
Berhubung besok udah weekend, jadi author berbaik hati untuk up 3 bab sekaligus. Biar editornya ngga punya utang buat review ceritaku. *OK
*
Pagi yang cerah dan berudara sejuk, berbanding terbalik dengan suasana hati Indi pagi ini. Indi masih terus memikirkan hubungannya dengan Sigit. Kenyataan yang tidak bisa diubahnya adalah, Sigit berteman dengan Rosita jauh banget sebelum dirinya mengenal dan menjalin hubungan dengan pria itu.
Indi hanyalah anak kemarin sore yang baru mengenal cinta. Pengetahuannya tentang sebuah hubungan antara laki laki dan perempuan tentu sangat awam buatnya. Indi bahkan tidak tahu bagaimana menyingkapi semua yang sudah dilihat dan didengarnya.
" Indi! Ayo buruan, udah siang nih!" Teriak Andira " Nanti kakak ngga bisa jemput kamu pulang, kakak banyak tugas dan sepertinya malah bakal pulang malem." sambungnya menjelaskan
" Iya kak, ngga papa " Indi menjawab
" Terus ntar kamu pulang sama siapa? Sigit juga sibuk banget akhir akhir ini. "
" Kayaknya sama temen temen kak, katanya mereka pada mau main kesini. "
" ok "
Saat akan berangkat, tiba tiba ada Arvin di depan rumah. Arvin ingin meminta maaf pada Indi, tentang pertemuan terakhir mereka yang menanyakan soal Sigit dan Rosita. Tidak seharusnya dia terlalu ikut campur urusan pribadi orang lain.
Tentu saja Indi kaget karena merasa tidak janjian dengan Arvin.
" Ngapain lo kesini Vin? " Tanya Indi
" Tadinya mau ngajak berangkat sekolah bareng. Tapi kalo udah ada Kak Andira, ya ngga jadi. " Jawabnya
" Nanti pulang sekolah lo bisa anterin Indi pulang ngga?! " Tanya Andira
" Bisa kak "
" Ok. Sip" Andira mengacungkan ibu jarinya ke arah Arvin.
Motor Andira dan Arvin mulai meninggalkan halaman rumah Indi, setelah menyalimi Papa Bagas dan Mama Amrita.
Indi membuka kaca helmnya karena kurang yakin dengan apa yang dilihatnya, Indi melihat motor Sigit berada di depan rumah Rosita. Arvin memperhatikan arah pandangan Indi, karena posisi motor Arvin ada dibelakang motornya Andira.
Sesampainya di sekolah, Indi tidak berhenti melamun. Keberadaan motor Sigit di depan rumah Rosita memang bukan lagi sesuatu yang perlu ditanyakan, tapi kenapa sepagi ini. Indi jadi teringat sepatu laki laki di rak depan rumah Rosita.
__ADS_1
Haruskah Indi mulai mencurigai hubungan Sigit dan Rosita?
Nuraeni : " Woi... masih pagi dah nglamun! "
Rosa : Iya! Pinjem buku dong Ndi. Gue belum ngerjain pr nih "
Indi : " Itumah bukan minjem namanya, tapi nyontek! "Sambil melengos tapi tetep mengambil buku yang diminta Rosa.
Levi : " Tadi lo berangkat bareng Arvin ya? "
Rosa : " What! Kok bisa?!" Duduk tegak lurus sambil melotot ke arah Indi
Indi : " Tadi gue dianter Kak Andira kok, Arvin mah cuma jalan bareng doang " Jelasnya yang tentunya membuat Rosa kembali duduk santai.
Sebenarnya Rosa tahu kalau dirinya tidak punya kesempatan buat jadi gebetannya Arvin, tapi semua berita tentang Arvin tetap saja membuat Rosa kepo.
Rencana Indi and the genk yang akan menghabiskan waktu di rumah Indi, ternyata harus digagalkan. Karena langit terlihat mendung, mereka memilih pulang ke rumah masing masing.
" Jadi pulang bareng kan? " Tanya Arvin yang sudah menunggu Indi di depan kelas
" Iya. Ayo! Ntar keburu hujan. " Indi menarik tangan Arvin menuju ke parkiran
" Gue bawa mantel kok! "Tapi cuma satu he... hee "
" Terus kalo beneran hujan, siapa yang bakal pake mantel? " Tanya Indi sambil memakai helm yang diterimanya dari Arvin
" Ya elo lah yang pake! Gua mah lebih suka hujan hujanan." Jawab Arvin enteng
Saat jarak rumah Indi tidak lagi jauh, tiba tiba motor Arvin dipepet motor pengendara lain dan terpaksa berhenti.
