
SIGIT POV
Begitu aku melangkah kaki masuk ke dalam sebuah rumah, terlihat seorang gadis kecil sedang duduk dengan tenang
Sibuk memasukkan makanan yang ada dihadapannya tanpa memperdulikan kalau sekarang ini ada dua orang laki laki yang berjalan ke arahnya.
" Mamaaaaa.... kakak ambil makananku" rengeknya sambil menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah. Seorang wanita paruh baya kemudian datang dan memeluknya lalu memukul kepala sumber masalah dari si gadis yang sedang merajuk.
" Kamu tuh ya! Kenapa sih seneng banget gangguin adikmu ini? " Ucapnya yang tetap tak melepaskan tarikan telinga dari Andira, sahabatku.
"Mah... kenalin, ini Sigit" Andira memperkenalkanku
" Hallo tante, saya Sigit. Teman kampus Andira." Sambil mengulurkan tangan untuk menyalami dan mencium punggung tangan lembut khas seorang ibu.
Tentunya mendapat sambutan yang sangat hangat dengan mengelus ujung kepalaku sambil tersenyum.
Aku mengalihkan pandanganku ke gadis yang masih saja sibuk dengan makanan yang membuatnya melupakan sekitarnya.
Segitu seriusnya dia dengan mangkuk yang berisi dengan kumpulan daging berbentuk bulat. Bahkan saat Andira memanggilnya dan memperkenalkanku, dia hanya melirik dengan mulut penuh, juga kuah makanan yang belepotan di pinggir bibirnya.
"Lucu" hatiku terasa begitu hangat, tanpa bisa menolak senyum yang terukir dengan sendirinya.
" Dia adik gue! " ucap Andira membuyarkan lamunan dan mengajakku ke ruang tengah tengah untuk mengerjakan tugas yang sudah menumpuk menunggu untuk diselesaikan.
-
Hati ini aku kembali ke rumah itu. Andira menyuruhku datang, karena tugas yang lalu belumlah selesai. Rumahnya memang terasa sangat nyaman, tidak seperti rumahku tentunya yang hanya terisi kesepian.
Kulihat gadis itu lagi, kali ini matanya terpejam dengan rambut acak acakan, dengan tumpukan buku disampingnya.
Sepertinya dia juga sangat kelelahan sampai ketiduran di tempat yang seharusnya menjadi tempatku duduk bersama Andira.
Andira membopong adiknya yang masih setia dengan mimpinya, mengangkat tubuh kecilnya dan memindahkannya ke kamar.
" Kenapa wajahnya sangat imut? " gumamku tanpa sadar.
-
"Kenapa tuh muka? Lo lagi jatuh cinta ya? "Tanya Rosita saat aku mampir ke rumahnya sesaat setelah selesai mengerjakan tugas bersama Andira. Aku dan Rosita sudah lama berteman dan umur kami juga tidak beda jauh.
__ADS_1
-
Aku tidak berhenti tersenyum saat Andira memintaku untuk menjemput adiknya daru sekolah karena dia masih sibuk.
Ini bukan pertama kalinya aku menjemput Indi dan memboncengnya di atas motorku, tapi kali ini terasa berbeda, mungkin karena aku punya rencana.
"Iya, Aku mau kak! Aku mau jadi pacar Kak Sigit! " Itulah jawaban yang diberikan Indi padaku saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku.
Aku tidak menyangka kalau gadis itu akan langsung menerimanya, karena selama ini dia selalu menyembunyikan diri kalau aku sedang berada di rumahnya.
Sebenarnya aku merasa tidak enak pada Andira yang tidak meminta izinnya dulu. Hatiku jadi tidak tenang seolah aku telah mencuri sesuatu.
Tapi itu adalah keinginan Indi yang tidak mau hubungan kami tidak diketahui oleh kakaknya atau orang lain.
Aku bisa memaklumi ketakutan Indi, walaupun aku juga harus mulai kucing kucingan dengan Andira.
Hari, minggu bahkan bulan terlewati, hubungan kami terasa manis. Aku begitu menyayanginya, ingin menjaganya dengan baik, hingga timbul posesif.
Kemarahan langsung menusuk hatiku saat aku lihat Indi sedang mengobrol dengan seorang laki laki di depan gerbang sekolah.
