Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
12. MAAF


__ADS_3


" Hari ini kok Indi ngga masuk ya? " Tanya Nuraeni pada dua temannya.


" Ngga tahu, ngapain juga mikirin dia! " Jawab Rosa ketus.


" Jangan gitu ih, biar gimana juga Indi kan sahabat kita " Bela Levi.


" Sahabat apa yang membohongi kita kayak gini! Kalau bukan karena Arvin, kita ngga akan tahu kalau Indi pacaran sama Kak Sigit! " Kata Rosa yang masih senewen


" Udahlah... itu kan hak pribadi dia juga kali, ngga semuanya harus dilaporin ke kita juga kan?! " Nuraeni masih berusaha menasehati Rosa dan didukung anggukan oleh Levi.


-


Sebelum berangkat ke kampus, Andira terlebih dahulu pergi ke sekolah Indi dan tidak sengaja bertemu Arvin di depan gerbang sekolah.


" Kak! Baru anterin Indi ya? "


" Eh elo Vin, gue bisa minta tolong ngga? "


" Apa kak? "


" Gue nitip surat ya, tolong kasihin ke wali kelasnya Indi. Gue lagi buru buru nih "


" Ini surat apa ya kak "


" Ini surat dari dokter, Indi lagi sakit." Jawab Andira yang sudah mulai menjalankan motornya kembali dan meninggalkan Arvin dengan banyak pertanyaan.


Di dalam kelas, Arvin tidak bisa mengikuti pelajarannya dengan baik, pikirannya terus saja memikirkan Indi.


Setelah mengantarkan surat dokter ke wali kelas dan mendapat introgasi dari genknya Indi, Arvin malah berniat bolos sekolah.


"Apa gara gara kemarin ya? " batin Arvin.



" Eh nak Arvin... masuk aja nak, Indi ada di kamar" sambut mama Amrita saat Arvin berada di depan rumah setelah mengetuk pintu.


Arvin melangkahkan kakinya menuju kamar Indi sambil membawa makanan dan juga buah yang dibelinya di tengah perjalanan.

__ADS_1


Arvin mengulurkan tangannya menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Indi. Indi terlihat lemah, yang masih tertidur di atas ranjangnya. Arvin menyunggingkan senyum saat melihat Indi yang terlihat sangat cantik. Arvin tidak menyadari kalau saat ini Amrita mamanya Indi memperhatikan apapun yang dilakukan Arvin dibalik pintu kamar Indi.


" Kok lo disini, bolos ya?!" Indi terbangun dari tidur dan langsung melihat Arvin sedang duduk di kursi meja belajarnya.


" Hmm... bisa sakit juga lo? Mana nih Indi yang biasa galak, jutek dan...


auw! "Arvin meringis karena Indi langsung mencubit tangannya sebelum menyelesaikan kata katanya.


Walaupun Indi sedang sakit, tapi Arvin tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menggoda dan memancing emosi Indi.


Arvin ingin melihat senyuman Indi yang sangat sulit didapatnya. Menjadi orang yang selalu mengganggu Indi adalah caranya dekat dengan Indi.


" Oh iya! Tadi gue ketemu sama genk lo tuh di sekolah" kata Arvin sebelum pergi meninggalkan rumah Indi karena ibunya menelpon.


Indi berjalan perlahan kembali menuju kamarnya setelah mengantar Arvin hanya sampai depan pintu, walau Arvin sudah melarang. Keadaanya mulai membaik setelah meminum obat yang dipaksakan Arvin padanya.


-


" Indi! Lo kenapa? Lo ngga papakan? Sakit apa? Pengen gue beliin apa? Udah minum obat belom? " Rentetan pertanyaan yang sama sekali tidak bisa Indi jawab, saat genknya datang ke rumah dan masuk ke dalam kamarnya.


Air mata Indi mengalir begitu saja melihat para sahabatnya berkunjung dan mengkhawatirkan keadaanya.


" Ya ampun Indi, udah ya..


harusnya kita yang minta maaf ke lo. Kita kita seharusnya ngga segitunya juga menanggapi kejadian kemarin. Itu hak elo untuk cerita atau ngga cerita" Jawab Nuraeni memeluk Indi.


