Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
3. VERSUS


__ADS_3

-ANDIRA-


" Aku ngga tahu ada dimana "


" ...... "


" Kak... aku takut "


Andira langsung menyambar kunci dan menstarter motor, seolah tahu kalo hal seperti ini pasti akan terjadi. Satu satunya orang yang selalu mampu membuatnya meninggalkan apapun yang sedang dikerjakan saat dia dibutuhkan.


Indira adalah orang yang selalu sukses membuat Andira yang berstatus sebagai seorang kakak tapi malah terlihat seperti tukang ojeg. Beruntung tugas kampusnya bisa diselesaikan dengan cepat.


Menarik gas dan menembus kemacetan jakarta, konsentrasinya terbelah antara jalanan dan keselamatan adiknya yang sekarang berada di tempat yang tidak dikenalnya.


Rasa khawatir yang begitu besar membuatnya menyalip banyak kendaraan di depannya bahkan hampir tersenggol body mobil pengguna jalan lain. Yang Andira tahu sekarang adalah, dia harus secepatnya menemukan keberadaan sang adik.


Malam sebelumnya...


" Pah... besok aku mau pulang sekolah sendiri ya " rengekan Indi sang adik kepada papanya


" Kamu yakin bisa "


" Bisa dong, aku kan udah gede pah "


Dengan begitu mudahnya papa Andira mengizinkan Indi untuk bisa membuktikan kalau dirinya sudah besar dan bisa pulang sekolah sendiri. Sebenarnya Andira sangat tidak setuju tapi besok dirinya juga ada tugas yang harus diselesaikan di kampus dan belum jelas kapan akan selesai.


Dan benar juga tebakan Andira, adik satu satunya yang biasa diantar jemput olehnya tanpa bayaran dan kadang terkadang nyebelin itu menjawab telfonnya dengan nada bergetar.


Andira tahu betul kalau adiknya sedang katakutan. Entah keadaan apa yang menimpa Indi sampai dia tidak segalak biasanya.


Setelah menempuh perjalanan yang bikin deg degan, akhirnya Andira menemukan adiknya. Tapi apa yang terlihat di mata Andira adalah, adiknya bersama dengan seorang cowok yang belum dia kenal.


" Siapa lo?!"


" Saya temennya kak "


" Teman gimana? "


" Temen satu sekolah kak, tadi ibu yang nemuin dia di depan rumah"(ha... haa... nemu, emang Indi anak kucing)


Andira memandang Indi tajam, mencari sesuatu yang mungkin akan menjadi pertanyaan. Setelah dilihatnya sang adik yang tampak baik baik saja barulah Andira mulai akan menanyai Indi.


" Eh... Ini siapa Indi?" tiba tiba datang seorang ibu yang pastinya tidak dikenal oleh Andira

__ADS_1


" Ini kakakku bu " jawab Ind


" Silahkan masuk dulu nak " tawar si ibu


" Iya bu, terima kasih " Andira menjawab sambil memandang Indi seolah meminta penjelasan.


Sebelum mengikuti langkah sang pemilik rumah, Andira langsung menelpon mamanya yang pastinya sedang mengkhawatirkan keadaan anak perempuannya.


Setelah perbincangan yang panjang dan lebar dengan ibu dan anaknya yang mengaku teman sang adik, Andira tahu kalau ibu itu telah membantu Indi yang tadi nyasar. Yang perlu diingat adalah Ibu Winda dan Arvin adalah penyelamat adiknya.


" Terima kasih ya bu, sudah mau menampung adik saya yang bodoh ini "


" Sama sama nak Andi, dan buat kamu Indi... sering sering main kesini yah, biar Arvin anak ibu punya teman"


" Iya bu, sekali lagi terima kasih banyak untuk semua bantuannya dan untuk makan siangnya juga"


Andira dan adiknya menyalimi Bu Winda dan berpamitan pulang. Awalnya Andira ingin memarahi Indi yang membuat seluruh keluarga cemas, tapi melihat Indi yang dari tadi tidak banyak bicara malah membuat Andira merasa bersalah.


