Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
17. MENAHAN EMOSI


__ADS_3


Disinilah Arvin berada, duduk mengepalkan tangan dan mulut yang bergetar. Laki laki yang ada di depannya pun dalam keadaan yang sama, sama sama menahan emosi.


Arvin menceritakan semua kejadian hari ini kepada Andira. Mama Amrita mungkin bisa saja dibohongi dengan alasan yang sedikit tidak masuk akal, tapi tidak dengan Andira.


Andira langsung mengintrogasi Arvin setelah melihat keadaan adiknya yang sedari tadi tidak mau keluar dari kamarnya, bahkan untuk makan malam saja dia tidak mau.


Indi mengatakan kalau dia sedang datang bulan yang menyebabkan dirinya sakit perut, saat mama Amrita menanyakan alasan kenapa anak perempuannya menangis. Memang itulah yang biasanya terjadi pada Indi tiap bulan, jadi Amrita tidak merasa aneh.


Luka dibibir Indi langsung terlihat oleh Andira, ketika tangan Andira menangkup pipi dan mengangkat wajah Indi yang selalu menunduk saat diajak bicara. Andira merasa aneh dan akhirnya terlihatlah bekas luka itu dengan bekas tamparan yang samar dan sedikit bengkak.


Andira dan Arvin masih duduk di kursi warung karena takut obrolan mereka terdengar oleh mama Amrita dan tidak mau membuatnya khawatir.


“ Kak Andira, sebenarnya…ada hubungan apa Indi dan orang yang bernama Sigit itu?” Tanya Arvin penasaran


“ Hhm…” Andira membuang nafas kasar dan mencoba tenang dengan emosi yang mengganjal hatinya.


“ Sigit dan Indi pacaran” sontak jawaban Andira membuat Arvin membelalakkan matanya tidak percaya, karena selama ini Indi tidak mengakui kalau dirinya punya pacar.


“ Sigit adalah teman seangkatan gue di kampus, gue sering mengajak Sigit ke rumah untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya selain Sigit ada juga temen teman yang lain, tapi Sigit adalah temen terdekat yang sering gue mintain tolong buat jemput Indi pulang sekolah kalau gue lagi ngga bisa. Pertama gue tahu mereka pacaran itu dari Indi sendiri. Gue ngga bisa melarang hubungan itu saat gue lihat kebahagiaan di matanya.”


Obrolan terus berlanjut yang didominasi oleh Andira dengan penjelasannya pada Arvin, Keduanya masih diliputi rasa marah yang tidak tersalurkan.


Sampai keduanya melihat Indi keluar dari rumah yang berjalan ke arah mereka. Mata Indi sembab dan sedikit terlihat bengkak, entah berapa banyak air mata yang sudah ditumpahkannya.


“ Kak, aku laper “ itulah kata pertama Indi yang membuat Andira dan Arvin saling bertukar pandang heran.

__ADS_1


“Gimana kalo kita ke pasar malam yang ada di tengah kota itu, cari makan sekalian jalan jalan.” Akhirnya Arvin mengeluarkan idenya, bukan semata mata karna lapar tapi lebih kepada ingin menghibur hati Indi.


“Ayo! Ambil jaket dan bersiap” perintah Andira pada Indi. “ Jangan lupa cuci muka dulu!”



Disinilah mereka berada, tempat yang penuh dengan penjual makanan dan juga arena bermain anak anak. Umur meraka memang bukan lagi bocah, tapi lumayan untuk sekedar cuci mata mencari hiburan murah.


Setelah bertiganya menyalimi mama Amrita dan juga papa Bagas, mereka pergi bareng dengan Indi yang berada satu motor dengan kakaknya dan Arvin mengikuti di belakang.


“ Kak, aku mau itu” Indi menunjuk penjual permen kapas


“ Biar aku yang beliin, kamu cari makan dulu aja” tawar Arvin pada Indi yang sepertinya sudah sangat lapar karena dari siang belum makan.


“Lo mau makan apa vin?” Tanya Andira saat Arvin kembali dengan permen kapas yang diinginkan Indi. Walaupun Indi sedang makan bakso yang menjadi favoritnya, tapi permen kapas itu tetap menjadi perhatiannya.


“Aku pesen nasi goreng aja deh kak” jawabnya sambil melirik ke arah Indi yang sudah terlihat ceria.


Andira tidak mau adiknya merasa tidak nyaman dan malah membuatnya mengingat kesedihannya lagi. Malam ini Andira dan Arvin lebih terlihat seperti bodyguard yang sedang mengawal Indi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30WIB, sudah cukup malam buat Indi yang tidak pernah keluar rumah terlalu jauh.


Beruntungnya besok adalah hari libur, ditambah Indi pergi dengan kakaknya sendiri, jadi Indi tidak perlu mencari cari alasan jika nanti mamanya banyak bertanya.


Dengan perut yang sudah terisi dan suasana hati yang kembali baik, Indi mengajak kakaknya dan juga Arvin untuk pulang.


“ Kalo gitu saya permisi pulang dulu ma, pa” pamit Arvin pada orang tua Indi

__ADS_1


“ Makasih martabaknya ya nak” Jawab Mama Amrita


“ Indi...gue pulang dulu ya” ucap Arvin kepada Indi yang sedang duduk menonton TV


“ Ok! “ Jawab singkat Indi disertai lambaian tangan karena mulutnya terisi martabak manis yang sempat dibeli Arvin sebelum pulang tadi


Sedangkan di halaman rumah Indi, Andira mengantar Arvin sampai motornya. “ Makasih ya Bro, udah mau repot repot bantu gue menghibur Indi. Kalo ngga ada lo dan juga ide lo itu, mungkin saat ini Indi masih bersedih di kamarnya.”


“ Iya kak, aku seneng bisa bantu, lagian Indi juga terluka gara gara aku juga. Maaf sekali lagi ya kak “ Jawab Arvin penuh penyesalan.


“ Bukan salah lo. Ini salah gue yang ngga bisa jagain Indi dengan baik.” bela Andira


“Oh ya kak, besok aku boleh bawa Indi ke rumah ngga? Ibu terus terusan minta ketemu sama Indi “ Arvin meminta izin.


“ Bolehlah, besok gue aja yang anterin Indi kerumah lo. Gue juga kangen sama masakan nyokap lo” Jawab Andira


“ Ok, Arvin bakal bilang ke ibu buat masak agak banyakan buat Kak Andira dan Indi” Jawab Arvin semangat. “Tapi dengan kedaan Indi sekarang… apa ngga papa kak?” Tanya Arvin ragu


“ Biar itu jadi urusan gue, udah cepet pulang sana, kasian Bu Winda nunggu kemaleman ” perintah Andira.


Sejak kejadian dimana Ibu Winda menolong Indi yang nyasar hari itu, Andira menganggap Ibu Winda sebagai keluarganya dan Arvin seperti adiknya sendiri.


Andira dan Indi juga sering main ke rumah Arvin untuk bertemu Ibu Winda yang juga sudah menganggap mereka sebagai anaknya. Mungkin karena Arvin adalah anaknya satu satunya, Ibu Winda sering kesepian yang memiliki anak laki laki yang tentunya tidak seperti memiliki anak perempuan.


Ibu Winda sering mengajak Indi memasak bareng atau cuma sekedar mencicipi menu baru yang baru diciptakannya. Ibu Winda membuka usaha cathering yang lumayan banyak pelanggannya. Biasanya Bu Winda juga menerima pesanan prasmanan buat acara hajatan di gedung atau rumahan.


***

__ADS_1


Yey…udah mulai panas nih



__ADS_2