Arvin dan Indi turun dari motor dan membuka helm yang mereka pakai, setelah pengendara motor didepannya itu turun dan berdiri di samping motor Arvin. Dia adalah Sigit.
" Dari kemarin gue liat lo selalu bareng sama Indi, sebenarnya ada hubungan apa antara kalian berdua hah! "Tanya Sigit emosi pada Arvin.
" Kak Sigit! Kakak apa apaan sih?!" Indi mencoba meredakan amarah Sigit
Arvin masih diam dan belum menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Sigit, tentunya itu malah membuat Sigit semakin tambah emosi.
" Lo suka ya sama Indi! Lo mau coba coba ngrebut cewek gue? Jangan mimpi lo! " Bentak Sigit sambil mencengkram kerah baju Arvin
__ADS_1
" Kak Sigit! "Indi mulai takut melihat Sigit yang sudah mulai menggunakan kekasaran.
" Gue cuma anter Indi pulang sekolah. Apa itu ngga boleh?! Kak Andira juga udah tahu kok, bahkan dia yang nyuruh gue tadi pagi. " Jawab Arvin mantap tanpa rasa takut.
PLAK...
Sigit mengayunkan tangannya untuk menampar Arvin. Tapi apa yang terjadi malah membuatnya sangat merasa bersalah. Indi tiba tiba maju dan akhirnya tamparan Sigit mendarat mulus di pipinya.
" INDI!!! "
Suara teriakan Arvin melengking seketika, saat tubuh Indi terhuyung ke belakang karena kerasnya tamparan dari Sigit. Tangan Arvin memeluk Indi dari belakang untuk mencegah tubuh itu jatuh ke tanah.
Darah mengalir dari sudut bibir Indi, dibarengi hujan yang turun tanpa permisi. Sungguh situasi yang sangat miris. Beruntung, jalan tempat mereka berada tidak berada tidak terlalu banyak orang lewat dan kejadian itu tidak menjadi tontonan.
"Indi! Maaf.... " Sigit panik, melihat keadaan Indi dan melangkah maju untuk membantu Indi. Tapi tindakannya seolah salah, karena satu langkah maju dari Sigit membuat satu langkah mundur dari Indi. Iya! Indi ketakutan melihat Sigit. Indi menangis tanpa perlu diperintah lagi.
" Ayo kita pulang. " ajak Arvin. Memapah Indi dan meninggalkan Sigit dengan tatapan bersalahnya yang belum beralih dari Indi.
Terlihat rasa menyesal dari wajah Sigit, tapi itu tidak membuat Indi mau melihatnya lagi walau hanya sekilas. Hati Indi sakit, bahkan lebih sakit dari tamparan yang membekas di pipinya.
Arvin menghentikan motornya di depan sebuah apotik, apalagi kalo bukan membeli obat untuk Indi sambil berteduh sementara. Air mata Indi masih menetes walau tidak sebanyak tadi.
" Ssthh.... " Indi meringis saat Arvin mengoleskan obat di bibirnya. Arvin sedikit meniup bibir Indi untuk mengurangi rasa perih. Arvin mengesampingkan rasa penasarannya tentang apa alasan Sigit begitu marah melihatnya bersama Indi.
" Ada hubungan apa antara mereka berdua? " Batin Arvin
" Sakit banget ya? "Tanya Arvin pada Indi
Indi hanya diam dan malah menunduk. Melihat itu Arvin mengutuk dirinya sendiri. Pertanyaan macam apa itu?! Sudah jelas jawabannya pasti iya. " Bodoh!! "
Keduanya masih duduk diam di kursi depan apotik. Arvin menahan emosinya pada Sigit yang telah membuat Indi jadi seperti ini. Tapi rasa khawatir yang lebih besar, membuatnya lebih mementingkan untuk mengobati luka Indi terlebih dahulu sebelum membalas perbuatan Sigit.
Arvin juga memikirkan alasan apa yang harus dikatakannya pada mama Amrita atau Kak Andira, kalau mereka menanyakan dari mana asal luka di bibir Indi. Arvin tidak mau masalah ini menjadi besar dan malah membuat Indi jadi bahan omongan orang. Ada baiknya Arvin jujur saja, agar Andira juga bisa lebih melindungi Indi kedepannya. Tapi bagaimana dengan mama Amrita?
***
Selamat Weekend untuk para pembaca
__ADS_1