
Indi sedang bersantai di depan tv bersama Andira. Sedangkan mama Amrita masih berada di rumah Rosita. Keduanya kompak saling memandang seolah memberi perintah untuk membuka pintu, saat ada yang mengetuk pintu rumah mereka.
Teman teman dari Rosita semasa sekolah dan juga teman dari lingkungan tetangga datang menemui Indi. Sebelum datang ke rumah Rosita untuk memberi ucapan selamat, mereka menyempatkan diri untuk menghampiri Indi dan mengajaknya dateng barengan ke acara pesta muda mudi.
Pernikahan Rosita dan Sigit memang diadakan sederhana dan tidak menyebar undangan. Tapi Rosita tetap mengadakan pesta untuk menerima kehadiran teman dan para sahabat.
“Indi, lu ga ikut ke rumah Rosita?” salah satu orang bertanya pada Indi.
“Ngga!”
“Kenapa? Lo kan sahabatnya Rosita. Ada sahabatnya yang lagi nikah kok lo malah ngga dateng sih!. Rumah kalian juga deketan, masa lo malah ga ikutan gabung?”
Rentetan pertanyaan bernada sinis mengarah pada Indi, saat rombongan itu melihat Indi dalam pakaian santai.
Mereka tidak tahu, apa yang sudah Indi alami hari ini. Entah harus menggunakan kekuatan seperti apa, agar bisa tetap berdiri seperti Indi.
Berdiri dengan senyuman tulus dan ikut berbahagia. Mungkin itu terdengar gila. Tapi itulah yang yang bisa Indi berikan untuk orang yang sudah pernah memberikan kebahagiaan padanya. Untuk yang terakhir. Mungkin ?
Indi mendapat pandangan jelek dari para teman Rosita, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi antara Rosita dan juga Indi. Mereka juga tidak tahu bagaimana pernikahan ini bisa terjadi.
Seandainya mereka tahu, kalau hari ini Indi sudah sangat berbaik hati untuk ikut membantu kelancaran acara pernikahan. Dengan statusnya yang masih menjadi pacar Sigit, karena memang tidak ada kata putus diantara keduanya.
Apapun alasannya, Sigit telah menghianati Indi. Disaat keduanya masih saling mencintai.
Alih alih berencara menghancurkan atau mengacaukan acara, Indi malah ikut tersenyum bahagia untuk kedua orang yang menjadi sumber kehancuran hatinya.
Andira yang memperhatikan Indi langsung mengambil alih untuk menjawab mulut mulut lemes yang sudah mulai keterlaluan.
“Justru karena kita adalah sahabatnya, makanya kita sudah membantu acaranya dari pagi sampai selesai. Sekarang kalian baru dateng, tapi cara ngomong kalian seolah hanya kalian yang jadi sahabatnya Rosita. Gue sama Indi bukan cuma sahabatnya Rosita tapi juga masih keluarga. Kalo kalian mau dateng ke acara, ya udah dateng aja. Indi ngga harus ikut bareng kalian kan!”
__ADS_1
Perkataan dari Andira mampu membungkam mulut perempuan yang sedari tadi menyindir Indi. Walaupun Indi hanya diam saja, tapi Andira tidak terima adiknya mendapat tatapan merendahkan dari para sahabat Rosita.
-
Hari ini, Indi berangkat sekolah seperti biasa. Arvin sudah menunggu kedatangan Indi di depan gerbang sekolah. Rosa, levi dan Nuraeni terus saja menggoda Arvin yang sedari tadi terlihat gelisah.
“Cie…nungguin siapa sih, segitunya banget ya tuh muka “ ledek Rosa. Arvin tidak memberi tanggapan apa apa. Dia terus melihat ke arah jalan yang biasa Indi lewati. Dan yang ditunggunya pun akhirnya datang.
“Pagi Kak Andira” serempak ketiga sahabat Indi menyapa Andira yang baru saja menghentikan motornya dan membuka kaca helm.
“Pagi juga” balas Andira.
Arvin langsung menghampiri Indi. Kemarin setelah acara pernikahan Sigit dan Rosita, Arvin tidak sempat ngobrol dengan Indi. Arvin membiarkan Indi pulang dan masuk ke dalam ke kamarnya. Setelah memastikan Indi dalam keadaan baik baik saja, Arvin pulang ke rumahnya sendiri.
