
Mobil SUV silver menyinggahi pelataran restoran. Sesaat setelah mobil itu berhenti di sisi sudut, Serhan langsung turun dari mobil. Dan segera mengunci mobilnya dengan menggunakan remote.
Ia menderap langkah panjang, masuk ke restoran, menelusuri ruangan dining, tempat meja-meja tamu berada. Suasana masih sepi. Karena belum waktunya restoran buka. Dan khusus selama perekrutan koki baru, jam buka restoran dimundurkan.
Beberapa karyawan yang sudah datang mengangguk sopan padanya yang melangkah melewati sepanjang ruangan menuju ruang kerja pribadinya.
Tas ransel kerjanya ia turunkan dari punggungnya dan diletakkan di atas meja kerja kayu kualitas terbaik. Serhan kemudian duduk di sofa yang terletak di depan mejanya.
Ia menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa seraya menghela napas. Seakan ada beban berat di dadanya yang ingin ia keluarkan saat itu.
Dan tak lama, seseorang dari luar membuka pintu. Pria berambut hitam dengan poni pendek yang dibuat menyamping berjalan masuk setelah mendorong pintu hingga tertutup. Dia yang mengenakan jaket seragam koki tersenyum pada Serhan.
“Aku kira kamu tidak akan datang pagi ini,” katanya mengawali obrolan. Dia lantas duduk di sisi sofa yang lain.
Serhan mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya pada temannya.
“Aku lebih suka datang ke sini. Daripada harus datang perusahaan Kakek,” timpal Serhan, mulai kesal saat mengingat tentang kakeknya.
“Memang Kakekmu tidak akan marah nanti?” tanya pria yang pasti adalah seorang koki itu.
“Dia pasti akan mengomeli Ayahku nanti kalau aku masih tidak mau bekerja di perusahaan. Buat apa aku kerja di sana? Kalau hanya untuk mendengar Kakek menghina Ibuku dan memuja cucu kesayangannya.”
“Tapi, kamu tidak bisa menghindar terus. Suatu saat kamu memang harus kembali ke perusahaan Kakekmu. Urusan restoran, kamu bisa menyerahkannya padaku,” ucapnya, merasa bisa diandalkan.
“Aku tidak bisa mempercayakan restoran sepenuhnya padamu, Erza. Karena kamu akan kewalahan kalau harus mengurus restoran sendiri. Seperti yang kamu tahu, aku memulai bisnis restoran karena sebuah tujuan,” tolak Serhan, bukan mengecilkan temannya.
“Aku tahu itu. Tapi, sebaiknya kamu pertimbangan kembali tentang keputusanmu mengenai restoran ini. Bisnis itu bukan sebuah permainan balas dendam,” ujar Erza, coba mengingatkan.
“Kita bahas itu lain kali,” sergah Serhan, menghentikkan topik pembicaraan. “Nanti, jam berapa tes akan dimulai?” tanya Serhan, mengganti topik.
“Kurang lebih sekitar jam sepuluh. Apa kamu mau ikut menjadi penanggung jawab tes hari ini?”
“Tidak. Urusan tes perekrutan koki baru, aku akan percayakan padamu. Kamu yang lebih paham soal urusan dapur.”
“Berkas data peserta yang lolos hingga tahap ini sudah aku taruh di meja. Siapa tahu kamu ingin memeriksa profil mereka?”
“Baiklah. Nanti aku akan memeriksa CV mereka.”
Erza lalu keluar. Karena ia cukup sibuk mempersiapkan tes hari ini sebagai tes akhir penentuan.
Bayangan Erza sudah menghilang di balik pintu. Serhan melangkah menuju meja kerja, dan duduk di kursi putar.
Berkas yang tadi dibicarakan Erza, ia lihat secara acak dan sepintas saja. Ia tak begitu ingin mengetahui data pelamar yang belum tentu lolos tes tahap terakhir. Pikirnya, dia akan memeriksanya lagi setelah datanya diperbaharui.
__ADS_1
Karena malas melihat data pelamar, Serhan tak merapikan lagi berkas-berkas yang agak berserakan di atas mejanya. Dan salah berkas data itu adalah milik Cherry, yang persis tergeletak di sisi lengan Serhan.
