
Beberapa menit yang lalu sebelum Serhan menangis.
*Kemarin malam Arif pergi menemui orang tuanya lagi. Sekaligus untuk kembali pada Nina. Karena, kini Nina menetap di rumah orang tua Arif. Entah untuk berapa lama dia harus tinggal di sana. Inginnya Arif hanya sebentar.
Dan kepergiannya itu membuat Serhan sedih. Apalagi sepulang sekolah ia bertemu anak-anak nakal yang mencemoohnya.
Mengatainya begini.
“Hey, gendut!” kata seorang anak yang berseragam putih-biru. Dia sedang nongkrong bersama teman-temannya dekat pohon mangga depan muka gang.
Serhan berjalan menunduk melewati mereka.
“Yah, si gendut dipanggil bukannya menengok malah mau kabur,” timpal anak yang lain.
“Kasihan banget dia takut sama kita. Dikatain gendut saja langsung ngacir.” Serempak anak-anak SMP itu terbahak-bahak. Puas menertawakan saat melihat Serhan, yang masih mengenakan seragam SD-nya, sedang berlari secepat mungkin menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Serhan mencari ponsel Ibunya. Diteleponlah Ayahnya.
Panggilan terhubung.
Tak lama telepon pun terangkat.
“Ayah, kapan Ayah pulang?” Serhan bertanya karena merindukan Arif. Biasanya jika ada Arif di rumah, anak-anak yang mengejeknya tadi akan dimarahi olehnya. Kali ini pun Serhan bermaksud mengadu pada Ayahnya.
“Kamu anaknya Arif?” tanya suara tak ramah di ujung telepon. Bukan suara Ayahnya yang menjawab melainkan suara perempuan dewasa.
“Ini siapa?” Serhan meneliti nomor di layar ponsel. Benar nomornya tidak salah. Lalu, ia bertanya lagi. “Ini nomor Ayah. Tapi, kenapa orang lain yang jawab?” Dengan heran Serhan bertanya lagi.
“Oh, kamu pasti disuruh oleh Miranda untuk menelepon Arif,” ucap wanita itu sinis. “Ayahmu sedang sibuk. Tidak ada waktu menerima telepon darimu,” lanjutnya ketus.
“Tolong berikan teleponnya pada Ayah!” pinta Serhan, yang berpikir wanita itu mungkin saudara Ayahnya atau pembantu di rumah Kakeknya. Karena yang Ibunya bilang, Arif akan tinggal sementara waktu di rumah Kakeknya.
“Hey, untuk apa Miranda menyuruhmu menelepon Arif segala?” tanyanya jengkel juga ketus. “Tidak usah telepon Ayahmu lagi! Apalagi menyuruhnya untuk pulang. Dia sekarang sudah tak membutuhkan kalian lagi,” ujarnya tak berperasaan, mengatakan hal tak sepantasnya pada seorang anak yang tak mengerti persoalan orang dewasa.
“Bibi bicara apa sih? Aku tidak paham. Aku hanya ingin bicara dengan Ayah,” seru Serhan, yang mulai sedih.
“Aku ini bukan bibimu. Aku, istri Ayahmu!”
“Istri Ayah kan Ibu. Bibi, jangan mengarang cerita!”
__ADS_1
“Tanya sendiri saja sama Ibumu! Ayahmu sudah menikah lagi denganku. Mungkin sebentar lagi dia akan meninggalkan Ibumu...”
Tut tut tut
Telepon terputus.
Nina malah tega menutup telepon begitu saja tanpa mau peduli.
Sontak Serhan yang mendengar penuturan Nina barusan, sangat sedih. Ia tak bisa percaya bahwa omongan wanita asing itu benar. Ayahnya kan sangat mencintai Ibunya. Mana mungkin Ayahnya menikah lagi.
Serhan berjalan cepat membuka pintu rumah. Duduk di teras, sambil termenung. Ia menunggu Ibunya pulang dan ingin bertanya tentang benar tidaknya perkataan Nina tadi. Tapi, sepuluh menit lebih Ibunya yang ditunggu tak jua kelihatan.
Isi kepalanya tak bisa berhenti memikirkan tentang apakah Ayahnya memang benar sudah menikah lagi. Jika benar, apakah Arif akan meninggalkan Ibunya juga dirinya?
Serhan putus asa, lalu tak terasa air mata pun berjatuhan. Dia tak mau Ayahnya pergi hingga tak kembali lagi padany*a.
🍁🍁🍁🍁
Enam bulan terlompati dengan cepat dan penuh makna bagi Narri dan Serhan. Musim penghujan pun telah menguasai cuaca.
Perbedaan usia tak menghalangi Serhan untuk bisa menjadi sahabat Narri. Walau belum lama kenal, hampir setiap waktu mereka selalu bersama. Sejak itu pula, Narri selalu memarahi siapa saja yang mengejek Serhan dengan sangat berani.
Jajan ke kantin pun mereka berdua. Lalu, kadang ketika Narri bawa bekal selalu dibagi berdua dengan Serhan. Mereka makan bersama di taman sekolah yang mungil.
Pulang dan pergi ke sekolah pun mereka selalu jalan berdua. Sebelum berangkat sekolah Narri mengajak Serhan untuk pergi bersama. Saat bubar sekolah Narri akan menunggu di depan kelas Serhan, supaya bisa pulang bersama.
