Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Laki-laki pertama


__ADS_3

Karena Cherry terlalu lama berpikir, Serhan akhirnya kesal dan tak bisa menunggu hingga Cherry menjawab. Ia pun turun dari mobil, dan bergerak cepat untuk membuka pintu penumpang belakang lebar-lebar.


“Ayo cepat naik! Kalau kamu takut duduk di depan bersamaku, kamu bisa duduk di kursi belakang!” seru Serhan sambil menahan pintu mobil untuk tetap terbuka.


Tindakan Serhan yang di luar dugaan membuat Cherry tercengang. Ia benar-benar tak bisa berkelit lagi. Meski sungkan ia beringsut setengah rela untuk masuk ke dalam mobil.


“Buatlah dirimu nyaman. Anggap saja aku sekarang adalah sopirmu,” ujar Serhan yang menutup pintu mobil setelah Cherry duduk diam dalam mobil. Lalu, kembali masuk ke mobil. Duduk di kursi pengemudi.


Serhan langsung menancap gas, dan membelokkan kemudi untuk menyusuri jalan yang lengang. Ia menurunkan kecepatan mendekati lampu merah. Dan berhenti untuk menunggu lampu merah berubah warna.


“Di mana alamat rumahmu?” tanya Serhan yang melirik Cherry dari kaca spion depan.


Cherry pun dengan enggan menjelaskan alamat lengkap rumahnya. Serhan langsung paham ke mana arah rumah Cherry. Dan begitu lampu lalu lintas berganti hijau Serhan kembali melajukan mobil.


Sepanjang jalan mereka berdua tidak ada yang membuka suara. Cherry diam seribu bahasa karena lidahnya terasa kelu.


Sementara Serhan memilih fokus untuk hanya memandang lurus jalan raya yang sepi dengan menutup rapat mulutnya. Sesekali ia mengawasi Cherry dari pantulan kaca spion depan.


Ia sangat tahu bahwa Cherry tak merasa nyaman berduaan dengannya dalam mobil. Bukan karena alasan dia atasannya, tapi Cherry memang tak pernah merasa leluasa untuk bersinggungan dengan makhluk yang bernama laki-laki. Dari dulu, Cherry memang selalu menjaga jarak dari pria yang bukan mahram. Dan Serhan sebagai laki-laki terhormat tidak akan melanggar batas aturan itu.


Senyap terus menerpa hingga separuh perjalanan berhasil ditempuh. Serhan masih tak berani mengajak Cherry bicara. Walaupun ada banyak hal yang ingin ia utarakan pada Cherry. Begitu banyak cerita yang ingin ia sampaikan selama kurun waktu mereka tak bertemu. Dan tersisip secercah rindu yang ia pendam dalam hatinya yang tak berujung.


Pertemuannya kembali dengan Cherry bagai sebuah keajaiban yang tak terbayangkan olehnya. Ia pikir, Cherry akan menjadi sebuah jejak yang mengukir dalam kenangan di kisahnya yang lalu.


Cherry tertunduk. Ia ingin menyembunyikan wajahnya dari malu yang menyusup diam-diam. Dadanya kian lama kian bergemuruh. Hatinya penuh risau. Ia sangat tahu bahwa Serhan adalah atasannya yang berkuasa. Tapi, dia tetaplah laki-laki di matanya.


Rasanya jika punya cara, Cherry lebih memilih untuk turun dari mobil. Karena suasana yang terjadi antara Serhan dan dirinya sangatlah aneh. Bagaimana bisa dirinya duduk nyaman di kursi belakang sedangkan Serhan yang mengemudi malah duduk sendiri di depan?


Dia tak tahu apa sikapnya itu bisa terhitung lancang. Tapi memang begitulah dirinya. Yang harus bersikap layaknya wanita muslimah. Mungkin kebanyakan orang akan menggangapnya aneh dan kuno. Dan Serhan pun mungkin berpikiran sama.


“Kita sudah masuk komplek. Dari sini lurus terus atau belok?” Serhan bertanya sambil menoleh sesaat kepada Cherry sambil tetap memegang kemudi.


Cherry yang sedari tadi terombang-ambing dalam pikirannya sendiri, seketika terhenyak. Ia pun menjawab dengan terbata.

__ADS_1


“Dari sini lurus saja mengikuti jalan. Baru nanti di pertigaan belok kanan,” ucap Cherry yang menengok ke luar mobil. Ia baru tersadar bahwa ia sudah hampir sampai rumah.


Pandangan Serhan masih menatap lurus jalan. Laju mobil ia perlambat.


“Sejak kapan kamu tinggal di sini?” Serhan ingin tahu.


“Lumayan lama,” kata Cherry tak ingin menjawab terlalu rinci.


Sesuai petunjuk dari Cherry Serhan membelokkan kemudi ke arah kanan saat mencapai pertigaan.


“Aku sudah belok. Lalu ke mana lagi?”


“Nanti tinggal lurus di belokan sana. Dari sini rumahku sudah tak jauh lagi,” jawab Cherry kikuk. Malu yang menerjangnya membesar. Cherry menahan diri untuk tidak terlihat jelas oleh Serhan bahwa dirinya benar-benar gugup bukan main.


