
Tangannya terangkat, tepat di daun pintu bercat hitam. Ia hendak mengetuk, tetapi sesaat itu Serhan ragu. Ia kembali menurunkan tangannya.
Terselip kekhawatiran dari sorot matanya yang sayu. Rasanya masuk ke ruangan di balik pintu itu adalah sesuatu yang tak menyenangkan. Sebenarnya, ia memang tak mau. Tetapi Ayahnya menyuruh Serhan datang menemuinya di ruang kerja direktur.
Menarik napas pendek, Serhan pun mengetuk pintu dua kali.
Seseorang menyahuti dari dalam.
“Masuklah.”
Serhan pun mendorong pintu pelan dan masuk dengan perasaan malas. Ia melihat sosok Ayahnya yang sedang duduk di kursi kerjanya. Karena melihat Ayahnya berdiri, Serhan menutup pintu di belakangnya.
Di ruangan itu selain meja kerja terdapat juga lemari dengan pintu kaca, rak buku, juga meja dengan beberapa pajangan, salah satunya vas bunga. Dan satu set sofa yang cukup besar. Ayahnya kemudian duduk di salah satu sofa panjang di sana.
Tahu Ayahnya duduk di situ, Serhan memilih sofa yang lainnya, seberang Ayahnya.
“Kamu mau minum apa? Aku akan meminta sekretaris membuatkan minuman untukmu,” kata Doni pada Serhan.
“Tidak usah, Ayah. Aku tidak haus,” tolak Serhan. Wajahnya terlihat mengeras saat itu.
Ayahnya tidak jadi menelepon sekretarisnya. Doni mengeluarkan sesuatu dari amplop coklat yang dipegangnya. Ditaruhnya beberapa lembar foto di hadapan Serhan.
“Mereka semua memiliki latar belakang yang baik. Lihatlah. Mungkin salah satu dari mereka membuatmu tertarik.”
Sekilas saja Serhan melirik foto-foto wanita itu. Tanpa perlu melihatnya satu per satu, Serhan sama sekali tak mungkin tertarik.
“Kenapa Ayah masih belum menyerah untuk berhenti melakukan hal yang sia-sia? Aku sudah berulang kali mengatakannya pada Ayah. Aku tidak tertarik dengan perjodohan ini,” kata Serhan menentang.
“Dengan menikahi salah satu wanita itu, akan membantumu dalam banyak hal,” elak Doni, bersuara lembut.
“Maksud Ayah, membantuku supaya aku punya kekuatan di keluarga kita juga di perusahaan ini?” tanya Serhan mudah menebak.
“Kamu juga putra Ayah. Dan Ayah ingin kamu juga bisa menjadi salah satu pewaris perusahaan. Saat ini kamu perlu membuat dirimu diakui oleh Kakekmu. Dan menikah dengan putri pengusaha adalah salah satu caranya,” bujuk Doni, cenderung memaksa.
“Aku tidak peduli apakah Kakek akan mengakuiku atau tidak. Ayah harusnya tidak menekanku dengan perjodohan bodoh ini. Pasti Kakek kan yang memerintahkan Ayah untuk sibuk memilih para putri pengusaha yang cocok untuk dijodohkan denganku,” geram Serhan, tapi ia mencoba untuk tetap merendahkan suaranya.
Doni melirik jam tangannya. Ternyata hampir mendekati waktunya makan siang.
“Siang ini kamu ikut Ayah. Kakek menyuruh Ayah untuk mengajakmu makan siang bersama rekan bisnisnya,” pinta Doni.
“Tolong sampaikan minta maafku pada Kakek! Aku tidak bisa makan siang dengannya. Ayah, jika sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku akan kembali ke restoran,” balas Serhan, yang tak nyaman berada di ruangan itu lebih lama lagi bersama Doni.
“Kamu tak perlu repot memulai bisnis restoran jika kamu mau. Kamu hanya tinggal mengikuti kemauan Kakekmu, maka kamu akan mendapatkan posisi yang baik di perusahaan. Serhan, kamu harusnya mencontoh temanmu, Zayn. Di usianya yang masih muda, dia sudah sukses mengelola bisnis restoran dan punya kedudukan penting di Grup Bintang raya,” kata Ayahnya, yang mencabik perasaan Serhan.
