
Minggu pagi ini, Indi dan Tina sepupunya berencana pergi jogging. Mereka berdua berjalan menuju rumah Rosita, yang memang biasanya akan pergi bersama.
Tok... tok... tok
Tina mengetuk pintu rumah Rosita dan Indi dibelakangnya mulai memanggil nama Rosita untuk membangunkannya. Yang pastinya sang pemilik rumah masih terlelap karna hari masih gelap walau sudah lewat subuh.
Sampai mata Indi tidak sengaja tertuju pada rak sepatu yang ada di depan pintu rumah Rosita.
" Sepatu siapa ini? Di rumah Kak Rosita kan ngga ada anggota keluarga yang laki laki. Apa tamunya Kak Rosita ya? "Batin Indi mencoba tidak peduli.
Lalu terdengar suara menjawab dari dalam rumah, dan pintu mulai terbuka dengan Rosita yang hanya memperlihatkan kepalanya saja.
" Kak! Ayo jogging! "Ajak Indi semangat
" Ngga ah! Mager. Di rumah lagi ngga ada siapa siapa. Mama sama adik adikku lagi nginep di rumah nenek. " Tolak Rosita
" Ayolah kak! Ganti baju sana " Indi masih berusaha merayu. Indi yang mulai melangkah masuk rumah, dihadang Rosita yang seolah tidak mau membuka pintu lebih lebar.
" Gue bilang ngga mau ya ngga mau! " Terdengar nada ketus dari perkataan Rosita yang akhirnya membuat Indi berhenti melangkah.
" Ya udah kalo ngga mau ikut! " Sela Tina yang juga tidak suka dengan cara penolakan dari Rosita.
Indi dan Tina meninggalkan rumah Rosita. Di tengah perjalanan jogging pagi ini, Indi lebih banyak melamun. Indi bingung dengan cara bicara Rosita yang tidak seperti biasanya, seolah menyembunyikan sesuatu.
Indi kembali mengingat sepatu yang ada di depan rumah Rosita tadi, dan berpikir kalo dia pernah melihat bahkan mengenalinya.
" Sepatu itu mirip dengan punya Kak Sigit! Iya benar, itu punya Kak Sigit. Aku hafal sepatu itu. Tapi kenapa ada di rumah Kak Rosita? Barusan Kak Rosita juga bilang, kalau di rumahnya tidak ada siapa siapa." Batin Indi.
Tiba tiba Indi terjatuh karena tidak sengaja menyandung batu.
" Oh tidak! Apa ini? Kenapa hatiku terasa aneh? " Gumam Indi.
__ADS_1
" Kenapa Indi? Lo nglamun ya? " Kata Tina yang membantu Indi berdiri.
" Indi... apa lo liat sepatu di depan rumah Rosita tadi? " Tiba tiba Indi bertanya pada Indi sambil membantu untuk duduk istirahat.
" Iya kak, aku lihat. Kenapa? "
" Seperti yang lo tahu, kalau di rumah Rosita tidak ada anggota keluarga yang berjenis kelamin laki laki. Ayahnya udah lama meninggal dan dia juga tidak punya kakak laki laki kayak lo. Sepertinya itu adalah sepatu dari pacarnya Rosita yang lagi nginep." Kata Tina menjelaskan
" Kak Rosita punya pacar? " Indi malah balik bertanya. Indi tentunya tahu kemana arah pembicaraan Tina tentang pacar yang sedang nginap. Apalagi hanya berdua di dalam rumah. Yang Indi tidak tahu adalah siapa pacarnya Rosita.
" Sepertinya sih gitu. Kalau ngga salah namanya Si.. Si.. Sigit apa yah? Itu loh, temennya Andira yang sering main ke rumah lo ."
DEG!!
" Bukannya mereka memang berteman kak? "Indi mencoba berpikir positif
" Tapi ngga harus sampe nginep juga kan?! Apalagi ini cowok dan cewek, cuma berdua. Udah sama sama dewasa. Kalau ada setan lewat terus..... " Tina tidak melanjutkan, takut meracuni otak Indi.
" I... iya juga sih" Indi mulai meragukan keyakinannya sendiri.
