Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Pertemuan kembali


__ADS_3

Pria berjas abu-abu tua mengumumkan siapa yang berhasil diterima sebagai staf dapur yang baru.


“Berdasarkan pertimbangan, kami memilih peserta sesuai dengan kriteria yang restoran butuhkan. Maka, kami hanya akan memilih empat orang dari kelompok ketiga untuk mengisi posisi yang kosong di restoran,” papar pria berjas abu-abu.


Pernyataannya disambut ekspresi gugup dan pengharapan tinggi dari para pelamar. Mereka sudah melangkah sejauh ini, maka hasil akhir yang mereka inginkan hanyalah keberhasilan.


“Irene Aleyya! Selamat anda berhasil menjadi bagian dari tim restoran,” kata pria berjas abu-abu itu lantang.


Sontak Irene nyaris lompat kegirangan. Tapi sesaat itu ia mampu mengendalikan rasa gembiranya agar tak berlebihan. Senyum yang tersungging di bibirnya yang penuh begitu rekah.


“Selamat ya Irene,” tukas Cherry yang tulus turut bahagia. Meski Irene adalah saingan yang menyebalkan tapi ia telah membuktikan kemampuanya. Dan Cherry harus lapang dada mengakui itu.


“Terima kasih,” balas Irene. “Aku masih merasa tak percaya walau sebenarnya aku yakin bahwa aku akan terpilih,” sambung Irene mengeluarkan sisi angkuhnya.


Cherry nyengir. Haknya jika Irene mau berbangga diri setinggi apa pun. Toh kenyataannya memang ia layak. Rasanya Cherry iri, andai ia bisa sepercaya diri Irene. Walau Cherry yakin akan kemampuannya tapi pesaing lainnya pun cukup hebat.


“Angga Ardian dan Dirga Endaru. Selamat kepada kalian berdua!”


Tinggal satu orang lagi. Cherry berharap itu dirinya. Walaupun belasan pelamar lainnya mengharap hal yang sama.


“Pelamar terakhir yang akan bergabung dengan kami adalah Cherry Hannari. Selamat,” lanjut pria abu-abu disertai seulas senyum.


Yang namanya tidak disebut dicengkeram rasa kecewa. Sementara Cherry sangat terharu dengan apa yang baru saja ia dengar. Cherry masih bingung apakah yang terjadi sungguh kenyataan.


“Selamat untukmu. Ternyata kamu jadi orang keempat yang diterima,” ucap Irene dengan nada bicara yang lumayan sinis.


“Terima kasih!” balas Cherry seraya merekahkan senyum bahagia.


“Kepada para pelamar dari kelompok satu, dua dan tiga, yang namanya telah disebutkan, kalian bisa mulai bekerja besok. Dan untuk posisi kerja kalian akan diberitahukan sekalian besok. Dan bagi para pelamar yang tidak beruntung, kami mengucapkan segenap terima kasih," kata pria berjas abu-abu mengakhiri.


Para pelamar yang kecewa langsung meninggalkan ruangan.


Cherry pun bergegas untuk pergi. Namun, langkahnya tak urung ia derapkan kala terdengar suara pria menyapa.


“Maaf, kamu Cherry kan?” tanya pria jangkung dan kurus pada Cherry yang kebingungan.


“Perkenalkan aku Angga. Kita akan menjadi rekan kerja mulai besok,” sambungnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Cherry.

__ADS_1


“Ya, salam kenal,” kata Cherry yang langsung merapatkan kedua telapak tangannya di dada dan mengangguk ramah.


Angga memaklumi sikap Cherry yang enggan menjabat tangannya. Ia malah takjub bahwa Cherry masih memegang prinsip kuat aturan sebagai wanita muslimah yang taat. Kebanyakan orang menilai melakukan kontak fisik dengan lawan jenis adalah hal biasa yang dianggap wajar. Tetapi tak sedikit pula wanita yang memegang keyakinan bahwa bersentuhan kecil dengan pria adalah hal yang harus dihindari.


“Hallo. Aku Dirga. Mulai besok kita akan menjadi rekan,” sahut seorang pria berkulit sawo matang dengan tinggi yang lebih pendek dari Angga menyapa.


“Aku Irene. Dan dia Cherry,” seru Irene yang mengakrabkan diri.


Dia lantas mengajak Dirga bersalaman sebentar. Setelah itu menyapa Angga. “Namaku Irene, salam kenal ya.”


Tadinya Irene ingin mengulurkan tangan, tapi ia ragu. Akhirnya ia mengurungkan niatnya karena mengingat Cherry sebelumnya tak bersalaman dengan Angga.


“Ooh, maaf aku harus pergi sekarang. Jadi aku permisi,” tandas Cherry yang bersiap melangkah.


“Ya, nggak apa-apa. Hati-hati di jalan,” timpal Angga.


“Jangan langsung pulang dong Cherry!” kata Irene berusaha mencegah. “Bagaimana kalau kita berempat pergi ke kafe untuk merayakan diterimanya kita?” tanya Irene menawarkan ide dadakan.


“Maaf, aku memang harus pergi. Dan kurasa bukan waktu yang pas untuk perayaan. Besok pekerjaan berat siap menanti. Sampai jumpa semuanya,” ucap Cherry menolak.