Mobil pun berhenti dalam keadaan mesin yang menyala setelah Cherry memberitahu Serhan untuk menepi di depan rumahnya yang bercat biru langit.


“Kamu tinggal sendirian?” Serhan tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia ingin tahu lebih banyak jika mungkin, tentang kehidupan Cherry.


“Aku tinggal bersama kakakku,” timpal Cherry lirih.


“Mereka masih tinggal di kota ini. Aku dan kakak hanya ingin hidup mandiri,” jawab Cherry yang tak cerita secara gamblang mengenai kehidupan keluarganya. Masalah keluarganya adalah rahasia. Jadi, Serhan tak perlu tahu.


“Sudah malam, kau masuklah ke rumahmu,” perintah Serhan yang tak bisa menahan waktu Cherry lebih lama lagi.


“Terima kasih telah mengantar saya pulang. Selamat malam. Assalamu’alaikum,” pungkas Cherry lalu membuka pintu mobil dan turun segera. Serhan pun langsung membalas ucapan salam Cherry.


Dari dalam mobil yang jendela pintunya terbuka sebagian Serhan terlihat melambaikan tangannya pelan.


Cherry merespon dengan anggukan kecil.


“Tidurlah yang nyenyak. Karena besok akan menjadi hari yang berat,” kata Serhan lantang sebelum ia memacu pergi mobilnya dengan pelan.


Cherry membuka pagar dan melangkah masuk, menggeser pintunya lalu mengunci gembok yang terkait di pagar.

__ADS_1


Ia berjalan lamban mendekati pintu rumah. Di depan pintu, ia menarik gagang pintu dengan lemah. Dan ia pun berjalan melewati pintu.


“Kamu di antar pulang siapa?” tanya Rahis yang menyambut kedatangan Cherry di ruang depan.


“Dia pemilik restoran. Jadi, dia tadi menawarkan tumpangan,” jawab Cherry takut.


“Pemilik restoran itu laki-laki kan? Lain kali kalau dia meminta untuk mengantarmu pulang, tolak saja. Kalau perlu besok aku saja yang jemput kamu,” kata Rahis agak marah.


“Ya, lain kali aku akan menolak. Tapi kakak tidak perlu sampai menjemputku pulang. Aku merasa terbebani,” balas Cherry.


“Aku percaya padamu. Tapi aku tidak mau kalau kamu sampai terkena fitnah. Kamu harus bisa menjaga diri agar terhindar dari fitnah. Jadi, sebagai kakak laki-lakimu aku bertanggung jawab penuh untuk melindungi kehormatanmu. Dan menjagamu dari pandangan laki-laki,” terang Rahis penuh cemas.


Cherry tak menimpali. Ia hanya serius mendengarkan nasehat kakaknya.


“Kamu sudah berjanji padaku, kamu akan menjaga pandangan dan membuat jarak dengan laki-laki selama kamu meniti karir. Kamu adalah adikku satu-satunya yang paling berharga. Keluarga terdekatku. Aku tidak mau kamu berubah menjadi wanita bebas hanya demi mengejar mimpimu. Apa kamu mengerti?” lanjut Rahis menginginkan ketegasan Cherry.


“Iya, aku paham.”


“Kalau laki-laki itu tertarik padamu. Harusnya ia tak mendekatimu dengan cara yang salah. Jika berniat serius, suruh laki-laki barusan datang ke sini untuk melamarmu. Aku pun bisa menguji ketulusannya sebelum ia meminangmu secara resmi pada Ayah,” imbuh Rahis tegas dan benar-benar salah paham.


Cherry terlongo. Ia rasanya ingin menepuk jidatnya keras melihat kakaknya yang berpikir kejauhan dan tentu tak masuk akal. Cherry gemas sendiri dengan keluguan Rahis yang selalu bersikap serius itu.


“Kak, dia itu pemilik restoran. Dia memperlakukanku dengan sopan layaknya bawahan. Mana mungkin pria tampan kaya raya seperti dia punya perasaan padaku. Apalagi sampai berkeinginan menikahiku. Kakak bisa lihat, aku ini siapa? Mana mungkinlah ada pria hebat yang mau melamarku,” dalih Cherry sangat sadar diri.


Rahis berdecak lirih.


“Setampan apa pun. Sehebat bagaimanapun. Dan walau dia sangat kaya sekalipun, tetaplah dia itu laki-laki normal yang bisa memiliki ketertarikan pada perempuan. Aku tidak yakin dia hanya baik hati mengantarmu pulang sebagai atasan yang bertanggung jawab pada bawahannya,” debat Rahis tetap pada pemikirannya yang lurus.


“Kakak terlalu berlebihan. Dia juga bukan sekali dua kali baik hati mengajak bawahannya untuk pulang bersamanya,” kata Cherry yang teringat bagaimana Erza dan Delinka yang sering semobil bersama Serhan.


“Besok aku akan menjemputmu di restoran. Tunggu aku saat jam kerjamu berakhir. Jangan membantah ya, adik kecilku!”


Rahis memutuskan sebelah pihak. Cherry yang tak setuju tak bisa mengeluarkan suaranya untuk menjawab tidak.

__ADS_1


Rahis berbalik dan berjalan ke arah kamarnya. Dengan tampang kalah Cherry menyeret tubuhnya untuk bergerak menapaki ruangan hingga masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2