
Sejak pagi dapur begitu sibuk. Pekerjaan mereka lebih banyak dari biasanya. Perubahan yang singkat membuat mereka belum menguasai resep sepenuhnya. Meskipun menu tidak diubah total tetapi hampir sebagian proses memasak dilakukan berbeda tahapannya.
Dan yang paling kewalahan adalah Cherry dan Angga. Mereka dilempar ke sana-kemari setelah dipanggil berulang-ulang oleh koki dan asisten yang memerlukan tenaga mereka. Belum selesai melakukan tugas yang disuruh, seorang koki lain berebutan memanggil mereka.
Persiapan kali ini mereka harus membuat ulang komponen dasar dan pelengkap bahan untuk memasak menu. Kaldu yang biasanya hanya membuat dua jenis. Kini, mereka harus membuat lima jenis. Dan bumbu-bumbu pun tak luput dari perubahan.
“Kita masih punya satu jam untuk persiapan. Semua bahan, bumbu, kaldu, saus, sup dan semua elemen menu yang membutuhkan waktu persiapan lebih lama harus bisa selesai lima menit sebelum restoran buka!” teriak Delinka keras yang berdiri mengawasi di depan meja Chef.
Erza juga turut menggulung lengan bajunya karena ia juga turun tangan langsung di meja eksekusi dapur. Dengan lihai ia tampak mengangkat wajan memakai satu tangannya. Dan satu tangannya menuang bumbu cair ke dalam wajan. Asap pun mengepul. Bunyi desisan seketika terdengar. Tak lama ia mencapit potongan daging besar dan panjang di wajan dan menaruhnya di alumunium foil yang sudah diolesi bumbu dan diberi rempah. Perlahan tapi pasti Erza menggulung kertas alumunium foil hingga daging di dalamnya terbungkus sempurna.
Gulungan alumunium foil lantas ia letakkan dalam loyang hitam persegi yang telah diisi sedikit air kaldu beserta bahan lainnya. Dan loyang itu ia masukkan dalam oven bersuhu rendah. Selanjutnya ia mendatangi Cherry yang tengah memasukkan bumbu ke dalam panci besar yang terisi beras dan sedikit air kaldu sayur.
“Bagaimana? Apa ada masalah?” tanya Erza sambil meneliti kelengkapan bahan dan bumbu yang sudah masuk ke dalam panci.
“Tinggal tambah santan saja,” kata Cherry tanpa melirik pada Erza. Pandangannya menyusuri meja. Ia mencari wadah santan yang tadi ia dididihkan sebentar.
“Jangan pakai santan! Kamu lupa Chef menyuruh santan diganti dengan susu,” sergah Erza yang menyelamatkan Cherry dari bencana. Jika Cherry salah memasukkan santan, maka Cherry akan masuk daftar hitam Delinka. Dan sudah pasti nasi yang sudah telanjur di masak harus dibuat ulang.
“Ah, untung Sous chef kasih tahu. Kalau tidak, Chef Delinka pasti akan memberi sangsi,” ucap Cherry lega. Dia langsung mencari botol susu murni segar yang dipesan langsung dari peternakan. Setelah dapat, ia menuangkan sebotol susu ke dalam panci yang berisi beras yang dibumbui.
Baru kali ini Erza bersikap layaknya pria gentle di matanya. Ternyata tidak ada ruginya menjadi orang kepercayaan Erza. Begitu pikir Cherry.
“Kali ini aku pantas mendapat ucapan terima kasih darimu,” sahut Erza bangga sendiri.
__ADS_1
“Ya, terima kasih Sous chef,” pungkas Cherry yang lupa mengatakannya tadi.
“Bekerjalah dengan baik. Karena kamu sekarang adalah orangku maka kamu tidak boleh mengecewakan,” bisik Erza sengaja karena takut terdengar oleh orang lain.
“Ya, saya mengerti,” ucap Cherry seraya mengangguk pelan.
“Ingat nanti setelah berasnya jadi aron, diamkan dulu hingga agak dingin. Jangan langsung dibungkus dengan daun pisang!” seru Erza mengingatkan supaya Cherry tak melakukan kesalahan fatal dalam proses memasak nasi spesial dari restoran itu.
