
“Halo, semuanya. Aku Delinka. Dan mulai sekarang aku akan mengisi posisi Chef. Tapi, hari ini aku dengan baik hati akan memberikan kesempatan untuk Sous chef di hari terakhirnya sebagai Chef pengganti. Karena aku baru secara resmi jadi Head chef mulai besok,” kata Chef seksi itu memberi sambutan santai dan tak serius.
Sekilas Delinka melirikkan matanya yang memakai riasan eyeliner tipis warna hitam ke arah Erza. Tatapannya seperti mengatakan, ‘Kekuasaanmu sudah berakhir, wahai Erza sang pengganti yang sok keren'.
Tentu saja Erza yang mendengar kata sambutan menjadi geram. Kekesalannya sangat jelas tergambar di wajahnya. Matanya memancarkan ketidakrelaan.
Reaksi Serhan sendiri mencengangkan. Ia malah tersenyum tipis tapi manis. Manisnya melebihi madu alami.
“Saya mohon bantuannya agar bisa bekerja dengan baik. Dan saya akan mengeluarkan semua kemampuan terbaik untuk memajukan restoran. Saya harap kita semua bisa bekerja keras dan menjadi rekan yang bisa diandalkan,” tutur Chef Delinka mengubah gaya bicaranya jadi formal.
Tepuk tangan riuh membahana di ruangan. Dan selang kemudian keadaan tenang kembali kala Erza menyampaikan kata penutup.
“Hari ini saya akan menyelesaikan pekerjaan saya sebagai Chef pengganti. Dan besok saya sudah kembali ke posisi saya semula. Terima kasih kepada semua tim atas kerja samanya. Saya yakin Chef Delinka bisa bekerja lebih baik dari saya.”
Semua yang hadir merespon dengan bertepuk tangan ringan. Tak semeriah untuk Chef Delinka. Sebagian staf dapur tampak lega mengetahui Sous chef tak lagi berada di posisi teratas di dapur.
Serhan, Delinka, Erza dan Pak Manager lebih dulu meninggalkan ruangan. Mereka berjalan ke ruang kerja presdir. Sesudahnya semua karyawan pun melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Cherry bersama rekannya melangkah masuk ke dapur. Mereka mulai mempersiapkan semua hal sebelum restoran mulai dibuka.
“Chef Delinka terlihat jauh lebih baik dari Sous chef. Apalagi keberadaannya di dapur tidak akan membuat kita bosan,” celoteh seorang koki junior sambil menata meja eksekusi memasaknya.
“Sekarang giliran para pria yang mencuci mata,” timpal koki di sebelahnya ceria.
Seseorang di meja seberang menyahut.
“Secantik apa pun dia, tetap dia adalah atasan kita yang harus dihormati. Bukan tampan atau cantik yang menentukan standar kemampuan,” ucap koki senior menceramahi.
Kedua koki sejurus itu bungkam. Mereka tak mungkin melawan perkataan senior yang punya kedudukan lebih tinggi.
Lima belas menit kemudian Sous chef muncul dengan pakaian seragam kokinya.
__ADS_1
“Sebentar lagi pesanan datang. Kalian semua harus sudah siap,” teriak Erza nyaring.
“Baik, Sous Chef.”
“Meskipun hari ini adalah hari terakhirku sebagai Chef tetapi aku masih bekerja sebagai Sous chef kembali mulai besok. Selamat untuk kalian yang mendapatkan Chef baru,” lanjut Sous chef Erza tampak tegang.
Cherry yang memerhatikan Erza menyadari adanya keresahan yang terlukis di wajahnya yang mengeras.
***
Ketika restoran mulai buka para tamu pun berdatangan dan langsung memesan menu. Dan dapur pun menjadi amat sibuk.
Sous chef bekerja seperti biasanya. Tak ada alasan untuknya asal-asalan di hari terakhir sebagai Chef sementara. Toh, dia bukan dipecat. Dari awal dia sudah tahu kalau dia hanya mengisi posisi Chef sementara waktu hingga sang pemilik kursi Chef mendudukinya.
Kendati begitu Erza sama sekali tak mengira kalau Chef yang baru itu adalah orang yang ia kenal baik. Dan ia merasa tak nyaman harus bekerja di dapur yang sama dengannya.
Erza tak pernah memusuhi Delinka. Namun, bagaimana karakter Delinka, Erza sangat tahu betul. Soal kemampuan, memang Delinka tak perlu diragukan. Tapi ada satu sisi yang Erza tak suka darinya. Dan hal itu selalu jadi pisau bermata dua bagi Delinka.
Pesanan demi pesanan diperiksa Erza dengan teliti satu per satu begitu mendarat di meja Chef.