“Lo ngga papakan Ndi?” Arvin memandangi Indi. Seolah ingin menggali lubuk hati Indi dan melihat sendiri kalau semuanya memang dalam keadaan baik.
Indi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Berpamitan pada Andira dan melangkah masuk ke area sekolahnya.
“Lo bantuin gue ya, bantu jagain Indi. “ Andira kembali menurunkan kaca helmnya dan berlalu dari hadapan Arvin.
Di jam Istirahat, Arvin kembali mencari keberadaan Indi dan menghampirinya di kantin. Hanya ikut makan dan nimbrung, tapi biasanya sih malah ngrecokin.
“Pulangnya bareng gue ya?” Arvin menawarkan tumpangan gratis pada Indi, tentu ini bukan hal aneh.
“Kenapa harus bareng sama lo? Indikan punya pacar kali, ntar pacarnya cemburu lagi “ Rosa tiba tiba nyeletuk sambil memakan makan siangnya.
Arvin langsung memandangi Indi. Ingin rasanya Arvin melakban mulut Rosa yang sudah berani mengungkit luka hati Indi karna orang yang baru saja disebutnya.
“Sekarang gue ga akan pulang bareng Kak Sigit lagi “ jawab Indi santai
“kenapa?! Lo lagi berantem ya?” Gantian Levi yang kepo
__ADS_1
“Kak Sigit kan udah nikah” jawa Indi lagi, dan masih dalam mode santai
“Hah!!!!” Serempak ketiga sahabat Indi menghentikan acara makan siang dengan mata melotot, bahkan Nuraeni sempat tersedak.
“Kapan? Sama siapa? Kok bisa? Trus nasib hubungannya sama lo gimana?” Pertanyaan dari Rosa dan Levi saling bersahutan.
Indi menceritakan semua yang dialaminya kemarin pada genknya. Semuanya tidak bisa lagi melanjutkan makan. Ketiganya dan juga Arvin terus saja memandangi Indi yang masih bercerita.
Nuraeni mulai meneteskan air matanya. Tidak menyangka kalau Indi, sahabatnya bisa mengalami nasib percintaan yang begitu menyakitkan. Rosa yang biasanya paling jutek dan galak berubah jadi melow. Levi tidak berkata apa apa, mulutnya terkunci dan tidak bisa mengeluarkan komentar apapun.
“Jadi Kak SIgit menikahi Kak Rosita, dengan statusnya yang masih jadi pacar lo Ndi? Bagaimana kak Sigit bisa sejahat itu, kalian bahkan belum jadi mantan” Akhirnya Rosa mengutarakan isi hati yang ikut tersakiti.
Arvin masih setia memandangi Indi yang sudah berada dipelukan para sahabatnya. Ingin rasanya Arvin juga ikut gabung. Tapi dengan resiko bakal kena tamparan atau tendangan dari Indi and the genk, Arvin mengurungkan niatnya. Belum lagi, Arvin akan mendapat julukan si mesum dari satu sekolahan kalau sampai Arvin melaksanakan keinginannya tersebut.
-
Sesampainya di rumah, Indi melihat ada yang beda dari biasanya. Hari ini warung mamanya itu tutup, tapi Indi masih berpikir positif. Mungkin mamanya capek setelah membantu acara pernikahan kemarin. Sampai Indi melihat motor papa Bagas yang sudah nangkring di dapan rumah, Indi juga tidak mempermasalahkan. Mungkin papanya hari ini izin. Tapi ada apa ya?
Saat Indi masuk dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum, Indi mendengar suara tangisan yang berasal dari kamar mamanya itu. Walaupun pintu kamar mamanya tertutup, Indi masih bisa mendengar suara mama dan papanya.
“Tenang dulu mah” itulah yang didengar oleh Indi dari luar kamar.
Indi mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Indi masih berdiri di depan kamar orang tuanya, sampai Indi melihat kakaknya pulang dengan wajah yang tegang.
“Ada apa sebenarnya?” Tanya Indi dalam hati
***
Lanjut ya
__ADS_1