Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
7. KETAKUTAN DAN CEMBURU


__ADS_3

" Iya kak, Indi janji" Indi memeluk kakaknya yang sedang marah.


Andira akhirnya mengetahui kalau perubahan Indi selama ini disebabkan oleh Sigit sahabatnya. Andira memang tidak melarang tapi juga tidak mendukung hubungan itu.


Andira berharap perasaan adiknya hanya sekedar rasa kagum semata, Andira takut kalau adiknya itu akan merasakan sakit hati pada akhirnya.


" Jangan beritahu Sigit kalau kakak sudah tahu hubungan kalian" kata Andira


" Iya kak, tapi kenapa? " Tanya Indi yang tidak mengerti maksud kakaknya itu, padahal Sigit adalah sahabat kakaknya.


" Bukankah kalian memang berencana untuk merahasiakannya kan? Kakak ngga mau persahabatan kakak dan Sigit berubah jadi aneh apalagi renggang hanya karna kamu! " Jawab Andira setengah berbisik, takut kemarahannya itu terdengar oleh mama Amrita.


" Iya kak, Indi ngerti" jawab Indi kembali menunduk.


Andira membuang nafas pelan dan memeluk Indi yang ketakuatan karena kemarahannya. Andira masih tidak menyangka kalau adiknya ini mampu membohonginya dengan menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri.


Andira tidak tahu apa yang akan dia katakan pada mama Amrita dan juga papanya. Orang tuanya itu merasakan perubahan Indi semenjak pacaran dengan Indi dan meminta Andira mencari tahu alasannya.


* Di sekolah


" Lo kenapa Indi? Dari tadi diem aja? " Tanya Levi


" Lagi PMS yah? " Sambung Rosa


" Lo ngga lagi putus cinta kan?! " Kali ini Nuraeni menambahkan.


Indi memandangi sahabatnya satu persatu tanpa menjawab, Indi masih terbayang kemarahan kakaknya. Dan sekarang Indi juga sedang membayangkan kemarahan genknya. Seandainya mereka tahu kalau Indi ternyata menyembunyikan fakta kalau Indi sudah punya pacar. Padahal Levi selalu mencoba mencarikannya gebetan buat Indi.


" Gue harus jawab apa ini, apa gue ngaku aja ya kalau gue punya pacar dan semalem dimarahin Kak Andira? Bisa digantung di pohon toge nih judulnya" batin Indi.


" Cerita... nggak! Cerita... nggak! Cerita... nggak! "Itulah yang sedang dipikirkan Indi.


Dari kejauhan Arvin melihat Ini and the genk yang sedang duduk di kantin, dia langsung ikut nimbrung tanpa persetujuan. Tentunya Rosa langsung memasang senyum termanisnya ditambah formalin biar awet.


Arvin juga langsung menyedot minuman yang ada di meja, dan itu adalah milik Indi.


" Lo ngapain sih disini? Lo ngga punya temen lain apa!" Bentak Indi marah karna minumannya diembat Arvin tanpa permisi.


Arvin tidak menanggapi omelan Indi dan terus saja menyedot minuman milik Indi sampai habis dan langsung melangkah pergi meninggalkan meja dengan mengedipkan sebelah matanya kearah Indi.

__ADS_1


"Arvin! Kamu mau kemana? Ini minumanku masih ada kalau kamu masih haus" tawar Rosa mencegah kepergian Arvin sambil menyodorkan minumannya kearah Arvin.


Arvin terus berjalan tanpa menengok lagi ke belakang dan membiarkan Rosa memandang kepergiannya dengan perasaan kecewa.


Rosa yang merasa selalu dicuekin oleh Arvin menggerutu " Arvin kenapa sih?! kok cuma Indi yang diperhatiin, padahal kan gue ada disini juga."


" Sabar ya bu, saya ikut prihatin" Respon Nuraeni dengan nada yang dibuat buat dengan wajah sedih palsu tentunya.


Jam belajar hari ini telah selesai dan semua murid mulai meninggalkan kelas masing masing termasuk Indi and the genk.


" Indi, ibu kangen sama lo" kata Arvin menghampiri Indi yang berada di depan gerbang sekolah menunggu jemputan.


