Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
1. Indira Putri


__ADS_3

Perkenalkan, namaku Indira Putri. Sepertinya aku adalah anak kedua dari mama dan papaku, karena aku cuma punya satu orang kakak yang lebih cocok disebut musuh bebuyutan bernama Andira Putra, dan mungkin aku juga adalah anak bungsu karena aku tidak punya adik.


Tahu dong yah, kalau anak bungsu itu pasti terkenal dengan sifat manjanya, tapi aku menolak anggapan itu. Kalau ditanya alasannya, ya... cuma karna ngga mau ngaku aja sih, lagian ya... emangnya salah manja sama orang tua sendiri? itu bukan kejahatan juga kan? kecuali manja ama kamu... hee.. hee(maunya)


Semua keluargaku selalu bersikap protektif padaku, karna aku dianggap anak yang paling mengkhawatirkan, paling ceroboh dan paling bikin jantungan. Buat yang baca pasti terdengar berlebihan ya?


Berasal dari keluarga yang super kaya raya, punya rumah mewah dan banyak villa serta sederet mobil canggih keluaran terbaru yang terparkir rapi di garasi. Kekayaan yang tidak akan habis dipakai oleh tujuh turunan, memiliki asisten rumah tangga yang ngga terhitung dan hampir bisa melakukan hal apapun hanya dengan menjentikkan jari.


Eitsss tunggu dulu....


Itu semua hanya ada di cerita cerita dalam novel laris yang biasa aku baca. Nyatanya... keluargaku hanyalah keluarga biasa dengan fasilitas biasa juga. Papaku memang kerja kantoran tapi bukan jadi seorang bos, dan mamaku adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sehari harinya disibukkan dengan menjaga toko kecil kami di depan rumah.


Jangankan mobil di garasi, garasinya aja ngga punya. Yang kami punya hanya dua buah motor(emang motor itu buah yah?) yang digunakan papaku kerja dan yang satu lagi digunakan kakakku untuk pergi kuliah itupun masih nyicil.


Apa itu terdengar menyedihkan? Jawabannya TIDAK!! Kenapa? Karena keluargaku terasa sempurna buatku


Kalau ada yang bilang keluarga kami miskin, aku rasa ngga juga. Bukankah kebahagiaan itu ngga bisa dinilai hanya dari materi saja kan? Untuk kebutuhan sehari hari kami tidak kekurangan, biaya sekolah dan biaya kuliah kakakku semuanya bisa terpenuhi.


Memang pendapatan papa tuh ngga berlebih tapi cukup untuk kami sekeluarga.


"Jadilah manusia yang pandai bersyukur**" itulah nasehat yang biasa papa sebutkan.


" Ayo naik! "


" Ngga ada kesempatan kedua ya kak? "


" Ngga ada! "


" .......... "


" Kamu mau kayak kemarin lagi yah? Hah! Kamu udah lupa? "


" Kakak... kali ini aku bisa kok, boleh ya "

__ADS_1


" Indi! mau naik sendiri atau mau dilipat terus kakak masukin ke bagasi? "


" Ih! kakak jahat! "


" Bodo ama! Cepet naik! Kamu mau terlambat ke sekolah? "


Seperti itulah sikap yang selalu ditunjukkan kakakku, setelah sebelumnya aku membuat seluruh keluarga khawatir, karena aku sempet nyasar saat berusaha pulang sekolah sendiri. Dengan susah payah aku mendapatkan izin dari papa dan mama, tentunya dengan rengekan yang biasa aku lakukan saat meminta sesuatu.


Bermaksud ingin membuktikan kemandirian dengan mencoba berangkat dan pulang sekolah sendiri yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.


Tapi kenyataan malah jauh lebih sulit dari perkiraanku. Aku berada di tempat yang terasa sangat asing(ya iyalah namanya juga nyasar), hanya bisa berdiam diri di pinggir jalan.


