Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Di manakah kau berada kini?


__ADS_3

Ketika waktu berpacu dengan cepat dan tahun pun berganti.


Pantulan dirinya di depan cermin diperhatikan lekat. Dari pantulan cermin itu terlihat seorang pria muda mengenakan setelan kemeja kantor dengan motif polos warna putih, dan celana panjang slim fit warna hitam.


Tingginya terbilang proporsional, sekitar 177 cm. Dan tubuh kurusnya yang padat sungguh ideal karena tampak maskulin. Jika ditaksir, usianya dua puluh tujuh tahun.


Dasi yang tersampir di sandaran kursi segera disambarnya. Dan ia lingkarkan di sela kerah leher kemejanya. Selesai menyimpulnya, ia kembali fokus dengan pantulan dirinya di cermin.


Merasa kurang rapi, ia membetulkan dasinya hingga penampilannya sempurna. Setelah cukup percaya diri, dia menyulam senyum miring super menawan. Ibarat sebuah oase di tengah padang pasir. Sangat menyegarkan siapa pun mata yang memandangnya.


Dengan langkah panjang ia berjalan keluar dari clothing room sambil memegang jas di lengannya. Masuk ke kamar utamanya yang luas, dengan desain simpel nuansa hitam yang dominan.


Jasnya ia taruh di rak pajangan. Lalu, melangkah santai mendekati sebuah lemari kayu setinggi pinggangnya yang bercat coklat natural. Dia berjongkok untuk membuka lemari dan melihat ke arah brankas yang tersimpan di bagian bawah sana.


Ia lalu menekan kombinasi angka yang merupakan kode sandi, yang sudah sangat dihafalnya. Lampu biru menyala, suara kunci terbuka pun terdengar.


Tangannya meraih sebuah map biru. Bersamaan dengan ia mengangkat map biru itu sebuah kotak kecil warna merah terjatuh ke lantai. Cincin di dalamnya keluar dari wadahnya, dan menggelinding di kakinya.


Tangan kirinya mengambil alih map biru, dan dengan tangan kanannya ia memungut cincin emas putih dengan mata safir biru yang kecil.


Senyuman merekah di bibirnya yang lumayan tipis dan berwarna merah muda alami. Matanya berbinar menatap cincin itu.


Map biru ia taruh dulu di atas lemari brankas. Ia mengambil kotak merah dan menyematkan cincin itu ke dalamnya. Sudah seharusnya cincin itu berdiam diri di sana.


“Di mana pemilik cincin ini berada sekarang?” lirihnya bergumam sendu, lalu menghela napas. Setelahnya ia berjalan ke sofa yang berada di sudut sebelah kanan kamarnya. Dan duduk di sana.


Masih ditatapnya cincin itu dalam-dalam. Raut wajahnya tampak sedih. Ia menyayangkan cincin itu sampai detik ini masih ada di tangannya. Seharusnya jika takdir menuntunnya, cincin itu sudah berpindah tangan kepada pemiliknya.


Tapi sayang, takdir masih belum menunjukkan jalan ke mana ia bisa menemukan pemilik sesungguhnya.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, dan selang detik kemudian seseorang perlahan membuka pintu itu. Seorang wanita paruh baya yang berhijab pashmina warna maroon masuk kemudian. Meski umurnya sudah menyentuh angka lima, wanita itu masih memiliki pancaran kecantikan alami.


“Serhan, itu cincin siapa?” tanya Miranda ketika langkahnya tinggal dua meter dengan Serhan dan tatapannya tertuju lurus pada cincin.


Mendengar suara Ibunya, Serhan langsung menoleh dengan sangat kikuk. Seolah ia tak berharap Ibunya melihat cincin yang ia pegang dalam kotak.

__ADS_1


“Cincin calon istriku, Bu,” ujar Serhan melihat ke arah Miranda yang telah duduk di sampingnya.


“Siapa?” tanya Miranda yang kaget setelah cuping telinganya mendengar dengan jelas sebaris kalimat itu. “Selama ini kamu tidak pernah cerita akan melamar seorang perempuan,” imbuhnya sangat bingung.


“Aku akan cerita nanti kalau aku sudah berhasil melamarnya. Tapi, aku mohon Ibu tidak mengatakan hal ini kepada Ayah,” pinta Serhan, agak khawatir.


“Tenang saja. Ini rahasia kita berdua. Ibu sangat paham mengenai kecemasanmu itu,” ucap Miranda seraya tersenyum.


“Terima kasih, Bu.” Serhan membalas senyuman serupa.


“Boleh tidak Ibu tahu siapa perempuan beruntung itu?” Miranda masih penasaran.


“Maaf, Bu. Sebenarnya aku masih mencari gadis pemilik cincin ini,” timpal Serhan dengan air muka yang berubah tegang.


Miranda menaikkan alisnya.


“Kirain Ibu calon istrinya sudah ada. Ternyata belum ketemu. Yang kamu lakukan itu terbalik, Serhan. Cari dulu jodohnya, baru siapkan cincinnya,” kata Miranda, merasa kecewa karena tidak jadi segera mendapat menantu.


“Doakan saja, Bu. Supaya aku bisa secepatnya menemukan wanita yang akan kunikahi itu,” pinta Serhan malu.


Sebagai Ibu, Miranda tahu bahwa selama ini Serhan terluka karena tekanan Kakek dan Neneknya. Ternyata seiring berjalannya waktu, Serhan masih belum bisa menempati hati kedua mertuanya.