Pertama, Doni jelas meremehkan kemampuannya dan memaksa Serhan melakukan hal yang tak ia sukai. Kedua, ia tak suka mencari muka di hadapan Kakeknya, yang bahkan tak benar-benar mengakui dirinya sebagai cucu kandung. Terakhir, ia sangat benci mendengar nama Zayn disebut. Tampaknya Doni tidak tahu, bahwa Zayn dan Serhan sudah lama tidak berteman lagi.
“Aku mohon, Ayah tak perlu membandingkanku dengan Zayn. Aku paham maksud pembicaraan Ayah. Selain karena kemampuannya, Ayah juga ingin menegaskan tentang status Zayn. Yang lahir dari istri kedua tetapi ia bisa dipercaya oleh kakeknya. Karena ia cucu yang penurut,” ucap Serhan sedih.
“Serhan, kamu harus bisa mengambil hati Kakekmu. Seperti halnya Zayn, yang bisa diandalkan oleh Kakenya,” kilah Doni, tak peduli bagaimana sakitnya hati Serhan saat ia mengucapkan kata-kata itu.
“Aku bukanlah anak dari istri kedua. Tapi, Ayah dan Kakek selalu memperlakukan Ibu layaknya istri kedua. Dan aku sebagai putranya pun diperlakukan sama. Karena kalian sudah punya Riz, putra dari istri kedua Ayah. Cucu yang selalu dibanggakan oleh Kakek,” ucap Serhan kesal, sedikit marah.
__ADS_1
Ia bangkit, dan beranjak pergi. Secepatnya meninggalkan gedung perusahaan milik Kakeknya, orang yang selalu merendahkan Ibunya.
****
Di waktu yang hampir bersamaan.
Napas Cherry terengah begitu memasuki restoran. Hampir saja dirinya terlambat.
Setelah mengatur napas Cherry menghampiri front office.
“Maaf mbak, saya mau mengikuti tes,” seru Cherry sambil mengeluarkan amplop coklat berisi surat lamaran kerja dari tas ranselnya.
“Mbak, sudah mendaftar sebelumnya?” tanya wanita yang berseragam rapi dengan tatanan rambut yang elegan.
“Saya sudah dapat email balasan. Dan diminta untuk datang hari ini,” terang Cherry sambil menyerahkan amplop.
“Berkasnya nanti bisa anda berikan di ruangan tes saja,” timpal pegawai wanita itu. “Anda silakan masuk ke ruangan di sebelah sana,” sambungnya sambil menunjuk ruangan di sebelah kanan.
“Terima kasih, Mbak.”
Cherry mengambil kembali berkas dan melangkah ringan memasuki ruangan tes.
Dan ternyata beberapa pelamar sudah berbaris menunggu.
Itu cukup membuat Cherry agak ciut.
Seorang penanggungjawab restoran menyuruh semua pelamar untuk mengambil tempat duduk. Lalu, seorang perempuan dengan memakai setelan rapi menyerahkan lembar kertas pada masing-masing peserta pelamar.
Setelah tes tertulis, Cherry menjalani tes kedua. Mencicipi sebuah menu hidangan utama dan menebak bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat masakan tersebut.
Tampak semua peserta merasa yakin akan jawaban mereka. Lalu satu per satu menyerahkan selembar kertas bertuliskan jawaban pada pria ber-apron dan berseragam koki.
“Mudah-mudahan aku menebak dengan benar,” kata Cherry bergumam kecil.
“Mmm, sepertinya kamu tidak ada kesulitan dengan tesnya,” sahut seorang gadis yang duduk di dekat Cherry berceletuk tanpa basa-basi.
Cherry sontak menoleh pelan ke samping.
“Ah, tidak begitu juga. Tesnya kayak yang gampang tapi sepertinya cukup sulit. Karena tidak bisa asal menebak,” timpal Cherry yang tak mau terlalu percaya diri.
“Kamu benar. Kalau menurutmu, berapa banyak orang yang berpeluang lolos?”
Cherry agak bingung bagaimana merespon wanita itu. Sikap sok akrabnya itu membuat Cherry kurang nyaman.
“Soal penilaian hanya pihak restoran yang tahu. Siapa pun yang lolos berarti dia layak dan memiliki kemampuan,” ucap Cherry mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
“Kenalkan aku Irene,” kata wanita yang sebaya dengan Cherry itu, yang akhirnya mau menyapa dengan benar.