Kalau saat itu aku ngga sadar sedang berada di tempat umum, pasti aku sudah menangis sekeras kerasnya(cengeng).Kalian tahu ngga? Apa yang ada dipikiranku saat ini? (ya jelas nggaklah, emang gue mbah dukun yang bisa baca pikiran orang) Aku sedang membayangkan Kak Andira (oh) kenapa harus Kak Andira? karena dialah satu satunya orang yang akan meledek habis habisan karena kebodohanku kali ini.(syukurin)


Bahkan aku melupakan kalau sekarang ini aku membawa benda yang bisa jadi penyelamat, alat komunikasi yang orang orang biasa menyebutnya dengan handphone(hp) sampai benda itu berbunyi dan menyadarkan otakku dari lamunan(untung tuh hp ngga lowbat,kayak yg biasa disinetron gitu). Kak Andira ada di ujung saluran telpon, kali ini tidak dengan kemarahan tapi dengan kekhawatiran


" Dimana? "


" Share lokasi "


" Iya "


Menunggu sambil makan siang di rumah orang


Brum... brum...


Suara motor Kak Andira yang sangat aku kenal benar benar membuatku sangat bahagia, bahagia yang lebih bahagia dari pada denger berita sekolah diliburkan atau dipulangkan lebih cepat. Gengsi? lupakan itu dulu untuk sementara, sekarang lebih baik diam tanpa banyak drama dan sampai di rumah dengan selamat.


Sebelumnya...


Ternyata Kak Andira sudah pulang kuliah dan menunggu di rumah, walaupun mama dan papa sudah memberi izin tapi tidak dengan Kak Andira. Mama mulai panik saat menyadari kalau hari sudah sore, tapi aku belum absen muka dihadapan nyonya besar di rumah kami yang ngga begitu besar ini. Tanpa perlu diberi perintah lagi oleh mama Kak Andira langsung menelpon dan menjemput aku pulang.


Gagal sudah niat buat bangga mama dan papa, kalau anak mereka yang cantik ini bisa mandiri (ke-pd-an sih). Mandiri? bahkan hanya pulang sekolah sendiri aja ngga bisa (kasian).

__ADS_1


Sebenernya sikap Kak Andira itu selalu membuat teman temanku iri, karena mereka ingin merasakan punya kakak yang sangat perhatian(buat gue boleh ngga?). Iya sih bener... Kak Andira memang perhatian, pake banget malah(boleh gue culik dong yah).



ngarep bgt punya kakak kayak gini


Kak Andira berusaha untuk selalu menjemput dan mengantarkan aku sekolah di samping kesibukkan kuliahnya yang hampir selesai. Kalau ada yang belum mengenalku,maka orang itu akan langsung mengira kalau Kak Andira adalah pacarku. Hanya teman yang dekat denganku pasti mengenal Kak Andira, karena Kak Andira selain punya tampanh lumayan dia juga pandai bergaul.


Bohong ding he... he


Kak Andira merasa harus mengenal semua teman temanku karena tidak mau kalau adiknya ini salah dalam bergaul.


Mama dan papa memang menyerahkan tanggung jawabnya pada Kak Andira untuk memastikan keamanan dan juga pergaulanku, secara aku adalah anak perempuan. Itulah alasan yang selalu kakakku gunakan untuk memerintahku dan juga selalu bisa membuatku menuruti semua keinginannya.


Hubungan persaudaraan memang selalu diramaikan dengan pertengkaran, dan Kak Andira yang selalu memulai hampir semua perdebatan dengan sikap jahilnya. Sebenarnya aku bisa melihat kalau Kak Andira sangat menyayangiku seperti aku menyayanginya bahkan mungkin lebih, hanya saja cara caranya yang kadang kelewatan.


Kak Andira akan berdiri paling depan untuk melindungiku dan siap setiap saat aku membutuhkan. Laki laki yang paling aku sayangi setelah papa.


Sebelum ada seorang yang akan merebut perhatian Kak Andira suatu saat nanti, maka sekarang aku akan menikmati kebersamaanku dengan kak Andira dan tentunya mama dan papa.


"Seseorang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapannya, tetapi hebat dalam tindakannya"


***


Hai**... Salken ya


Ini adalah tulisan pertamaku, dan terbuka untuk kritik dan sarannya


terima kasih


Happy reading


Si_Ro

__ADS_1


__ADS_2