
Wajah Narri menyembul di balik pintu yang baru dibuka, sesaat setelah Serhan memanggil namanya berulang kali.
Di atas sana langit terhampar hitam, tanpa sinar rembulan.
“Kak Serhan, Ayo masuk! Pintu pagarnya buka saja,” sahut Narri yang sudah membuka pintu lebar-lebar.
“Aku mau mengajak kamu main ke taman,” seru Serhan yang sedang kesusahan berjinjit untuk melampaui atas pagar tembok yang tingginya melebihi kepalanya sedikit. Serhan sengaja memilih taman karena mereka berdua selalu menjadikannya tempat favorit menghabiskan waktu di sore hari. Dan sore ini mereka kan tidak sempat pergi ke sana.
“Main di rumahku saja. Taman kan sepi kalau malam-malam begini,” tolak Narri, yang merasa berbahaya kalau datang ke tempat sepi ketika hari sudah gelap. Mungkin Narri terbayang kisah horor tentang kengerian malam hari di tempat sepi yang gelap.
“Sebentar saja. Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting. Dan harus kukatakan sekarang juga,” kata Serhan sesaat kepalanya turun lalu naik lagi melewati batas atas pagar.
“Mmmm, baiklah. Aku minta izin pada Ibu dulu.”
Narri masuk ke dalam rumah dan mengatakan pada Ibunya bahwa dia ingin pergi ke warung untuk jajan. Pikir Narri setelah dari taman, pulangnya sekalian mampir ke warung. Resti tahu anaknya yang senang jajan ini takkan bisa dilarang. Maka, ia memberi uang pada Narri.
Dia dan Serhan pun pergi ke taman bermain kecil, yang lumayan berjarak dengan pemukiman warga. Taman bermain itu bekas taman kanak-kanak yang bangunannya sudah dibongkar.
Di ayunan mereka duduk terpisah. Narri yang lupa tentang Serhan, mulai memainkan ayunannya. Perlahan ayunan pun mulai terbang rendah.
Sementara, Serhan hanya duduk diam tanpa menggerakkan ayunannya. Dia cukup senang hanya dengan melihat Narri yang bahagia bermain ayunan.
Setelah puas, Narri menghentikan gerakan mengayunnya. Ia memberikan senyuman termanis pada Serhan yang terlihat gembil dan menggemaskan.
Kemudian, ia melabuhkan tatapannya ke arah bintang yang bersinar.
“Bintangnya indah ya. Aku suka.”
“Iya, indah,” balas Serhan, sedikit mengarahkan tubuhnya untuk lebih berhadapan dengan Narri. Dengan tangan yang masih memegang tali ayunan.
Keheningan menerpa.
Serhan ragu memulai bicara dari mana. Sulit rasanya untuk memberitahu Narri soal kepindahannya esok.
“Kenapa kakak mengajakku main di sini?” Narri menyapu pandangannya ke sekeliling taman. Hanya ada perosotan, jungkat-jungkit dan mangkuk putar. Juga beberapa pohon yang bertengger mengelilingi taman. Auranya sedikit membuat Narri merinding.
“Besok aku akan pindah rumah,” kata Serhan terdengar sendu.
“Pindah ke mana?” Narri berekpresi biasa saja. Pikirnya, paling pindahnya dekat-dekat sini saja.
“Bandung. Nanti aku tidak akan bisa bermain denganmu lagi,” kata Serhan bernada sedih.
__ADS_1
“Jadi, aku tidak bisa bertemu kakak lagi dong,” timpal Narri yang juga merasa sedih.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin nanti aku akan berkunjung ke sini dan menemuimu,” kilah Serhan.
“Memang bisa Kak Serhan pergi sendiri ke sini?” Narri yang polos bertanya tanpa beban.
“Sekarang karena masih kecil, tidak bisa sendiri. Aku mungkin akan mengajak Ibu untuk datang ke sini,” ujar Serhan, tak benar yakin akan ucapannya.
“Lalu, rumahmu yang di sini bagaimana?” tanya Narri tiba-tiba ingin tahu.
“Aku tidak tahu apa Ibu akan menjualnya atau tidak.” Serhan dan Narri masih saling menatap.
“Kenapa begitu?” Narri cukup cerewet kali ini.
“Itu kan rumah Ibuku. Yang tahu hanyalah Ibuku.”
“Kalau begitu kamu minta pada Ibumu agar rumahnya tidak dijual.” Narri bicara dengan lugu.
“Kenapa?” Serhan bingung.
“Kalau dijual kamu tidak bisa punya alasan untuk datang ke sini lagi,” ujar Narri, yang ternyata pikirannya tak sepolos itu.
Benar juga. Batin Serhan berkata.