Berkali-kali mertuanya mengirim Serhan ke luar negeri dengan berbagai alasan. Lulus SMA, Serhan ditekan untuk berkuliah di Harvard. Lalu setelah kuliahnya selesai, Serhan kembali. Tapi, Serhan langsung ditugaskan ke luar kota selama dua tahun. Dan tahun-tahun berikutnya pun hampir sama. Ia malah dikirim ke negeri yang jauh. Dan selalu berpindah-pindah.


Mertuanya tak pernah membiarkan Serhan berkesempatan tinggal lama dengan Miranda. Dan kepulangan terakhir Serhan dari Swiss adalah waktu yang terlama. Sebuah keajaiban, Serhan bisa tinggal selama enam bulan tanpa dipaksa pergi lagi hingga hari ini.


“Ayo, sekarang kita turun untuk sarapan! Ayahmu juga sepertinya sudah selesai bersiap,” ujar Miranda, yang sudah berdiri dan melangkah ke arah pintu.


Meski sedikit enggan, Serhan pun bangkit dan meletakkan kotak cincin di laci. Lalu meraih jasnya yang ia taruh di atas rak. Dan ia pun bergegas mengikuti langkah Ibunya yang sudah cukup jauh. Turun ke lantai bawah, menuju ruang makan.


Meja panjang itu hanya baru ditempati Serhan dan Ibunya, yang duduk saling berhadapan. Empat kursi akan dibiarkan kosong sedangkan kursi utama akan diduduki Arif.


Tak berselang lama Arif pun muncul dengan mengenakan suit kerja. Dan duduk di kursi miliknya.


Serhan sengaja mengalihkan perhatiannya pada piring yang baru terisi menu sarapan yang baru diberikan oleh pelayan.

__ADS_1


Pelayan itu beralih melayani Miranda dan Arif, yang baru datang belakangan. Tanpa menunggu diperintah, Serhan langsung menyuapkan makanan.


“Serhan, kamu serius dengan bisnis restoranmu itu?” tanya Arif, yang baru menyesap kopi dari cangkir berdesain elegan.


Sendok yang sudah terangkat, diturunkannya lagi. Serhan menjuruskan pandangannya pada Arif dengan pancaran kurang hormat.


“Tentu, aku serius,” jawab Serhan.


“Kenapa kamu repot memulai bisnis baru? Kalau kamu tertarik terjun ke bisnis restoran, kamu bisa mengelola salah satu restoran cabang keluarga kita,” papar Arif, kemudian menyeruput kopi yang tersisa di cangkir.


Ayahnya belum tahu bahwa sebenarnya banyak hal yang Serhan rahasiakan darinya. Termasuk soal bisnis restoran. Kali ini Serhan sengaja menguak satu restoran yang baru dibuka untuk memancing di air keruh.


“Aku ingin mandiri. Ayah lebih tahu dariku bagaimana Kakek terlalu mengatur hidupku selama ini. Aku ingin melakukan apa pun sesuai keinginanku sendiri mulai sekarang,” balas Serhan, tidak terlihat setengah hati.


“Baiklah. Kalau itu maumu. Tapi, kamu harus lebih fokus pada perusahaan. Kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu sebagai wakil direktur,” kata Arif mengingatkan dengan keras.


“Kamu harus bisa percaya pada anak kita. Serhan sudah belajar banyak tentang bisnis. Ia memulai karirnya dari bawah. Sudah saatnya selain perusahaan, Serhan punya bisnis sendiri,” bela Miranda, selalu mendukung penuh keputusan Serhan.


“Oke. Buktikan pada Ayah supaya Ayah bisa mempercayaimu. Ayah harap kamu bisa berhasil dengan bisnismu. Karena Kakekmu pasti akan mengambil tindakan jika bisnismu itu malah menghambat pekerjaanmu di kantor,” jelas Arif, sedikit risau.


Serhan tak menjawab. Ia melanjutkan untuk menyantap sarapan lagi. Lebih cepat habis akan lebih baik. Karena sesegera mungkin ia ingin pergi dari rumahnya. Terlalu lama bersama Ayahnya membuat Serhan sangat tidak nyaman.


Memang Arif adalah Ayah yang harus ia hormati tetapi Serhan telanjur tak bisa mempercayai Ayahnya lagi. Sejak pindah ke kota ini, Arif sangat patuh pada Kakek dan Neneknya. Ia pikir dulu, mereka bertiga akan tinggal serumah. Nyatanya, Arif malah sering tinggal di rumah orang tuanya.


Apalagi setelah anak dari Ibu tirinya lahir. Semua keluarga bersuka cita tetapi dirinya dan Miranda masih tak diperhitungkan dalam keluarga. Seolah-olah Serhan dan Ibunya adalah perusak suasana di tengah kebahagiaan mereka.


Kakeknya terlalu menerapkan aturan ketat pada Ayahnya, Ibunya dan tak terkecuali dirinya. Dan saat ini Serhan sudah mencapai batas titik lelahnya. Ada kalanya ia juga berhasrat mengepakkan sayap. Terbang tinggi mengarungi langit kebebasan. Sebuah hal sederhana tetapi terlalu sulit untuk ia peroleh.


“Aku sudah selesai sarapan. Aku pergi dulu ya, Bu.”


Setelah bangkit dari kursinya, Serhan mencium kedua pipi Miranda bergantian. Mengecup punggung tangannya dan pamit sebentar pada Ayahnya, yang hanya menyertakan anggukan sebagai balasan.


Dia pun masuk ke mobilnya yang telah siap di halaman rumah. Di mana sekretaris pribadinya dan sopirnya sudah sedari tadi menunggu dalam mobil.


Usai diperintah, sopir segera memacu kendaraannya menuju restoran milik Serhan di pusat kota.

__ADS_1


__ADS_2