Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Bagai pemangsa


__ADS_3

Dua minggu setelahnya...


Keadaan di dapur tidak ada yang berubah. Masih ramai karena banyaknya pelanggan yang setia datang ke restoran. Sosok Erza masih saja sama, galak dan rewel. Dan bagi Cherry bertambah lagi pria menakutkan. Tak lain adalah bosnya itu.


Dua minggu ini Cherry sebisa mungkin menghindari berpapasan dengan bosnya. Ia sungguh tidak ingin berurusan lagi dengan tipikal pria semacam itu. Semenjak peristiwa menyebalkan sekaligus memalukan itu Cherry tak merasakan ketenangan dalam bekerja. Walau setelah itu tidak ada apa-apa lagi yang terjadi. Erza dan bosnya pun bersikap wajar layaknya atasan.


Malam usai restoran tutup, semua karyawan dapur berkumpul di dining room. Mereka bersiap untuk pergi ke sebuah kafe. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan ide untuk mengadakan acara pertemuan atau lebih tepatnya makan malam bersama.


Cherry yang sebenarnya malas ikut tak punya alasan jitu untuk menghindari acara tersebut. Ia tak nyaman jika masih harus bertemu Sous chef. Seharian di dapur ia sudah kenyang melihat tampangnya yang mengesalkan itu.


“Kita berangkat sekarang,” seru koki pria yang bersemangat sekali.


Mereka berduyun keluar dari restoran. Dan mereka pergi dengan kendaraan yang terpisah.


Cherry berdiri diam di pinggir jalan. Ia rupanya belum menyerah memikirkan kemungkinan untuk batal ikut. Andai ia punya alasan yang tepat. Dari dulu ia memang tak pandai berbohong.


“Kamu mau ikut denganku?” tanya Irene yang berpenampilan maksimal dengan dandanan serba wah, pada Cherry.


“Kamu bawa motor?” kata Cherry bertanya sangsi. Tidak mungkin Irene yang memakai gaun pendek di atas lutut itu pergi mengendarai motor.


“Hari ini aku tidak bawa motor,” jawabnya riang. “Aku mau naik mobil Sous chef saja,” lanjutnya dengan tingkat percaya diri yang tinggi.


“Ooooh.” Mulut Cherry membulat. Pikirnya, Irene sepertinya sedang berhalusinasi. Orang seperti Erza mana mungkin mau memberikan Irene tumpangan.


“Ah, itu Sous chef!” ucap Irene kegirangan ketika melihat Erza yang berjalan ke arah mereka.


Irene dengan genit bertanya tanpa malu-malu pada Erza yang telah berganti pakaian kasual setelah Erza datang mendekat.


“Sous chef bawa mobil kan?”


“Iya,” jawab Erza singkat dan dingin.


“Kalau begitu, boleh tidak jika aku ikut naik mobil Sous chef ?” mintanya manja.


“Mobilku bukan taksi. Tidak menerima penumpang. Kau cari saja tumpangan lain,” timpal Erza sungguh menyayat perasaan Irene.


Irene menekuk wajahnya. Ia kesal dan malunya bukan main.


“Hey, kamu sini!” Erza memanggil staf dapur yang kebetulan berada tak jauh.

__ADS_1


Dia langsung mendekat pada Erza.


“Bawa dia bersama kalian,” suruh Erza setelah menunjuk ke arah Irene dengan malas.


Staf junior itu mengerti. Lalu meminta Irene untuk ikut bersamanya. Walau enggan setengah mati Irene tak punya pilihan, terpaksa mengikuti pria itu.


Dan akhirnya mereka tinggal berdua. Hal itu gawat bagi Cherry. Berduaan dengan Erza adalah musibah.


“Kamu ikutlah denganku,” kata Erza, selau saja memberi perintah.


Selang kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.


“Kenapa diam? Masuklah!” suruh Erza tak sabar.


Cherry yang enggan, merasa tak kuasa untuk menolak perintah Erza. Kalau berani mengatakan tidak, maka kehidupannya di dapur akan semakin suram.


“Ya, baiklah,” sahut Cherry lirih.


Ia terpaksa menggerakkan tubuhnya, mendekat ke samping mobil. Saat ia memegang handle pintu mobil, Erza buru-buru mencegahnya.


“Jangan di depan! Duduklah di belakang! Aku yang duduk di depan,” ucapnya seraya langsung masuk ke dalam mobil, yang mana pintunya sudah dibukakan dari dalam.


“Cepat masuk! Kamu mau diam saja sambil memegangi pintu mobil?” kata Serhan tak ramah sama sekali.


Cherry yang kaget langsung menghambur duduk dan cepat menarik pintu mobil hingga tertutup.


“Jalan!" seru Serhan pada sopir.


Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Di dalam mobil Cherry merasakan sesak. Ia dalam situasi terhimpit. Lagi-lagi dia harus berurusan dengan Erza dan Serhan sekaligus. Padahal ia sudah berhati-hati sebisa mungkin untuk tidak berurusan langsung dengan mereka.