Di tengah kesibukan dapur yang masih terkendali tiba-tiba Delinka dengan gaya anggunnya menerabas masuk ke dapur.
Kedatangannya yang tanpa aba-aba menyebabkan staf dapur terkejut. Dan para koki pria yang lajang sekonyong-konyongnya jadi gagal fokus. Bagaimana tidak. Chef Delinka masih mengenakan gaun pendek yang sama, yang jika dilihat lebih dekat lekuk tubuhnya yang aduhai kian terpampang nyata di mata lelaki berpikiran mesum.
Erza kaget dan langsung menunda dulu pekerjaannya. Ia menarik lengan Delinka pelan untuk mendekat padanya.
“Kenapa ke sini? Kamu kan baru mulai kerja besok,” bisik Erza di telinga Delinka.
“Aku mau melihat situasi di dapur. Jadi, besok aku bisa persiapkan semuanya dengan baik,” balas Delinka juga berbisik.
“Tapi setidaknya ganti dulu pakaianmu. Gaunmu sangat tidak cocok untuk dipakai di tempat ini. Kau terlalu mencolok,” bisik Erza yang berusaha memperingatkan Delinka.
__ADS_1
“Pakaian Chef yang pas dengan ukuranku belum selesai dibuat. Ya, tidak ada yang salah kan dengan pakaianku. Aku memang biasa berpenampilan seperti ini,” kata Delinka yang menanggapi santai.
Delinka lalu tersadar bahwa semua mata sedang memandanginya. Ia pun segera membetulkan posisi berdirinya. Tegak dan membusungkan dada. Tangannya bergerak turun menyusuri geraian rambutnya yang panjang sedada dan bergelombang di ujungnya.
“Aku ke sini hanya untuk melihat-lihat saja. Aku baru resmi jadi Head Chef mulai besok. Jadi, lanjutkan pekerjaan kalian tanpa merasa terganggu,” ucap Delinka yang memiliki suara halus tapi terkesan kharismatik.
Sekejap saja tak ada seorang pun yang berani melirik ke arah Delinka. Beberapa orang koki muda dan lajang memang akhirnya malu sendiri karena mereka tertangkap basah menatap Delinka dengan mulut menganga, seolah sedang meneteskan air liur.
“Hmmm. Erza, apa maksudmu aku harus berpakaian seperti dia?” tanya Delinka yang memiringkan kepalanya ke dekat telinga Erza.
Jemarinya yang lentik menunjuk ke arah seorang koki wanita berhijab yang berseragam koki dan celana panjang hitam dengan apron warna yang sama seperti yang lainnya.
Erza menoleh sekilas. Sebelum ia membuka mulut, Delinka berkata lagi.
“Ah, tidak bukan seperti dia. Yang berbeda darinya hanya kerudung di kepalanya saja. Yang itu!” Lagi Delinka menunjuk dengan mengangkat dagunya. “Dia yang paling berbeda di sini. Hanya dia satu-satunya perempuan di sini yang pakai rok. Yang seperti dia bukan seleramu?” kata Delinka berbisik manja dan sengaja mengusili Erza. Telunjuknya dengan warna merah menyala di kuku teracung ke arah Cherry berada.
Erza yang masuk dalam jebakan mengalihkan pandangan searah jari Delinka menunjuk.
Blush. Tiba-tiba mukanya merah padam. Aliran darah di sekitar dadanya berdesir hebat. Ia tak tahu kenapa ia dihinggapi malu yang tak terkira ketika melihat Cherry barusan.
“Menarik. Sekarang aku tahu satu kelemahanmu yang lain,” ucap Delinka merasa menang di atas angin.
“Jangan bicara sembarangan! Kelemahan apa?” hardik Erza tapi dengan volume suara yang pelan.
Delinka terkekeh. Rasanya menyenangkan bisa menggoda pria yang sangat susah ditaklukan itu.
“Teruskan pekerjaanmu. Kamu terlihat menggemaskan ketika malu-malu seperti itu. Da dah,” seru Delinka yang iseng sekali mengusik Erza.
Ia pun membalikkan tubuhnya dengan hati-hati. Lalu melangkahkan kakinya yang mulus untuk segera meninggalkan dapur.
“Dasar wanita pengganggu! Semakin bertambah umur malah makin menyebalkan,” gumam Erza menggerutu.
__ADS_1
Sebelum Erza meneruskan pekerjaannya, ia malah menyempatkan untuk sepintas melirik Cherry. Kenapa sekarang di matanya tiba-tiba Cherry terlihat cantik dan memukau?
Erza segera menundukkan wajahnya. Dan menepis bisikan kecil di hatinya yang berdebar. ‘Cherry sangat cantik'. Cepat ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa matanya sedang bermasalah karena lelah.