
Bertangan dingin, Chef Delinka memperagakan teknik plating pada menu nasi kuning yang sederhana menjadi eksklusif. Nasi kuning disajikan dalam porsi kecil. Dengan dibentuk tiga bulatan kecil padat, yang berbaris horizontal di piring putih bentuk bundar yang datar dan besar.
Di atas nasi, Delinka meletakkan sepotong perkedel jagung jamur berbentuk bulat kecil sempurna, seukuran nasi dan suwiran ayam putih kecoklatan dengan posisi tumpuk menyilang. Saus sambal merah dioleskan di satu sisi kosong, lalu menggunakan sendok ditarik sedikit memanjang. Mentimun dan tomat dibentuk menjadi potongan cantik mungil. Dan ditata di dekat saus secara serasi.
Di bagian sudut yang lain Delinka menaruh potongan kerupuk kecil bentuk persegi dan di atasnya diletakkan belahan telur puyuh rebus bumbu kuning kemerahan yang bergerigi di bagian pinggirannya. Lalu, titik-titik kecil saus merah ditambahkan di bagian kosong piring.
Terakhir Delinka memberi sentuhan tambahan berupa sedikit taburan bawang goreng sekitar titik saus, dan dua sendok balado kentang ati yang tercecer rapi mengelilingi tiga bulatan nasi. Tak lupa Delinka memberi garnis daun peterseli untuk percantik hidangan. Seporsi kecil nasi kuning tampak memukau mata layaknya keindahan karya seni. Dan menggugah selera bagi yang melihatnya.
Satu menu lagi, masih berupa nasi kuning dengan bahan pelengkap yang berbeda dan porsi lebih besar. Komposisi bahan dan warna terlihat apik tertata di atas piring besar berbentuk lingkaran. Meski komposisi bahan lengkap tapi masih tersisa ruang kosong di piring putih.
Nasi dicetak bulat sedang dengan ukuran tidak tebal. Kemudian disusun tiga bagian ke atas. Dan tiap lapisan diisi potongan daging tipis berbumbu merah dengan ukuran sama persis dengan lingkaran nasi. Di bagian lapisan nasi teratas ditaruh secukupnya kentang kering tipis warna merah. Dan ditambahkan keripik tempe segitiga yang dibuat memiring dan sedikit tegak. Lalu, sentuhan garnis berupa daun kemangi tertempel di keripik tempe.
Delinka juga menuangkan sambal kacang yang kental dan bertekstur dengan sendok, menjadi tiga titik besar. Lalu tepat di atas sambal Delinka menaruh tiga potong telur dadar yang diiris menggulung dengan ukuran pendek yang ditata berdiri dan berjajar, dengan sedikit berjarak dengan nasi. Di atasnya ditaburi lagi tempe kering kacang cabe dengan sedikit tertumpah ke bawah hingga mengenai sambal.
Tak lupa Delinka memberi garnis cantik berupa mentimun berbentuk bunga mawar di sisi kosong piring dan cabe merah yang di iris tipis pendek mengelilingi bunga mentimun.
Setiap gerakan tangan Chef yang terampil diperhatikan penuh oleh para personil dapur. Cherry mengingat detil proses bagaimana cara Delinka mengukir karya seni di atas piring.
“Dua menu ini adalah contoh presentasi nasi kuning. Saya sengaja membuat dua, karena yang satu berporsi kecil dan satu berporsi cukup besar. Jadi, kita bisa memberi dua pilihan menu yang sama pada pelanggan. Dan tentu dengan harga yang berbeda,” terang Delinka usai mengusap-usap tangannya dengan kain lap bersih.
“Apa kita tidak bisa memilih salah satu saja? Karena akan lebih efektif,” kata Erza yang kurang setuju dengan usulan Delinka.
__ADS_1
“Ya, kita bisa mencoba keduanya. Lalu, kita lihat menu mana yang lebih disukai. Dan untuk beberapa menu lainnya saya juga akan membuat menjadi dua pilihan. Dengan porsi kecil dan porsi lebih besar. Karena selera pengunjung kadang berbeda. Jika respon pilihan dua menu baik, maka kita bisa melanjutkannya. Tapi, bila hanya salah satu yang mendapat respon baik maka menu yang lainnya akan ditarik lagi,” timpal Delinka sambil menatap lurus ke depan area dapur.
“Aku kira itu kurang efisien. Malah akan ada pemborosan biaya,” tepis Erza lagi-lagi tak sepakat.