Lagi lagi Andira tidak bisa datang menjemput Indi dan akulah yang menggantikannya hari ini, tapi apa yang kulihat?...
Aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku lagi, entah kenapa aku begitu marah dan cemburu walau hanya melihatnya ngobrol dengan cowok lain. Aku takut Indi meninggalkanku karena jarangnya kami bertemu.
" Kak... jangan membentakku, kau menakutiku" tangisnya pecah. Walau tidak dengan suara yang keras tapi air matanya terus saja mengalir.
Aku menarik dan membawanya dalam pelukan, tubuhnya bergetar karena takut. Aku membelai kepalanya untuk meredakan kemarahanku sendiri.
Mungkin aku adalah laki laki yang sangat egois dan juga keterlaluan. Aku seolah tidak mengizinkannya untuk bersosialisasi dengan teman temannya.
Tidak pernah aku bersikap seperti ini sebelumnya. Ini bukan kisah cinta pertamaku tapi malah terasa seperti pertama kali jatuh cinta, cinta yang mungkin saja akan menyakitinya.
Hubungan kami yang selalu disembunyikan atau yang biasa dikatakan backstreet ini, membuatku semakin takut kehilangan gadis imutku itu.
Ingin rasanya aku membawa kemanapun aku pergi agar semua orang tahu kalau dia milikku. ( What milikku? Siapa elo! )
"Maafkan aku Indi... aku terlalu cemburu" hanya itu yang bisa aku katakan padanya yang sedang menangis.
Tangis Indi akhirnya berhenti dengan senyumnya yang kembali ku lihat. Ku hapus air mata di pipinya dan CUP...
__ADS_1
Ku cium ujung kepalanya yang tentu saja langsung membuatnya membeku, wajahnya merona dan menunduk malu.
Selama kami pacaran, aku memang tidak pernah bertindak melebihi batas. Kami hanya akan berpegangan tangan atau aku hanya membelai kepala dan pipinya saat aku gemas.
Setelah aku mengantarnya pulang ke rumah dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun karena memang tidak melakukan apapun padanya.
Walaupun tadi kami hanya berdua di rumahku, ditambah emosi yang tak terkendali tapi aku tidak kehilangan kewarasanku. Aku tidak akan merusaknya. Itulah niat awalku mendekatinya. (Sok alim! hoek)
Aku mampir ke rumah Rosita yang saat itu sedang berada di teras rumahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Rosita yang terlihat marah padaku.
" Ngapain lo kesini? Ngga takut Indi cemburu? " Tiba tiba Rosita bicara ketus padaku.
" Gue baru aja ngenterin Indi pulang, emang kenapa Ros? " Jawabku santai sambil duduk tanpa menunggu persetujuan.
" Oh, udah alih profesi jadi tukang ojeg?!" tambahnya ketus.
" Lo kenapa sih? Tiba tiba marah ngga jelas! Lagi PMS yah? " Tanyaku yang masih berusaha sabar.
" ........ " tidak ada jawaban.
" Salah kayaknya gue mampir kesini, mending gue pulang! " emosiku mulai naik karena ngga ngerti apa yang bikin Rosita berubah. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini kalau aku mampir ke rumahnya.
Aku bangkit dari kursi dan berniat pulanh sebelum emosiku tambah tidak bisa dikendalikan.
Hari ini benar benar terasa hancur karena aku sudah dibuat emosi oleh dua orang wanita.
Tiba tiba lampu teras Rosita mati, sepertinya perlu diganti. Rosita yang saat itu duduk membelakangiku tidak melihatku yang mulai berjalan meninggalkannya.
Sebelum langkahku tambah jauh, aku merasakan ada tangan yang mulai meraih pinggangku dari belakang.
Tangan wanita yang sudah ku anggap sebagai sahabatku, tempatku curhat tentang Indi yang juga masih saudaranya.
Ku hentikan langkahku dan membatu. Ingin kulepas tangannya yang bersikap kurang ajar, atau akan ku tuntut dia karena melakukan pelecehan. Pelaku pelecehan bukan hanya laki laki kan?
"Jangan pergi Sigit! "
***
Ada yang kaget ngga? kenapa alurnya jadi gini
__ADS_1
Si_Ro