
Indi masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, mengerjapkan mata berkali kali untuk memastikan kalau laki laki yang ada di hadapannya itu nyata dan bukanlah mimpi.
Laki laki yang bisa membuat pipinya bersemu setiap kali bertemu, laki laki pertama yang bisa membuatnya merasakan debaran aneh yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
Laki laki tampan yang sedang duduk di atas motor miliknya itu tersenyum ke arah Indi yang masih membatu.
" Kok ada disini kak? " Tanya Indi malu malu
" Hmm...Andira ngga bisa jemput lo, dia minta gue yang ngegantiin buat anter lo pulang"
Deg.. deg.. deg
Indi merasakan jantungnya serasa mau lompat dari tempatnya. Senang? Tentu saja
" Telpon aja kakak lo itu, kalau ngga percaya" kata laki laki yang ada di depannya dengan senyuman
Demi Tuhan dan demi apapun itu, Indi benar benar membeku melihat senyuman yang terlihat sangat manis itu. Senyuman yang diyakini akan membuat Indi tidak bisa tidur malam ini.
" Bukan ngga percaya kak, cuma kaget aja" Indi menunduk malu
" Jadi? "
" Jadi apa kak? "Indi mendongakkan kepalanya
" Kita pulang sekarang? " Tawarnya sambil menyerah helm
" Ok! "Indi menerima helm penuh semangat
Andira punya banyak teman yang sering diajaknya mampir ke rumahnya, salah satunya adalah Sigit yang saat ini sedang membonceng Indi untuk mengantarnya pulang.
Indi tidak hafal wajah dan nama dari semua teman kakaknya, tapi berbeda dengan Sigit. Andira sering membawa pulang teman laki laki dan pasti mengenalkannya pada semua anggota rumah.
" Indi! " Panggilan Sigit membuyarkan lamunan Indi
" Iya kak"
" Lo ngga suka ya dijemput ama gue? "
Ya ampun...pertanyaan macam apa itu? batin Indi. Nih orang ngga tahu apa yah, kalau sekarang Indi sangat ingin melompat kegirangan karena dijemput dan dibonceng sama cowok yang ditaksirnya(Si ganteng tukang ojeg)
" Kok nanyanya gitu kak? "
__ADS_1
" Abis dari tadi lo diem aja sih! Ngga pegangan lagi, emang lo ngga takut jatoh ya? Punya simpanan berapa nyawa? " Sigit tidak peduli kalau pertanyaannya akan diartikan jadi ejekan atau sindiran buat Indi.
" Kakak lo mempercayakan gue buat nganterin lo pulang dengan selamat, kalo lo kenapa napa... gue harus jawab apa sama kakak lo itu?" Sambungnya.
Indi mulai mengulurkan tangannya meraih pinggang Sigit, dan menggunakan tasnya untuk menghalangi dadanya bersentuhan dengan punggung Sigit.
Ya ampun..... situasi apa Ini? Bukankah ini lebuh terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berboncengan batin Indi.
" Kenapa berhenti kak? " Indi menyadari kalau sekarang mereka belum sampai rumah dan malah berada di depan warung bakso.
" Kita makan dulu, gue ngga mau lo pingsan sebelum sampai rumah."
Aarrhhh.... hati Indi makin tidak terkendali,merasakan dirinya yang masih saja dibuat bingung dengan semua yang dialaminya hari ini.
Mimpi apa dia semalam, bisa dijemput, dibonceng dan sekarang makan bareng dan itupun hanya berdua.
Indi tahu benar kalau yang dilakukan oleh Sigit hanya sebatas menggantikan Kak Andira, tapi Indi menikmatinya dan hatinya memaksanya untuk menganggap ini adalah sebuah kencan. What?! Kencan?!
" Dari mana kakak tahu kalau aku suka makan bakso? "Tanya Indi
" Gue pernah liat Andira beli bakso dan katanya itu makanan kesukaan adiknya, dan itu pasti elo kan?" Jawab Sigit
Tidak ada obrolan berarti yang terjadi saat makan, karena Indi benar benar memusatkan pikirannya pada makanan favorit yang ada di depannya. Indi bahkan tidak sadar kalau saat ini Sigit sedang melihatnya sambil tersenyum.
