Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
39. CEMBURU NIH YE


__ADS_3


"Duh anak mama pagi pagi udah cantik. Mau kemana sayang?” Amrita yang melihat Indi keluar kamar dalam keadaan sudah rapi. Menghampiri meja makan untuk duduk dan bergabung memulai sarapan bersama.


“Mau pergi mah” Indi tersenyum memamerkan gigi putihnya


“Sama siapa?” Bagas


“Siapa lagi kalau bukan sam….auww”


Indi mencubit pinggang Andira yang sedang mengoleskan selai ke roti tawar, sarapannya pagi ini.


“Sama Arvin pah” jawab Indi


“Ceritanya udah baikan nih?” Amrita


“Bisa dibilang gitulah he... hee"


Seminggu yang lalu, terakhir kali Arvin melihat wajah Indi. Indi terus aja menghindarinya setelah Indi mendengar Arvin akan pergi kuliah ke singapore. Mendengar Indi yang semalam menelponnya dan mengajaknya berkencan membuatnya tidak bisa tidur semalaman.


Winda terus aja memperhatikan tingkah sang anak semata wayangnya. Winda tahu kalau Arvin sedang senang hati, terbukti dari wajah Arvin yang terus saja tersenyum. Padahal seminggu sebelumnya Arvin terlihat murung dan tidak bersemangat.


Kepulangan Arvin yang hari itu diketahui pergi jalan jalan bersama Indi malah menyisakan raut wajah sedih. Dan seminggu itu juga Arvin lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, tidak pernah mau jauh dari telepon genggam yang terus di pandanginya seolah menunggu benda itu bergerak dan memanggil.


“Mau kemana vin? Pagi pagi udah rapi, udah wangi, udah ganteng”


“Eits…ganteng mah udah dari lahir bu”


“Iya iya. Tapi mau kemana?”


“Mau kencan dong"


“Kencan? Sama siapa?”


“Siapa lagi? Ya sama ceweknya Arvin lah”

__ADS_1


“Cewek kamu? Siapa? Indi?. Emang Indi setuju jadi pacar kamu? Paling kamu cuma ngaku ngaku”


“Apapun itu, yang jelas semalam Indi nelpon dan ngajak Arvin kencan!”


Arvin menjawab pertanyaan pertanyaan sang ibu dengan nada mantap dan percaya diri. Seolah takut kalau ibunya kan semakin banyak bertanya, Arvin langsung menyambar jaket denimnya dan mengambil kunci motor. Walaupun kini sang ibu sudah punya mobil tapi Arvin tetap memilih menggunakan motor kesayangannya.


“Loh kenapa ngga pake mobil aja Vin?”


“Enakan pake motor bu”


“Sekali kali kek bawa anak orang tuh pake mobil, biar ngga kepanasan atau kehujanan” Winda memprotes keinginan anaknya


“Kalau pake mobil ngga bisa duduk deketan bu”


“Ih sejak kapan anak ibu jadi mesum gini?”


“Bukan mesum bu. Pake motor tuh bisa nyalip kalau kena macet. Kan rugi kalau waktu kencannya cuma habis dimakan macet”


“Halah alasan aja kamu. Kalau kamu sendirian sih ngga papa. Ini kamu bawa anak orang lo!”


“Ya jangan nunggu Indi protes. Kamu harus punya inisiatif sendiri sebagai cowok!”


Tidak mau terus terusan berdebat dengan sang ibu, Arvin melangkah pergi setelah menyalimi tangan Winda dan melaju menuju rumah Indi. Arvin juga tidak meninggalkan benda yang sudah dibelinya untuk Indi. Seharunya dia sudah menyerahkannya seminggu yang lalu, tapi waktu itu Arvin malah melupakannya. Karna sibuk menenangkan Indi yang malah mendiamkannya sambil terus menangis.


Indi sudah menunggu kedatangan Arvin sambil membantu Amrita membuka warungnya. Bagas masih menghabiskan kopinya dan duduk dikursi samping warung dengan sesekali membaca berita terbaru dari smartphone miliknya.


Sedangkan Andira sudah terlebih dulu berangkat ke kafe tempatnya bekerja sebagai manager. Andira juga menjalani hari harinya seperti biasanya. Sejak kepergian Naura bersama daddy dan mommynya ke singapore membuatnya lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk kafe, menjaga Indi dan terus tinggal bersama Amrita dan Bagas.


Nick dan Safira tidak pernah memaksa Andira untuk menyusul atau tinggal bersama mereka, meskipun mereka sering melakukan panggilan vidio call untuk mengurangi kerinduan Safira pada Andira. Andira juga sering menanyakan Naura, meski gadis itu lebih sering menghindar membuka percakapan dengannya.


“Eh Kak Sigit. Mau beli apa kak?” tiba tiba Sigit mendatangi warung Amrita dan Indi yang kebetulan berada paling dekat, mau tidak mau melangkah maju untuk melayani keperluan Sigit.


Sejenak Sigit Kaget melihat Indi yang sudah sangat jarang bertemu. “Mau beli rok*k Ndi. Ada?” Sigit menyebutkan merk yang sama dengan merk es krim.


“Bentar ya kak” Indi membuka laci menyimpan khusus dan mencari yang dipesan oleh Sigit.

__ADS_1


“Kamu mau pergi ya Ndi? Udah rapi dan….cantik” Hati Indi berdenyut saat Sigit menyebut kata cantik


“He…hee.. iya kak.”


Berbarengan dengan itu, Arvin melintas memasuki halaman rumah Indi. Apa Arvin melihat Sigit yang sedang bicara dengan Indi? Tentu saja.


Indi yang merasa tidak perlu berlama lama bersama Sigit yang sudah selesai dengan keperluannya, langsung keluar dari warung dan menyambut Arvin. Sekilas Indi melihat Arvin melirik ke arah Sigit yang sudah berjalan menjauhi warung.


“Pagi pah, mah…Arvin pijem Indi lagi ya”


“Iya…hati hati ya. Pulangnya jangan kemaleman” Bagas menjawab sapaan Arvin dan Amrita hanya tersenyum mengangguk kecil tanda mengizinkan.


-


“Cemburu nih ye?” Indi membuka obrolan saat mereka sudah pergi menjauh dari rumahnya. Arvin yang biasanya banyak biacara saat bersama Indi, kali ini malah menjadi pendiam. Indi bisa menebak alasan yang membuat Arvin berubah tidak seperti biasanya.


“Siapa yang cemburu?”


“Ya elolah. Dari tadi diem aja. Kita mau kencan loh Vin, bukan mau ke pemakaman”


Arvin masih diam tidak menanggapi pembicaraan Indi. Sampai Indi tidak tahan untuk tidak mencubit pinggang Arvin yang terlalu sibuk dengan pandangannya ke depan.”


“Apa sih Ndi! Kenapa lo nyubit gue? Lo ngga mau kita jadi kecelakaan kan?”


“Kalo lo diem terus, gue turun nih.” Ancam Indi


“Iya iya gue cemburu!” Arvin menghentikan motornya di dekat taman kota dan menoleh kearah Indi yang masih berada di atas motornya


“Emang boleh, kalau gue cemburu?” Arvin bertanya tepat di depan wajah Indi dengan masih memakai helm masing masing.


***


Cie…cie


__ADS_1


__ADS_2