🍁🍁🍁🍁
Para penguji tes tampak berdiri tegak di depan aula. Beberapa karyawan restoran lainnya yang berkepentingan turut hadir menyaksikan di samping ruangan.
Satu per satu pelamar bergantian mengantarkan piring masakan di atas meja panjang yang tertutup kain merah. Dan tampak seorang pria yang memakai apron merah mendekati meja kecil yang letaknya di tengah depan meja panjang. Lantas seorang pria paruh baya dan wanita cantik berblazer krem tua turut duduk mengisi kursi yang kosong di samping pria berapron itu.
Di antara tiga orang yang akan menilai masakan, pria ber-apron merah kelihatan paling menonjol. Cherry berpikir bahwa kemungkinan pria itu memiliki kedudukan tinggi di dapur.
“Pria itu kelihatan keren ya. Kemarin dia tidak ada. Aku kira dia adalah kepala Chef di sini,” kata Irene lagi-lagi yang entah bagaimana sudah berdiri persis di sebelah Cherry.
Seandainya punya kesempatan untuk menghindar, Cherry akan mengambil seribu langkah untuk kabur dari Irene.
“Maksudmu pria yang mana?” tanya Cherry pura-pura tak paham.
Sebetulnya dia sangat tahu siapa pria yang dimaksud Irene. Semua orang yang memiliki penglihatan normal di sini pasti akan sadar bahwa hanya ada satu orang yang berpenampilan paling menawan sekaligus berkharisma.
“Itu yang mengenakan Apron merah." Dagunya menunjuk ke arah pria muda menawan, alias Erza. "Memangnya di matamu dia tidak terlihat keren?” gerutu Irene yang malah membuat Cherry tak bisa jelas mendengar apa yang disampaikan seorang pria yang berjas abu-abu tua.
Cherry diam. Dia lebih baik memerhatikan situasi di depan saja. Yang mana masakan dari salah satu peserta di meja panjang dibawa oleh seorang waitress ke hadapan meja para juri penilai.
Mereka bertiga memanggil pemilik masakan dan menanyai tentang proses awal pembuatan masakan hingga tahap terakhir. Lalu mencicipi dan memberikan penilaian di sebuah catatan khusus.
Begitu tiba giliran Cherry, ketiga penilai mengamati dengan serius tampilan menu yang terhidang di piring persegi warna putih. Penyusunan semua komposisi terlihat sepadan dengan warna yang menarik.
“Presentasinya sangat berbeda. Tapi saya suka semua tampilannya,” tutur wanita cantik dengan riasan yang eksotis. Warna bibirnya yang tebal membuatnya mencitrakan kesan seksi.
“Penyajiannya memang menarik tapi saya harap rasanya tidak mengecewakan,” sahut pria berseragam Chef bernada meremehkan.
Seketika Cherry mengatupkan bibirnya, menahan jengkel. Matanya melihat pria berpostur tubuh ideal itu dengan perasaan tak nyaman.
“Beberapa orang sebelumnya berani menyajikan presentasi yang berbeda dan sebagian dari mereka berhasil. Tapi, saya malah kecewa karena tertipu oleh presentasi yang indah,” sambung pria itu sambil memandang Cherry tajam penuh kesangsian.
Cherry hanya bisa membalas perkataannya dengan senyum getir. Belum juga masakannya dicicipi Cherry sudah diserang langsung oleh kepedasan mulut pria yang berbibir tipis di bagian atas itu.
“Astaga! Memang dia tidak sadar kalau penampilannya juga menipu? Saat melihat bibirnya yang berwarna terang alami, aku juga tak sangka kalau kata-katanya penuh kegelapan,” lirih sekali Cherry bergumam, nyaris tanpa mengeluarkan suara.
Pria paruh baya yang berwibawa menyahuti, “Setidaknya presentasi juga poin penting dalam suatu hidangan. Kita tidak tahu rasa masakan kalau belum memakannya. Sebaiknya kita menilai rasa setelah dicicipi.”
Dia mengambil garpu dan pisau. Dan mengambil potongan daging berwarna coklat kemerahan dengan sendok, lalu menyuapkannya. Ia mendalami rasa, tekstur, kelembutan dan unsur lainnya yang meresap dalam daging. Ia lalu mencoba semua kompenen masakan dalam menu tersebut dan memberikan catatan nilai.