Tangan Narri pun terulur, dengan posisi telapak tangan di bawah.
“Balikkan tanganmu,” suruh Serhan. Narri menurut saja. Sebuah benda kecil, Serhan letakkan di telapak tangan Narri yang mungil dan putih.
“Ini kan....” Narri menatap heran sebuah cincin imitasi mainan yang terbujur di tangannya.
Cincin itu pasti Serhan beli di abang tukang mainan anak-anak yang berjualan di depan gerbang sekolah.
“Aku membelinya kemarin. Karena aku pernah lihat kamu menanyakan harga cincin ini ke penjual mainan. Kupikir kamu menyukainya.” Serhan mengakhiri ucapannya dengan senyuman.
Narri membalas dengan senyuman imut khas anak kecil seusianya. Iya, Narri memang sudah menaksir cincin warna perak itu. Tapi, waktu itu uang jajannya habis. Niatnya mau beli keesokan harinya. Tapi, Narri malah menghabiskan uang jajannya lagi.
“Kamu harus selalu memakai cincin itu. Tidak boleh dilepas,” seru Serhan.
Narri yang senang kemudian mencoba cincin itu untuk dimasukkan ke jarinya. Sayangnya, tidak ada satu pun dari jarinya yang muat dengan cincin itu.
“Cincinnya kegedean, Kak,” keluh Narri, merengut kecewa.
__ADS_1
Serhan menyeringai. Malu sendiri. Harusnya dia membeli cincin yang ukurannya lebih kecil. Tangan Narri kan kecil.
“Aku tidak bisa memakainya,” gerutu Narri. Sedih, karena hanya bisa memegang cincin itu saja.
“Pakainya nanti saja kalau jarimu sudah muat. Kamu kan nanti akan tambah besar,” saran Serhan.
“Kelamaan dong. Cincinnya pasti sudah jelek saat sudah bisa dipakai olehku,” protes Narri.
“Nanti kalau sudah besar aku akan menggantinya dengan cincin sungguhan yang bagus juga mahal. Kamu mau kan?”
“Bagaimana Kak Serhan bisa memberikannya padaku? Setelah pindah ke rumah baru, Kakak pasti lupa sama aku. Dan kalau Kakak sudah besar pasti tidak akan mengenaliku lagi,” Narri mengeluarkan keluh kesahnya.
“Nanti aku akan kembali ke sini dan menemuimu. Aku tidak akan melupakanmu. Aku janji,” kata Serhan dengan sangat yakin. Padahal dia sendiri tidak tahu pasti apa ia bisa datang ke tempat ini lagi.
“Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi ya, Kak.” Narri menyimpul senyum yang teramat manis.
Dia memang sedih tapi tidak terlalu menghiraukan Serhan akan menepati janjinya atau tidak.
“Kita pasti bisa bertemu lagi.”
Setelah itu tidak ada suara lagi.
Mereka menatap bintang yang bertaburan di langit. Kemudian, Narri meminta Serhan untuk mengantarnya pulang. Dan Narri melupakan niat untuk singgah di warung.
Sesuai rencana, Serhan pindah esok sore. Narri ditemani Ibunya memberi salam perpisahan pada Serhan dan orang tuanya.
🍂🍂🍂🍂
Ternyata Serhan tak menepati janjinya setelah dua tahun berlalu. Dia tak pernah datang lagi menemui Narri. Rumah Ibunya pun sudah laku terjual setelah beberapa bulan Serhan pindah.
Sementara Narri menjalani hari-harinya seperti biasa dan mulai melupakan Serhan.
Dan tak diduga, Narri juga mesti pindah rumah lagi setelah terakhir mereka pindah ke rumah yang baru dibeli, masih di lingkungan perumahan yang sama. Secara tiba-tiba Resti menjemput Rahis, kakak Narri, di pesantren.
Kemudian Resti dengan perasaan yang hancur membawa Rahis dan Narri pergi ke luar kota, kota tempat ia dilahirkan. Dan tinggal di rumah bekas peninggalan orang tuanya yang sudah tiada.
Keputusan itu terpaksa ia ambil karena dirinya dan Doni sudah berpisah. Mahligai pernikahannya harus diakhiri karena ia tak sanggup memenuhi keinginan Doni.
Tak ada angin, tak ada hujan. Mulanya semua baik-baik saja. Mereka berdua masih mesra dan hidup harmonis. Hingga Doni mengatakan sesuatu yang membuat hati Resti berdarah-darah.
Doni hendak menikah lagi. Tentu, Resti menolak dengan keras.
__ADS_1
Daripada dimadu, Resti memilih cerai. Meskipun berat tapi itu lebih baik. Setidaknya hatinya tidak terluka berkepanjangan.