
Indi kembali mengalirkan air mata tanpa tahu alasan jelasnya. Pikiran dan hatinya benar benar tidak bisa mencapai kesepakatan. Saat pikirannya menolak bersedih, hatinya malah terus merasa kosong dan kehilangan yang akhirnya menjadi penyebab butiran kristal dari matanya tidak mau berhenti.
Tok tok tok
“Dek….kakak mau ngomong dong. Boleh masuk yah?”
Andira memasuki kamar sang adik yang tidak terkunci. Terlihat Indi yang sedang duduk dilantai samping ranjangnya sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut yang ditekuknya.
Amrita dan Bagas memilih untuk tidak mengganggu anak gadisnya, sengaja memberi waktu untuk sendiri. Mereka sangat tahu kebiasaan anak anaknya yang akan mengurung diri dikamar saat sedih, dan akan menceritakan masalah masalahnya tanpa diminta saat dirasa sudah tenang.
“Kenapa lo harus nangis dek? Kan Arvinnya juga belum pergi. Dia masih disini, masih bisa lo lihat, masih bisa lo pegang. Terus kenapa lo malah menghindari dia dan menyia nyiakan waktu yang bisa kalian habiskan bersama?”
Indi mendongakkan wajahnya untuk menatap Andira. Mendengarkan semua kata kata kakaknya dan mencari kebenaran dari semua percakapan itu.
Indi tahu, semua yang dikatakan kakaknya adalah benar. Mungkin saat ini Indi merasa sangat sedih karna akan kehilangan sahabat terbaiknya. Tapi bukan kehilangan dalam arti yang sebenarnya. Mereka hanya akan berpisah beberapa saat, beberapa waktu dan paling beberapa tahun.
Arvin telah berjanji pada Indi kalau dia akan kembali lagi setelah menyelesaikan pendidikannya di negeri orang. Pendidikan yang memang harus dilaluinya untuk menjadi laki laki hebat yang pantas untuk dibanggakan.
“Walaupun Arvin ngga kuliah disini, kalian tetep bisa terus berhubungan kok. Tekhnologi jaman sekarang sangat bisa untuk mempermudah berkomunikasi. Itumah gimana kalian ngaturnya aja. Jarak yang jauh ngga harus membuat kalian jadi mantan kan"
“Mantan apa kak? Kita ngga pernah pacaran kok” Indi memalingkan wajahnya. Sedikit malu
“Ya…mantan apa kek. Mantan temen mungkin?” Andira menggidikkan kedua bahunya
“Indi juga ngga tahu kak, kenapa Indi jadi sedih pas denger Arvin mau pergi”
“Arvin masih disini aja lo udah kayak gini. Gimana kalau Arvin udah pergi jauh, terus bertahun tahun ngga ketemu? Ck ck ck ck bisa lumutan lo kalau terus terusan duduk disitu”
__ADS_1
“Cih…kakak mah gitu. Indi kan lagi sedih kak. Bukannya hibur Indi tapi malah ngledekin terus” Indi cemberut
“Lagian lo sih. Lo harusnya seneng kalau Arvin pergi. Arvin pergi bukan buat main, tapi kuliah, KU-LI-AH. Arvin punya cita cita yang bagus. Lo harusnya mendukung dia, bukannya malah bikin dia pusing ngliat lo sedih. Lo harusnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Arvin, kasih dia memory indah tentang lo. Dan cobalah mencari tahu, apakah lo ada di dalamn daftar rencana masa depannya, gitu.”
“Rencana masa depan?”
“Saat seorang laki laki sudah punya rencana masa depannya, biasanya dia akan bekerja keras untuk mewujudkannya. Termasuk pendamping hidup impiannya. Dan, kalau lo ada di rencana masa depannya, lo harusnya merasa bahagia.”
“Kenapa?”
“Hadeuuuuh nih anak. Polos apa bego sih?!” Andira menunjuk kening Indi dengan jari telunjuknya
“Kalau lo ada direncana masa depannya Arvin, berarti Arvin sedang mencoba mewujudkan mimpi lo. Mimpi yang pengin punya pendamping yang berpikiran dewasa, yang bisa menjadi pelindung dan sandaran buat lo.”
“Gimaana cari tahu kak?”
“Lo cari sendiri caranya. Masa harus kakak juga yang mikir”
“Cih…ngga usah bawa bawa kata jomblo deh. Bukannya lo juga jomblo. Lo sendiri yang bilang, kalau lo sama Arvin ngga pacaran”
“Seenggaknya Indi punya orang terdekat, ngga kayak kakak. Wlee….” Indi menjulurkan lidahnya mengejek Andira
-
Tut tut tut
“Hallo Ndi…”
“Ehemm….Vin besok lo sibuk ngga?”
__ADS_1
“Besok ya? Kayaknya engga deh. Kenapa?”
“Besok jemput gue dirumah ya”
“Ok. Tapi.....lo mau kemana?”
“Bukan gue tapi kita”
“Kita?”
“Lo mau kan pergi kencan sama gue?
Sejenak tidak terdengar suara apapun dari ujung telpon. Indi menggigit bibirnya sambil menunggu jawaban dari Arvin.
“Vin. Lo masih disitu? Nih gue ngga ditinggal tidurkan?”
“Eh..iya Ndi”
“Kalau lo sibuk, gue ngga pa….”
“Ok. Gue jemput lo besok”
Belum sempat Indi menyelesaikan kata katanya, Arvin malah menjawab setengah berteriak, sampai Indi sedikit terlonjak kaget.
"Heh... dasar. Main langsung tutup telpon aja. kan gue belum selesai ngomong. " Indi menggerutu
***
Kencan deh akhirnya
__ADS_1