bahan yang simpel. Rasa yang tercipta bukanlah hanya enak saja tetapi rasa yang tidak mudah dilupakan. Kita harus membuat menu masakan dengan rasa yang khas milik kita. Meski mungkin menu tersebut sudah disajikan di restoran lain,” kata Delinka.


“Ya, kita bisa mencobanya dulu. Kita mulai dengan beberapa menu. Lalu, kita akan mengujinya pada tamu. Jika responnya baik, maka kita akan melanjutkan tahap berikutnya,” saran Erza.


“Ok. Saya akan putuskan nanti menu-menu mana saja yang akan jadi uji percobaan. Kalau begitu, kalian teruskan pekerjaan kalian,” tandas Delinka.

__ADS_1


Cherry terangguk-angguk senang. Saran kecil dari bawahan sepertinya bisa didengarkan oleh Chef Delinka, itu sangat membuatnya terharu. Ia sebenarnya ingin melakukan lebih dari sekadar saran. Andai ia sudah bisa memegang wajan, pasti ia akan berpartisipasi langsung dalam mencipta resep hingga presentasi.


Kini semua melakukan tugas mereka kembali dengan keoptimisan. Badai yang menerpa restoran tidak akan memorak-porandakan semangat mereka. Rintangan pasti akan berhasil diatasi, karena ini bukan yang pertama bagi mereka.


Usai restoran tutup, semua bersiap pulang. Setelah menanggalkan pakaian koki para personil dapur hampir bersamaan segera melangkah keluar restoran. Kemudian mereka menempuh jalan sesuai arah pulang.


Cherry yang sudah berpamitan dengan teman-temannya berjalan sendirian menuju halte. Malam dengan bulan separuh yang menggantung di langit gelap menemani setiap iringan langkahnya.


Di halte Cherry berdiri menunggu kedatangan bus. Di sana hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari yang bernasib sama sepertinya.


Sepoi angin malam menyapa tubuh Cherry yang terbungkus jaket. Tetapi, dinginnya angin berhasil menembus jaket yang tidak begitu tebal. Tubuh Cherry menggigil sesaat. Dengan telapak tangannya yang gemetar Cherry merapatkan jaketnya. Angin malam saat ini lebih ganas dari malam-malam sebelumnya.


Semakin menit berlalu dingin kian menusuk. Akan tetapi bus yang ditunggu tak kunjung muncul. Lalu, sebuah mobil mewah warna merah berhenti dan membunyikan klakson di tepi jalan di depan Cherry berdiri.


Lalu, kaca jendela penumpang bagian depan mobil terbuka penuh. Tanpa keluar dari mobil seseorang memanggilnya.


“Cherry, naiklah ke dalam mobil. Aku akan mengantarmu pulang,” seru Serhan sambil menatap Cherry lekat.


Cherry terkesiap, bingung. Kenapa Serhan tiba-tiba berbaik hati memberinya tumpangan? Padahal, dia tak mengharapkannya sama sekali.


Cherry tak langsung menyambut kebaikan Serhan. Dia ingin menolak tapi ia tak berani untuk melakukannya. Serhan adalah atasan sekaligus orang yang paling berkuasa di dapur. Kalau dia menolak tawarannya, Cherry bisa bermasalah. Jadi, apa sebaiknya dia menolak dengan halus, atau pasrah menerima ajakannya?

__ADS_1


__ADS_2