Kedua penilai lainnya juga ikut mencoba menu masakan secara keseluruhan. Dari raut wajah mereka tak tersirat ketidakpuasan.
__ADS_1
Masing-masing memberikan penilaian dalam catatan khusus yang disiapkan. Setelah itu Cherry diminta kembali ke tempatnya.
Dengan perasaan yang menggantung Cherry berbalik dan melangkah ke tempat duduknya.
Sementara sang pria yang berkarakter kurang ramah itu diam-diam melirik Cherry dengan ekspresi dingin.
Tiba-tiba Cherry merasa merinding seolah datang embusan angin menyentuh tubuhnya yang lelah.
“Bagaimana tanggapan mereka tentang masakanmu?” tanya Irene yang selalu saja tak bisa menampung hasrat ingin tahunya.
“Biasa saja,” timpal Cherry malas untuk bicara banyak.
“Tadi aku lihat wajah Chef seperti tidak suka saat lihat presentasimu,” lanjut Irene yang seakan menyemburkan api dari mulutnya.
“Tampangnya kan memang begitu. Menyeramkan. Dari tadi aku lihat dia juga tidak pernah tersenyum sama sekali ke peserta lainnya,” balas Cherry sengaja agak meninggikan suara.
“Semoga nanti saat giliranku, dia tidak bersikap sama,” ucap Irene berharap sekali. Bibirnya tersenyum cerah seolah pikirannya sedang mengkhayalkan sesuatu.
Saat yang ditunggu tiba. Irene melangkahkan kakinya yang panjang dengan gemulai. Begitu selesai menaruh piringnya Irene melempar senyum andalannya. Apalagi ketika dirinya beradu pandang dengan Chef, makin lebarlah senyumannya. Seluruh pesona ia kerahkan untuk memikat hati pria yang ia anggap keren itu.
Dia memang memiliki nilai kecantikan di atas rata-rata tapi sayang attitude-nya malah di bawah rata-rata. Harusnya sekarang jadi saat menegangkan tapi mengapa dia bisa bersikap santai dan menggoda begitu.
Cherry melongo antara takjub dan jijik melihat tingkah Irene yang norak. Dan matanya membulat disertai tawa yang ditahan ketika Chef bertampang dingin itu tak merespon Irene. Cherry merasa itu adalah bentuk hiburan yang menyenangkan.
Ketiga penilai tak berkomentar banyak. Setelah masakan Irene dicicipi mereka masih tampak biasa saja. Tak ada celaan. Juga tak ada pujian.
“Bagaimana reaksi mereka saat mencicipi masakanmu?” Cherry sengaja mengajukan balik pertanyaan serupa. Waktunya balas dendam. Walaupun dosa tapi Cherry ingin sekali mengerjai Irene.
“Mmm, mereka tidak mengatakan hal yang buruk,” papar Irene dengan mimik wajah yang sendu.
“Jadi, kamu dapat pujian dari mereka?” tanya Cherry sangat iseng.
“Mereka tidak sampai memuji,” kata Irene lesu.
Sekali-kali tak apalah kalau Cherry yang membalikkan keadaan. Biar skornya imbang.
Para juri restoran berkumpul untuk membahas hasil masakan semua pelamar. Mereka memberi argumen dan penilaian berdasarkan fakta. Chef pria yang tengah berbicara melirikkan matanya ke arah gadis berjilbab ungu motif bunga kecil. Raut mukanya serius dan tak terbaca maksud dari tatapan pria berwajah dingin itu.
Cherry tak sadar kalau ia tengah dipandangi dengan lekat oleh pria bermata tajam itu. Ia masih sibuk menenangkan diri untuk tidak kelepasan tertawa. Karena dalam dunia bawah sadarnya Cherry sedang terpingkal-pingkal sendiri.
Namun, Irene yang sedari tadi selalu mencuri-curi waktu untuk memandangi Chef, menyadari ketidakberesan dari lirikan mata pria terseksi yang pernah ia temui.
*Catatan*
__ADS_1
Chef : Koki atau juru masak terlatih yang bekerja di dapur prosfesional.
Apron: Celemek