" Ngga ada yang namanya berangkat dan pulang sekolah sendiri, kakak ngga akan pernah izinin itu "


" ...... "


" Kalau kakak memang terpaksa ngga bisa, kakak akan meminta tolong Sigit temen kakak buat jemput kamu "


" ...... "


" Iya kak "


" Bagus! Ngga pake drama di depan mama dan papa ya! "


" Iya "


-ARVIN-


Tiba tiba aja gue lihat seorang gadis yang belum gue kenal sebelumnya, masuk ke dalam rumah gue bersamaan dengan ibu. Terlihat jelas kalau dia sedang ketakutan, dan tanpa banyak mikir, jiwa usil gue bangkit dengan sendirinya.


" Lo siapa? orang nyasar ya? "


" ....... "


" Ngga usah takut, gue ngga akan nyakar kok " (ngga nyakar tapi nggigit, secara belum jinak)


" Silahkan duduk dulu nak Indi, ini Arvin anak ibu satu satunya " kata ibu mencoba menenangkan dan mengambilkan air minum.

__ADS_1


" Iya bu, terima kasih "


Indira Putri, itulah nama orang ilang yang sekarang ini duduk di depan gue dan sedang mencoba menghabiskan makan siang yang disediakan ibu.


Dia menjawab semua pertanyaan dari ibu tapi tidak menjawab pertanyaan dari gue, why?....


Gue tahu alamat rumah Indi yang baru saja disebutkannya kepada ibu dan gue menawarkan diri untuk mengantarnya pulang tapi ditolak menta mentah, sudah kuduga... he... hee


(ditolak mentah mentah, kalo mateng diterima kali bang)


Yang gue lakukan saat ini adalah menemaninya menunggu kakaknya di depan rumah yang katanya sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.


Tidak ada obrolan terjadi antara gua dan Indi setelah berada di halaman, dia keliatan takut banget ama gue. Kenapa coba? Emangnya gue ini macan apa? (bisa jadi bang)


Gue serasa lagi di introgasi saat kakak Indi turun dari motornya dan memandang gue curiga, padahal gue ngga ngapa ngapain adiknya ini loh. (tampang lo mesum kali bang)


Kakak beradik yang bener bener bikin gue kesel, adiknya yang diem aja kalo ditanya dan kakaknya yang langsung pengen melempar gue ke laut saat liat gue berduaan dengan adiknya.


Tampang gue semencurigakan itukah? Padahal tiap hari ibu bilang kalau gue ini anaknya yang paling ganteng. Dan gara gara kakak beradik ini gue jadi meragukan semua kata kata ibu.


Sejak gue masuk sekolah ini, kehidupan gue sedikit terganggu. Apalagi kalau bukan karena risih saat banyak murid perempuan mencuri curi pandang ke gua dan bahkan ada yang mengirim surat cinta.


Dari dulu gue emang tipe orang yang introvert dan tentunya lebih suka sendiri. Sampai...


BRUUUK.....


Seseorang yang berjalan ngga pake matanya nabrak gue, dan buku buku berhamburan, syukurin loh... hee... hee


Ini bukan pertama kalinya ada orang yang nabrak gue, dan hampir semuanya disengaja dan berakhir dengan meminta nomor hp gue, heh basi.


DUUKK...


Gue mencoba membantu mengambil buku buku yang berserakan di lantai, tapi malah terjadi adu jidat. Gue kaget setelah tahu kalau orang yang baru saja nabrak gue itu adalah orang ilang yang kemarin ditampung oleh ibu.


Merah.... itulah warna jidat Indi saat ini.Awalnya gue ngga tahu kenapa matanya melirik kanan dan kiri saat pandangan kami bertemu, gue sempet mikir kalau itu adalah efek dari tabrakan tadi.


Kode yang Indi berikan mungkin berarti gue ngga perlu melanjutkan basa basi dan ngusir gue secara halus.


Segera gue tinggalkan Indi yang masih saja diam seperti kemarin, tapi tidak dengan teman temannya yang tersenyum manis ke arah gue. Temen temennya aja baik, kok dia malah jutek banget.


***


Hai...

__ADS_1


maaf kalo banyak typo ya


Si_Ro


__ADS_2