Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Pesan ilusi


__ADS_3

Elis membawa Cherry untuk singgah di warung tenda pinggir jalan. Mereka memesan minuman susu jahe hangat dan beberapa potong kue.


“Katanya tadi mau cerita. Mau cerita apa? Aku ingin dengar,” kata Cherry yang mengaduk-aduk gelas susunya.


“Tapi setelah bertemu kamu, aku lebih tertarik untuk mendengar cerita kamu bersama dua pria keren tadi,” goda Elis sengaja.


“Tidak ada yang menarik tentang aku. Dua pria itu juga bukan topik yang enak untuk dibicarakan,” tolak Cherry, langsung menenggak susu jahe dalam sekali teguk.


“Padahal aku ingin tahu banyak kan. Kenapa kamu malah bersama kedua pria itu di acara kumpul rekan setim, bukannya dengan teman-teman kamu?” Elis jahil menggoda Cherry lagi.


“Kita tidak usah bicarakan tentang mereka berdua, ya. Aku mohon. Hari-hariku di dapur sudah sangat melelahkan. Setelah selesai bekerja, masa aku harus masih harus mengingat mereka berdua lagi? Pikiranku ini butuh istirahat,” kata Cherry merajuk.


“Ya. Gagal nih dengar cerita serunya,” canda Elis seraya menggigit sepotong kue.


“Kan kamu yang bilang tadi, kalau mau curhat,” sahut Cherry.


“Iya sih. Tapi, aku malah jadi malas cerita. Mengingatnya aku jadi kesal sendiri.” Suara Elis berubah sendu.


“Memangnya kamu ada masalah apa? Cerita saja. Biar beban di hatimu bisa berkurang,” ucap Cherry menatap Elis cemas.


“Sebetulnya ini bukan masalah besar. Aku bisa mengatasinya. Tapi, tetap saja aku masih kesal,” terang Elis yang meraut wajah sedih.


“Siapa yang sudah membuat kamu kesal? Temanmu, rekan kerjamu, atau atasanmu? Ayo, katakan!”


“Bukan. Tapi orang tuaku,” timpal Elis merendahkan nada suaranya.


“Bukannya kamu jarang bertemu mereka ya? Kok bisa kamu merasa kesal.”


“Iya. Itu juga yang buat aku makin sebal. Sudah jarang bertemu dengan putri semata wayangnya, sekalinya bertemu malah memberikan aku kabar buruk,” kata Elis mendayu.


“Kabar buruk apa?” lirih Cherry bertanya kaget.


“Mama dan Papa bilang mereka ingin aku menikah dengan anak dari rekan bisnis Papa,” jawab Elis serius.


“Jadi, kamu mau dijodohkan secara sepihak?”


Elis mengangguk sedih.


“Apa kamu sama sekali nggak bisa menolak?" tanya Cherry gusar. "Katakan saja baik-baik kalau kamu keberatan," sambungnya yang lekat menatap simpati Elis.

__ADS_1


“Bisa sih aku menolak. Walaupun tetap kedua orang tuaku akan bertindak sesuka mereka. Aku tidak akan diberi pilihan.”


“Ternyata masalahmu cukup berat. Tapi, tadi malah bilang bukan masalah besar. Andai aku bisa membantu agar kamu bisa keluar dari masalah ini,” kata Cherry sedih.


“Memang kamu mau untuk menggantikan aku menikahi pria itu?” tanya Elis tampak serius.


“Yang benar saja! Kamu saja ingin menolak perjodohan itu. Apalagi aku yang sama sekali tidak tahu apa-apa,” tegas Cherry berkeberatan.


“Hehe,” Elis malah tertawa anggun.


“Kamu barusan nggak serius kan bilang begitu?”


“Mana mungkin kan aku serius memintamu untuk jadi penggantiku. Orang tuaku juga akan sangat tidak setuju. Ini kan pernikahan bisnis bagi mereka.”


“Kamu tahu siapa prianya?” Cherry sedikit penasaran ingin mengorek lebih dalam.


“Tahu. Aku pernah melihatnya sekali,” ucap Elis, lalu menyeruput minuman hangat di gelasnya dengan pelan.


“Lalu, pria itu sendiri mau dijodohkan denganmu?”


“Dia tidak masalah. Karena pernikahan ini akan menguntungkan baginya, keluarganya dan juga perusahaannya.”


“Kalau kamu tidak setuju dengan pernikahannya, sebaiknya kamu memohon pada orang tuamu untuk membatalkan rencana perjodohan ini,” saran Cherry yang tak mau sahabatnya mengalami cerita kelam dalam pernikahan.


