
Indi bangun dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi. Mama Amrita sudah menyiapkan sarapan untuk suami dan anak anaknya. Andira yang malah masih terlihat mengantuk terduduk lesu di samping meja makan.
Bagaimana tidak lesu? Semalaman Andira berusaha untuk tidak tertidur dan terus mengawasi gerak gerik adiknya. Saat matanya tanpa sengaja menutup karna sudah tidak tahan dengan serangan kantuk, Andira seolah terkena aliran listrik yang mengagetkan dan membuatnya langsung beranjak, setengah berlari ke arah kamar Indi untuk melihat keadaannya.
“ Kamu baik baik saja dek?” Tanya Andira yang sangat penasaran. Adiknya terlihat sangat santai seolah tidak memiliki masalah apapun. Tapi pertanyaan Andira barusan malah membuat mama dan papanya mengkerutkan kening, bingung.
“ Memangnya Indi kenapa kak?” Tanya Papa Bagas pada anak sulungnya.
“Indi ngga papa kok kak, pah, mah, lihat sendirikan?” Indi menjawab pertanyaan papanya dan juga berusaha meredam kekhawatiran kakaknya.
“Iya! Indi terlihat baik baik aja. Kamu kok nanyanya aneh gitu sih kak?”Mama Amrita ikut nimbrung.
Andira jadi merasa salah ngomong. Andira malah membangkitkan kecurigaan orang tuanya, yang tidak tahu apa apa tentang kajadian semalam. Rahasia adiknya yang pacaran dengan Sigit belumlah diketahui mama dan papanya.
-
Indi turun dari motor kakaknya dan menyerahkan helm. Sebenarnya Andira tidak setuju adiknya masuk sekolah hari ini. Tapi karena dirinya juga tidak bisa di rumah untuk mengawasi Indi, jadi dengan terpaksa dia menyetujui keinginan Indi yang tetap ingin belajar di sekolah. Mungkin dengan bertemu sahabat sahabatnya Indi jadi lebih tenang dan tidak merasa terpuruk.
Kalau bukan karena dirinya yang punya janji dengan dosen pembimbing, Andira mungkin akan terus menempel pada Indi. Kekhawatirannya juga jadi lebih ringan saat melihat Arvin sudah berada di depan gerbang, terlihat sengaja menunggu adiknya. (ya memang)
“ Gue nitip Indi ya Vin!” pamit Andira setelah adiknya itu berlari ke arah genknya yang berjalan di koridor.
“Iya kak! Arvin bakal awasin Indi “ Jawab Arvin yang tahu maksud Andira.
“ Gue pergi dulu ya, kalo ada apa apa lo kabarin gue “ Andira melajukan motornya menuju kampus.
Arvin juga mengalami apa yang dialami oleh Andira, tidak bisa tidur semalaman. Arvin enggan beranjak pulang kemarin malam. Melihat tatapan kosong Indi membuatnya frustasi.
Ingin rasanya Arvin langsung menghampiri Sigit dan memberinya hadiah bogem mentah. Tapi Arvin juga tahu diri dengan statusnya dengan Indi.
__ADS_1
“Gue anter pulang yah?” Tawar Arvin pada Indi selepas jam bubar sekolah.
“Boleh, tapi mampir toko buku dulu ya. Ada novel yang mau gue beli” jawab Indi
Sesampainya mereka berdua di toko langganan Indi, Arvin malah melihat Rosita diantara karyawan toko.
Indi langsung masuk dan mencari buku yang menjadi incarannya. Arvin terus berusaha membuat Indi tidak bertatap muka dengan Rosita, mengalihkan perhatian Indi dengan banyak cara.
“Ngga usah ditutupin gitu Vin, gue udah liat kok” Indi tahu apa yang dilakukan Arvin sedari tadi. Berdiri di depan Indi dan menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghalangi pandangan yang di harapkan tidak melihat Rosita.
“Hah!” Arvin melongo mendengar ucapan Indi. Ternyata usahanya sia sia. Indi tetap melihat Rosita.
“ Pulang yuk!” Pinta Indi
“Yuk! Tapi mampir rumah gue dulu ya. Tadi ibu nitip kue buat mama.(maksudnya mama Amrita, mamanya Indi)Indi menjawabnya dengan anggukan.