“Masalah biaya bukan jadi urusan kita. Saya sudah dapat izin dari Serhan mengenai percobaan menu ini. Dan dia tidak memperhitungkan soal biaya. Demi kemajuan restoran kita harus berani bertaruh. Dan tentu kita juga harus bisa optimis bahwa kita akan berhasil,” pungkas Delinka seraya melirik Erza.
“Jika kita harus membuat dua variasi pada tiap menu, waktu yang dibutuhkan pun akan lebih lama untuk mempersiapkannya. Kau pun akan kelelahan jika harus lembur terus untuk mencipta plating baru,” kata Erza menyanggah.
Delinka tersenyum tipis. Tanpa melirik Erza ia menjawab dengan tenang dan percaya diri.
“Saya punya solusi untuk mempercepat waktu. Saya akan membutuhkan dukungan penuh kalian untuk membantu saya mengkreasikan presentasi menu,” ujar Delinka menerangkan dengan binar menghangatkan. “Kalian bisa membuat kreasi dalam plating secantik mungkin dan disesuaikan dengan konsep yang kita miliki. Atau jika perlu kalian bisa memasukkan filosofi dalam sajian menu. Setiap orang di dapur berkesempatan melakukannya. Dan anggap saja ini sebagai kompetisi untuk kalian. Dan kalian juga bisa mengubah sedikit bahan tanpa mengganti makanan utama. Begitu pun dengan resepnya,” imbuh Delinka diakhiri senyum mengembang.
“Apa saya juga bisa ikut serta?” tanya Erza tak mau ketinggalan berpartisipasi.
“Tentu saja. Aku paling mengharapkanmu untuk mengeluarkan bakat senimu dalam penyajian makanan yang cantik. Aku sangat tahu kemampuanmu, Sous chef,” kata Delinka bicara setengah formal dengan nada yang terdengar akrab.
“Siap, Chef!” Erza tersenyum lebar.
“Saya akan memberikan daftar menu yang yang akan diubah presentasinya. Dan juga saya akan memberikan waktu tiga hari untuk kalian. Kalian bisa memilih paling banyak tiga menu saja. Tapi, sebelumnya kalian harus melapor pada saya,” ujar Delinka.
Mata Cherry terlihat makin berbinar cerah saat memandang Delinka. Ide-ide bermunculan dalam kepalanya. Rasanya tak sabar untuk menunjukkan bakat sentuhan tangannya.
__ADS_1
“Oh ya, selama kita melakukan persiapan perubahan menu, jam buka restoran akan dikurangi. Restoran juga tutup sedikit lebih awal. Kalian juga bisa menggunakan dapur sebelum restoran buka dan sesudah restoran tutup. Dan untuk penggunaan bahan akan disediakan terpisah termasuk bahan sisa yang masih bagus. Kalian juga bisa mengekreasikan maksimal tiga menu. Saya akan memilih satu presentasi pada masing-masing menu. Dan menu tersebut akan masuk dalam daftar buku menu. Jadi, saya menunggu kemampuan terbaik kalian,” jelas Delinka.
“Baik, Chef!!!” jawab semua serempak.
“Sekarang kita mulai bekerja. Kita harus yakin restoran hari ini akan ramai kembali,” seru Delinka menyemangati bawahannya.
“Ya, Chef!” Cherry membalas lantang. Dan begitu juga dengan yang lainnya.
Mereka memulai persiapan sesuai dengan kegiatan rutin yang mereka lakukan sehari-hari. Walau dalam beberapa hal terjadi pemangkasan persediaan jumlah menu tertentu yang berkurang penjualannya.
***
Jam istirahat Cherry mampir ke ruang loker dahulu. Dan Cherry sempat bingung mendapati di gagang pintu lokernya tergantung bungkusan plastik. Ia yakin bungkusan itu bukan miliknya.
Karena penasaran Cherry mengambil plastik yang tergantung. Ternyata di dalamnya berisi kotak makanan berwarna hitam. Dan di atas tutupnya terselip sebuah kertas memo.
Kamu perlu makan yang banyak dan bergizi. Karena tubuhmu terlihat makin kurus. Habiskan makanannya! Dan harus dimakan sekarang
Setelah membaca pesan Cherry tambah bingung. Tak tertulis sebuah nama di memo. Apa mungkin temannya sedang mengerjai nya? Atau seseorang sengaja iseng padanya?
Cherry yang tak mau banyak berpikir menaruh kertas memo dalam loker, mengambil dompetnya. Selesai menutup loker Cherry membawa kotak makanan ke ruang istirahat.
__ADS_1