“Kamu harus menolaknya. Harus, Elis! Laki-laki mata keranjang tidak pantas disandingkan denganmu,” seru Cherry ikut kesal setelah mendengar cerita Elis.


“Seandainya saja aku bertemu pria yang pantas untukku, aku tidak akan sepusing seperti sekarang,” keluh Elis.


“Laki-laki baik di sekitarmu yang mau sama kamu kan banyak. Kamu tinggal seleksi saja salah satunya,” saran Cherry.


“Tapi aku belum menemukan pria terbaik. Kamu tahu sendiri kan bagaimana keluargaku. Pria baik saja tidak cukup bagi orang tuaku. Harus banyak syaratnya. Dia harus punya harta, jabatan serta pendidikan tinggi dan karir yang cemerlang. Aku tidak punya kebebasan untuk memilih pria yang akan kunikahi,” ucap Elis yang tak bergairah.


“Kamu tidak perlu berkecil hati. Kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Kalau nanti kamu bertemu pria yang jadi jodohmu, orang tuamu pada akhirnya akan merestuimu,” hibur Cherry bijak.


“Terima kasih ya Cherry. Kita berdua saling mendoakan yang terbaik. Semoga kita mendapatkan jodoh yang baik,” ucap Elis yang mulai bersemangat lagi.


“Aamiin.”


“Kita pulang sekarang ya,” ajak Elis.

__ADS_1


“Ya. Kita pulang sekarang saja. Kita berdua perlu istirahat yang cukup kan,” kata Cherry yang menarik senyum.


Mereka membayar lalu meninggalkan warung tenda yang sudah berbenah untuk tutup.


Di atas langit muram. Pijar bintang tak berserakan seperti malam sebelumnya. Kabut tebal terlihat menguasai, membungkus langit tanpa purnama.


Elis mengantarkan Cherry tepat di depan rumah.


***


Karena matanya yang sudah mulai terantuk-antuk Cherry lekas membersihkan wajah dan masuk ke dalam kamar. Ia seasalnya saja mengganti pakaian. Lalu saking lelahnya menimbun diri di balik selimut di atas kasur empuk.


Sebelum matanya benar-benar terpejam. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Ayahnya. Cherry langsung membacanya.


“Kenapa Ayah tiba-tiba minta bertemu ya?” gumam Cherry tetap dalam keadaan berbaring. “Kalau memikirkan Ayah, aku selalu teringat Tante Wina. Perasaanku jadi tidak enak.”


Cherry membalas pesan Ayahnya setelah berpikir sejenak. Ia mengatakan akan memberitahu Ayahnya kapan ia bisa bertemu dengannya. Mungkin tidak bisa secepatnya. Karena akhir-akhir ini ia sibuk dengan pekerjaannya.


Baru saja selesai mengirim pesan pada Ayahnya, sebuah pesan baru masuk. Dari nomor tak dikenal.


“Siapa lagi kirim pesan tengah malam begini?” gerutu Cherry yang memaksakan jarinya menyentuh layar untuk membaca pesan itu.


Kamu sudah pulang dengan selamat? Jangan datang paling awal besok! Tapi juga jangan terlambat!


Erza


“Apa aku tidak salah baca? Mataku kan belum rabun. Ada angin apa Erza tiba-tiba mengkhawatirkan keselamatanku? Tidak. Bagaimana mungkin begitu?!” lirih Cherry berceloteh curiga.


Beberapa kali dia mengucek kedua matanya. Mungkin saja pesan yang dia baca hanya ilusi.


Lalu, Cherry ragu. Balas pesannya atau tidak. Andai harus membalas, apa yang akan dia ketik? Dia sudah kehilangan beribu kosakata hanya dengan memikirkan tampang Erza.


“Sudahlah tidak usah dibalas saja. Tapi kan dia pasti tahu kalau aku sudah membaca pesannya,” bisik Cherry bimbang.


Pada akhirnya Cherry membalas pesan dengan kata-kata yang diperlukan saja.


Baik. Sous chef. Saya sudah di rumah. Selamat beristirahat


Pesan balasan masuk

__ADS_1


Besok ada kejutan besar. Jangan sampai kamu kecewa ya! Semoga malam ini kamu tidak mimpi buruk karena Serhan hadir dalam mimpimu


Sebelah alisnya terangkat. Wajahnya seketika kusut. Mendadak ia berdebar gelisah. Ia punya firasat aneh tentang hari esok. Berdoa saja, bukan bencana yang datang.


__ADS_2