Rumah Arvin dalam keadaan kosong saat mereka tiba. Sepertinya Ibu Winda sedang mengantar pesanan Cathering.
Saat Arvin masih berada di kamarnya untuk mengganti baju, Arvin mendengar suara barang pecah dari arah dapur.
“Indi!!!” Arvin langsung berlari ke arah Indi. Baju yang dipakainya pun sampai terpasang terbalik.
Apa yang dilihat Arvin saat ini sangat menyayat hatinya. Indi terduduk di lantai sambil memandangi pecahan gelas yang berserakan. Arvin memegang pundak Indi dan membantunya berdiri lalu memeluknya.
Indi mulai menangis di pelukan Arvin. Menumpahkan segala rasa yang membebani hatinya sedari kemarin, karena dia tidak bisa melakukan itu di rumahnya sendiri. Indi tidak mau menangis di depan mama dan papanya dan membuat mereka khawatir.
Arvin membiarkan Indi terus menangis sampai berhenti dengan sendirinya. Entah berapa banyak air mata yang sudah dikuras Indi dari matanya. Baju yang baru dipakai Arvin basah, dan pastinya Arvin harus mengganti bajunya kembali.
“Maaf ya Vin. Gue mecahin gelas lo “ kata Indi diantara sesenggukannya yang masih berada dipelukan Arvin. Arvin jelas tahu kalau Indi merasa malu karena telah memperlihatkan sisi terlemahnya, dan mejadikan gelas pecah sebagai alasannya menangis.
“It’s ok! Gelas gampang dibeli lagi. Yang sulit itu mengembalikan senyuman di wajah lo itu.” Balas Arvin mencoba menghibur Indi dengan candaannya.
__ADS_1
“Lo punya makanan apa Vin? Gue laper “ Indi melepaskan diri dari pelukan Arvin.
“ Kita order bakso aja ya ?” Arvin menawarkan makanan kesukaan Indi yang tentu tidak akan ditolak.
Arvin mengambil hpnya dan mulai memesan melalui aplikasi online. Sementara itu, Indi berada di kamar mandi untuk mencuci mukanya setelah menangis, matanya masih sembab dan pasti akan terlihat bengkak. Arvin juga mengabari Andira dengan keberadaan Indi di rumahnya sebelum membersihkan pecahan gelas agar tidak melukai siapapun, terutama Indi.
-
Andira mengabari orang tuanya kalau dirinya dan Indi akan pulang kemalaman. Andira masih menunggu Indi untuk bangun dari tidurnya setelah menghabiskan 2 mangkok bakso. Indi sudah meluapkan perasaan dan berakhir dengan rasa lapar setelahnya.
Arvin menceritakan semua yang terjadi dengan Indi hari ini pada Andira. Andira dan Arvin sama sama merasa sedikit lega melihat wajah damai Indi saat tertidur di sofa rumah Arvin. Ibu Winda sudah meminta Andira dan Indi untuk menginap saja malam ini, tapi Andira menolak halus.
Andira tidak bisa membuat orang tuanya mencurigai dirinya maupun Indi yang memang sedang menutupi kenyataan. Sekarang Andira berencana akan menemui Sigit dan meminta penjelasan.
Sudah cukup Andira menahan dirinya untuk tidak langsung melayangkan pukulannya ke wajah Sigit malam kemarin. Persetan dengan kata persahabatan. Toh apa yang dilakukan Sigit pada adiknya, juga bukan perlakuan yang seharusnya dilakukan oleh seorang sahabat.
TIDAK!!
Sebenarnya bukan penjelasan. Bukan penjelasan yang akan Andira pinta, karena dimata Andira semuanya sudah jelas .
Andira hanya ingin bicara antar laki laki dengan Sigit yang sudah menyakiti adik kesayangannya, dan menyalurkan kemarahan yang sudah menguasainya dari kemarin
***
Author berdoa semoga proses reviewnya bisa cepet ya
Harap maklumi kesalahan penulisan dan typo
Terima kasih sudah mampir
Si_Ro
__ADS_1