Sepanjang jalan suasana hening. Tak ada suara musik. Tak ada juga sepatah kata pun yang terucap dari mulut penumpang mobil. Semuanya kompak diam seribu bahasa.


Cherry yang gugup berharap cepat sampai sehingga ia bisa selamat dari dua atasannya itu. Ia juga tak habis pikir bagaimana bisa dua orang itu memintanya untuk menaiki mobil yang sama dengan mereka. Tadi saja Irene jelas-jelas ditolak di depan matanya sendiri.


Mobil berhenti di parkiran kafe. Mereka lantas keluar dari pintu mobil yang berbeda.


Cherry mengambil kesempatan itu untuk secepatnya memisahkan diri dari mereka. Ia tergesa-gesa memutari bagian belakang mobil dan melangkah menuju kafe.


“Kamu mau ke mana?” Bersamaan dengan tanya yang dilontarkan, seseorang menahan tas ransel yang menempel di punggung Cherry. “Kamu tidak boleh kabur,” lanjut Serhan yang kemudian melepaskan tangannya dari ransel Cherry.

__ADS_1


Bagai anak ayam yang berhadapan dengan kucing pemangsa Cherry tak berkutik. Apa kuasanya hingga bisa melawan perintah bosnya?


“Kamu tidak boleh jauh dari pandangan kita. Ayo masuk!” sahut Erza yang sama kejamnya.


Dia berjalan gagah memasuki kafe. Lalu Serhan yang penuh kharisma juga melangkah masuk ke dalam kafe. Cherry pun mengekori mereka.


Beberapa meja telah diresevarsi sebelumnya. Dan para staf dapur menempati meja-meja yang di pesan itu. Erza dan Serhan duduk di meja yang sama. Begitu pula Cherry yang tak boleh jauh-jauh, duduk satu meja dengan mereka berdua.


Semua staf dapur memandangi Cherry dengan beragam ekspresi. Sebagian heran mengapa Cherry bisa diajak duduk satu meja dengan dua pria keren itu.


Sebagian hanya ikut-ikutan melihat dan mereka bersikap masa bodoh. Sebagian lainnya menatap Cherry sambil berpikir Cherry hebat, begitu beruntung bisa semeja dengan dua orang pria berparas menawan. Dan segelintir kaum hawa yang iri menatap Cherry dengan api membara di pelupuk mata mereka.


Dan di antara yang menaruh rasa cemburu sebesar bola salju adalah Irene. Ia terbayang bagaimana tadi ia telah mentah-mentah ditolak oleh Erza. Tapi Cherry malah bukan hanya bersama Erza, tapi juga Serhan. Dua orang yang sangat sulit untuk dijangkau Irene. Dan Cherry dengan tampang lugunya dan sok alim itu justru mudah saja mendapat perhatian mereka.


Bak rubah betina Irene tak kehabisan akal. Tiba-tiba muncul ide brilian di otaknya yang tak encer itu. Ia pun langsung menjalankan aksinya.


Dalam sekejap Irene sudah berada di depan meja Cherry. Ia berlagak layaknya gadis manis, tersenyum sambil tersipu kepada Erza dan Serhan.


“Cherry, aku boleh duduk di sebelahmu?” tanya Irene bersuara lembut.


Cherry hampir saja mengiyakan sebelum Erza secepat kilat menyambar bicara.


“Cari saja tempat lain! Di sini tidak ada tempat untukmu,” jawab Erza ketus.


“Aku lihat kursinya masih kosong,” balas Irene pantang mundur.


“Ya, tapi kursi ini bukan untukmu. Aku tidak mengundangmu untuk duduk di kursi itu. Sebaiknya kamu duduk bersama teman-temanmu saja,” kata Erza lantang mengusir Irene.


“Tapi Cherry bisa duduk di sini. Aku juga temannya. Kenapa aku malah dilarang duduk bersama temanku sendiri?” Masih belum menyerah Irene tambah merajuk.


“Kamu mengganggu saja. Di sini aku bosnya. Aku yang memberikan perintah! Pergi sana, kalau kamu tidak mau aku pecat!” seru Serhan setengah membentak Irene.


Sejurus itu Irene syok. Wajahnya kisut. Dan dia pun dengan tak rela hati beringsut. Ia kembali ke mejanya.


“Benar dia itu temanmu?” tanya Serhan sambil mengalihkan pandangan pada Cherry.


“Kita kan teman kerja,” jawab Cherry.


“Wanita seperti itu tidak cocok berteman denganmu. Keberadaan dia di sekitarmu bisa merusak kepolosanmu. Kau jangan menirunya! Jangan menggoda pria seenaknya seperti dia!!” kata Serhan dengan wajah mengeras memperingati Cherry.

__ADS_1


“Ya,” jawab Cherry singkat saja.


__ADS_2