
Mobil yang ditunggu akhirnya datang. Tanpa beranjak dari kursi pengemudi, Elis membukakan pintu mobil untuk Cherry.
Cherry melekas masuk dan memasang sabuk pengaman.
“Maaf ya, kamu agak lama menunggu,” ucap Elis menoleh sebentar pada Cherry. “Barusan ada masalah sedikit.”
“Kita masih keburu nggak buat makan siang?” tanya Cherry.
“Tenang saja masih sempat kok. Aku punya waktu tambahan,” tukas Elis.
Kemudian Elis yang sudah siap di depan kemudi segera menancap gas. Mobil dengan kecepatan normal menembus jalanan yang sedikit lengang.
Mereka sampai di kafe langganan. Nuansa kafe terhitung sederhana. Namun suasananya nyaman dan bersih hingga menimbulkan kesan luas.
Elis dan Cherry memilih meja yang tersekat dekat dengan jendela samping kafe. Dari dalam mereka bisa melihat taman bunga kecil.
“Mau pesan seperti biasa?” tanya Elis.
“Boleh. Tapi minumnya aku ingin blueberry buble ice,” kata Cherry menimpali seraya menekuk kedua kakinya untuk duduk menyilang di atas alas lesehan.
“Mau makanan ringannya juga tidak?”
“Aku tidak usah."
Elis memanggil pelayan wanita dan memesan beberapa menu. Lantas pelayan itu mencatat dan sesudahnya langsung beranjak.
Makanan yang ditunggu datang tanpa perlu memakan waktu lama. Pelayan wanita dengan hati-hati meletakkan piring-piring dan dua gelas minuman di atas meja kayu berkaki pendek.
“Bagaimana tadi lancar?” tanya Elis mengawali percakapan.
“Alhamdulillah. Aku dipanggil lagi besok untuk jalani tes berikutnya. Mudah-mudahan besok aku bisa berusaha dengan lebih baik,” tukas Cherry. Tangan kirinya meraih gelas sedang tangan kanannya memegang sedotan. Air yang mengisi gelas pun tersedot dengan cepat hingga berkurang setengah.
“Aku doakan yang terbaik untukmu. Insha Allah sekarang kamu pasti diterima.” Elis menyendokkan nasi beserta potongan ayam ke mulutnya dengan perlahan.
Saat menyuap makanan saja kecantikan Elis tak pudar sama sekali. Keanggunan wanita jenjang itu masih terlihat dengan jelas. Balutan hijab dengan desain yang cantik membuat aura Elis semakin memesona.
Cherry juga menerjunkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya. Walau tak seanggun Elis. Sambil mengunyah Cherry diam-diam mengamati sahabatnya yang tengah menikmati kelezatan makanan yang disantapnya.
__ADS_1
Sebagai sesama perempuan Cherry mengakui pesona Elis dan mengagumi kecantikannya. Sejak mereka berteman Cherry mengenal Elis sebagai sosok wanita lemah lembut, ramah, dan penyabar.
Mereka sebenarnya memiliki perbedaan karakter pada awalnya. Cherry tidak menyangka dua orang yang bertolak belakang dari segi sifat dan latar belakang bisa awet menjalin persahabatan hingga belasan tahun.
“Kenapa melihat aku kayak gitu? Ada sesuatu yang salah di wajahku?” Elis akhirnya menyadari tingkah Cherry yang memperhatikan dia makan.
“Tidak ada yang salah. Aku hanya sedang mengagumi kecantikan sahabatku,” puji Cherry yang tak mengalihkan pandangan dari Elis.
“Ah, kamu ini ada-ada saja. Lagi makan masih sempat-sempatnya perhatikan wajahku. Dari dulu kamu kan sudah sering memandangi kecantikanku. Masa masih nggak bosan,” balas Elis setengah bercanda.
“Hehe. Bukan hanya kecantikan, aku kagum juga sama rasa percaya diri kamu,” balas Cherry. Ia sekarang menundukkan tatapan ke piringnya.
Mereka berdua terkekeh kompak. Setelahnya mereka menyibukkan mulut hanya dengan suapan-suapan makanan hingga tandas.
Piring-piring kotor mereka tumpuk jadi satu dan menaruhnya di sudut meja. Cherry menghabiskan sisa minuman untuk menyegarkan tenggorokannya. Sementara Elis mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap bibirnya yang agak berminyak.
“Setelah ini kamu mau pulang?” Elis bertanya.
“Kayaknya aku mau mampir ke tempat Ayah dulu sebentar.”
“Aku sudah lama tidak mampir ke kedai ayahmu. Jadi kangen mie tulangnya,” tutur Elis sambil menghabiskan beberapa teguk terakhir minuman berwarna hijau di dalam gelasnya.
“Senangnya. Nanti deh aku sempatkan buat mampir,” kata Elis tampak bersemangat. “Yuk, kita pulang sekarang. Aku yang bayar makanannya,” lanjut Elis yang sangat paham bagaimana kondisi keuangan sahabatnya.