" Oh yah, gue juga kangen sama ibu. Sampaikan salam gue ke ibu ya" jawab Indi


" Gue anter ya" tawar Arvin


" Ngga usah, Kak Andira bakal jemput gue sebentar lagi kok" tolak Indi


Sebenarnya hari ini Andira tidak bisa menjemput Indi dan itu sudah pasti digantikan oleh Sigit. Indi tidak mau mengecewakan Sigit yang akan menjemputnya walaupun Indi sebenarnya merindukan ibunya Arvin yang sudah lama tidak dikunjunginya.


Obrolan Indi dan Arvin berlangsung cukup lama, tanpa disadari keduanya kalau sekarang ada sepasang mata yang sedang memperhatikan sambil menahan marahnya.


BRUM... BRUM...


Sigit menghentikan motornya di depan Indi tepat setelah Arvin pergi dan langsung memberikan helm yang memang disediakan khusus untuk gadisnya itu. Indi langsung senyum sumringah ke arah Sigit tapi tidak mendapat sambutan seperti biasanya.


Jika biasanya Sigit akan membawa Indi ke tempat biasa mereka makan siang, kali ini Sigit membawa Indi ke tempat yang belum pernah Indi datangi. " Kak! kita mau kemana? "Tanya Indi


Sigit tidak menjawab pertanyaan dari Indi dan terus menjalankan motornya dengan kecepatan yang terus ditambah, dan itu membuat Indi ketakutan.


" Turun! " Perintah Sigit pada Indi setelah mereka sampai di sebuah rumah. Indi bertambah takut dengan sikap Sigit. Indi melepaskan helm yang dipakainya.


Tanpa banyak bicara Sigit menarik tangan Indi masuk ke dalam rumah, dengan langkah yang sedikit terseok karna langkah panjang Sigit.


" Kak, ini rumah siapa? Kenapa kita kesini? Jangan menakutiku kak" Pinta Indi yang semakin ketakutan menahan tangis di dalam rumah yang seolah tak berpenghuni.


" Siapa cowok yang ngobrol sama kamu tadi!! " Bentak Sigit pada Indi.


Indi tahu siapa yang dimaksud oleh Sigit dan mulai menjelaskan kejadiannya yang sebenarnya. Sigit akhirnya tahu kejadian yang sebenarnya setelah mendengarkan penjelasan Indi, Sigit berjalan mendekati Indi dan memeluknya. " Maaf Indi, gue terlalu cemburu."

__ADS_1


Indi melepaskan pelukan Sigit dan menatap ke arah matanya. Ada rasa bahagia karena mendengar Sigit cemburu yang itu berarti, Sigit benar benar mencintainya. Itulah yang diajarkan teman temannya selama ini.


Tapi Indi juga merasa takut ketika kembali mengingat cara Sigit memperlakukannya saat dilanda cemburu. Baru semalam Indi menghadapi kemarahan Andira dan sekarang harus merasakannya lagi.


Sigit kembali memeluk Indi dan menundukkan kepalanya mengecup sekilas puncak kepala Indi. Indi tentu saja kaget, tubuh Indi mematung.


Papanya dan juga Andira sudah sangat sering mencium kepala Indi sebagai bentuk rasa sayang. Tapi ini pertama kalinya ada laki laki yang menciumnya selain papa dan kakaknya walaupun itu hanya ujung kepalanya.


Sigit tersenyum melihat Indi yang masih terdiam karena perlakuannya tadi, dan semakin mempererat pelukannya. " Kenapa? " Tanya Sigit pada Indi yang langsung membuat Indi menunduk malu.


" Kak! Ini rumah siapa? "Tanya Indi setelah Sigit mengajaknya duduk di sofa dan memberinya minum.


" Ini rumahku " Jawab Sigit memandangi pipi Indi yang masih bersemu.


" Kok sepi? "


" Ayah sama Ibu lagi pergi, jenguk nenek yang lagi sakit"


Sigit mengelus kepala Indi dan merapikan rambutnya yang sedikit acak acakan setelah membuka helm yang dikenakannya. Indi tersenyum bahagia, seolah Indi sudah melupakan perlakuan kasar yang baru saja diterimanya.


" Mimpikan gue ya" pinta Arvin


" Kakak juga ya"


" Ngga mau! " tolak Sigit


" Kok gitu sih, kakak jahat! " Indi cemberut


" Kalo gue mimpiin lo, gimana gue bawa motor pulang? Emangnya motornya bisa jalan sendiri?" Rayu Sigit pada Indi yang masih menunduk kecewa.


***


Ada yang jadi tim Indi - Sigit


atau


Indi - Arvin


Si_Ro

__ADS_1


__ADS_2