“Aku Cherry.” Mereka berdua bersalaman singkat.
Obrolan mereka terhenti karena harus bersiap dengan tes ketiga.
__ADS_1
Di depan meja masing-masing pelamar telah disiapkan beberapa potong wortel berukuran besar, berbagai jenis pisau, talenan serta beberapa mangkuk kecil.
Yang harus mereka lakukan adalah memotong wortel tersebut dengan teknik tertentu serta berbagai bentuk.
Suara hentakan pisau dengan talenan kayu bersahut-sahutan memenuhi seisi ruangan. Mereka mengerahkan segenap keahlian.
Cherry cukup berdebar saat mangkuk wortel yang sudah terpotong olehnya dengan beragam bentuk dilihat pihak penilai. Dalam pandangan Cherry potongannya tak berantakan tetapi di mata para profesional cela sekecil apa pun akan bisa ditemukan dengan mudah.
***
“Sekarang kami akan menyebutkan nama-nama pelamar yang berhasil mendapat nilai terbaik,” imbuh wanita bersetelan anggun, yang tampak serasi dengan paduan celana hitam bergaris putih.
Cherry cemas berharap. Apalagi ketika wanita cantik bersetelan itu mulai mengumumkan nama pelamar. Dan kegelisahan Cherry kian menjadi tatkala namanya tak kunjung disebut.
“Selamat untuk Irene,” seru pria berapron lantang.
Begitu mendengar namanya disebut, Irene menarik seulas tipis senyum di tepi bibirnya.
Cherry menyempatkan untuk melirik sedikit ke arah Irene yang penuh kebanggaan. Ia pun turut senang. Dan memberikan senyuman, tanda ucapan selamat pada Irene.
“Lalu nama yang terakhir. Cherry!!!”
Mendengar namanya akhirnya disebut Cherry melongo tak percaya. Ia belum bisa berbahagia. Tes berikutnya tengah menanti. Tapi dirinya sangat bersyukur karena kesempatan masih ia miliki.
“Kamu juga lolos. Selamat ya,” ucap Irene sambil tersenyum. Namun nada bicaranya terdengar datar.
“Tapi kurasa belum waktunya aku diberi ucapan selamat. Karena aku belum tentu juga bisa diterima bekerja di sini nantinya. Sekarang kan baru tahap awal,” ucap Cherry tak mau berlebihan.
Dia sudah belajar dari pengalaman. Berapa banyak restoran yang menolaknya setelah ia berhasil di tahap terakhir. Ujung-ujungnya Cherry hanya mendapat harapan palsu.
Jadi, sebelum semuanya pasti Cherry takkan jumawa dulu.
Para pelamar dipersilakan pulang. Bagi mereka yang lolos diharapkan untuk datang kembali esok.
Cherry pun bangkit dan mengambil langkah keluar pintu. Irene menyusul langkah Cherry.
“ Kamu bawa kendaraan?” tanya Irene setelah langkahnya sejajar dengan Cherry.
“Aku naik bus.”
“Kamu pulangnya ke arah mana? Kalau searah, naik motorku saja,” kata Irene yang tengah menyesuaikan langkahnya dengan Cherry.
“Terima kasih untuk tumpangannya. Tapi aku sudah ada janji bertemu temanku.”
“Sayang sekali,” timpal Irene tanpa terdengar kecewa. “Kalau begitu aku duluan. Soalnya motorku diparkir di ujung sana.” Irene pamit dan langsung mengarak langkah meninggalkan Cherry.
Cherry pun bergegas. Kakinya mengambil langkah menuju trotoar yang sepi pejalan kaki.
Matahari memijar dengan terik. Kening Cherry tampak berpeluh. Ia segera mengirimkan pesan pada Elis untuk segera menjemputnya. Lokasi tempat kerja Elis tak terlalu jauh dari restoran. Mereka janji untuk makan siang bersama di kafe favorit mereka.
Sebuah mobil yang hendak masuk ke pelataran restoran tiba-tiba berhenti, tanpa Cherry sadari. Seseorang itu tampak kaget ketika matanya mendapati Cherry tengah berdiri di situ. Ia lekat memerhatikan, dari balik kaca mobilnya.
__ADS_1