“Baik, Sous chef,” jawab Cherry. Ia tak sempat menoleh kecil pada Erza karena ia terlalu fokus dengan pekerjaannya.
“Lanjutkan pekerjaanmu,” kata Erza, lalu berjalan ke meja koki senior.
Ketika semua orang repot dengan pekerjaan masing-masing, Irene masih bisa menyisihkan waktu untuk diam-diam memerhatikan tindak tanduk Erza. Bahkan barusan ia sampai menunda dulu mengiris sayuran hijau hanya demi mengawasi Erza yang menghampiri Cherry hingga Erza beranjak pergi dari meja kerja Cherry.
Irene kembali mengiris sayuran saat asisten koki senior menegurnya yang bengong lama. Tapi, pikirannya tetap melayang ke mana-mana. Ia tak rela jika Cherry bisa dengan mudah mendapat perhatian Erza. Sementara dirinya yang jelas-jelas lebih modis dan seksi malah diabaikan Erza.
Menit-menit berlalu tak terasa. Tapi tak ada satu pun dari personil dapur yang bisa berleha-leha. Semua dikejar waktu. Sebentar lagi mendekati jam buka restoran. Persiapan harus sudah selesai sebelum pesanan nanti datang.
“Kalian harus bekerja lebih cepat lagi. Ayo! Lima menit lagi semua harus sudah menyelesaikan pekerjaan masing-masing,” seru Delinka lantang. Ia lalu berjalan mengecek satu per satu pekerjaan bawahannya.
Tibalah waktu buka restoran.
Tak perlu menunggu lama pesanan demi pesanan datang silih berganti. Walau masih belum leluasa dengan beberapa perubahan tapi mereka semua bekerja maksimal penuh efisiensi.
__ADS_1
Para tamu tidak memberi keluhan tentang menu yang masih sama dengan cita rasa berbeda. Mereka sangat puas dengan pengembangan menu favorit restoran. Dan Delinka merasa senang dengan gagasannya yang berhasil. Para koki pun tampak lega karena jerih payah mereka terbayarkan. Bagi para koki kepuasaan dan pendapat pelanggan adalah yang utama. Jika ada tamu setia yang kecewa lantas pergi maka tidak akan mudah untuk menemukan lagi tamu baru yang akan jadi pelanggan tetap.
Hingga memasuki jam istirahat siang kendala yang ada berhasil diatasi dengan baik. Meski sesekali Delinka menegur dan marah tapi tidak membuat para koki bekerja serampangan. Dan saat Delinka mengirimkan pesanan terakhir pada pelayan semuanya bisa menghirup napas lega.
Cherry dan personil lainnya tergesa-gesa mengganti pakaian di ruang loker. Mereka sudah sangat letih dan sudah tak sabar untuk mengisi perut yang lapar.
Hari ini mereka memilih untuk makan di luar. Selain untuk memuaskan selera perut, mereka juga sudah sangat suntuk berlama-lama di restoran. Mereka butuh merelaksasikan pikiran dengan suasana berbeda.
Begitu berada di pelataran depan restoran, Cherry dan beberapa temannya mendengar berita mengejutkan dan menggembirakan sebagian orang.
“Sekarang Perfect harmony kedatangan kritikus makanan yang terkenal. Dia sering mendatangi restoran terkenal di mancanegara,” kata koki perempuan semangat menyampaikan info terkini.
“Dia orang asing? Memang siapa dia?” tanya Eva.
“Dia memang dari Eropa tapi masih memiliki darah Indonesia. Dia wanita cantik dan sering tampil di acara kuliner luar negeri. Namanya Anna, kalau tidak salah,” timpal teman koki satunya.
“Kalian bukannya mau makan. Kenapa malah bergerombol di sini? Tidak usah memikirkan urusan restoran saingan kita. Cepat bubar!!” seru Delinka marah.
Karena kemarahan Delinka, mereka melarikan diri cepat-cepat. Cherry pun ikut pergi bersama teman-temannya.
Sebelum pergi menjauh, Cherry menoleh dan melihat Delinka yang masih berdiri dengan wajah cemberut. Lalu tiba-tiba Zayn datang menghampiri Delinka. Mereka tampak bicara serius empat mata.
Lalu setelahnya mereka pergi bersama, masuk ke restoran Perfect harmony.
__ADS_1