Setelah semuanya diam akhirnya mereka tertawa bersama. Mereka menertawakan diri mereka sendiri yang masih bersikap kekanakan.


" Ok! mulai hari ini tidak ada lagi yang namanya rahasia rahasiaan ya!" Kata Nuraeni pada genknya dan tentu saja semuanya setuju tanpa banyak berpikir.


" Tapi... apa diantara kita semua, cuma Indi yang udah punya pacar? " Kata Levi


" Mungkin untuk saat ini begitu. Tapi ngga lama lagi gue bakal nyusul kok. Ada yang lagi pedekate ama gue" Ucap Nuraeni yang membuat semua orang yang ada di kamar Indi menengok ke arahnya.


" Siapa siapa? " Jiwa kepo Levi langsung terpanggil.


" Kalo dah resmi baru gue bilang ya" Nuraeni memancing rasa penasan genknya.


Sebelumnya....

__ADS_1


Nuraeni, Rosa dan Levi kaget mendengar berita kalau Indi sedang sakit, saat Arvin membawa surat dokter yang diberikan oleh Andira untuk wali kelas mereka.


Mereka memang masih merasa marah, tapi mereka akhirnya berencana pergi menjenguk Indi sepulang sekolah. Arvin! iya, itu semua karena Arvin. Panjang dan Lebar nasehat Arvin pada genknya Indi itu.


Amrita yang melihat kejadian itu merasa sangat lega. Akhirnya dia bisa melihat putri kesayangannya tertawa kembali. Amrita menyadari ada yang salah dengan Indi yang dilihatnya lebih banyak diam dari kemarin, tidak seperti biasanya.


Amrita juga sangat khawatir setelah semalam melihat wajah Indi merah dan tubuhnya demam. Andira memang tidak menceritakan pada mama Amrita kalau Indi sedang bertengkar dengan teman temannya. Bahkan sampai detik ini mama atau papanya belum tahu kalau Indi pacaran dengan Sigit sahabatnya itu.


Naluri seorang ibu. Meskipun Amrita tidak bertanya apapun pada Indi, tapi dia tahu kalau anaknya sedang punya masalah. Amrita dan suaminya memang tidak terlalu ikut campur dalam urusan pribadi anak anaknya, kecuali anak anaknyalah yang datang dan meminta saran dan nasehatnya.


Bukan tidak peduli, tapi itulah cara Amrita dan suaminya membimbing anak anaknya menuju proses pendewasaan dan membiarkan untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa terus bergantung bantuan orang tua.


Malam harinya Sigit juga datang ke rumah Indi, setelah tahu kabar kalau Indi sedang sakit dari Andira.


" Kamu sakit apa sayang? " Tanya Sigit pada Indi dengan sedikit berbisik karena di ruang tengah ada mama dan papanya Indi.


" Aku cuma demam, sekarang juga udah baikan kok" Jawab Indi yang malu dengan sebutan sayang dari Sigit.


" Aku bawain makanan kesukaan kamu nih "


" Bakso? "Tebak Indi yang mengenali aromanya walau masih di dalam bungkusan. Sigit mengangguk dan mulai berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk, lalu memindahkan isi bungkusan yang dibawanya.


Orang tua Indi sama sekali tidak mencurigai apapun yang dilakukan oleh Sigit. Selain karna Sigit memang sudah biasa datang dan dekat dengan anak anaknya, di kamar Indi juga ada Andira. Jadi tidak mungkin Sigit akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


Sigit mulai menyuapi Indi yang awalnya malu karena ada kakaknya di sampingnya. Tapi Andira seolah tidak peduli, memunggungi keduanya dan memilih menyibukkan diri dengan laporan dan tugas di meja belajar Indi.


" Sudah lebih baik? "Indi membaca isi pesan yang terkirim untuk dirinya, mengusik rasa penasaran Sigit.



***


Author notes


Maaf ya para reader... bukan diriku yang telat up, tapi proses reviewnya yang sangat ngantri.


Terima kasih sudah mampir


Harap maklumi salah penulisan dan typonya

__ADS_1


Si_Ro


__ADS_2