“Sampai ketemu besok,” kata Dirga menimpali sedangkan Irene diam seraya memasang wajah cemberut. Angga pun bersikap biasa saja dengan mengangguk kecil dan memberikan senyum.


Sesampainya di luar restoran pijar matahari menyengat tubuh Cherry yang berpakaian tertutup. Tenggorokannya tak kuasa menahan dahaga. Ia kemudian mencari tempat penjual air mineral pinggir jalan.


Karena yang ia temukan hanya gerai minuman dingin Cherry memutuskan untuk membeli di sana. Ia masuk dalam antrean. Dan ia langsung memesan salah satu varian rasa ketika sampai di depan stan.


Cherry mengambil minuman dan berbalik untuk pergi. Ia melangkah ke arah restoran. Di trotoar depan restoran tersedia bangku taman. Cherry melekas duduk di sana.


Pohon yang cukup rindang di dekat bangku berhasil menyelamatkan Cherry dari sengat matahari yang tepat di atas kepala.


Dengan segarnya Cherry menyedot minuman berwarna merah muda di dalam gelas plastik yang dipegangnya. Dahaganya berkurang banyak setelah minuman itu mengalir melewati tenggorokannya.


Ia mencondongkan punggungnya ke bangku. Sebentar saja ia ingin beristirahat beberapa menit.


“Hai,” sapa seseorang bersuara ramah tiba-tiba mengagetkan Cherry.


Begitu Cherry mengalihkan pandangan, pria yang tampak tak asing itu melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Kamu si gadis supermarket itu kan?” tanya dia terdengar menekankan kalimat 'gadis supermarket'.


Bola mata Cherry membulat. Mulutnya hampir ternganga. Untung ia berhasil mengendalikan diri untuk berekspresi sewajarnya.


“Senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa kamu masih mengingatku?” tanya pria tampan rupawan itu, yang sekonyong-konyongnya berhasil membuat Cherry tergelitik.


“Ah, kita pernah bertemu sebentar di supermarket beberapa waktu lalu. Ternyata kamu masih ingat denganku,” timpal Cherry berbicara santai seolah mereka sudah saling kenal.


Pria bule itu tersenyum. Dan perasaan Cherry jadi kacau balau dibuatnya. Tak semestinya pria itu mengeluarkan senyuman mautnya.


Beruntung Cherry tak mengidap penyakit kelainan jantung, jika tidak Cherry bisa terkena serangan jantung saat ini juga.


Pakaian casual yang dikenakannya menambah poin daya tariknya. Ia terlihat keren bak model yang sering Cherry lihat di sampul majalah mode. Kedua kalinya Cherry seolah tersihir oleh keindahan yang dimiliki pria berambut coklat terang itu dan berkulit lebih gelap dari kebanyakan orang barat pada umumnya.


“Gadis manis dan cantik sepertimu, tentu tidak akan mudah dilupakan,” kata pria itu merayu dengan pelafalan bahasa yang fasih tapi bercampur logat bahasa asing yang kentara.


Cherry bergidik mendengarnya. Rupanya pria menawan itu ahli menggombal. Biasanya Cherry akan mual mendengar kata-kata gombal dari mulut pria tetapi entah mengapa tidak dengan pria ini. Cherry malah merasa geli. Karena ia mengganggap bualan dari pria itu adalah candaan semata.


“Kenapa duduk sendiri di sini?” tanyanya. Belum sempat Cherry menjawab, dia bertanya lagi, “Apa kamu bekerja di restoran itu?” Matanya melirik ke arah restoran di belakang Cherry.


“Ya. Tapi aku baru bekerja besok.”


“Hmm, sepertinya kita akan sering bertemu. Karena aku bekerja di restoran sebelah,” katanya senang.


“Jadi kita tetangga. Atau mungkin saingan?” Cherry mencandai pria itu.


“Restoran kita mungkin saingan. Tapi kita bisa jadi teman,” tukas pria yang sangat cocok mengenakan kemeja putih dan jaket kulit hitam.


“Terlalu cepat untuk kita jadi teman. Dan aku tidak pernah beranggapan pria dan wanita bisa menjalin hubungan pertemanan. Kurasa kita bisa jadi kenalan yang baik untuk saat ini,” tandas Cherry kukuh pada prinsip yang dianutnya.


Pria yang bermata biru terang itu tersenyum lebar. Bukannya tersinggung, ia justru memandang ketegasan Cherry sebagai pesona istimewa seorang wanita. Hal itu menantangnya untuk mengenalnya lebih jauh.


“Senang bertemu denganmu. Maaf, aku harus pergi,” tukas Cherry bangkit.


“Namaku Kareem. Kamu?” Dia mengajak berkenalan.


Cherry menimpali, “Panggil aku Cherry. Sampai jumpa.”

__ADS_1


Ia mengambil langkah untuk pergi menjauh. Berdekatan dengan pria bukan hal yang bisa ia lakukan sekarang. Ia bisa mengagumi tapi tidak untuk menjalin hubungan dalam bentuk apa pun.


__ADS_2