Dan ssesekali Narri bertandang ke rumah Serhan untuk mengajak bermain. Ataupun sebaliknya. Narri sudah menganggap Serhan seperti kakaknya.
Rahis, kakak Narri yang selalu main bersamanya, tahun ini dimasukkan ke pesantren di luar kota oleh orang tuanya. Usia Serhan hampir sebaya dengan Rahis.
Hari sudah sore. Serhan menghabiskan waktunya sendirian di rumah. Miranda ikut Ayahnya membeli sesuatu ke pusat kota. Sebenarnya Serhan diajak pergi. Tapi, Serhan memilih untuk tinggal di rumah. Ia berencana main ke rumah Narri.
Namun, rumah Narri tampak sepi. Berkali-kali memanggil, Narri tak keluar rumah juga. Mungkin dia sedang pergi keluar bersama Ibunya, pikir Serhan. Ia pun dengan kecewa kembali ke rumahnya.
Sesaat sebelum senja bertemu dengan malam kedua orang tua Serhan baru pulang ke rumah. Mereka berdua menenteng banyak kantong belanjaan.
Kemudian, Miranda mengeluarkan beberapa baju baru dengan label harga yang masih tertempel dari paper bag. Ia menunjukkannya pada Serhan.
“Baju ini untukmu. Lihatlah. Bagus kan,” tutur Miranda seraya menyimpul senyum lebar.
__ADS_1
Serhan pun berbinar-binar bisa mendapat hadiah baju baru itu. Wajar saja Serhan sesenang itu. Sebab lebih dari setahun ia tak pernah lagi dibelikan baju baru. Lebaran kemarin saja ia hanya pakai baju lama.
“Besok kamu bisa memakai baju barunya. Nanti Ibu akan pilihkan salah satu yang paling cocok untuk kamu,” kata Miranda bersemangat.
Baju-baju itu Miranda masukkan kembali dalam kantong belanjaan. Ia lalu menyuruh Serhan untuk duduk di kursi bersamanya. Arif yang baru menaruh barang belanjaan di kamar, duduk bersama istri dan putranya.
“Memang besok kita mau pergi ke mana, Bu?” tanya Serhan tak bisa menebak.
Bukannya menjawab, Miranda justru melirik Arif. Sebagai isyarat bahwa lebih baik Arif lah yang memberitahu Serhan.
Arif menggeser tubuhnya, lebih dekat lagi dengan Serhan.
“Serhan, besok kita akan pindah ke Bandung,” timpal Arif lembut.
“Kok mendadak sih pindahnya, Ayah?” Serhan tak begitu senang mendengar kabar itu. Yang dicemaskannya, hanyalah ia harus berpisah dengan Narri nantinya.
“Karena setelah Ayah pikir lagi, sebaiknya kita cepat pindah. Ayah sudah siapkan rumah yang lebih besar dan juga lebih bagus di sana,” imbuh Arif.
“Lalu, sekolahku bagaimana?”
“Nanti Ayah akan masukkan kamu ke sekolah yang bagus. Pokoknya Ayah akan mengurus semuanya. Serhan tak perlu memikirkan hal apa pun lagi,” jawab Arif, meyakinkan Serhan untuk mau pindah besok.
“Apa kita tidak bisa tinggal di sini saja?” tanya Serhan, berharap yang lain.
“Sayang, kita tidak mungkin tinggal di sini lagi. Karena kasihan Ayah nanti harus bolak-balik terus. Ayah kan sekarang bekerja di perusahaan Kakekmu. Jadi, tidak mungkin kalau Ayah bisa sering pulang ke rumah,” bujuk Miranda, membantu menjelaskan.
Bingung, Serhan terdiam. Dia memang tidak ingin tinggal berjauhan dengan Ayahnya. Tapi, dengan begitu dia harus meninggalkan Narri kalau dia pindah.
Maklumlah Serhan sedih. Bagi Serhan, Narri adalah teman pertamanya dan juga satu-satunya. Teman yang selalu membelanya habis-habisan dari ejekan anak-anak yang tak menyukainya.
Dari dulu Serhan adalah anak yang dikucilkan. Bukan karena alasan bentuk fisiknya saja, tapi mereka yang mengejek pada dasarnya hanya termakan rasa iri.
Di sekolah Serhan dikenal sebagai anak yang berprestasi. Tapi, Serhan adalah anak yang tidak pandai bergaul. Ia lebih senang menyendiri. Kalaupun ada yang mendekatinya, paling hanya untuk memanfaatkannya.
Beberapa teman sekolahnya sering menyuruh Serhan untuk mengerjakan PR, jika tidak mau maka Serhan akan mendapat perlakuan kasar. Sementara di lingkungan rumah, Serhan dijauhi oleh anak-anak seusianya. Pikir mereka, Serhan adalah anak aneh yang terlalu pendiam. Tak asyik untuk diajak bermain.
“Kamu tidak usah sedih. Nanti kamu pasti akan betah tinggal di rumah baru kita,” ucap Miranda seraya membelai rambut Serhan.
Pada akhirnya Serhan pun hanya bisa mengangguk pasrah. Apa daya ia tak bisa mencegah rencana kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Dengan berat hati, Serhan terpaksa mesti menyampaikan kabar kepindahannya pada Narri. Dan mudah-mudahan saja malam ini Narri sudah pulang ke rumah. Karena lebih cepat Narri tahu akan lebih baik. Sehingga ia bisa mengucapkan perpisahan dengan benar.