Deg... deg... deg
Indi merasakan ada tisu yang sedang mendarat di bibirnya yang otomatis membuatnya tersedak saat menyadari apa yang terjadi. Sigit mengelap pinggir bibir Indi yang kotor karena cara makan Indi yang sedikit berantakan.
Sigit langsung menyodorkan minuman yang berada di depannya pada Indi, mencoba membantu meredakan batuk Indi.
" Ya ampun Indi! Pelan pelan! Gue ngga akan ngerebut makanan lo kok" kata Sigit " cuma diajak makan bakso aja keselek" sambungnya.
Saat ini Indi sudah duduk di atas motor Sigit kembali, masih menunduk malu karena teringat kejadian tadi. Insiden yang mungkin akan membuat Sigit ilfil padanya.
Bagaimana tidak? Indi sedikit memuncratkan makanan yang sedang dikunyahnya dan tersedak hanya karena sebuah tisu. Yang jadi masalah bukanlah tisunya, tapi tangan milik siapa yang memegang tisu itu.
Wajah Indi langsung tertunduk dan salah tingkah, merasa seperti ada beribu ribu semut yang sedang merayapi kakinya. Menerima perlakuan yang biasanya dilakukan oleh seorang laki laki pada kekasihnya yang tanpa sengaja menyentuh tangannya saat menerima gelas minum
" Ya Tuhan... selamatkan aku" jerit Indi dalam hati
*Di depan rumah Indi
__ADS_1
" Lo udah ngga papakan? "Tanya Sigit sambil membuka helm yang dikenakannya.
" Iya kak, makasih udah mau repot jemput dan juga buat makan siangnya" jawab Indi
" Iya sama sama, gue tinggal ya" Sigit mulai memakai helmnya kembali
" Kak... itu... mm... ngga mau mampir dulu? " Tanya Indi ragu, mencoba menghentikan dan berharap Sigit mau sedikit berlama lama dengannya.
" What?! Barusan gue ngomong apa sih? Semoga tawaran gue tadi ngga disalah artikan ya. Jangan sampai Kak sigit menilai gue sebagai cewek ganjen" Batin Indi
" Lain kali aja ya, gue masih punya tugas. Oh iya kabarin kakak lo itu, biar gue ngga diintrogasi" Jawab Sigit
Indi masih berdiri mematung di halaman rumahnya, memandangi punggung Sigit yang mulai menghilang dari pandangan, menjauh dengan motor yang dikendarainya. Sampai sebuah suara mengagetkannya....
" Kok sendiri? Kak Andiranya mana? "
" Aku pulang bareng Kak Sigit mah, bukan Kak Andira" terang Indi dan dijawab anggukan Amrita
Indi masuk ke kamarnya, mengganti baju dan mulai merebahkan badannya di kasur. Rasa lelah yang tadi dirasakannya hilang dan digantikan dengan senyuman yang masih setia menemaninya.
Terbayang kembali wajah Sigit yang menatapnya saat mengelap ujung bibirnya dengan tisu.
Sejak awal bertemu dengan Sigit, Indi memang merasa berbeda dibanding dengan teman teman Andira lainnya. Laki laki yang menyapanya dengan senyuman manis dengan suaranya yang agak serak mampu membuat Indi memalingkan matanya dari buku yang sedang dibacanya.
Tampan. Itulah penilaian pertama. Alasan kedua dan ketiga tentu sudah ada didaftar yang membuat Indi makin terpesona.
" Ngapain senyum senyum sendiri? Lagi mikirin cowok ya? " Suara Andira mengagetkan Indi
" Hah! Ngga kok" Indi kesal karena tebakan kakaknya itu benar. Bahkan Indi terkadang merasa kalau kakaknya adalah cenayang yang selalu bisa menebak isi hati dan pikirannya.
Andira memang terkadang usil dan jahil, tapi Andira juga bisa menjadi kakak yang sangat bijaksana untuk adik satu satunya ini.
***
Hai... update lagi nih
Kritik dan sarannya ya
Terima kasih sudah membaca
Si_Ro
__ADS_1