“Terima kasih. Tapi aku malu, tiap kamu ajak makan selalu kamu yang bayar. Begini nih nasib pengangguran. Makan saja nggak bisa bayar sendiri,” ucap Cherry memasang ekspresi tak berdaya.
Elis sontak tertawa kecil dengan suara yang rendah, lembut sekali ketika didengar telinga. Risiko jadi wanita cantik memang begitu. Semua yang dia lakukan akan terlihat cantik dipandang. Gerak-gerik seperti apa pun takkan mengurangi keindahan yang dimiliki.
Cherry yang selalu mengganggap Elis sebagai duplikat bidadari dunia, tak pernah menyadari kecantikan dari dalam dirinya sendiri. Maklumlah penampilannya selalu sederhana. Hanya riasan tipis yang menempel di wajahnya. Tema yang selalu ia usung dalam kesehariannya adalah tampil apa adanya. Yang penting sopan, menutup aurat dan tidak mencolok pandangan mata orang lain yang melihatnya.
Begitu berada di kasir, Elis yang berniat membayar tiba-tiba urung setelah sang kasir wanita menyampaikan sesuatu.
“Makanannya sudah dibayar,” kata kasir menerangkan.
Elis dan Cherry saling melirik. Mereka pikir pasti kasirnya salah mengira orang.
“Tapi, kita baru mau bayar kok. Kita juga hanya datang berdua,” ucap Elis yakin bahwa tidak akan ada orang ketiga yang membayarkan makanan mereka.
__ADS_1
“Benar kok, mbak. Tadi ada laki-laki yang datang dan bilang untuk membayar makanan kalian,” balas kasir yang merasa benar.
“Ah, mungkin dia salah orang. Masa ada orang yang nggak kita kenal mau bayar makanan kita,” kata Cherry ikut menimpali.
“Dia bilang dia teman kalian,” terang kasir yang mendadak bingung.
“Dia bilang namanya siapa?” tanya Elis tidak terpikir akan seseorang yang mungkin ia kenal.
“Tidak. Orangnya sih ganteng dan masih muda. Dia hanya bilang kalau kalian temannya dan sekalian membayar pesanan kalian. Setelah itu dia langsung pergi,” ujar kasir yang tak bisa lebih rinci menjelaskan.
“Apa dia duduk dekat meja kita ?” tanya Cherry penasaran.
“Iya. Dia duduk di meja depan kalian,” papar kasir sesuai yang ia tahu.
“Ya sudah, mbak. Terima kasih kalau begitu. Seandainya orang tadi datang lagi ke sini, tolong katakan pada orang itu terima kasih. Maaf ya jadi merepotkan mbak,” ucap Cherry agak kecewa. Walaupun begitu ia tak bisa menyalahkannya. Karena sang pria tak jelas identitasnya itu mengecoh kasir dengan mengaku sebagai teman mereka.
Tak ingin berlama-lama Cherry dan Elis menderap langkah keluar kafe dan menuju tempat parkir.
Mereka masuk ke dalam mobil. Dan setelah menyalakan mobil Elis menatap Cherry lalu berbicara dengan rasa penasaran yang tak bisa hilang.
“Siapa ya kira-kira orangnya?” Elis mengerutkan dahi.
“Apa ada orang yang sengaja menjahili kita? Atau mungkin kamu punya pengagum rahasia. Jadi dia hanya bergerak di belakang layar,” celoteh Cherry berargumen sekenanya. Dia sepertinya terkena efek cerita drama percintaan yang sering ia tonton.
“Pengagum rahasia apaan?" kata Elis tak setuju. “Dia lebih cocok memiliki predikat aneh sekaligus misterius.”
“Atau mungkin dia orang yang ingin membalas kebaikanmu tapi dia malu kalau harus bertindak langsung di depan orangnya,” ucap Cherry agak melantur.
“Kamu ngaco! Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Bikin pusing saja. Dan satu lagi, jangan kaitkan orang misterius itu denganku! Siapa yang tahu, dia justru orang yang mengenalmu,” Elis menyanggah dan membalikkan kemungkinan.
“Dia bilang kan teman kita. Kamu paling tahu kan di sekitarku tidak ada yang namanya teman laki-laki. Pria yang aku kenal hanya Ayah, Kakak, dan adik bungsuku,” terang Cherry berkesimpulan.
“Benar juga,” kata Elis mengangguk kecil.
“Sebaiknya kita tak usah membahas orang itu lagi. Mau itu orang yang mengenalku ataupun kamu, yang pasti kita tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya orang itu. Mungkin orang itu memang suka bersedekah dengan mentraktir sembarang orang.”
“Ya. Kebaikannya semoga berkah. Oh ya, nanti tolong turunkan aku di halte setelah lampu merah saja,” ujar Cherry yang di akhir kalimat memberitahu Elis agar ia tak lupa berhenti di tempat yang ia maksud.
__ADS_1
“Ok!”
Elis seketika menarik kemudi, melajukan mobil ke jalan raya setelah memberi tips pada tukang parkir.