" Kamu boleh percaya sama orang, tapi jangan sampai 100% . Sisakan sedikit hati untuk dirimu sendiri, atau malah gunakan perbandingan 50:50 . Karena, kalau kamu percaya sepenuhnya, maka saat orang itu menyakiti kamu akan merasakan sakit yang sepenuhnya juga. Orang yang bisa menyakiti kita, adalah orang yang paling dekat dengan kita Indi. Makin dekat kita dengan orang itu maka dia akan menusuk lebih dalam. " Nasehat Tina pada Indi yang melupakan kata gue lo.
Rasa penasaran Indi yang begitu besar dengan kebenaran pemilik sepatu, membuatnya menghentikan sesi jogging pagi ini.
Indi kembali mampir ke rumah Rosita. Tapi Indi sudah tidak lagi melihat sepatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
" Kak, aku boleh masuk ngga? " Indi meminta izin pada Rosita yang sedang menyapu. Pintu memang sudah terbuka lebar, tapi Indi tentu tidak mau dibentak lagi.
" Iya, masuk aja. Tapi maaf ya, gue lagi nyapu. Bukan berarti ngusir. " Jawab Rosita yang wajahnya sudah terlihat lebih ramah.
Indi memasuki rumah Rosita dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Indi memang sudah terbiasa seperti itu, saking dekatnya pertemanan mereka. Dan lagi lagi Indi melihat sesuatu yang akan membuatnya makin tidak bisa untuk tidak penasaran.
__ADS_1
" Kak! abis ada tamu ya? Ada gelas kotor bekas kopi di dapur. " Indi bertanya sambil memegang gelas di tangannya.
Rosita terlihat gelagapan dan sapu yang sedang ada digenggamannya pun terlepas.
" Oh itu. Iya, semalem temen kakak main kesini. Lama ngga ketemu jadinya ngobrol sampe malem. " Rosita menjawab dengan terus menyelesaikan pekerjaannya dalam keadaan memunggungi Indi. Menghindari tatapan muka langsung.
" Kak! Sudah berapa lama kakak berteman sama Kak Sigit?" Pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulut Indi, membuat Rosita kaget. Indi jelas bisa melihat kalau Rosita mulai salah tingkah.
Tapi itu tidak berlangsung lama, Rosita mulai bisa mengendalikan dirinya dan bertingkah seolah berpikir.
"Hmmm... berapa lama yah? "Jari telunjuknya mengusap keningnya.
" Pastinya sih kakak lupa, tapi itu udah lama banget. Dia kakak kelas gue waktu SMP "Terang Rosita
" Udah lama banget ya. Kak Rosita pasti tahu dong, siapa aja yang pernah jadi pacarnya Kak Sigit? " Indi mulai merasa kalau dirinya banyak tidak tahu dibanding Rosita.
" Sebagian tahu dan sebagian lagi ngga. Gue akan tahu kalo Sigit sendiri yang cerita ke gue. Kayak waktu dia mau nembak lo" Jawab Rosita, mengalihkan pembicaraan yang mungkin menambah kecurigaan Indi
Indi hanya ber-oh ria
Berarti kakak sama Kak Sigit itu deket banget ya, sampe hal seperti itupun diceritakan ke Kak Rosita" Indi makin merasa rendah. Rosita berhasil menunjukkan keberadaannya.
" Bisa dibilang gitu, karna umur kakak dan Sigit kan tidak begitu jauh. " Respon Rosita yang seperti sedang membanggakan dirinya.
" Kakak pernah naksir Kak Sigit ngga?! "Indi tidak tahu lagi dengan mulutnya. Hatinya ingin sekali mempercayai Sigit. Tapi ada rasa yang mulai merambat naik menarik logikanya dan menyisakan rasa ragu.
Dari sepatu yang dilihatnya tadi pagi, gelas kopi dan cerita pertemanan yang begitu lama.
Indi banyak mendengar cerita cinta yang diawali dari pertemanan, juga cinta bertepuk sebelah tangan yang akhirnya merusak persahabatan.
***
Mulai kleyengan nih kepala
__ADS_1
Mbrundet kaya benang yang belum ketemu ujung pangkalnya